Rabu, 25 Januari 2017

75. Wayang 50 Gulden (bagian 2)



Prefix
Sebagaimana telah dibahas pada artikel terdahulu, prefix seri wayang merupakan lanjutan seri sebelumnya yaitu seri JP Coen. Untuk pecahan 50 Gulden, prefix terakhir dari seri JP Coen yang bertanggal 31 Oktober 1930  adalah KS, prefix berikutnya KT sudah merupakan prefix pertama seri wayang.
Mari kita lihat tabel berikut :


KS merupakan prefix terakhir pecahan 50 Gulden seri JP Coen
KT merupakan prefix pertama pecahan 50 Gulden seri wayang
Prefix berlanjut terus dari KT sampai dengan KZ, dilanjutkan LA sampai dengan LZ kecuali LQ
Kemudian MA sampai dengan ML.
Total semua terdapat 44 prefix, 40 prefix pertama bertahun 1938 dan 4 prefix terakhir bertahun 1939 

40 prefix pertama dari KT sampai dengan MH terbit di bulan April, Mei dan Juni tahun 1938
Perhatikan ada satu tanggal yang kosong yaitu 26 Mei 1938. Tanggal ini kosong mungkin karena hari libur atau mungkin juga sengaja dikosongkan karena merupakan peralihan dari prefix L ke M.

4 prefix terakhir (MI, MJ, MK dan ML) terbit pada bulan April 1939 tepatnya pada tanggal 11, 12, 13 dan 14 April 1939. Melihat jumlahnya maka 50 Gulden seri wayang terbitan tahun 1939, 10 kali lebih langka dibandingkan 1938.


Nomor Seri
Uang ini memiliki 5 angka dan angka pertama selalu 0.
Karena itu untuk setiap huruf prefix terdapat maksimal 09999 lembar (genapkan saja 10 ribu lembar). Dengan total 44 prefix maka jumlah maksimal keseluruhan pecahan ini adalah sebanyak 440 ribu lembar, dimana 400 ribu lembar bertahun 1938 dan hanya 40 ribu lembar yang bertahun 1939. 

Jumlah ini 3 kali lipat lebih sedikit bila dibandingkan pecahan 50 Gulden seri JP Coen yang dicetak sekitar 137 prefix. Tidak heran bila harga uang ini bernilai jauh lebih mahal (untuk kondisi VF di tahun 2014 sekitar Rp5 juta berbanding dengan Rp1,5 juta untuk seri JP Coen). Tetapi jangan menganggap remeh seri JP Coen karena pecahan ini juga mempunyai tingkat kesulitan tersendiri, antara lain : terdapat 3 variasi tanda tangan yang berbeda tingkat kelangkaannya serta sangat sulitnya menemukan yang berkondisi prima. 

Ingat : Setiap pecahan memiliki tingkat kesulitan masing-masing.

Variasi
Walaupun cuma memiliki satu jenis tanda tangan, tetapi pecahan 50 Gulden seri wayang memiliki beberapa varian lainnya yang sangat langka :

1. Artist drawing
Masih berupa gambar atau sketsa yang ditempel pada karton
Jenis ini sangat langka dan mungkin hanya ada satu di dunia 

2. Proof dengan prefix WW
Sudah mirip dengan versi beredar tetapi beda watermark (ombak) dan tanda tangan
Terdapat beberapa varian warna yang berbeda. Luar biasa langka (RR)

3. Proof bagian belakang beda warna
Terdapat beberapa varian yang berbeda warna.
 Watermark dan text undang-undang berbeda dengan yang beredar

4. Proof prefix AA
Warna, watermark dan tanda tangan sudah sama dengan versi beredar.
Mirip dengan varian SPECIMEN tetapi tanpa stempel SPECIMEN sehingga kadang disebut sebagai SPECIMEN-PROOF

5. Specimen
Prefix AA dengan nomor seri AA012345-AA67890, tanpa tanda tangan.
Bertanggal fiktif 32 Juni 1968 dan perforasi 34 5 68

6. Specimen bernomor jalan
Baru-baru ini set lengkap 5-1000 Gulden specimen bernomor jalan yang telah di grading oleh PMG terjual diharga sekitar 1 milyar Rupiah. 

7. Versi beredar

Hanya ada satu jenis tanda tangan : JC van Waveren-B Wichers



Gambar tokoh
Uang yang sangat indah ini bergambar utama sepasang tokoh pewayangan. Di sisi kiri tampak sesosok laki-laki yang gagah berwibawa, matanya menatap tajam ke depan seakan tidak gentar dengan apapun. Sedangkan di sisi kanan terdapat seorang perempuan yang sangat cantik, hiasan dan pakaiannya yang walaupun tampak sederhana tidak bisa menutupi keanggunan khas milik seorang putri. Matanya juga menatap lembut ke depan siap untuk menghadapi segala masalah dengan bijak.    
Siapakah kedua sosok tersebut?

Alkisah pada kerajaan Astina terdapat seorang raja bernama Prabu Pandu Dewanata yang bernasib sial karena terkena kutukan sehingga impoten dan tidak bisa menggauli istri-istrinya Dewi Kunti dan Dewi Madrim. Untung saja salah satu istrinya yaitu Dewi Kunti memiliki ilmu yang bisa mendatangkan para dewa. Dengan seizin suaminya Dewi Kunti mendatangkan Dewa Batara Darma dan membuahkan seorang anak yang diberi nama Puntadewa. Melalui cara yang sama tetapi dengan dewa lain, Dewi Kunti kembali melahirkan Bima dan Arjuna. Lalu Dewi Kunti mengajarkan ilmunya kepada istri muda sang Prabu, Dewi Madrim, yang mendatangkan dewa lain yaitu Batara Aswan dan Batara Aswin, dari keduanya Dewi Madrim melahirkan anak kembar yang diberi nama Pinten (Nakula) dan Tansen (Sadewa). Kelima bersaudara tersebut (Puntadewa, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa) terkenal dengan sebutan Pandawa yang artinya anak-anak Pandu.

Puntadewa sebagai anak yang paling tua mewarisi sifat ayah biologisnya sang Batara Darma yang selalu mengutamakan kebenaran, keadilan dan kerendahan hati. Ia lebih menyenangi ilmu tata negara, sejarah dan hukum (wajar saja karena waktu itu belum ada jurusan ekonomi atau komputer). Tidak seperti sang adik, Bima dan Arjuna yang sangat menyukai ilmu perang, Puntadewa selalu menghindari perselisihan dan bersikap mengalah, tetapi sayang sewaktu para Pandawa masih kecil, sang ayah Prabu Pandu meninggal dunia dan kerajaannya dikudeta oleh kakaknya sehingga Pandawa terusir dan berkelana kemana-mana.

Setelah lama berkelana, suatu saat Pandawa sampai ke negeri bernama Kerajaan Cempala yang kebetulan sekali rajanya Prabu Drupada sedang mengadakan sayembara memilih menantu. Barangsiapa yang bisa mengalahkan Patih Gandamala yang super sakti dipersilahkan untuk menikahi anak sang Prabu yang cantik jelita bernama Dewi Drupadi. Puntadewa yang kesemsem dengan kecantikan sang putri sangat ingin mengikuti petandingan tersebut, tetapi apa daya dia cuma tau ilmu sejarah saja sehingga tidak mungkin untuk maju menantang sang Patih.

Bima sang adik yang juga super sakti, nekad melawan sang Patih dan setelah bertarung mati-matian akhirnya menang. Dewi Drupadi pun menjadi miliknya. Tetapi Bima tau kalau sang kakak sangat menginginkan sang Dewi sehingga rela menyerahkan Dewi Drupadi menjadi istri sang kakak. Sungguh suatu pengorbanan yang luar biasa.

Singkat cerita Puntadewa menikahi Dewi Drupadi dan kabar pernikahan mereka tersiar sampai ke kerajaan Astina yang sekarang diperintah oleh Prabu Drestraratra. Untuk mengindari permusuhan, sang Prabu meminta Pandawa untuk pulang dan diberikan hadiah lahan berupa hutan lebat yang luas milik raja jin bernama Yudhistira. Para Pandawa berhasil mengalahkan raja jin tersebut dan rohnya menyatu dengan Puntadewa sehingga nama Yudhistira juga dipakai sebagai nama lain Puntadewa. Setelah berhasil mengalahkan raja jin, dan membabat hutan tersebut, para Pandawa mendirikan kerajaan bernama Amarta.

Kedua sosok pemimpin Pandawa yaitu Puntadewa dan Dewi Drupadi merupakan sepasang kekasih yang saling mencintai, mereka bersama-sama dengan para Pandawa lainnya mengalahkan raja jin, Kedua sosok inilah yang ingin digambarkan oleh uang pecahan 50 Gulden. Walaupun tidak terlalu sakti tetapi dengan kerja sama dan kuatnya rasa persaudaraan dengan para adiknya, Puntadewa alias Yudhistira bersama-sama dengan istrinya Dewi Drupadi mampu merubah keadaan. Kebijaksanaan, kesetiaan, kekuatan dan persaudaraan mereka akhirnya dapat membuat hutan belukar yang penuh dengan jin berubah menjadi kerajaan Amarta yang luas, makmur, aman, dan sangat disegani.

Puntadewa alias Yudhistira dan Dewi Drupadi

Yudhistira dan Dewi Drupadi versi wayang orang




Walau cuma selembar kertas, tetapi terkandung makna yang sangat istimewa. 
Tidak heran seri ini menjadi primadona para kolektor. 
Bravo numismatik Indonesia


Jakarta 15 Januari 2015
Terima kasih kepada Pak Gatot, kurator Museum Bank Indonesia Jakarta

Sumber :
1. Koleksi para teman kolektor
2. Katalog lelang berbagai balai lelang
3. kletekpucakwangi.blogspot.com


Tidak ada komentar: