Rabu, 25 Januari 2017

70. Uang super langka

Uang Super Langka (bagian 1)

5 lembar uang kertas tipe essay yang tidak pernah diterbitkan
Dibuat sekitar tahun 1950 untuk menggantikan seri RIS,
 Saat itu Bank Indonesia belum terbentuk sehingga nama bank yang digunakan adalah 
BANK NEGARA INDONESIA

Set super langka ini terdiri dari 5 pecahan yaitu :
Satu Rupiah berwarna kehijauan dengan tokoh pahlawan Tengku Tjik Ditiro
Dua setengah Rupiah berwarna violet dengan tokoh pahlawan Teuku Umar
Lima Rupiah berwarna merah dengan tokoh pahlawan Tuanku Imam Bonjol
Sepuluh Rupiah yang berwarna biru dengan tokoh pahlawan Jendral Sudirman dan
Lima Puluh Rupiah berwarna coklat ungu dengan tokoh pahlawan Pangeran Diponegoro 

Pecahan satu dan dua setengah tidak memiliki watermark, bernomor seri 7 angka nol (0), sedangkan pecahan lainnya memiliki watermark di sisi kiri bergambar Garuda Pancasila dengan nomor seri terdiri dari 6 angka nol. Sisi belakang sudah tercetak lengkap berupa sapasang angka nominal masing2 uang tersebut. 

Tidak pernah ada kata lengkap di dunia numismatik, penemuan baru selalu bermunculan setiap saat.




Uang Super Langka (bagian 2)
Sekarang mari kita lihat dan pelajari bersama satu set uang super langka lainnya yaitu seri RIS


Seri RIS yang resmi beredar, ciri-cirinya adalah :
1. Pecahan yang beredar 5 dan 10 Rupiah
2. Tulisan REPUBLIK INDONESIA SERIKAT  di bagian atas tengah
3. Bertanggal DJAKARTA 1 DJANUARI 1950 (perhatikan ejaannya)
4. Nomor seri berupa pecahan satu huruf di atas angka diikuti 6 angka (hitam)
5. Ukuran uang 136 x 64 mm


Proof pertama
Pecahan satu Rupiah Jogjakarta 25 Maret 1947, hanya tercetak satu sisi (depan) yang ditempel pada selembar kertas karton. Berwarna hijau kehitaman dengan nomor seri AB 00000 berwarna merah.
Perhatikan perbedaan dengan versi beredar :
1. Pecahannya satu Rupiah (yang beredar 5 dan 10 Rupiah)
2. Bukan RIS tetapi Republik Indonesia
3. JOGJAKARTA 25 MARET 1947, bukan DJAKARTA, 
ejaannya juga aneh, tidak seperti yang digunakan pada masanya yaitu DJOGJAKARTA
4. Nomor seri merah
5. Beberapa perubahan kecil pada gambar contohnya sepasang pilar di kiri-kanan uang  yang dihapus

Kesimpulan : uang ini dirancang jauh sebelum RIS terbentuk, yaitu sewaktu ibu kota kita masih di Jogjakarta, karena bentuknya mirip dengan versi beredar maka sangat mungkin proof ini juga rancangan TDLR. Ejaan  yang dipergunakan tidak sesuai dengan masanya sehingga keaslian uang ini sempat dipertanyakan. Tetapi selain ejaan, uang ini hampir tidak memiliki kelemahan lain sehingga rasanya tidak pantas bila dikategorikan palsu. Apalagi masalah ejaan juga muncul pada uang-uang proof dan essay specimen lainnya.


Proof kedua
Bentuk uang ini sangat mirip dengan versi beredar, sepang pilar di kiri-kanan uang sudah dibuang. Demikian juga sisi belakangnya yang bergambar pemandangan sudah tercetak sempurna. Yang menarik tanggal tertera adalah JAKARTA SATRE JANUAN 1950
Apakah kesalahan ejaan tersebut disengaja karena uang ini masih berupa proof atau tidak disengaja sehingga pecahan ini batal diterbitkan? Kesalahan serupa terjadi lagi pada uang proof ketiga di bawah.

 Proof ketiga
Tidak ada perbedaan mencolok dibandingkan proof kedua hanya angka satu di bagian kiri diganti dengan gambar siluet Sukarno serta  tanggal pencetak JAKARTA SATRE JANUAN 1950 digeser ke tengah. Masalah ejaan yang tidak benar terjadi pada ketiga uang di atas, sehingga seakan-akan memang sengaja dibuat demikian. 


 Proof keempat
Bentuk yang unik dan tidak pernah terlihat
Pecahan 50 Rupiah DJAKARTA 1 DJANUARI 1950 REPUBLIK INDONESIA SERIKAT
Uang berukuran 143 mm x 73 mm ini tercetak terpisah sisi depan dan belakangnya (bagian belakang bergambar istana). Berwarna kecoklatan dengan nomor seri satu huruf 6 angka. Uang ini tidak memiliki masalah ejaan lagi, bahkan sudah ditandatangai oleh menteri keuangan
Mr. Sjafruddin Prawiranegara.
Mengapa uang yang telah tercetak sempurna ini tidak jadi diterbitkan?
Apakah karena pecahannya terlalu besar? Atau karena keberadaan Republik Indonesia Serikat yang terlalu singkat sehingga uang ini tidak sempat diedarkan?


Proof-proof di atas melengkapi essay specimen dari era yang sama yaitu REPUBLIK INDONESIA Jogjakarta 1 September 1948 dan REPUBLIK INDONESIA SERIKAT 21 Desember 1949 yang telah berkali-kali muncul di lelang
Republik Indonesia 5, 10, 25, 50 dan 100 Rupiah Jogjakarta 1 September 1948

Republik Indonesia Serikat 5, 10, 25, 50 dan 100 Rupiah 21 Desember 1949

Dunia numismatik benar-benar seperti lautan yang maha dalam,
semakin diselami semakin menantang dan semakin banyak hal aneh yang ditemukan.


Uang Super Langka (bagian 3)

Kembali saya tampilkan set uang super langka lainnya, kali ini bergambar presiden pertama kita Sukarno. Ada 4 pecahan dengan 2 disain wajah yang berbeda dan menghadap ke sisi berlawanan. Pertama menghadap ke sisi kiri uang, tampak lebih gemuk dan lebih tua sedangkan disain yang kedua menghadap ke kanan, lebih kurus dan juga tampak lebih muda. Sebenarnya gambar pertama yang lebih menyerupai aslinya tetapi gambar ini ditolak dan justru gambar kedua yang dipakai untuk seri tahun 1960. 

Keempat pecahan ini semuanya tanpa tahun dan memiliki disain dasar yang mirip yaitu berupa bingkai tebal yang mengelilingi keempat sisi uang, angka nominal terletak di sudut kiri bawah dan kanan atas serta lambang negara Burung Garuda yang terletak di sisi kanan. Di bagian tengah terdapat gambar bangunan yang masih ada sampai sekarang, dapatkah anda menebaknya?  

Dan terakhir perhatikan nama bank sirkulasinya yaitu BANK NEGARA INDONESIA. Berdasarkan hal tersebut maka dapat diduga kalau uang ini dirancang sebelum BANK INDONESIA berdiri yaitu sekitar tahun 1950-1952. Untuk jelasnya mari kita amati dan pelajari uang2 tersebut. Selamat menikmati....


Pecahan 1 Rupiah tanpa tahun (1950-52) berwarna dominan hijau
Bagian belakang bergambar perempuan sedang memanen beras dengan nomor seri A 00000


Pecahan 5 Rupiah (1950-52) berwarna coklat tua dengan gambar Sukarno yang lebih muda dan gagah. Ada yang aneh pada uang ini, perhatikan gambar bangunan di bagian tengah sepertinya sangat mirip dengan Gelora Bung Karno (Istora Senayan). Padahal bangunan tersebut baru mulai dibangun tahun 1958. Apakah hal ini menandakan bahwa pada tahun 1950 rancangan gelanggang oleh raga tersebut sudah sedemikian matang sehingga walaupun belum berdiri tetapi sudah dipakai pada uang.


Pecahan 10 Rupiah Bank Negara Indonesia juga tanpa tahun. Berwarna dominan violet.
Bagian belakang bergambar mirip dengan seri pekerja pecahan 50 Rupiah yaitu perempuan yang sedang menenun. Uang ini sudah memiliki nomor seri di bagian belakang yaitu A 00000

Pecahan terbesar adalah 50 Rupiah, berwarna dominan coklat muda dengan gambar istana Merdeka di bagian tengah. Uang ini telah tercetak sempurna walaupun hanya terdiri dari satu sisi saja.



Salah satu rancangan uang yang mirip telah dilelang belum lama ini oleh balai lelang dari Inggris, perhatikan nama banknya sudah menjadi BANK INDONESIA dengan gambar Sukarno yang jauh lebih gemuk, kurang berwibawa dan pandangan matanya yang melihat ke arah atas. 
Rasanya wajar kalau rancangan uang ini tidak diterima    
50 Rupiah essay tanpa tahun (diduga awal 1960an)
Terjual di SPINK auction sebesar 1200 Pound atau sekitar  Rp.25 juta setelah fee


Uang Super Langka (bagian 4)

Bosan dengan uang kuno yang itu-itu saja? Kali ini saya tampilkan sekelompok uang super langka yang masih berbentuk artist drawing. Uang-uang super langka ini bergambar presiden pertama kita Sukarno dan dibuat pada tanggal 1 Djanuari 1960. Bentuknya sudah mirip dengan versi beredar tetapi tentunya dengan perubahan dan perbaikan yang cukup banyak. Mari kita bandingkan bersama :

Pecahan 5 Rupiah
 
Pecahan 5 Rupiah 1 Djanuari 1960
Bagian depan bergambar Sukarno, mirip dengan versi beredar tetapi dengan latar belakang pohon yang berbeda. Pada uang ini bergambar pohon yang mirip dengan pohon pala sedangkan versi beredar menampilkan pohon bambu. Bambu dipilih mungkin karena melambangkan panjang umur.
  Bagian belakang bergambar penari yang walaupun lebih gemuk tetapi sangat mirip dengan versi beredarnya. Demikian juga dengan patung Hanoman pada sisi kiri uang.
Perhatikan penandatangan uang yaitu Mr.Lukman Hakim-TRB Sabaroedin (sama dengan seri bunga)


Mari bandingkan dengan versi beredarnya.
Karena kemiripannya yang cukup banyak maka versi tersebut bisa digolongkan sebagai proof. 


Pecahan 10 Rupiah
 
 Bagian depan masih bergambar Sukarno dengan latar belakang bergambar seekor burung (cendrawasih?) dengan beberapa helai dedaunan. Warna uang yang coklat muda sangat mirip dengan versi beredarnya.
Bagian belakang bergambar 2 penari, salah satunya sedang bercermin membetulkan riasannya. Perhatikan penandatangan uang serta tanggal terletak di sisi belakang.

  Perhatikan perbedaannya dengan versi beredar
Warna warni termasuk pada baju penari di bagian belakang uang dihilangkan
mungkin untuk menghemat tinta


Pecahan 25 Rupiah
Kecuali warna tidak banyak perubahan yang terjadi 
Bandingkan dengan versi beredarnya

Versi beredar pecahan 25 Rupiah


Pecahan 50 Rupiah
Demikian juga dengan pecahan 50 nya selain warna dan gambar wayang kulit yang dihilangkan, tidak banyak perubahan yang terjadi. Penandatangan dan tanggal masih terletak di bagian belakang.


Pecahan 100 Rupiah
Kalau yang ini boleh dibilang super mirip


Dari gambar-gambar di atas dapat dilihat bahwa tidak mudah untuk merancang gambar suatu uang. Butuh proses sangat panjang mulai dari sketsa, gambar tangan, separasi warna sampai dicetak. Selama proses tersebut tentu sangat banyak yang tidak disetujui dan hanya berakhir di lemari arsip. Kita beruntung ada teman kolektor yang bermurah hati mau menyumbangkan sebagian gambar dari proses-proses tersebut. 

Masih banyak lagi uang-uang super langka yang sebenarnya sudah saya persiapkan, diantaranya seri bunga termasuk separasi warna dan essay pecahan 2500 Rupiah yang ditempel di karton tebal, separasi warna, proses cetak dan proof seri binatang tetapi tidak ada gambar binatangnya, rancangan seri Sukarno 2500 dan 5000 serta artist drawing seri Diponegoro unissued. Ada juga beberapa uang modern seperti rancangan awal 500 Rupiah tahun 1992 yang bergambar rumah adat tetapi tidak disetujui sehingga diganti gambar orangutan. Gambar-gambar tersebut karena satu dan lain hal penampilannya belum disetujui oleh pemilik sehingga untuk sementara ditunda.

Walau demikian kita sudah sangat senang dan sangat berterimakasih bisa melihat cukup banyak gambar-gambar uang super langka tersebut. Bravo numismatik Indonesia 


Bila anda punya saran atau kritik silahkan hubungi email arifindr@gmail.com


1 komentar:

Unknown mengatakan...

Sangat menyenangkan untuk saya yang bukan seorang kolektor uang kuno untuk membacanya..menambah wawasan dan menimbulkan keinginan untuk mengkoleksi uang kuno...terlihat menyenangkan...Smoga tulisan ini bisa bersambung untuk emisi rupiah yang lainnya...di tunggu ya pak penulis...salam /Andri