Rabu, 25 Januari 2017

98. Peristiwa yang terekam pada uang

Pada artikel terdahulu kita telah melihat beberapa kejadian yang terekam pada gambar uang kertas:

10.000 Rupiah barong 1975 menggambarkan dimulainya renovasi besar besaran candi Borobudur oleh UNESCO

10.000 Rupiah 1998 yang menggambarkan tokoh pahlawan Tjut Nyak Dhien, diterbitkan untuk memperingati 100 tahun kelahirannya. 

10.000 Rupiah 1992 yang juga bergambar candi Borobudur justru menggambarkan candi tersebut yang telah selesai di renovasi dan masuk sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO



Pada kesempatan kali ini mari kita melihat beberapa gambar lain yang merekam kejadian atau peristiwa penting yang terjadi semasa uang tersebut akan diterbitkan.

Satu Rupiah 1945 seri ORI

Pada sisi depan dan belakang uang ini menggambarkan dengan jelas sebuah gunung berapi yang sedang dalam keadaan aktif, Setelah ditelusuri sejenak maka dengan mudah kita mendapatkan data bahwa gunung tersebut adalah gunung Merapi di Jawa Tengah yang mengalami erupsi selama 3 tahun berturut-turut sejak Mei 1942 sampai dengan Mei 1945. 


25 Rupiah 1968

Pecahan seri Sudirman ini dengan jelas menggambarkan sebuah jembatan terkenal di Palembang bernama jembatan AMPERA.
Pembangunan jembatan ini dimulai pada bulan April 1962, setelah mendapat persetujuan dari Presiden Soekarno. Biaya pembangunannya diambil dari dana rampasan perang Jepang. Bukan hanya biaya, jembatan inipun menggunakan tenaga ahli dari negara tersebut.
Pada awalnya, jembatan ini, dinamai Jembatan Bung Karno. Menurut sejarawan Djohan Hanafiah, pemberian nama tersebut sebagai bentuk penghargaan kepada Presiden RI pertama itu. Bung Karno secara sungguh-sungguh memperjuangkan keinginan warga Palembang, untuk memiliki sebuah jembatan di atas Sungai Musi.
Peresmian pemakaian jembatan dilakukan pada tahun 1965, sekaligus mengukuhkan nama Bung Karno sebagai nama jembatan. Setelah terjadi pergolakan politik pada tahun 1966, ketika gerakan anti-Soekarno sangat kuat, nama jembatan itu pun diubah menjadi Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat)
Jembatan ikonik yang waktu diresmikan merupakan yang terpanjang di Asia Tenggara ditambah lagi peristiwa kemenangan Orde Baru yang berhasil mengubah nama jembatan tersebut, terekam dengan baik pada uang ini. 

10.000 Rupiah 1979
 Uang bergambar candi Prambanan ini mungkin dimaksudkan sebagai peringatan 25 tahun diresmikannya pemugaran candi ini oleh presiden Sukarno 


100 Rupiah 1984 
Sisi depannya bergambar seekor burung dara mahkota yang endemis di Papua sedangkan bagian belakangnya bergambar sebuah bendungan terkenal dari daerah Sumatera Utara yang bernama bendungan Asahan. Bendungan ini mulai beroperasi bersamaan dengan uang ini diluncurkan. Perhatikan bahwa sisi depan yang bergambar burung dara mahkota adalah hewan yang berasal dari sisi Timur Indonesia sedangkan sisi belakang yang bergambar bendungan Asahan adalah pembangunan teknologi dari sisi Barat Indonesia. Paduan yang sangat menarik yang secara sekaligus bisa menggambarkan ciri khas dari kedua daerah tersebut. Timur yang kaya dengan alamnya dan Barat yang kaya dengan pembangunannya.  


50.000 Rupiah 1993/95 yang bergambar Presiden Suharto ini dengan jelas ingin menggambarkan sosok beliau sebagai Bapak Pembangunan. Semua unsur seperti agama, teknologi, pembangunan, alam dan sebagainya termasuk acara "talk show" nya yang terkenal dengan sebutan Klompencapir (kelompok pendengan, pembaca dan pemirsa) dipaksakan masuk di uang ini. Pecahan 50.000 ini adalah uang terakhir era Orde Baru yang kemudian diganti dengan uang 50.000 bergambar WR Supratman dengan era Reformasinya.  Yang cukup mengherankan, selama era Reformasi sejak tahun 1998 sampai dengan 2016 (18 tahun), kita baru mengganti uang 1x saja (emisi 1998-99 digantikan dengan emisi 2000-2004 yang sekarang masih berlaku). Hal ini cukup mengecewakan para kolektor yang ingin segera melihat gambar-gambar baru yang lebih segar. Mudah-mudahan rencana penggantian uang akhir bulan Desember 2016 ini jadi dilaksanakan.




Uang terakhir yang kita bahas adalah pecahan 500 Rupiah 1977.  Sisi belakang uang ini bergambar gedung Bank Indonesia di jalan MH Thamrin Jakarta yang selesai dibangun tahun 1962. Mengacu pada gambar gedung BI dan tahun terbitnya uang ini pada 1978 sangat mungkin uang ini diterbitkan dalam rangka peringatan 25 tahun berdirinya Bank Indonesia (1953-1978). 

Gedung Bank Indonesia

Yang jadi pertanyaan, siapa sosok wanita yang berada di gambar depan uang ini? Mengapa dia dijadikan gambar utama dan apa maksudnya?

Semua uang kertas kita yang menggambarkan tokoh manusia dapat dibagi beberapa kategori :
1. Tokoh presiden yang tanpa disebut namanyapun sudah kita ketahui, contohnya Presiden Sukarno (seri ORI, RIS dsb), Presiden Suharto (50.000 Rupiah 1993/95)
2. Tokoh pahlawan, (Sudirman, Diponegoro, Kartini, dll)
3. Tokoh pekerja yang sedang menggunakan ketrampilannya (penyadap karet, pembatik, pemahat, pemintal, petani, nelayan, pemain gamelan, pengasah intan dll)
4. Tokoh yang menggambarkan suku, (Jawa pada 1 Rupiah 1954/56 dan Flores pada 2,5 Rupiah 1954/56).

Lalu tokoh siapakah yang dimaksud pada uang ini? Ditampilkan di bagian depan tanpa keterangan apapun. Wajahnya tidak kita kenal, waktu uang diterbitkan dia bukan pahlawan, bukan pula pekerja. Untuk itu mari kita analisa :

Pertama, tokoh ini seorang wanita berkonde dengan sedikit bagian baju yang tampak seperti kebaya. Artinya tokoh ini ingin digambarkan sebagai seorang perempuan Jawa.
Kedua, selain sang perempuan, yang mencolok adalah gambar sekumpulan pohon anggrek.
Artinya sang tokoh tentu berhubungan dengan anggrek.

Dari kedua kunci gambaran tersebut, perempuan Jawa yang berhubungan dengan anggrek, maka dengan cepat kita mendapatkan satu nama yaitu ibu Tien Soeharto. 



Sebagai Ibu Negara, tentu saja Ibu Tien mengemban banyak tugas yang tidak ringan. Hal pertama yang dia lakukan adalah membenahi istana negara. Ibu Tien menambahkan berbagai perangkat yang menonjolkan ciri khas Indonesia. Salah satu kontribusi terbesar yang pernah diberikan oleh Ibu Tien dan akan selalu diingat adalah gagasannya untuk membangun Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang diresmikan tahun 1975. Setelah kurang lebih selama 47 tahun mendampingi suaminya Soeharto, tepat pada hari Minggu, 28 April 1996, di RS Gatot Subroto, Jakarta, Siti Hartinah Soeharto mengembuskan napas terakhirnya karena serangan jantung. Jenasah Ibu Tien dimakamkan di Astana Giri Bangun, Jawa Tengah.
  • Tempat/Tgl. Lahir : Karanganyar, 23 Juni 1923
  • Tempat/Tgl. Wafat : Jakarta, 21 April 1996
Untuk menghormati beliau, sebuah tanaman anggrek yang hanya ada di Sumatera Utara diberi nama Anggrek Tien Soeharto atau Anggrek Hartinah ( Cymbidium hartinahianum ) karena Ibu Tien sangat menyukai dan aktif melestarikan tanaman anggrek yang asli Indonesia tersebut.

    
Tetapi karena ibu Tien waktu itu masih hidup, bukan pula pahlawan, rasanya kurang pantas bila dimasukkan dalam gambar uang. Dengan pengaruh suaminya yaitu Presiden Soeharto, maka gambar ibu Tien bisa dimasukkan tetapi tentu sebaiknya harus disamarkan. Karenanya gambar dibuat sedikit langsing seperti masa mudanya serta kacamata yang merupakan ciri khasnya sengaja dicopot. Dengan dihilangkannya kacamata ciri khas ibu Tien, sosok tersebut bisa disamarkan dengan baik, tetapi pelukis dengan sengaja menambah gambar anggrek yang merupakan bunga kesayangan beliau sehingga walaupun disamarkan, kita masih diberikan kunci untuk bisa menebak siapa tokoh yang dimaksud.

Lepas kacamatanya kemudian rampingkan sedikit
Apakah mirip ?


Jadi kalau betul gambar di bagian depan uang ini adalah ibu Tien Soeharto, maka bisa kita ambil kesimpulan kalau uang ini dibuat sebagai beberapa peringatan sekaligus :
Diresmikannya TMII (1975) beserta penggambaran tokoh pencetusnya yaitu ibu Tien Soeharto
Peringatan ulang tahun BI ke 25 tahun
Peringatan ulang tahun perkawinan Presiden Soeharto - Ibu Tien yang ke 30 tahun (1947-1977)  

Bagaimana, menarik bukan?


Ingat artikel di atas hanya berdasarkan dugaan, kepastiannya tidak pernah bisa kita ketahui
Jakarta 14 Desember 2016
Kritik dan saran hubungi arifindr@gmail.com



















2 komentar:

Dwi Wahyudi mengatakan...

Artikel yang menarik,

Iya Pak Dokter, pemerintah kita kok seperti malas ya mencetak uang kertas baru, sebagai bentuk kekayaan intelektual dan kreativitas bangsa.

Apa mungkin terbentur dengan anggaran ? Atau memang kondisi politik kita yang kurang solid, entahlah.
Salam numismatik, dwi-denpasar

Lambok Arnold Siregar mengatakan...

saluttt... untuk uang 500 '77 analisa pak arifin top markotop, saya juga bertanya tanya siapa tokoh wanita tsb?, di era soeharto, beliau harus selalu nampang di perangko dan uang, termasuk juga menyiasati ibu tien agar masuk kedalam uang kertas.
kondisi UNC cukup mahal pula ya pak??? sekitar 200rban.