Rabu, 25 Januari 2017

94. 5000 Rupiah 1980



Teman-teman pasti mengenal uang yang satu ini. 5000 Rupiah 1980 yang lebih dikenal dengan sebutan 5000 si pengasah intan. Uang bertahun 1980 dan dikeluarkan  mulai 1 Maret 1982 ini beredar selama  5 tahun lalu digantikan 5000 Rupiah Teuku Umar

Keunikan dari pecahan 5000 Rupiah adalah selalu berwarna coklat, Pengecualian untuk seri Sudirman yang berwarna biru. Tidak percaya? Kita lihat buktinya :

Pecahan 5000 Rupiah dari seri pertama ke seri terakhir, 
dimulai emisi 1958 (2 variasi), 1975, 1980, 1986, 1992 dan 2004 
semuanya berwarna dominan coklat


Fokus kita kali ini adalah pada pecahan 5000 Rupiah si pengasah intan. Disebut demikian karena pada sisi depannya terdapat gambar seorang pengasah intan yang sedang bekerja di depan peralatan tradisionalnya.

Pengrajin asah intan

Kita semua tahu kalau penghasil intan terbesar dan terbanyak di Indonesia berada di daerah Kalimantan, tepatnya di daerah Martapura, Kalimantan Selatan. Bila uang ini ingin menggambarkan kekayaan daerah tersebut lalu mengapa di sisi belakangnya justu menampilkan gambar yang diambil dari daerah yang sangat berbeda, yang tidak menghasilkan intan, yaitu daerah Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

Sisi belakang uang, bergambar 3 rumah adat Toraja (Tongkonan)

Memang gambar depan dan belakang uang kertas tidak harus selalu berasal dari daerah yang sama, tetapi tentu ada hubungannya. Contoh 5000 Rupiah emisi 1958, gambar depan petani, gambar belakang sawah. 

Petani dan sawah

5000 Rupiah emisi 1975 nelayan, gambar belakangnya perahu. 

Nelayan dan kapal

5000 Rupiah 1992 bagian depan yang bergambar alat musik sasando yang berasal dari NTT, bagian belakangnya bergambar danau Kelimutu yang juga berada di NTT. 

Sasando dan danau Kelimutu, keduanya dari NTT

Sedangkan untuk pecahan 5000 Rupiah 1986 Teuku Umar, pahlawan dari Aceh, walaupun bagian belakangnya bergambar menara Kudus yang diambil dari mesjid Al Aqsa di daerah Jawa Tengah, setidaknya keduanya masih berhubungan karena merupakan pahlawan dan kebudayaan Islam. 

Teuku Umar dan mesjid Menara Kudus

Demikian juga untuk pecahan 5000 Rupiah yang saat ini masih berlaku yaitu emisi 2004, gambar depannya Tuanku Imam Bonjol yang berasal dari Sumatera Barat, dan sisi belakangnya bergambar penenun  Sikek yang juga berasal dari daerah Sumatera Barat.

Tuanku Imam Bonjol dan penenun Sikek, Sumatera Barat

Kembali ke pecahan 5000 Rupiah asah intan, apa kira-kira hubungan yang ingin digambarkan oleh si pelukis uang? Apa hubungan antara pengrajin asah intan yang kemungkinan besar berasal dari Kalimantan Selatan dengan rumah adat Toraja yang berada di Sulawesi Selatan?
Walaupun keduanya berasal dari daerah yang berlainan, pasti ada suatu hubungan yang menarik.

Untuk mengetahui hubungan tersebut kita harus mengetahui sedikit sejarah latar belakang peristiwa atau kejadian yang menonjol pada era sebelum uang tersebut diedarkan. Untuk bagian muka yaitu asah intan tidak ada kejadian yang menonjol. Intan terbesar yang pernah ditemukan di Martapura (intan Trisakti) berasal dari era tahun 60an. Jauh sebelum uang diedarkan. 
Bagaimana dengan gambar belakangnya yang mengambil gambar rumah adat daerah Toraja?

Ternyata pada era akhir tahun 70an terjadi peristiwa penting di Tana Toraja, mari kita lihat peristiwa apa yang terjadi disana.

Pada tahun 1970, Tana Toraja mengadakan upacara akbar pemakaman raja terakhir (Rambu Solo) yang bernama Puang Sangalla. Upacara tersebut sedemikian besarnya sehingga didokumentasikan oleh National Geographic berjudul Death Rite of The Last Toraja King.




Video ini langsung menggemparkan dunia dan wisatawan dari mancanegara berdatangan kesana, jumlah turis yang tadinya hanya ratusan orang pertahun melonjak drastis menjadi ratusan ribu orang. Hotel dan biro perjalanan bermunculan, menghidupkan perekonomian setempat. Toraja pun diunggulkan menjadi tempat destinasi populer setelah Bali.
Kejadian ini yang sangat mungkin merupakan alasan utama mengapa rumah adat Toraja yang disebut sebagai Tongkonan dijadikan latar belakang uang 5000 Rupiah emisi 1980. Sedangkan pengasah intan di bagian depan yang seakan-akan tidak berhubungan. Selain bisa diartikan secara harafiah yang menampilkan dua kebudayaan sekaligus pada satu lembar uang kertas (Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan) tetapi juga dapat diartikan sebagai berikut:
Bagaikan seorang pengasah intan yang mampu merubah batu intan yang kasar dan tidak menarik menjadi bentuk yang kemilau dan berharga, Tana Toraja diharapkan juga demikian. Intan yang tadinya masih kasar, tidak dikenal dan tidak dilirik, dengan adanya momentum video National Geographic, bisa diasah dan dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadi menarik, mampu memukau para pendatang dan melejitkan nama Indonesia di mata dunia 
Selain itu mungkin uang ini juga bisa dijadikan semacam peringatan atau penghargaan kepada kebudayaan Indonesia Timur, khususnya kepada Tana Toraja dengan rumah adatnya. Dimana pada seri-seri sebelumnya kebanyakan menampilkan gambar yang berasal dari wilayah Indonesia Barat (Borobudur, barong Bali, gamelan, Prambanan, badak Jawa, Pangeran Diponegoro, Ngarai Sianok Bukittinggi dan Jendral Sudirman). 

Begitu mendunianya kebudayaan Toraja sehingga dijadikan sampul utama dari majalah National Geographic Indonesia edisi April 2016



Bila maksudnya benar demikian, maka dapat kita lihat kalau gambar pada uang kertas bukan semata-mata hanya gambar biasa, tetapi penuh sarat dan makna yang disesuaikan dengan kejadian dan peristiwa yang terjadi saat uang tersebut dirancang. 
Khusus untuk uang ini, selain menampilkan dua gambar yang berasal dari dua propinsi yang berbeda yang sepintas seperti tidak berhubungan, tetapi ternyata memiliki kaitan yang begitu mendalam. 
Semakin diamati, semakin unik makna yang terkandung di dalam gambar selembar uang kertas. 
Bravo pelukis uang kita.......




Bila ada diantara teman-teman yang memiliki pandangan berbeda, jangan sungkan menghubungi email : arifindr@gmail.com


Jakarta 9 Maret 2016
       










Tidak ada komentar: