Selasa, 29 Agustus 2017

102. Kolektor lama

Tepat tanggal 17 Agustus 2017 saya datang memenuhi undangan seorang tuan rumah pemilik 50 album uang kuno. 
Disambut dengan ramah oleh anaknya yang cantik, saya memasuki rumahnya yang asri seluas 1200m2 di kawasan Jakarta Selatan. Setelah duduk sejenak menikmati lantai marmer Italia antik, dengan segera saya disodori 1 dus besar berisi puluhan album. Tentu saya kagum dengan jumlahnya, sekaligus miris karena seluruh album2 tersebut sangat tidak terawat dan dibiarkan tertumpuk berselimut debu. Tidak tersentuh selama belasan tahun karena pemiliknya sudah meninggal dunia bertahun-tahun yang lalu. Sekarang karena ingin pindah rumah, maka anak cucunya ingin melepas semua koleksi sang kakek tersebut. Kejadian ini mirip seperti artikel saya sebelumnya yang berjudul Renungan. 
Jangan meninggalkan beban untuk anak cucu. Hobi kita ya untuk kita. Bukan untuk orang lain. 

50 album berserakan di meja jati besar 


Sampai di rumah difoto dulu sebelum dibongkar


Lalu sambil berbincang2 santai tentang asal usulnya saya mulai membongkar dan membolak balik semua album tersebut. Kagum dengan ragam koleksinya sekaligus sedih melihat kondisinya. Banyak sekali koleksi yang rusak karena salah penyimpanan. Saya tidak ingin membahas isi dari koleksinya yang super beragam dari coin dan kertas seluruh dunia termasuk uang lokal dari jaman belanda, jepang, uang daerah dan uang Indonesia dari era 1930 an sampai tahun 1980an. Yang ingin saya bahas kali ini adalah bahwa koleksi tersebut secara keseluruhan mencerminkan ciri khas seorang kolektor jaman dulu. Apa saja ciri khasnya, mari kita bahas.

1.  Tidak mementingkan kondisi
Berbeda dengan kolektor jaman sekarang yang super bawel dengan kondisi, harus UNC TOTAL, harus PMG dengan nilai sempurna (kalau bisa 70 plus plus, plus EPQ, plus star, plus harga yang super muahal), tidak boleh tropis, tidak boleh rekondisi, semua ujung harus tajam, kalau bisa yang nomornya cantik, bahkan tidak boleh dipegang tangan telanjang, harus pakai sarung tangan khusus dan seribu alasan bawel lainnya. Kolektor jaman dulu sangat tidak bawel dengan kondisi. Buat mereka yang penting punya, apapun kondisinya. Semakin bagus kondisi suatu uang berarti semakin sedikit nilai sejarahnya karena uang tersebut cuma disimpan doang, tidak jalan-jalan dari tangan ke tangan, dari dompet ke dompet atau dari satu negara ke negara lain. Tentu tidak bisa disangkal bahwa kemajuan jaman sangat ikut berpengaruh. Sekarang dimana semua serba online, kolektor menjadi punya banyak pilihan. Tidak seperti dulu yang jangankan untuk milih. Untuk bisa lihat saja susahnya minta ampun. 

2. Tidak suka gonta ganti koleksi
Kolektor jaman sekarang suka sekali mengganti koleksinya dengan yang lebih bagus, lebih tinggi nilai PMG nya dan tentu yang lebih mahal. Jangan heran kalau kita sering mendapatkan kolektor muda yang sudah menukar uang yang sama  berkali-kali. Alasannya sejuta macam, tetapi intinya kurang puas dengan kondisi yang dimilikinya. Mereka tidak sadar kalau kejadian ini sangat menguras dana dan tenaga. Merekapun menjadi lelah hanya untuk memperbaiki kualitas koleksinya. Beberapa teman malah rela membuang koleksi lainnya hanya untuk mengejar satu barang yang nilai PMG nya lebih tinggi dari yang telah dimilikinya. Ironis bila dibandingkan dengan kolektor lama yang sudah puas dengan barang yang telah dimiliki apapun kondisinya. Mereka lebih suka berburu yang belum dimiliki daripada mengutak atik atau mengganti kondisi uang2 miliknya.

3. Lengkap
Karena tidak suka gonta ganti kondisi, maka jangan heran kalau kolektor lama seringkali bisa melengkapi koleksinya termasuk dengan uang2 yang kita anggap super langka. Energi mereka dipakai untuk melengkapi, bukan untuk memperbaiki kondisi. Bandingkan dengan kolektor jaman sekarang yang punya wayang 5 dan 10 Gulden PMG 68 EPQ urut beberapa lembar tapi tidak punya satupun wayang 100 yang poor sekalipun karena menunggu yang berkondisi 65 EPQ. Kolektor lama walau cuma punya yang 5 dan 10 VF tapi memiliki semua pecahan sampai 1000 Gulden. Kolektor baru punya seri binatang 5, 50, 100, 500, 1000 dan 2500 semua PMG 67 EPQ tapi tidak pernah punya yang 10 rusa dan yang 25 badak walau yang cuma fine. Kolektor lama yang serius walau semuanya cuma VF tapi punya lengkap sampai ke rusa dan badaknya.


4. Tidak peduli variasi, tidak suka specimen, proof atau essay
Buat mereka yang penting uang yang pernah beredar, tidak peduli variasinya, tidak peduli apakah satu huruf atau beda tanda tangan. Kebanyakan dari mereka tidak suka specimen, tidak suka proof atau essay yang menurut mereka adalah uang yang gak jelas. Kita tentu bisa memakluminya  karena informasi saat itu yang serba terbatas. Sebagai contoh  ketidakpedulian dengan variasi, saya menemukan satu variasi JIM yang super langka diantara uang2 umum lainnya. Pemilik pasti gak sadar dengan uang tersebut.

1. Uang 100 Roepiah bernomor seri SO yang sepintas biasa. Kondisinya lumayan parah dan dijamin pasti gak ada kolektor sekarang yang mau pegang.
Kondisi lumayan parah, mungkin cuma VG saja

Tetapi setelah diterawang baru saya sadar kalau uang tersebut termasuk tipe yang sangat langka bahkan tidak ada di KUKI, OEN maupun Pick. Seperti apa sih tipenya?

KUKI hanya mencantumkan 4 variasi
a. Cetak dalam, bertanda air
b. Cetak rata, tidak bertanda air, benang pengaman
c. Tanpa huruf
d. Huruf tebal, tanpa tanda air (palsu)

Oeang Noesantara hanya mencantumkan 4 variasi
a. Prefix SK (salah cetak, seharusnya SO, mudah2an akan direvisi di edisi selanjutnya)
b. Diragukan keasliannya
c. Mihon
d. Mihon dan specimen

Bagaimana dengan Pick ?
Pick mencantumkan lebih banyak variasi yaitu 5 jenis :

Ringkasannya adalah sbb:
a. Watermark bunga kiri
b. Tanpa watermark, tanpa benang pengaman
c. Tanpa watermark, dengan benang pengaman
d. Tanpa huruf
e. Mi hon dengan specimen di bagian belakang

Bagaimana dengan uang jelek tersebut? Kita lihat hasil terawangnya yuk...

Hasilnya: tampak tanda air berupa bunga kiri (tampak nyata pada sisi atas tengah dan sisi kiri) serta benang pengaman yang memanjang dari sisi atas ke bawah (bandingkan dengan bekas lipatan beberapa mm di sisi kanannya)

Berarti uang tersebut memiliki 2 pengaman yaitu benang dan tanda air sekaligus. Varian baru yang tidak ada di katalog manapun. Menarik bukan?

2. Uang dari seri yang sama yaitu nominal 1/2 Roepiah. Uang ini ternyata tidak berhuruf seri (SP)

JIM 1/2 Roepiah tanpa huruf SP

Sekali ini KUKI mencantumkan varian tersebut, tetapi Pick dan OEN tidak. 

Apakah si pemilik menyadari kalau dia menyimpan varian yang langka? 
Kelihatannya tidak. Karena disatukan dengan yang lain bahkan dia tidak memiliki varian biasanya. Demikian juga dengan wayang besarnya serta seri Coen yang hanya ada seadanya, cukup masing2 ada yang mewakili. Tidak peduli variasinya, tidak peduli kondisinya dan tidak peduli langka tidaknya. Ini adalah salah satu ciri khas kolektor lama.

5. Penyimpanan yang kurang rapi
Karena waktu dulu tidak ada yang menjual album khusus uang kertas, maka kolektor lama menggunakan album foto untuk menyimpan koleksinya. Tentu akan banyak kekurangan :

1. Album foto memiliki perekat sehingga uang yang ditempel langsung akan berbekas garis2 miring  yang sejajar

Garis2 miring sejajar ex lem dari album foto

2. Bagi kolektor yang lebih peduli, mereka membuat alas dari kertas putih sebagai dasarnya, sehingga uang tidak melekat langsung ke album. Cara ini lebih baik tetapi ada kelemahannya juga karena setelah sekian puluh tahun, kertas akan berjamur dan berubah warna. Uang yang ada diatasnya sedikit banyak ikutan terkena juga.

Jamur dan bercak tropis pada alas kertas dan album menular ke uang.


3. Album foto hanya bisa menampilkan satu sisi uang saja, karena itu jangan heran kalau kolektor lama selalu menyimpan masing2 uang minimal 2 lembar untuk ditampilkan sisi depan dan belakangnya. Lihat gambar di atas dan di bawah ini.


Tidak peduli jenisnya, masing2 disimpan 2 lembar, satu untuk ditampilkan sisi depannya dan satu lagi untuk sisi belakang.


Semua uang selalu dobel, tidak heran ada banyak yang urut nomor. Saya menemukan komodo, Sudirman 5 dan 10 rb, wayang 50 Gulden, 10 Rupiah Irian Barat dan ratusan jenis lainnya yang urut nomor. 

4. Bila tidak berhasil mendapatkan 2 lembar, kolektor lama akan memfotokopi sisi belakang uang untuk ditampilkan. Seperti  pada contoh yang terdapat pada uang 100 Rupiah Irian Barat berikut ini :

Untuk menampilkan sisi belakang, bila terpaksa maka pemilik memfotokopi uangnya.
Tapi dari sekian ribu jenis, saya hanya menemukan beberapa saja. Artinya pemilik berusaha sangat keras untuk mendapatkan masing2 jenis minimal 2 lembar.

5. Untuk melengkapi dan memberikan arti lebih dalam dari koleksinya banyak sekali saya menemukan catatan kecil yang di ketik rapi. Menceritakan sedikit peristiwa yang menjadi latar belakang uang tersebut. Beberapa ditulis dengan penelitian yang bagus dan mendetail. Untuk saat ini silahkan lihat beberapa gambar berikut. Untuk uang asing, masing2 ditempel bendera negara tersebut.

Senering ketiga 13 Desember 1965 dimana nilai uang seribu rupiah dipotong menjadi 1 rupiah terekam dalam tulisan seorang kolektor lama (sudah dipindahkan dari album aslinya). Kita jadi tahu uang mana yang dipotong nilainya dan yang mana penggantinya. 

Uang bergambar orang Irian (belakangan baru kita ketahui kalau gambar tsb adalah orang Flores) ini diduga oleh pemilik sebagai inspirasi pembangkit semangat bangsa Indonesia untuk merebut Irian Jaya yang waktu itu masih dikuasai Belanda

Keterangan tentang uang JIM

Seri RIS dicetak di TDLR Inggris agar kualitasnya setara dengan uang-uang kelas dunia lainnya

Mau tahu sedikit sejarah uang komodo? Silahkan baca tulisan di atas.

Bayangan pohon di atap rumah yang menyerupai lambang PKI (palu arit)
Apakah mirip?


6. Tiap album diberikan judul atau nomor sesuai isinya dan semua tersusun rapi. Berbeda dengan kolektor sekarang yang albumnya bagus-bagus, import dan mahal, bahkan ada yang spesial untuk memuat folder PMG yang super lebar, tetapi percuma di beri nomor karena jumlahnya cuma 1- 2 saja dan isinya sedikit hanya yang super UNC saja, bolong-bolong tidak lengkap serta hampa tidak ada keterangan apapun yang dicatat atau dicantumkan disana.

Contoh album coinnya, luar biasa banyak dan lengkap. Disusun menurut nama negara

Contoh sebagian dari puluhan album uang kertasnya, masih tampak beberapa yang tersisa nomornya


Selain menggunakan album foto, seringkali para kolektor lama menggunakan plastik biasa saja sebagai pelindung, disegel dengan seal listrik atau api lilin lalu ditumpuk sembarangan di nampan atau di kardus.

Kolektor lama dari Surabaya memamerkan koleksinya, sebagian dibungkus plastik.
Tahukah anda kalau uang yang paling kiri adalah badak issued? Sayang terhalang silau lampu kilat.


Setelah album import uang kertas masuk ke Indonesia sekitar tahun 1990an, barulah para kolektor era tahun tersebut memakainya. Dimasa awal refillnya berwarna hitam hanya menampilkan satu sisi sehingga para kolektor tetap mengumpulkan masing2 jenis 2 lembar. Satu untuk tiap sisi.

Album dengan refill hitam, hanya menampilkan satu sisi sehingga kolektor tetap membutuhkan 2 lembar uang untuk ditampilkan masing2 sisinya.


Seiring dengan berlalunya waktu baru masuk album2 uang kertas yang transparan sehingga para kolektor cukup hanya menyimpan satu lembar saja. Maka berakhirlah era menyimpan 2 lembar.


Kesimpulan yang dapat diambil dari kolektor lama:

1. Ditengah keterbatasan informasi, kesulitan mendapatkan bahan koleksian (ingat waktu itu belum ada lelang/jual beli online) ditambah kesibukan pekerjaan masing-masing (pemilik adalah penterjemah resmi yang telah berkeliling dunia), mereka tetap tekun mengumpulkan dan menyalurkan hobinya sedikit demi sedikit, satu persatu untuk seumur hidup. Dalam kasus di atas pemilik meninggal di akhir tahun 1980an, sedangkan uang terakhir yang masuk di album (hanya diselipkan, belum sempat dirapikan) adalah 2 lembar uang Rp500 1988. Suatu bukti bahwa pemilik benar-benar menjadi kolektor sepanjang hidupnya sampai dia meninggal.

2. Tidak terlalu peduli dengan kondisi atau kualitas uang koleksinya. Yang penting ada dan lengkap.

3. Mungkin karena kurangnya pengetahuan, tidak terlalu peduli dengan variasi. Cukup punya satu- dua lembar untuk mewakili.

4. Kurangnya sarana penyimpanan sehingga banyak yang menyimpan secara sembarangan. Akibatnya kualitas menjadi jelek. Tropis, jamuran, lembab bahkan tidak jarang sampai rusak dan hancur. 

Uang menjadi rusak karena salah penyimpanan

Jangankan kolektor lama, kolektor jaman sekarangpun masih banyak yang kurang mengerti cara penyimpanan yang baik, tidak tahu kalau uang kertas tidak boleh disimpan menggunakan plastik biasa, tidak boleh terkena panas atau lembab, bahkan suhu ruangan penyimpanan juga harus diatur. Kita lihat contoh di bawah : 

Coen  Mercurius 300 Gulden specimen urut nomor (OL 2046 dan 2047), yang atas (2047) saya dapatkan dari kolektor lokal dan yang bawah (2046) menang lelang dari Belanda. Perhatikan perbedaan kualitas kertasnya. Yang atas jelas tropis dan penuh bercak, sedang yang bawah relatif lebih bersih.

Satu lagi sambungannya (OL 2048), masih disimpan teman kolektor lokal, kondisinya kembali tropis dan penuh bercak, padahal barang disimpan bertahun tahun di safe deposit bank yang terlindung dan dikeluarkan hanya sekali untuk difoto.



Kesimpulan akhir :
Ketekunan adalah yang utama. Persoalan kualitas apakah cuma VF atau harus UNC adalah soal selera dan kemampuan, yang penting jangan sampai mengganggu uang dapur. Jalani dengan santai, jangan terburu-buru tetapi terus kontinu. Pengetahuan menjadi modal berikutnya supaya koleksi kita menjadi lebih menarik dan bernilai. Penyimpanan juga sangat penting supaya koleksi kita tidak rusak. Dan terakhir, jangan mewariskan uang kuno, wariskan saja uang yang masih laku agar anak cucu kita tidak terbeban. Kalau tidak koleksi anda akan berakhir di dalam dus dan pindah ke rumah saya.






Jakarta 29 Agustus 2017
Terima kasih kepada Bapak Juna ahli waris 50 album uang kuno beserta anaknya yang cantik yang telah mempercayakan semua koleksi ex ayahnya, almarhum Bapak Marah S Muluk kepada saya. Sungguh suatu koleksi yang sangat hebat.

Saran dan kritik silahkan kirim ke arifindr@gmail.com


Artikel berikutnya segera terbit yaitu tentang nomor seri 000000















Selasa, 31 Januari 2017


DICARI UANG KERTAS KUNO, HUBUNGI : 08159988188

Uang kertas DICARI

DICARI uang-uang kertas jaman penjajahan Belanda seri JAVASCHE BANK
Bila ada diantara pembaca yang memiliki uang2 tersebut di bawah ini dan berniat untuk menjualnya, silahkan hubungi saya di email arifindr@gmail.com atau telp di 0815 9988188.


Semua pecahan seri Javasche Bank sampai dengan tahun 1920 seperti:



Seri Creatie 1815

Seri Creatie 1815 merupakan surat kredit pemerintah Belanda, terdiri dari pecahan 1, 5, 10, 25, 50, 100, 300, 600 dan 1000 gulden. Dicari dalam kondisi baik dan asli. Seri ini banyak sekali dipalsukan, terutama untuk pecahan 1 dan 1000 gulden.


Seri Recepis (1846)
Seri Recepis atau disebut juga Recepis Perak (1846) terdiri dari pecahan 1, 5, 10, 25, 100, 500 gulden. Dicari dalam kondisi baik dan asli.



Seri Bingkai I (1864-1903)
Seri yang sangat sulit ditemukan, bernilai tinggi dan terdiri dari pecahan 5, 10, 25, 50, 100, 200, 300, 500 dan 1000 gulden. Dicari dalam segala kondisi.




Seri Bingkai II (1873-1924)
Terdiri dari pecahan 10, 25 dan 50 gulden, Ada dalam bentuk specimen dan ada juga yang bernomor jalan. Dicari dalam bentuk nomor jalan.




Seri Coen Mercurius (1897-1924)
Bentuknya besar dan memiliki tepi yang tidak rata, bergambar JP Coen di kanan dan patung Mercurius di kiri, terdiri dari pecahan 100, 200, 300, 500 dan 1000 gulden. Juga terdapat dalam bentuk beredar dan specimen. Dicari dalam bentuk baik dan utuh.



Seri Coen I (1901-1924)
Hanya terdiri dari pecahan 5 gulden, tetapi memiliki setidaknya 10 variasi tanda tangan.
 Terdapat dalam bentuk specimen atau nomor jalan. Dicari dalam bentuk baik.



Seri Munbiljet Wilhelmina (1919-1920)
Diterbitkan dalam rangka perkawinan ratu Wilhelmina, terdiri dari pecahan 1 dan 2,5 gulden. 
Dicari dalam bentuk minimal extra fine.



Seri Gedung (1919-1921)
Bergambar gedung Javasche bank, terdiri dari pecahan 20, 30 dan 40 gulden. Ada dalam bentuk proof, specimen maupun nomor berjalan. Dicari dalam bentuk nomor jalan. Tetapi jenis ini terdapat banyak bentuk palsunya.



Seri Munbiljet II (1920)
Terdiri dari pecahan 1/2, 1 dan 2,5 gulden. Pecahan 1/2 dan 1 gulden cukup mudah ditemukan, tetapi pecahan 2,5 sedikit sulit didapatkan terutama yang berkondisi baik. Dicari dalam bentuk minimal extra fine.


Seri JP Coen II (1925-1931)
Pecahan 5, 10, 25, 50 dan 100 gulden dicari dalam kondisi minimal EF
Pecahan 200, 500 dan 1000 gulden dicari dalam kondisi baik dan utuh.
Pecahan 300 gulden dicari dalam segala kondisi asalkan utuh.


Seri Wayang 1938-1939
Pecahan 5, 10, 25 gulden dicari dalam kondisi UNC
Pecahan 50 dan 100 gulden dicari dalam kondisi minimal very fine
Pecahan 200, 500 dan 1000 gulden dalam segala kondisi asalkan utuh.



Seri NICA 1943
Pecahan 25, 50 dan 100 gulden dicari dalam kondisi UNC
Pecahan 500 gulden dicari dalam kondisi baik dan utuh.





Selain uang2 di atas, bila anda memiliki uang2 jaman penjajahan Belanda atau uang2 Indonesia lainnya yang ingin di jual baik satuan maupun borongan, silahkan hubungi saya di email arifindr@gmail.com atau telp: 0815 9988188


Terima kasih

Rabu, 25 Januari 2017

101. RENUNGAN

Anda seorang kolektor, seorang numismatist. Dari kecil sampai tua menghamburkan waktu dan uang untuk membeli uang-uang kuno idaman. Sebagian dijual untuk mendapatkan sedikit keuntungan, sebagian di tukar tambah, sedangkan sebagian besar tentu tetap disimpan.
Disimpan.. disimpan.........................terus selama bertahun-tahun.
Kadang setelah bertahun-tahun disimpan, barang koleksi anda dikeluarkan dari album untuk dilihat-lihat sebentar, diingat-ingat kembali, mungkin sedikit kaget karena barang yang dikira belum punya ternyata sudah bertahun2 mendiami album anda. Mungkin ada yang mau anda jual tetapi bingung karena lupa dengan harga belinya. 

Lalu anda terus menghamburkan uang, menambah barang2 yang belum dimiliki atau yang lebih bagus kondisinya, saling bersaing di lelang, saling sikut atau saling merayu, saling membujuk atau saling menjelekkan. Kadang menjadi kawan dengan saling kerjasama, kadang terbalik menjadi lawan yang saling bersaing dan saling menipu. Beribu cara lainnya dipergunakan baik halal maupun busuk demi mendapatkan barang idaman. Akhirnya jangan heran bila anda tidak memiliki teman di bidang ini, yang ada musuh dan lawan.

Puluhan tahun kemudian, anda mulai menua, barang koleksi menumpuk beralbum-album (kalau rajin dirapikan) atau ber dus-dus (kalau malas merapikan). Catatan harga beli, tanggal beli dan hal2 penting lainnya yang tadinya rajin dibuat sudah hilang entah kemana. Yang tertinggal cuma harga kira-kira yang terekam sekedarnya di otak yang mulai menciut. Walau demikian semangat dan sifat serakah masih tetap ada, anda tetap berburu dan masih saja berusaha menumpuk. "Mumpung masih hidup" kata anda.

Akhirnya sampailan anda diujung jalan kehidupan. Bisa jadi sesuai dengan yang kita semua harapkan, anda sakit cuma sebentar saja, lalu terbang pindah ke alam lain. Atau anda pergi secara mendadak, pagi masih pergi kerja, sore sudah tidak pulang lagi karena nyawa anda nyangkut di trotoar akibat kesambar truk. Tetapi bisa juga anda pindah dengan susah payah, penuh perjuangan dan derita berkepanjangan, bertahun-tahun disiksa oleh stroke, kanker, cuci darah dan sejuta penyakit lainnya. Yang manapun kejadiannya sayangnya kita tidak bisa memilih. Cuma nasib yang menentukan. Cerita andapun selesai. Tamat.

Tetapi cerita barang-barang ex koleksi anda baru dimulai...........

Bila selama anda hidup, anda tidak membuat catatan yang rapi dan tidak meninggalkan pesan apapan kepada penerus anda maka jangan heran bila barang2 anda akan berakhir di tukang loak keliling, atau di penjual kaki lima di pasar baru, atau lebih miris lagi dibuang dan dibakar karena dianggap tidak bernilai.

Saya sudah berpuluh-puluh kali memborong barang2  peninggalan kolektor yang pensiun atau yang sudah meninggal dunia. Sebagian kecil saja yang meninggalkan pesan dan catatan lengkap tentang daftar dan harga. Sebagian besar lainnya sama sekali tidak meninggalkan catatan apapun sehingga penerus yang awam dan buta harga menjual barang2 tsb dengan harga seenaknya.

Ada satu contoh kolektor yang benar2 rapi dalam menyusun uang-uang koleksinya, kita lihat yuk:

Puluhan album uang kertas miliknya



Buku berisi daftar lengkap koleksinya




Beberapa contoh halaman, berisi keterangan jenis uang, nomor seri, kondisi dan harga
Bahkan tiap album diberikan nomor

Dengan catatan yang jelas dan rapi kita jadi mengetahui jenis2 uang yang sudah kita miliki, kondisi serta harganya. Bila perlu tambahkan juga tanggal beli dan beberapa keterangan lainnya. Catatan yang rapi juga menunjukkan bahwa kita bukan seorang kolektor asal-asalan yang cuma bisa beli dan tumpuk. Selain itu catatan juga sangat berguna dan bisa dijadikan pegangan bagi anak cucu kita bila nanti kita pindah ke alam lain.

Gambar berikutnya kebalikan dari yang di atas, adalah penawaran dari buyut seorang ex kolektor besar yang barangnya super berantakan, sy lampirkan dua fotonya :


Ratusan lembar uang kertas super langka (diantaranya ada seri gedung 20, 30 dan 40 Gulden, Coen Mercurius 100, 200  Gulden, seri bingkai 10, 25 dan 50 Gulden, puluhan lembar seri munbiljet 1919-1920, puluhan lembar seri Coen I, berlembar-lembar seri bingkai I  dll, semua issued) ditumpuk sembarangan, dibawa dalam kardus ke Malaysia untuk dilepas disana. Untung berhasil saya bujuk dan dibawa kembali ke tanah air.


Dengan penyimpanan yang sembarangan tanpa catatan yang baik, jangan heran bila anak cucu kita akan menganggapnya sampah dan dijual dengan harga yang juga sembarangan. Dari kedua kasus di atas kita bisa melihat 2 contoh extrim, yang satu terlalu rapi sedangkan yang satu terlalu berantakan. Saya yakin sebagian besar dari anda akan berada diantaranya. Karena itu mari kita bahas bersama apa yang terjadi pada uang2 koleksi anda nantinya...

Bila anda masih hidup dan anda memutuskan pensiun atau berhenti menjadi kolektor :

A. Anda bisa menjual sebagian atau seluruh koleksi anda. Bisa melalui lelang, titip ke penjual, borongan ke kolektor lain, dll. Bila opsi ini yang dipilih, anda harus kuat mental dan tidak boleh ada penyesalan. Jangan merasa sayang bila koleksi anda berpindah tangan ke orang lain. Sebagai imbalan anda akan mendapatkan uang tunai yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan termasuk untuk mencari hobi lain atau bahkan untuk kawin lagi. Menurut saya opsi ini yang paling baik, mencari hobi lain yang lebih sehat maksudnya, bukan untuk yang kawin lagi (walaupun yang ini tampaknya juga mengasyikan).

B. Bila tidak rela koleksi anda dijual, anda bisa menghibahkan sebagian atau seluruhnya kepada museum misalnya, atau kepada teman/sesama kolektor yang lebih muda dan yang bisa menghargai koleksi anda. Walaupun terdengar aneh tetapi saya pernah mendapatkan hibah dari seorang kolektor berupa uang2 kuno senilai ratusan juta rupiah. Setelah bertahun-tahun, semua uang2 kuno tersebut tetap saya simpan dengan baik.



Anda tidak berniat untuk menjualnya, mungkin karena terlalu sayang, anda memutuskan untuk mewariskan ke anak cucu. Lalu anda meninggal, yang kemudian terjadi adalah :

a. Yang paling anda harapkan adalah anak cucu anda kebetulan memiliki hobi yang sama, maka terberkatilah mereka mendapatkan warisan dari anda. Tetapi pada kenyataannya selama ini, dari sekian banyak kolektor, saya hanya menemukan 1-2 kasus saja dimana seorang anak atau cucu memiliki hobi yang sama dengan orang tuanya. Kejadian yang ideal ini sangat kecil kemungkinannya karena hobi numismatik adalah hobi yang sangat langka. Sejak jaman SD era 1970an saya sudah mengumpulkan uang-uang kuno tetapi sampai saya lulus jadi sarjana tidak ada satupun dari ratusan teman sekolah atau kuliah yang memiliki hobi yang sama. Mereka malah terheran-heran dengan hobi saya.

b. Harapan berikutnya adalah semoga anak cucu anda akan menyimpan, menjadikannya hobi mereka. Kenyataannya apa kata mereka: Hobi kok diwariskan? Uang gak laku kok diwariskan ke saya? Hobi itu sifatnya individual, masing2 orang memiliki hobi yang sangat berbeda dan tidak bisa dipaksakan. Dengan mewariskan hobi ke anak cucu, justru  akan merepotkan dan memberatkan mereka. Dijual takut kualat, diteruskan kok rasanya gak nyambung, disimpan cuma makan tempat. Akhirnya pelan-pelan barang2 peninggalan anda akan menguap entah dijadikan mainan monopoli oleh cicit anda, dicuri temannya atau pembantu, digunting-gunting untuk dijadikan prakarya (saya pernah mendapatkan kasus, satu lembar uang Coen Mercurius 500 Gulden digunting gambarnya untuk dijadikan tugas sekolah) bisa juga dijadikan sarapan oleh rayap, hanyut terkena banjir,  dan berjuta alasan lainnya. Seandainyapun warisan anda selamat sampai 5 turunan, maka turunan ke 6 atau ke 7, cepat atau lambat, pasti akan menjual semuanya. Kebutuhan akan uang yang masih berlaku tentu melebihi semuanya.

Jadi bagaimana langkah selanjutnya?

Menurut saya pribadi, langkah yang terbaik adalah :
1. Hobi bersifat individual yaitu untuk kesenangan pribadi, dengan menekuninya secara bijak bisa menghasilkan banyak keuntungan. Mengisi waktu luang, membina teman dan relasi, menambah pengetahuan  sampai mendatangkan keuntungan dll yang pada ujung-ujungnya akan meningkatkan kualitas hidup kita.

2. Kita harus menekuni hobi kita dengan baik. menyimpan, merawat dan mencatat semuanya. Sehingga kita tetap ingat dengan apa yang telah kita miliki, baik jenisnya, harganya, kualitasnya  dan kesulitan dalam mendapatkannya.  Bukan hanya mengingat yang belum kita miliki.

Saya sendiri memiliki catatan lengkap tentang semua uang2 yang berhasil saya dapatkan berupa scan gambar, tanggal mendapatkan, harga dan dari mana asalnya. Saya lempirkan beberapa contoh halamannya :

1 Desember 2011, saya memenangkan lelang di Spink Inggris berupa 2 lembar uang Diponegoro 5000 dan 10000 Rupiah SPECIMEN dengan stempel TDLR yang super langka seharga  Rp18.000.000. Sebelumnya pada tanggal 29 November 2011 saya bertemu dengan seorang office boy BI yang membawa sebuah test note Affandi dan selembar 10ribu edisi lama (2004) yang tidak ada nomor serinya (mungkin termasuk salah cetak) seharga Rp250.000 untuk keduanya.


13 Mei 2012, Seorang ibu bernama Irma menelpon saya dan menawarkan satu set uang NNG dan Irba yang disimpan oleh ayahnya seorang pejuang Trikora. Uang2 tsb merupakan gaji pertama ayahnya dan disimpan sebagai kenang-kenangan.

24 Oktober 2012, menang lelang di Ebay berupa  2 lembar uang bingkai 10 Gulden dan NICA 25 Gulden variasi tersulit (5 angka tanpa suffix), setelah bertempur dengan dahsyat, keduanya bisa saya tebus seharga Rp.16.100.000. Uang tersebut masih saya simpan sampai sekarang. 

8 November 2012, saya memborong satu album ex kolektor dari Kebumen seharga Rp3,5 juta. 
Isinya berupa 42 lembar uang kertas yang saya perinci satu persatu.

1 Februari 2013, menang lelang Stack's Bowers berupa 44 lembar uang kertas seharga Rp.15,2 juta, masing2 jenis diperinci nomor serinya dan kualitasnya. Lot ini sempat bermasalah karena nyangkut di bea cukai bandara Sukarno Hatta dan baru selesai setelah beberapa bulan di tahan.


Demikian seterusnya, daftar yang saya buat lengkap termasuk  fakturnya dari sejak saya jadi kolektor sampai dengan terakhir beberapa hari sebelum lebaran yaitu tanggal 19 Juni 2017 berupa 6  lembar uang 1946-1952 yang semuanya di stempel TIDAK BERLAKU. Kisah tentang stempel ini akan diceritakan dilain waktu. 

6 lembar uang yang di stempel TIDAK BERLAKU, menarik dan langka.

Contoh faktur sewaktu mengikuti lelang ANI tahun 2006, saya memenangkan 15 lot senilai hampir 9 juta rupiah. Sebenarnya yang diincar cuma Federal 1000 Gulden ex KUKI dan sepasang Federal 25 Gulden hijau urut nomor UNC. Lot lainnya cuma  sampingan saja.

Contoh faktur dari Collectplaza, balai lelang dari Belanda tahun 2005. Saya memenangkan 4 lot yaitu wayang 100 Gulden (2 lembar), 1 Gulden munbiljet 1940 proof ( beda gambar) dan Rp1000 seri bunga 1959 sebagai penggembira. Perhatikan harga wayang 100 Gulden saat itu masih dikisaran 350 Euro (sekitar Rp.4,5 jutaan)  sama dengan harga munbiljetnya, dan harga bunga 1000 UNC hanya di 10 Euro (Rp.150 ribu)
  

Dengan dokumentasi yang lengkap kita jadi mengenal koleksi kita, dengan mempelajarinya kita jadi mengenal lebih mendalam lagi. Akhirnya hobi kita bukan hanya sekedar beli simpan saja tetapi menjadi lebih bermanfaat, menambah pengetahuan dan pengalaman sehingga  menambah kualitas hidup kita. Ingat dengan hobi kita ingin menambah umur kita, bukan sebaliknya.

Karena itu mumpung kita masih hidup, jalani hobi kita dengan baik, dan pada saatnya nanti, tentunya sebelum terlambat, janganlah hobi kita dijadikan beban. Lepaslah semuanya dengan legowo, jangan paksa untuk diwariskan kecuali anak/cucu  anda yang minta.
Singkatnya hobi kita ya untuk kita... Bukan untuk orang lain.
Demikian renungan singkat, semoga bisa membuka dan menambah wawasan kita semua.




Jakarta 2 Juli 2017
Saran dan kritik hubungi arifindr@gmail.com