Selasa, 24 Januari 2017

60. Emisi 1999


Akibat krisis 1998 banyak orang yang memilih untuk menjual asetnya, mereka merasa lebih aman bila memegang uang tunai. Cadangan uang tunai di bank-bank menipis akibat penarikan dana secara besar-besaran ditambah lagi penolakan masyarakat terhadap uang-uang yang berlaku saat itu yaitu pecahan 50.000 Rupiah bergambar pak Harto.


Pecahan terbesar yang beredar saat itu adalah 50 ribu Rupiah yang bergambar pak Harto (kertas emisi 1993 dan 1995 serta plastik emisi 1993) mengalami penolakan dimana-mana karena mengingatkan akan rezim Orde Baru yang baru saja direformasi. Pecahan itu segera diganti pada tanggal 1 Juni 1999 dengan pecahan baru yang dapat mempersatukan kembali rakyat Indonesia yang saat itu tercabik-cabik. Desain uang kertas baru dipilih yang bisa mempersatukan kembali negara Indonesia yaitu gambar tokoh pencipta lagu kebangsaan kita Wage Rudolf Supratman di bagian depan dan pengibaran bendera Merah Putih  yang melambangkan persatuan negara Indonesia di bagian belakang.


Dengan cepat masyarakat menerima uang kertas baru ini dan berbondong-bondong menukarnya dengan pecahan Rp50.000 bergambar Suharto. Tetapi peredaran uang ini masih belum mencukupi kebutuhan, apalagi ditambah kekhawatiran millenium bugs Y2K yaitu kekhawatiran gangguan sistem komputer akibat pergantian millenium. Karena itu BI harus bertindak cepat dan mempertimbangkan untuk menaikkan cadangan uang kertasnya secara signifikans. Salah satu caranya adalah dengan mencetak uang bernominal besar, yang lebih besar lagi dari pecahan 50.000 Rupiah yang beredar saat itu.
Dipilihlah uang kertas dengan nominal terbesar yang pernah dicetak oleh BI yaitu pecahan 100.000 Rupiah.

Pemilihan gambar nominal terbesar ini harus bisa diterima oleh seluruh kelompok masyarakat Indonesia. Karena itu tidak ada pilihan lain selain tokoh proklamator sekaligus pemersatu negara kita yaitu Sukarno Hatta lengkap dengan text proklamasi yang terletak tepat di tengah uang bagian depan. Bagian belakang dipilih gambar gedung MPR-DPR tempat dimulainya era reformasi.


Secara tidak langsung gambar pada uang ini menggambarkan dengan sangat baik situasi pasca krisis 1998 dimana dibutuhkan tokoh pemersatu yang mengingatkan kita kembali dengan tujuan proklamasi, wakil rakyat dan pemerintahan yang pro reformasi, serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang digambarkan  dengan padi dan kapas sebagai 'sepasang daun' penyanggah bunga matahari berwarna merah terang yang melambangkan bangkitnya dan bersinarnya kembali negara Indonesia setelah tepuruk akibat krisis tersebut.


Seperti telah disinggung di atas bahwa salah satu cara untuk mengatasi kekhawatiran millenium bugs adalah dengan menambah stok uang tunai, maka banyak negara-negara di dunia pada saat hampir bersamaan berbondong-bondong mencetak uang kertas. Harga kertas sebagai bahan baku utama menjadi langka dan sudah pasti  mengalami kenaikan yang cukup tinggi. Karena itulah Bank Indonesia mulai melirik bahan polymer (plastik) sebagai pengganti kertas untuk mencetak uang ini. Apalagi BI telah berpengalaman dalam memakai bahan ini pada uang emisi Rp50.000 Suharto, bahkan emisi tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara ke 6 di dunia yang menggunakan uang polymer setelah Australia, Singapore, Samoa, Papua New Guinea dan Kuwait.

Pilihan pencetaknyapun telah ditetapkan, yaitu Note Printing Australia (NPA) yang telah berpengalaman dalam mencetak emisi 1993 Rp50.000 polymer Suharto serta Note Printing Works of the Bank of Thailand (NPW). Uang ini tidak dicetak oleh Peruri mengingat belum berpengalaman dalam mencetak uang polymer serta membanjirnya pesanan untuk mencetak emisi-emisi yang lebih kecil.


Karena uang ini dicetak oleh percetakan asing  (NPA dan NPW) maka tentu memiliki aturan penomoran dan seri pengganti yang berbeda dibandingkan yang dicetak oleh Perum Peruri.

Pertanyaan 1.
Sebagaimana kita ketahui seri pengganti untuk uang-uang cetakan Perum Peruri adalah pemakaian huruf pertama X, maka apakah  teman-teman ada yang mengetahui apa yang digunakan oleh NPA dan NPW untuk seri pengganti uang ini?
Silahkan pilih salah satu jawaban di bawah ini :
a. Sama seperti Peruri yaitu X
b. Pemakaian angka tertentu misalnya 9 sebagai angka paling depan
c. Pemakaian huruf tertentu selain X misalnya Z sebagai huruf paling depan
d. Tidak ada seri pengganti

Pertanyaan 2.
Apakah teman-teman mengetahui bagaimana cara membedakan uang yang dicetak oleh NPA dengan NPW?
a. Berdasarkan prefixnya
b. Berdasarkan nomor serinya
c. Tanda airnya berbeda
d. Tidak ada bedanya

Untuk bisa menjawab pertanyaan di atas kita harus mengumpulkan banyak sampel dan menganalisanya:


Jawaban pertanyaan 1 :
Fakta pertama, uang yang terdiri dari 3 huruf dan 6 angka ini, huruf pertamanya selalu  A.

.
Fakta kedua, huruf kedua dan ketiga terpakai semua dari A sampai dengan Z termasuk X.


Jadi huruf X ditemukan baik pada huruf kedua maupun ketiga bersamaan dengan berbagai huruf lainnya.



Karena itu dapat disimpulkan bahwa huruf X bukanlah merupakan seri pengganti dan dipakai seperti huruf-huruf lainnya. Jawaban a dan c pada pertanyaan 1 sudah pasti salah.

Fakta ketiga, angka pertama pada nomor seri uang ini menggunakan semua angka dari 0 sd 9. Huruf A sd Z baik yang terletak pada huruf kedua maupun ketiga dapat ditemukan bersamaan dengan angka pertama 0 sd 9. Tidak ada ciri atau tanda-tanda khusus yang menandakan bahwa angka tertentu merupakan seri pengganti. Dengan demikian jawaban b juga salah



Hanya tersisa satu jawaban yaitu d. Tidak ada seri pengganti. Apakah benar demikian? Mari kita lihat buktinya :

Bukti pertama : Pada buku katalog World Polymer Banknotes terbitan afterHOURS tidak disebutkan apapun tentang seri pengganti pada uang ini. Tidak seperti uang polymer China dimana huruf I merupakan seri pengganti.  

Bukti kedua : Semua uang-uang plastik atau polymer Australia cetakan NPA tidak terdapat seri pengganti

Bukti ketiga : Gepokan uang lain berisi 100 lembar utuh yang lengkap dengan segel asli selalu dimulai dari xxx001 dan berakhir xxx100. Tetapi pada gepokan uang ini tidak pernah ditemukan demikian. Awal dan akhirnya merupakan angka acak, hal ini menandakan bahwa bila ada uang yang rusak tidak digantikan dengan uang seri pengganti tetapi dilanjutkan terus dengan uang berikutnya yang tidak rusak.
Contoh :
Pada pecahan lain satu gepok utuh dimulai dari ABC 376001 dst sampai dengan ABC 376100. Bila nomor ABC 376055 rusak maka diganti dengan uang lain dengan prefix X, misal XAD 100349 sehingga awal dari gepokan tersebut selalu dimulai dengan 001 dan berakhir dengan 100. Sebaliknya pada uang 100.000 polymer ini bila nomor 005 rusak maka dari 004 langsung ke 006 sehingga pada gepokan uang ini tidak ditemukan urut dari 001 sd 100 melainkan tidak beraturan. Perhatikan gambar di bawah yang diambil dari gepokan berisi 100 lembar utuh dengan segel asli dari Bank Indonesia. Nomor seri dimulai dari ASV 677580 dan berakhir di ASV 677679. 



Berdasarkan semua bukti di atas dapat diambil kesimpulan bahwa uang ini TIDAK MEMILIKI seri pengganti.


Jawaban pertanyaan 2 :

Sebagaimana telah disebut di atas, uang polymer ini dicetak oleh 2 pencetak yaitu NPA dari Australia dan NPW dari Thailand. Para kolektor polymer yang tersebar di berbagai negara termasuk juga teman-teman kita yang berasal dari Indonesia  berusaha keras untuk mengetahui apakah ada perbedaan diantara  keduanya. Tetapi walaupun telah diamati dengan sangat teliti, tidak seorangpun yang berhasil menemukan perbedaannya. Satu-satunya cara terbaik untuk membedakan keduanya secara visual hanya dengan nomor serinya. Perhatikan gambar dan keterangan di bawah.

Pada lelang-lelang lokal maupun internasional, bentuk SPECIMEN dari uang ini telah beberapa kali ditampilkan. Di Java Auction tahun 2009 terdapat satu lot yang ditawarkan seharga 10 juta Rupiah.

Perhatikan nomor serinya : AAA 000000 serta stempel SPECIMEN yang kecil di bagian depan.


Di bagian belakang terdapat tulisan TIDAK BERLAKU berwarna merah yang berukuran besar dan melintang.

Tetapi selain specimen AAA, ternyata ditemukan juga specimen lainnya yang memiliki prefix berbeda yaitu APx. Perhatikan gambar berikut yang diambil dari www.polymernotes.org :


SPECIMEN APx ini (pada gambar memiliki prefix APM) tidak memiliki ciri-ciri seperti SPECIMEN AAA sehingga diasumsikan keduanya adalah tipe yang berbeda. Karena itu website www.polymernotes.org membedakan pencetak uang ini berdasarkan nomor serinya atau tepatnya berdasarkan prefixnya.
Prefix dari AAA sampai APA dicetak oleh NPA sedangkan prefix APA ke atas dicetak oleh NPW.  

Tentu kita tidak puas dengan kesimpulan tersebut, apa benar perbedaan keduanya hanya berdasarkan prefix? APA ke bawah dicetak oleh NPA sedangkan mulai APA keatas oleh NPW. Pencetak yang berbeda pasti akan memiliki ciri-ciri yang berbeda, baik gradasi warnanya, kualitas bahannya atau lainnya.  Apalagi ada isue yang mengatakan kalau kualitas cetakan NPW tidak sebaik NPA. Karena itu mari kita cari dengan lebih teliti lagi. Penemuan perbedaan sekecil apapun akan sangat membantu apalagi uang ini dikumpulkan oleh para penggemar uang polymer dari seluruh dunia. 

Informasi tambahan :

Karena huruf pertama pada nomor seri hanya terdiri dari huruf A sedangkan huruf kedua dan ketiga mempergunakan huruf A sampai dengan Z.  Dan angka yang dipakai adalah 6 angka penuh dari 0 sampai dengan 9, maka kita dapat menghitung atau memperkirakan :

1. Jumlah cetak uang ini :
AAA sd AZZ = 26 x 26 x 999999 = 676 juta lembar = 67,6 triliun Rupiah (belum dikurangi sekian persen untuk yang salah cetak  sehingga tidak layak edar). Bandingkan dengan laporan resmi dari BI yang menyatakan bahwa uang ini dicetak sekitar 50 triliun Rupiah. 

2. Jumlah nomor cantik uang ini :
Yang dimaksud cantik adalah nomor kembar dari 111111, 222222, 333333 sampai dengan 999999 :
AAA sampai dengan AZZ terdapat sebanyak 26 x 26 lembar = 676. Jadi masing-masing nomor cantik tersebut dicetak sebanyak 676 lembar. Berapa banyak yang selamat dan tersisa sampai saat ini tentu tidak kita ketahui, tetapi yang pasti walaupun keseluruhan 676 lembar selamat semuanya, jumlah tersebut sangat sedikit dibandingkan jumlah penggemar nomor cantik yang tersebar di seluruh dunia. Tidak heran nomor cantik uang ini mengalami kenaikan harga yang sangat pesat, pada lelang JA tahun 2009 telah mencapai kisaran 2 sampai dengan 3 juta Rupiah perlembarnya.  
Bila anda berminat, anda harus bertindak cepat................ !!


Semoga artikel ini bermanfaat

Jakarta 24 Desember 2012
Kritik dan saran hubungi arifindr@gmail.com
Sumber :
www.polymernotes.org
Koleksi teman-teman kolektor
Museum BI
Katalog lelang Java Auction






  








2 komentar:

Iwan Basuki mengatakan...

Saya sangat suka dengan artikel ini yang berlatar 1999, adapun situasi sekarang adalah menghadapi redenominasi yang menurut rencana dimulai pada 2014.

temukan cara mengatakan...

Saya sangat suka dengan artikel uang kuno yang berlatar 1999