Wednesday, January 25, 2017

95.10000 Rupiah si barong

Kadang gambar pada uang kertas bertujuan untuk memperingati suatu peristiwa penting. Kita lihat beberapa contohnya :

Pecahan 10000 Rupiah emisi 1998
Uang yang bergambar Tjut Njak Dhien ini mungkin diterbitkan untuk memperingati 100 tahun pahlawan asal Aceh tersebut 



Sedangkan dalam bentuk perangko diterbitkan satu set yang bergambar Tjut Njak Dhien dan rumahnya di kawasan Aceh, masing-masing dengan nominal 1500 Rupiah. Perhatikan kalau gambar dan warna keduanya dibuat sangat mirip. Untuk para kolektor yang mengerti tentu akan menyatukan uang serta perangko tersebut dalam satu halaman album. 




Pecahan 2000 Rupiah emisi 2009
Pemilihan gambar Pangeran Antasari pada uang ini mungkin sebagai peringatan 200 tahun kelahirannya (1809). 


Pecahan 500 Rupiah emisi 1977
Gambar gedung Bank Indonesia di sisi belakang sangat mungkin untuk peringatan 25 tahun berdirinya Bank Indonesia. Sedangkan sisi depannya yang bergambar seorang wanita dengan bunga anggrek akan dijelaskan pada kesempatan lain.

Gambar gedung BI di sisi belakang uang tentu bertepatan dengan ulang tahun BI ke 25 tahun.
Peristiwa ulang tahun BI juga terekan pada watermark uang ini.


Pecahan 10000 Rupiah emisi 1975


Uang yang dikenal sebagai 10 ribu barong ini bergambar relief candi Borobudur di bagian depannya, Tentu saja penggambaran ini ada maksudnya. Kira-kira apa ya?

Untuk mengetahuinya kita harus mencari arsip peristiwa apa yang terjadi pada era uang tersebut diedarkan. Dan ternyata pada era 1975 terdapat satu peristiwa penting yang berhubungan pada candi Borobudur, yaitu pemugaran besar-besaran.

UNESCO sebagai salah satu badan PBB yang menaungi pendidikan dan kebudayaan dunia menganggarkan sejumlah besar dana  untuk merenovasi candi Borobudur. 
Renovasi ini bukan asal asalan, tetapi merupakan suatu proyek besar yang berlangsung selama 7 tahun yaitu dari 1975 sd 1982

Apa saja yang dilakukan pada pemugaran tersebut? 
Pondasi diperkukuh dan semua 1.460 panel relief dibersihkan. Pemugaran ini dilakukan dengan membongkar seluruh lima teras bujur sangkar dan memperbaiki sistem drainase dengan menanamkan saluran air ke dalam candi. Lapisan saringan dan kedap air ditambahkan. Proyek kolosal ini melibatkan 600 orang ahli dari berbagai dunia dan menghabiskan biaya total sebesar 6,9 juta dollar AS. 

Borobudur dipugar oleh UNESCO karena termasuk dalam kriteria budaya sbb: 
1. "mewakili mahakarya kreativitas manusia yang genius", 
2. "menampilkan pertukaran penting dalam nilai-nilai manusiawi dalam rentang waktu tertentu di dalam suatu wilayah budaya di dunia, dalam pembangunan arsitektur dan teknologi, seni yang monumental, perencanaan tata kota dan rancangan lansekap", 
3. "secara langsung dan jelas dihubungkan dengan suatu peristiwa atau tradisi yang hidup, dengan gagasan atau dengan kepercayaan, dengan karya seni artistik dan karya sastra yang memiliki makna universal yang luar biasa".

Begitu hebatnya candi ini sehingga setelah renovasi, UNESCO memasukkan Borobudur ke dalam daftar Situs Warisan Dunia pada tahun 1991, peristiwa penting ini juga diabadikan pada gambar bagian belakang uang pecahan 10 ribu tahun 1992. Jadi peristiwa pemugaran candi Borobudur diabadikan pada pecahan 10 ribu 1975 sedangkan peristiwa dimasukkannya ke dalam Situs Warisan Dunia digambarkan pada pecahan 10 ribu 1992. 

Gambar candi Borobudur di bagian belakang uang tentu berhubungan dengan dimasukkannya ke dalam Situs Warisan Dunia oleh UNESCO
   

Sekarang kita tahu kalau makna dari gambar pecahan 10.000 emisi 1975 yang ingin merekam peristiwa penting yang terjadi pada saat uang tersebut diterbitkan yaitu dimulainya renovasi besar besaran candi Borobudur.
Selesaikah ?
Belum selesai. Karena kita belum membahas maksna relief yang dijadikan gambar pada pecahan tersebut.

Relief yang dijadikan dasar gambar pada uang ini diambil dari   panel Lalitavistara (kehidupan Sang Budha) yang menggambarkan perjalanan pulang Ratu Maya, ibu Sidharta Gautama yang ingin melahirkan sang Budha di Taman Lumbini.


Untuk mengerti artinya, kita harus mengetahui secara singkat perjalanan hidup Pangeran Sidharta Gautama yang terdapat pada panel pahatan relief candi Borobudur.


Rangkaian 120 panel relief di bagian atas dinding galeri pertama merupakan pahatan riwayat hidup Buddha paling lengkap di monumen mana pun di dunia. Riwayat hidup Buddha ini didasarkan pada naskah Lalitavistara.
Pendahuluan Sebelum Kelahiran Buddha (Panel 1-15)
Bakal Buddha yakni Bodhisattwa Setaketu tinggal di Surga Tusita (Kecukupan Hati) yang mengambang di awan istana Dewa Indra di puncak Gunung Sumeru. Bodhisattwa Setaketu hidup dalam istana yang dipenuhi wewangian bunga dan musik tak terhingga alat musik yang dimainkan para dewa yang memujanya.
Bakal Buddha mengumumkan kepada para dewa bahwa ia telah memutuskan terlahir ulang di Bumi. Para dewa bersukacita dan mengiringinya turun ke rahim Ratu Mahamaya dari Kerajaan Sakya dalam wujud gajah putih bercula enam. Ratu Mahamaya saat itu, tengah menjalani pertapaan pemurnian, ia bermimpi didatangi gajah putih yang memasuki rahimnya. Ratu lalu memanggil Raja Suddhodana untuk mencari tahu makna mimpinya.
Kehidupan Awal Pangeran Gautama (Panel 16-45)
Ketika ratu sampai ke tepi hutan, mendadak tubuhnya sangat kaku. Beberapa dewa memberitahu bahwa ratu tengah mengandung Bakal Buddha. Para brahmana pun meramalkan bahwa anak yang dikandung akan menjadi raja semesta atau Bakal Buddha.
Selama dalam kandungan, terjadi banyak keajaiban: Ratu Maya menyembuhkan rakyat yang sakit, Datangnya rombongan anak singa dan gajah turun dari Himalaya, para dewa muda muncul di hadapan raja dan duduk di pangkuannya. Ratu Maya meminta izin kepada raja untuk pergi melahirkan di rumah orangtuanya. Namun, saat melintasi Taman Lumbini, Ratu Maya melahirkan dengan posisi berdiri, berpegangan pada dahan pohon sala. Bayi Gautama yang baru lahir berjalan tujuh langkah yang ditandai pada relief dengan tujuh teratai.
Seminggu setelah kelahiran bayi Gautama, Ratu Maya mangkat dan terlahir menjadi dewi. Saudarinya bernama Mahaprajapati Gautami menjadi ibu asuhnya.


Jadi panel yang diambil untuk gambar pada uang kertas ini yang menceritakan tentang perjalanan pulang Ratu Maya untuk melahirkan sang Budha sangat mungkin memiliki arti bahwa candi Borobudur yang digambarkan sebagai sang Budha akan segera dilahirkan kembali melalui pemugaran besar besaran. Selain itu mungkin ada makna tersembunyi dari rezim penguasa karena tidak lama lagi tepatnya tahun 1977 akan diadakan pemilu pertama yang diikuti hanya oleh 3 partai (pemilu sebelumnya diikuti banyak partai), dan tentu saja diharapkan akan dilahirkan satu pemenang mutlak laksana titisan dewa.  
Apakah hal tersebut yang ingin diceritakan oleh si pelukis uang? Ataukah ada hal2 lainnya? Kita tidak pernah tau. Yang pasti ada banyak tipe essay dari uang ini yang menggambarkan panel2 candi Borobudur yang berbeda, tetapi semuanya ditolak. Salah satunya sebenarnya jauh lebih bagus yaitu menggambarkan perahu tradisional yang rasanya sangat cocok untuk dijadikan gambar pada uang kertas negara kepulauan Indonesia.

Salah satu panel pada candi Borobudur yang menggambarkan perahu tradisional, 
Terlukis dengan indah pada selembar essay yang ditolak. 
Mengapa gambar yang sebenarnya lebih tepat dan lebih indah karena menggambarkan kehebatan nenek moyang kita ini tidak disetujui dan digantikan dengan 
gambar perjalanan Ratu Maya untuk melahirkan sang Budha? 


Jelas sekali pemilihan gambar pada uang kertas bukan sekedar harus indah tetapi juga harus memiliki makna yang mendalam, Makna yang hanya diketahui oleh si pelukis dan penguasa saat itu.


Bagian belakang uang

Bagian belakang uang ini bergambar sesosok wajah yang menyeramkan yang digambarkan sebagai Barong. Mari kita bahas.

Gambar "barong" tersebut sebenarnya adalah patung dari Batara Kala yang terdapat pada candi Jago, yaitu candi Budha yang terletak disekitar Malang, jawa Timur. 


Candi Jago, perhatikan patung yang terletak di atas pintu masuknya


Patung kepala Batara Kala di atas pintu masuk candi Jago



Batara Kala


Batara Kala :
Kālá (Devanagari: कल) adalah putera Dewa Siwa. Dewa Kala adalah dewa penguasa waktu (kata kala berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya waktu). Dewa Kala sering disimbolkan sebagai raksasa yang berwajah menyeramkan, hampir tidak menyerupai seorang Dewa. Dalam filsafat Jawa Kuno, Kala merupakan simbol bahwa siapa pun tidak dapat melawan hukum karma. Apabila sudah waktunya seseorang meninggalkan dunia fana, maka pada saat itu pula Kala akan datang menjemputnya. Jika ada yang bersikeras ingin hidup lama dengan kemauan sendiri, maka ia akan dibinasakan oleh Kala. Maka dari itu, wajah Kala sangat menakutkan, bersifat memaksa semua orang. 

Mengapa wajah raksasa seram nan kejam ini malah dimasukkan ke dalam gambar uang? Apakah hanya karena unsur kebudayaannya saja? Atau ada makna lain yang ingin disampaikan oleh rezim penguasa saat itu?
Wajah seram Batara Kala sering ditemukan juga pada topeng yang dikenakan pada tari tarian kebudayaan Bali yang kita kenal sebagai tari barong. Wajah menyeramkan dari sang barong diceritakan mampu mengusir para mahluk halus pengganggu, sehingga masyarakat dapat hidup dengan damai. Mungkin pesan ini yang ingin disampaikan oleh si pelukis, jangan main-main dengan penguasa yang dianalogikan sebagai Batara Kala yang mampu mengusir bahkan membunuh para pengganggu. 
Apakah teman-teman setuju? Silahkan berandai andai.

Topeng Barong pada tarian Bali


Selain terekam pada uang kertas, peristiwa pemugaran candi Borobudur juga diabadikan dalam bentuk perangko dan medali peringatan Peruri


Perangko peringatan perayaan pemugaran candi Borobudur, diterbitkan 1983




Medali peringatan  Borobudur sebagai salah satu dari 10 keajaiban dunia



Jakarta 13 Mei 2016
Kritik dan saran hubungi arifindr@gmail.com

1 comment:

yandri humaini said...

Artikel yang Sangat Menarik sekali Pak dr. Arifin, Saya sangat mengagumi Uang Barong 1975 ini yg mana uang ini merupakan Uang dengan Desain dan keindahan Terbaik di masanya, Cerita dan Makna yg indah sekali dibalik Uang ini ... Maju Terus Numismatik Indonesia !!