Senin, 03 Juli 2017

RENUNGAN

Anda seorang kolektor, seorang numismatist. Dari kecil sampai tua menghamburkan waktu dan uang untuk membeli uang-uang kuno idaman. Sebagian dijual untuk mendapatkan sedikit keuntungan, sebagian di tukar tambah, sedangkan sebagian besar tentu tetap disimpan.
Disimpan.. disimpan.........................terus selama bertahun-tahun.
Kadang setelah bertahun-tahun disimpan, barang koleksi anda dikeluarkan dari album untuk dilihat-lihat sebentar, diingat-ingat kembali, mungkin sedikit kaget karena barang yang dikira belum punya ternyata sudah bertahun2 mendiami album anda. Mungkin ada yang mau anda jual tetapi bingung karena lupa dengan harga belinya. 

Lalu anda terus menghamburkan uang, menambah barang2 yang belum dimiliki atau yang lebih bagus kondisinya, saling bersaing di lelang, saling sikut atau saling merayu, saling membujuk atau saling menjelekkan. Kadang menjadi kawan dengan saling kerjasama, kadang terbalik menjadi lawan yang saling bersaing dan saling menipu. Beribu cara lainnya dipergunakan baik halal maupun busuk demi mendapatkan barang idaman. Akhirnya jangan heran bila anda tidak memiliki teman di bidang ini, yang ada musuh dan lawan.

Puluhan tahun kemudian, anda mulai menua, barang koleksi menumpuk beralbum-album (kalau rajin dirapikan) atau ber dus-dus (kalau malas merapikan). Catatan harga beli, tanggal beli dan hal2 penting lainnya yang tadinya rajin dibuat sudah hilang entah kemana. Yang tertinggal cuma harga kira-kira yang terekam sekedarnya di otak yang mulai menciut. Walau demikian semangat dan sifat serakah masih tetap ada, anda tetap berburu dan masih saja berusaha menumpuk. "Mumpung masih hidup" kata anda.

Akhirnya sampailan anda diujung jalan kehidupan. Bisa jadi sesuai dengan yang kita semua harapkan, anda sakit cuma sebentar saja, lalu terbang pindah ke alam lain. Atau anda pergi secara mendadak, pagi masih pergi kerja, sore sudah tidak pulang lagi karena nyawa anda nyangkut di trotoar akibat kesambar truk. Tetapi bisa juga anda pindah dengan susah payah, penuh perjuangan dan derita berkepanjangan, bertahun-tahun disiksa oleh stroke, kanker, cuci darah dan sejuta penyakit lainnya. Yang manapun kejadiannya sayangnya kita tidak bisa memilih. Cuma nasib yang menentukan. Cerita andapun selesai. Tamat.

Tetapi cerita barang-barang ex koleksi anda baru dimulai...........

Bila selama anda hidup, anda tidak membuat catatan yang rapi dan tidak meninggalkan pesan apapan kepada penerus anda maka jangan heran bila barang2 anda akan berakhir di tukang loak keliling, atau di penjual kaki lima di pasar baru, atau lebih miris lagi dibuang dan dibakar karena dianggap tidak bernilai.

Saya sudah berpuluh-puluh kali memborong barang2  peninggalan kolektor yang pensiun atau yang sudah meninggal dunia. Sebagian kecil saja yang meninggalkan pesan dan catatan lengkap tentang daftar dan harga. Sebagian besar lainnya sama sekali tidak meninggalkan catatan apapun sehingga penerus yang awam dan buta harga menjual barang2 tsb dengan harga seenaknya.

Ada satu contoh kolektor yang benar2 rapi dalam menyusun uang-uang koleksinya, kita lihat yuk:

Puluhan album uang kertas miliknya



Buku berisi daftar lengkap koleksinya




Beberapa contoh halaman, berisi keterangan jenis uang, nomor seri, kondisi dan harga
Bahkan tiap album diberikan nomor

Dengan catatan yang jelas dan rapi kita jadi mengetahui jenis2 uang yang sudah kita miliki, kondisi serta harganya. Bila perlu tambahkan juga tanggal beli dan beberapa keterangan lainnya. Catatan yang rapi juga menunjukkan bahwa kita bukan seorang kolektor asal-asalan yang cuma bisa beli dan tumpuk. Selain itu catatan juga sangat berguna dan bisa dijadikan pegangan bagi anak cucu kita bila nanti kita pindah ke alam lain.

Gambar berikutnya kebalikan dari yang di atas, adalah penawaran dari buyut seorang ex kolektor besar yang barangnya super berantakan, sy lampirkan dua fotonya :


Ratusan lembar uang kertas super langka (diantaranya ada seri gedung 20, 30 dan 40 Gulden, Coen Mercurius 100, 200  Gulden, seri bingkai 10, 25 dan 50 Gulden, puluhan lembar seri munbiljet 1919-1920, puluhan lembar seri Coen I, berlembar-lembar seri bingkai I  dll, semua issued) ditumpuk sembarangan, dibawa dalam kardus ke Malaysia untuk dilepas disana. Untung berhasil saya bujuk dan dibawa kembali ke tanah air.


Dengan penyimpanan yang sembarangan tanpa catatan yang baik, jangan heran bila anak cucu kita akan menganggapnya sampah dan dijual dengan harga yang juga sembarangan. Dari kedua kasus di atas kita bisa melihat 2 contoh extrim, yang satu terlalu rapi sedangkan yang satu terlalu berantakan. Saya yakin sebagian besar dari anda akan berada diantaranya. Karena itu mari kita bahas bersama apa yang terjadi pada uang2 koleksi anda nantinya...

Bila anda masih hidup dan anda memutuskan pensiun atau berhenti menjadi kolektor :

A. Anda bisa menjual sebagian atau seluruh koleksi anda. Bisa melalui lelang, titip ke penjual, borongan ke kolektor lain, dll. Bila opsi ini yang dipilih, anda harus kuat mental dan tidak boleh ada penyesalan. Jangan merasa sayang bila koleksi anda berpindah tangan ke orang lain. Sebagai imbalan anda akan mendapatkan uang tunai yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan termasuk untuk mencari hobi lain atau bahkan untuk kawin lagi. Menurut saya opsi ini yang paling baik, mencari hobi lain yang lebih sehat maksudnya, bukan untuk yang kawin lagi (walaupun yang ini tampaknya juga mengasyikan).

B. Bila tidak rela koleksi anda dijual, anda bisa menghibahkan sebagian atau seluruhnya kepada museum misalnya, atau kepada teman/sesama kolektor yang lebih muda dan yang bisa menghargai koleksi anda. Walaupun terdengar aneh tetapi saya pernah mendapatkan hibah dari seorang kolektor berupa uang2 kuno senilai ratusan juta rupiah. Setelah bertahun-tahun, semua uang2 kuno tersebut tetap saya simpan dengan baik.



Anda tidak berniat untuk menjualnya, mungkin karena terlalu sayang, anda memutuskan untuk mewariskan ke anak cucu. Lalu anda meninggal, yang kemudian terjadi adalah :

a. Yang paling anda harapkan adalah anak cucu anda kebetulan memiliki hobi yang sama, maka terberkatilah mereka mendapatkan warisan dari anda. Tetapi pada kenyataannya selama ini, dari sekian banyak kolektor, saya hanya menemukan 1-2 kasus saja dimana seorang anak atau cucu memiliki hobi yang sama dengan orang tuanya. Kejadian yang ideal ini sangat kecil kemungkinannya karena hobi numismatik adalah hobi yang sangat langka. Sejak jaman SD era 1970an saya sudah mengumpulkan uang-uang kuno tetapi sampai saya lulus jadi sarjana tidak ada satupun dari ratusan teman sekolah atau kuliah yang memiliki hobi yang sama. Mereka malah terheran-heran dengan hobi saya.

b. Harapan berikutnya adalah semoga anak cucu anda akan menyimpan, menjadikannya hobi mereka. Kenyataannya apa kata mereka: Hobi kok diwariskan? Uang gak laku kok diwariskan ke saya? Hobi itu sifatnya individual, masing2 orang memiliki hobi yang sangat berbeda dan tidak bisa dipaksakan. Dengan mewariskan hobi ke anak cucu, justru  akan merepotkan dan memberatkan mereka. Dijual takut kualat, diteruskan kok rasanya gak nyambung, disimpan cuma makan tempat. Akhirnya pelan-pelan barang2 peninggalan anda akan menguap entah dijadikan mainan monopoli oleh cicit anda, dicuri temannya atau pembantu, digunting-gunting untuk dijadikan prakarya (saya pernah mendapatkan kasus, satu lembar uang Coen Mercurius 500 Gulden digunting gambarnya untuk dijadikan tugas sekolah) bisa juga dijadikan sarapan oleh rayap, hanyut terkena banjir,  dan berjuta alasan lainnya. Seandainyapun warisan anda selamat sampai 5 turunan, maka turunan ke 6 atau ke 7, cepat atau lambat, pasti akan menjual semuanya. Kebutuhan akan uang yang masih berlaku tentu melebihi semuanya.

Jadi bagaimana langkah selanjutnya?

Menurut saya pribadi, langkah yang terbaik adalah :
1. Hobi bersifat individual yaitu untuk kesenangan pribadi, dengan menekuninya secara bijak bisa menghasilkan banyak keuntungan. Mengisi waktu luang, membina teman dan relasi, menambah pengetahuan  sampai mendatangkan keuntungan dll yang pada ujung-ujungnya akan meningkatkan kualitas hidup kita.

2. Kita harus menekuni hobi kita dengan baik. menyimpan, merawat dan mencatat semuanya. Sehingga kita tetap ingat dengan apa yang telah kita miliki, baik jenisnya, harganya, kualitasnya  dan kesulitan dalam mendapatkannya.  Bukan hanya mengingat yang belum kita miliki.

Saya sendiri memiliki catatan lengkap tentang semua uang2 yang berhasil saya dapatkan berupa scan gambar, tanggal mendapatkan, harga dan dari mana asalnya. Saya lempirkan beberapa contoh halamannya :

1 Desember 2011, saya memenangkan lelang di Spink Inggris berupa 2 lembar uang Diponegoro 5000 dan 10000 Rupiah SPECIMEN dengan stempel TDLR yang super langka seharga  Rp18.000.000. Sebelumnya pada tanggal 29 November 2011 saya bertemu dengan seorang office boy BI yang membawa sebuah test note Affandi dan selembar 10ribu edisi lama (2004) yang tidak ada nomor serinya (mungkin termasuk salah cetak) seharga Rp250.000 untuk keduanya.


13 Mei 2012, Seorang ibu bernama Irma menelpon saya dan menawarkan satu set uang NNG dan Irba yang disimpan oleh ayahnya seorang pejuang Trikora. Uang2 tsb merupakan gaji pertama ayahnya dan disimpan sebagai kenang-kenangan.

24 Oktober 2012, menang lelang di Ebay berupa  2 lembar uang bingkai 10 Gulden dan NICA 25 Gulden variasi tersulit (5 angka tanpa suffix), setelah bertempur dengan dahsyat, keduanya bisa saya tebus seharga Rp.16.100.000. Uang tersebut masih saya simpan sampai sekarang. 

8 November 2012, saya memborong satu album ex kolektor dari Kebumen seharga Rp3,5 juta. 
Isinya berupa 42 lembar uang kertas yang saya perinci satu persatu.

1 Februari 2013, menang lelang Stack's Bowers berupa 44 lembar uang kertas seharga Rp.15,2 juta, masing2 jenis diperinci nomor serinya dan kualitasnya. Lot ini sempat bermasalah karena nyangkut di bea cukai bandara Sukarno Hatta dan baru selesai setelah beberapa bulan di tahan.


Demikian seterusnya, daftar yang saya buat lengkap termasuk  fakturnya dari sejak saya jadi kolektor sampai dengan terakhir beberapa hari sebelum lebaran yaitu tanggal 19 Juni 2017 berupa 6  lembar uang 1946-1952 yang semuanya di stempel TIDAK BERLAKU. Kisah tentang stempel ini akan diceritakan dilain waktu. 

6 lembar uang yang di stempel TIDAK BERLAKU, menarik dan langka.

Contoh faktur sewaktu mengikuti lelang ANI tahun 2006, saya memenangkan 15 lot senilai hampir 9 juta rupiah. Sebenarnya yang diincar cuma Federal 1000 Gulden ex KUKI dan sepasang Federal 25 Gulden hijau urut nomor UNC. Lot lainnya cuma  sampingan saja.

Contoh faktur dari Collectplaza, balai lelang dari Belanda tahun 2005. Saya memenangkan 4 lot yaitu wayang 100 Gulden (2 lembar), 1 Gulden munbiljet 1940 proof ( beda gambar) dan Rp1000 seri bunga 1959 sebagai penggembira. Perhatikan harga wayang 100 Gulden saat itu masih dikisaran 350 Euro (sekitar Rp.4,5 jutaan)  sama dengan harga munbiljetnya, dan harga bunga 1000 UNC hanya di 10 Euro (Rp.150 ribu)
  

Dengan dokumentasi yang lengkap kita jadi mengenal koleksi kita, dengan mempelajarinya kita jadi mengenal lebih mendalam lagi. Akhirnya hobi kita bukan hanya sekedar beli simpan saja tetapi menjadi lebih bermanfaat, menambah pengetahuan dan pengalaman sehingga  menambah kualitas hidup kita. Ingat dengan hobi kita ingin menambah umur kita, bukan sebaliknya.

Karena itu mumpung kita masih hidup, jalani hobi kita dengan baik, dan pada saatnya nanti, tentunya sebelum terlambat, janganlah hobi kita dijadikan beban. Lepaslah semuanya dengan legowo, jangan paksa untuk diwariskan kecuali anak/cucu  anda yang minta.
Singkatnya hobi kita ya untuk kita... Bukan untuk orang lain.
Demikian renungan singkat, semoga bisa membuka dan menambah wawasan kita semua.




Jakarta 2 Juli 2017
Saran dan kritik hubungi arifindr@gmail.com



















   

Selasa, 31 Januari 2017


DICARI UANG KERTAS KUNO, HUBUNGI : 08159988188

Uang kertas DICARI

DICARI uang-uang kertas jaman penjajahan Belanda seri JAVASCHE BANK
Bila ada diantara pembaca yang memiliki uang2 tersebut di bawah ini dan berniat untuk menjualnya, silahkan hubungi saya di email arifindr@gmail.com atau telp di 0815 9988188.


Semua pecahan seri Javasche Bank sampai dengan tahun 1920 seperti:



Seri Creatie 1815

Seri Creatie 1815 merupakan surat kredit pemerintah Belanda, terdiri dari pecahan 1, 5, 10, 25, 50, 100, 300, 600 dan 1000 gulden. Dicari dalam kondisi baik dan asli. Seri ini banyak sekali dipalsukan, terutama untuk pecahan 1 dan 1000 gulden.


Seri Recepis (1846)
Seri Recepis atau disebut juga Recepis Perak (1846) terdiri dari pecahan 1, 5, 10, 25, 100, 500 gulden. Dicari dalam kondisi baik dan asli.



Seri Bingkai I (1864-1903)
Seri yang sangat sulit ditemukan, bernilai tinggi dan terdiri dari pecahan 5, 10, 25, 50, 100, 200, 300, 500 dan 1000 gulden. Dicari dalam segala kondisi.




Seri Bingkai II (1873-1924)
Terdiri dari pecahan 10, 25 dan 50 gulden, Ada dalam bentuk specimen dan ada juga yang bernomor jalan. Dicari dalam bentuk nomor jalan.




Seri Coen Mercurius (1897-1924)
Bentuknya besar dan memiliki tepi yang tidak rata, bergambar JP Coen di kanan dan patung Mercurius di kiri, terdiri dari pecahan 100, 200, 300, 500 dan 1000 gulden. Juga terdapat dalam bentuk beredar dan specimen. Dicari dalam bentuk baik dan utuh.



Seri Coen I (1901-1924)
Hanya terdiri dari pecahan 5 gulden, tetapi memiliki setidaknya 10 variasi tanda tangan.
 Terdapat dalam bentuk specimen atau nomor jalan. Dicari dalam bentuk baik.



Seri Munbiljet Wilhelmina (1919-1920)
Diterbitkan dalam rangka perkawinan ratu Wilhelmina, terdiri dari pecahan 1 dan 2,5 gulden. 
Dicari dalam bentuk minimal extra fine.



Seri Gedung (1919-1921)
Bergambar gedung Javasche bank, terdiri dari pecahan 20, 30 dan 40 gulden. Ada dalam bentuk proof, specimen maupun nomor berjalan. Dicari dalam bentuk nomor jalan. Tetapi jenis ini terdapat banyak bentuk palsunya.



Seri Munbiljet II (1920)
Terdiri dari pecahan 1/2, 1 dan 2,5 gulden. Pecahan 1/2 dan 1 gulden cukup mudah ditemukan, tetapi pecahan 2,5 sedikit sulit didapatkan terutama yang berkondisi baik. Dicari dalam bentuk minimal extra fine.


Seri JP Coen II (1925-1931)
Pecahan 5, 10, 25, 50 dan 100 gulden dicari dalam kondisi minimal EF
Pecahan 200, 500 dan 1000 gulden dicari dalam kondisi baik dan utuh.
Pecahan 300 gulden dicari dalam segala kondisi asalkan utuh.


Seri Wayang 1938-1939
Pecahan 5, 10, 25 gulden dicari dalam kondisi UNC
Pecahan 50 dan 100 gulden dicari dalam kondisi minimal very fine
Pecahan 200, 500 dan 1000 gulden dalam segala kondisi asalkan utuh.



Seri NICA 1943
Pecahan 25, 50 dan 100 gulden dicari dalam kondisi UNC
Pecahan 500 gulden dicari dalam kondisi baik dan utuh.





Selain uang2 di atas, bila anda memiliki uang2 jaman penjajahan Belanda atau uang2 Indonesia lainnya yang ingin di jual baik satuan maupun borongan, silahkan hubungi saya di email arifindr@gmail.com atau telp: 0815 9988188


Terima kasih

Rabu, 25 Januari 2017

100. Seri Pahlawan 2000-2016

Tahun 2016 sudah berakhir, sudah lengkapkah koleksi anda semua?
(Edisi revisi)









Silahkan klik tabel rujukan di atas, kemudian cetak dan cocokkan dengan koleksi anda.
Segera lengkapi mumpung uang masih beredar dan masih bisa didapat.

Selain itu seri ini juga memiliki varian uncut 2, 4 dan plano. Tentu saja yang mungkin bisa kita lengkapin hanya uncut yang 2 dan 4. 

Uncut 2 & 4x untuk pecahan 2000, 10000, 20000, 50000 dan 100000 (BI dan NKRI)
Total ada 12 jenis


Contoh set lengkap 1000 Rupiah Pattimura
4 variasi tanda tangan dan 14 variasi tahun cetak. Siapa sangka ternyata di tahun 2016 Bank Indonesia mencetak uang ini lagi.


Contoh set lengkap pecahan 10000
15 varian, tabel rujukan, uncut 2 dan 4x, poster, kliping koran serta lembaran penerbitan perdana



Begitu banyak variasi yang ada, sangat membingungkan. 
Mungkin ada yang belum tercatat. Untuk itu mohon bantuan teman-teman semua.

Jakarta 20 Januari 2017


99. Uang Baru emisi 2016



1000 RUPIAH TJUT MEUTIAH
warna dominan hijau muda



2000 RUPIAH MOH HOESNI THAMRIN
warna dominan abu abu



5000 RUPIAH DR KH IDHAM CHALID
warna dominan coklat



10000 RUPIAH FRANS KAISIEPO
warna dominan ungu



20000 RUPIAH DR. GSSI RATULANGI
warna dominan hijau



50000 RUPIAH Ir. H DJUANDA
warna dominan biru



100000 RUPIAH SOEKARNO HATTA
warna dominan merah

Semua nominal memiliki ukuran yang sama dengan emisi sebelumnya dengan tanda air yang juga serupa