Selasa, 29 Agustus 2017

102. Kolektor lama

Tepat tanggal 17 Agustus 2017 saya datang memenuhi undangan seorang tuan rumah pemilik 50 album uang kuno. 
Disambut dengan ramah oleh anaknya yang cantik, saya memasuki rumahnya yang asri seluas 1200m2 di kawasan Jakarta Selatan. Setelah duduk sejenak menikmati lantai marmer Italia antik, dengan segera saya disodori 1 dus besar berisi puluhan album. Tentu saya kagum dengan jumlahnya, sekaligus miris karena seluruh album2 tersebut sangat tidak terawat dan dibiarkan tertumpuk berselimut debu. Tidak tersentuh selama belasan tahun karena pemiliknya sudah meninggal dunia bertahun-tahun yang lalu. Sekarang karena ingin pindah rumah, maka anak cucunya ingin melepas semua koleksi sang kakek tersebut. Kejadian ini mirip seperti artikel saya sebelumnya yang berjudul Renungan. 
Jangan meninggalkan beban untuk anak cucu. Hobi kita ya untuk kita. Bukan untuk orang lain. 

50 album berserakan di meja jati besar 


Sampai di rumah difoto dulu sebelum dibongkar


Lalu sambil berbincang2 santai tentang asal usulnya saya mulai membongkar dan membolak balik semua album tersebut. Kagum dengan ragam koleksinya sekaligus sedih melihat kondisinya. Banyak sekali koleksi yang rusak karena salah penyimpanan. Saya tidak ingin membahas isi dari koleksinya yang super beragam dari coin dan kertas seluruh dunia termasuk uang lokal dari jaman belanda, jepang, uang daerah dan uang Indonesia dari era 1930 an sampai tahun 1980an. Yang ingin saya bahas kali ini adalah bahwa koleksi tersebut secara keseluruhan mencerminkan ciri khas seorang kolektor jaman dulu. Apa saja ciri khasnya, mari kita bahas.

1.  Tidak mementingkan kondisi
Berbeda dengan kolektor jaman sekarang yang super bawel dengan kondisi, harus UNC TOTAL, harus PMG dengan nilai sempurna (kalau bisa 70 plus plus, plus EPQ, plus star, plus harga yang super muahal), tidak boleh tropis, tidak boleh rekondisi, semua ujung harus tajam, kalau bisa yang nomornya cantik, bahkan tidak boleh dipegang tangan telanjang, harus pakai sarung tangan khusus dan seribu alasan bawel lainnya. Kolektor jaman dulu sangat tidak bawel dengan kondisi. Buat mereka yang penting punya, apapun kondisinya. Semakin bagus kondisi suatu uang berarti semakin sedikit nilai sejarahnya karena uang tersebut cuma disimpan doang, tidak jalan-jalan dari tangan ke tangan, dari dompet ke dompet atau dari satu negara ke negara lain. Tentu tidak bisa disangkal bahwa kemajuan jaman sangat ikut berpengaruh. Sekarang dimana semua serba online, kolektor menjadi punya banyak pilihan. Tidak seperti dulu yang jangankan untuk milih. Untuk bisa lihat saja susahnya minta ampun. 

2. Tidak suka gonta ganti koleksi
Kolektor jaman sekarang suka sekali mengganti koleksinya dengan yang lebih bagus, lebih tinggi nilai PMG nya dan tentu yang lebih mahal. Jangan heran kalau kita sering mendapatkan kolektor muda yang sudah menukar uang yang sama  berkali-kali. Alasannya sejuta macam, tetapi intinya kurang puas dengan kondisi yang dimilikinya. Mereka tidak sadar kalau kejadian ini sangat menguras dana dan tenaga. Merekapun menjadi lelah hanya untuk memperbaiki kualitas koleksinya. Beberapa teman malah rela membuang koleksi lainnya hanya untuk mengejar satu barang yang nilai PMG nya lebih tinggi dari yang telah dimilikinya. Ironis bila dibandingkan dengan kolektor lama yang sudah puas dengan barang yang telah dimiliki apapun kondisinya. Mereka lebih suka berburu yang belum dimiliki daripada mengutak atik atau mengganti kondisi uang2 miliknya.

3. Lengkap
Karena tidak suka gonta ganti kondisi, maka jangan heran kalau kolektor lama seringkali bisa melengkapi koleksinya termasuk dengan uang2 yang kita anggap super langka. Energi mereka dipakai untuk melengkapi, bukan untuk memperbaiki kondisi. Bandingkan dengan kolektor jaman sekarang yang punya wayang 5 dan 10 Gulden PMG 68 EPQ urut beberapa lembar tapi tidak punya satupun wayang 100 yang poor sekalipun karena menunggu yang berkondisi 65 EPQ. Kolektor lama walau cuma punya yang 5 dan 10 VF tapi memiliki semua pecahan sampai 1000 Gulden. Kolektor baru punya seri binatang 5, 50, 100, 500, 1000 dan 2500 semua PMG 67 EPQ tapi tidak pernah punya yang 10 rusa dan yang 25 badak walau yang cuma fine. Kolektor lama yang serius walau semuanya cuma VF tapi punya lengkap sampai ke rusa dan badaknya.


4. Tidak peduli variasi, tidak suka specimen, proof atau essay
Buat mereka yang penting uang yang pernah beredar, tidak peduli variasinya, tidak peduli apakah satu huruf atau beda tanda tangan. Kebanyakan dari mereka tidak suka specimen, tidak suka proof atau essay yang menurut mereka adalah uang yang gak jelas. Kita tentu bisa memakluminya  karena informasi saat itu yang serba terbatas. Sebagai contoh  ketidakpedulian dengan variasi, saya menemukan satu variasi JIM yang super langka diantara uang2 umum lainnya. Pemilik pasti gak sadar dengan uang tersebut.

1. Uang 100 Roepiah bernomor seri SO yang sepintas biasa. Kondisinya lumayan parah dan dijamin pasti gak ada kolektor sekarang yang mau pegang.
Kondisi lumayan parah, mungkin cuma VG saja

Tetapi setelah diterawang baru saya sadar kalau uang tersebut termasuk tipe yang sangat langka bahkan tidak ada di KUKI, OEN maupun Pick. Seperti apa sih tipenya?

KUKI hanya mencantumkan 4 variasi
a. Cetak dalam, bertanda air
b. Cetak rata, tidak bertanda air, benang pengaman
c. Tanpa huruf
d. Huruf tebal, tanpa tanda air (palsu)

Oeang Noesantara hanya mencantumkan 4 variasi
a. Prefix SK (salah cetak, seharusnya SO, mudah2an akan direvisi di edisi selanjutnya)
b. Diragukan keasliannya
c. Mihon
d. Mihon dan specimen

Bagaimana dengan Pick ?
Pick mencantumkan lebih banyak variasi yaitu 5 jenis :

Ringkasannya adalah sbb:
a. Watermark bunga kiri
b. Tanpa watermark, tanpa benang pengaman
c. Tanpa watermark, dengan benang pengaman
d. Tanpa huruf
e. Mi hon dengan specimen di bagian belakang

Bagaimana dengan uang jelek tersebut? Kita lihat hasil terawangnya yuk...

Hasilnya: tampak tanda air berupa bunga kiri (tampak nyata pada sisi atas tengah dan sisi kiri) serta benang pengaman yang memanjang dari sisi atas ke bawah (bandingkan dengan bekas lipatan beberapa mm di sisi kanannya)

Berarti uang tersebut memiliki 2 pengaman yaitu benang dan tanda air sekaligus. Varian baru yang tidak ada di katalog manapun. Menarik bukan?

2. Uang dari seri yang sama yaitu nominal 1/2 Roepiah. Uang ini ternyata tidak berhuruf seri (SP)

JIM 1/2 Roepiah tanpa huruf SP

Sekali ini KUKI mencantumkan varian tersebut, tetapi Pick dan OEN tidak. 

Apakah si pemilik menyadari kalau dia menyimpan varian yang langka? 
Kelihatannya tidak. Karena disatukan dengan yang lain bahkan dia tidak memiliki varian biasanya. Demikian juga dengan wayang besarnya serta seri Coen yang hanya ada seadanya, cukup masing2 ada yang mewakili. Tidak peduli variasinya, tidak peduli kondisinya dan tidak peduli langka tidaknya. Ini adalah salah satu ciri khas kolektor lama.

5. Penyimpanan yang kurang rapi
Karena waktu dulu tidak ada yang menjual album khusus uang kertas, maka kolektor lama menggunakan album foto untuk menyimpan koleksinya. Tentu akan banyak kekurangan :

1. Album foto memiliki perekat sehingga uang yang ditempel langsung akan berbekas garis2 miring  yang sejajar

Garis2 miring sejajar ex lem dari album foto

2. Bagi kolektor yang lebih peduli, mereka membuat alas dari kertas putih sebagai dasarnya, sehingga uang tidak melekat langsung ke album. Cara ini lebih baik tetapi ada kelemahannya juga karena setelah sekian puluh tahun, kertas akan berjamur dan berubah warna. Uang yang ada diatasnya sedikit banyak ikutan terkena juga.

Jamur dan bercak tropis pada alas kertas dan album menular ke uang.


3. Album foto hanya bisa menampilkan satu sisi uang saja, karena itu jangan heran kalau kolektor lama selalu menyimpan masing2 uang minimal 2 lembar untuk ditampilkan sisi depan dan belakangnya. Lihat gambar di atas dan di bawah ini.


Tidak peduli jenisnya, masing2 disimpan 2 lembar, satu untuk ditampilkan sisi depannya dan satu lagi untuk sisi belakang.


Semua uang selalu dobel, tidak heran ada banyak yang urut nomor. Saya menemukan komodo, Sudirman 5 dan 10 rb, wayang 50 Gulden, 10 Rupiah Irian Barat dan ratusan jenis lainnya yang urut nomor. 

4. Bila tidak berhasil mendapatkan 2 lembar, kolektor lama akan memfotokopi sisi belakang uang untuk ditampilkan. Seperti  pada contoh yang terdapat pada uang 100 Rupiah Irian Barat berikut ini :

Untuk menampilkan sisi belakang, bila terpaksa maka pemilik memfotokopi uangnya.
Tapi dari sekian ribu jenis, saya hanya menemukan beberapa saja. Artinya pemilik berusaha sangat keras untuk mendapatkan masing2 jenis minimal 2 lembar.

5. Untuk melengkapi dan memberikan arti lebih dalam dari koleksinya banyak sekali saya menemukan catatan kecil yang di ketik rapi. Menceritakan sedikit peristiwa yang menjadi latar belakang uang tersebut. Beberapa ditulis dengan penelitian yang bagus dan mendetail. Untuk saat ini silahkan lihat beberapa gambar berikut. Untuk uang asing, masing2 ditempel bendera negara tersebut.

Senering ketiga 13 Desember 1965 dimana nilai uang seribu rupiah dipotong menjadi 1 rupiah terekam dalam tulisan seorang kolektor lama (sudah dipindahkan dari album aslinya). Kita jadi tahu uang mana yang dipotong nilainya dan yang mana penggantinya. 

Uang bergambar orang Irian (belakangan baru kita ketahui kalau gambar tsb adalah orang Flores) ini diduga oleh pemilik sebagai inspirasi pembangkit semangat bangsa Indonesia untuk merebut Irian Jaya yang waktu itu masih dikuasai Belanda

Keterangan tentang uang JIM

Seri RIS dicetak di TDLR Inggris agar kualitasnya setara dengan uang-uang kelas dunia lainnya

Mau tahu sedikit sejarah uang komodo? Silahkan baca tulisan di atas.

Bayangan pohon di atap rumah yang menyerupai lambang PKI (palu arit)
Apakah mirip?


6. Tiap album diberikan judul atau nomor sesuai isinya dan semua tersusun rapi. Berbeda dengan kolektor sekarang yang albumnya bagus-bagus, import dan mahal, bahkan ada yang spesial untuk memuat folder PMG yang super lebar, tetapi percuma di beri nomor karena jumlahnya cuma 1- 2 saja dan isinya sedikit hanya yang super UNC saja, bolong-bolong tidak lengkap serta hampa tidak ada keterangan apapun yang dicatat atau dicantumkan disana.

Contoh album coinnya, luar biasa banyak dan lengkap. Disusun menurut nama negara

Contoh sebagian dari puluhan album uang kertasnya, masih tampak beberapa yang tersisa nomornya


Selain menggunakan album foto, seringkali para kolektor lama menggunakan plastik biasa saja sebagai pelindung, disegel dengan seal listrik atau api lilin lalu ditumpuk sembarangan di nampan atau di kardus.

Kolektor lama dari Surabaya memamerkan koleksinya, sebagian dibungkus plastik.
Tahukah anda kalau uang yang paling kiri adalah badak issued? Sayang terhalang silau lampu kilat.


Setelah album import uang kertas masuk ke Indonesia sekitar tahun 1990an, barulah para kolektor era tahun tersebut memakainya. Dimasa awal refillnya berwarna hitam hanya menampilkan satu sisi sehingga para kolektor tetap mengumpulkan masing2 jenis 2 lembar. Satu untuk tiap sisi.

Album dengan refill hitam, hanya menampilkan satu sisi sehingga kolektor tetap membutuhkan 2 lembar uang untuk ditampilkan masing2 sisinya.


Seiring dengan berlalunya waktu baru masuk album2 uang kertas yang transparan sehingga para kolektor cukup hanya menyimpan satu lembar saja. Maka berakhirlah era menyimpan 2 lembar.


Kesimpulan yang dapat diambil dari kolektor lama:

1. Ditengah keterbatasan informasi, kesulitan mendapatkan bahan koleksian (ingat waktu itu belum ada lelang/jual beli online) ditambah kesibukan pekerjaan masing-masing (pemilik adalah penterjemah resmi yang telah berkeliling dunia), mereka tetap tekun mengumpulkan dan menyalurkan hobinya sedikit demi sedikit, satu persatu untuk seumur hidup. Dalam kasus di atas pemilik meninggal di akhir tahun 1980an, sedangkan uang terakhir yang masuk di album (hanya diselipkan, belum sempat dirapikan) adalah 2 lembar uang Rp500 1988. Suatu bukti bahwa pemilik benar-benar menjadi kolektor sepanjang hidupnya sampai dia meninggal.

2. Tidak terlalu peduli dengan kondisi atau kualitas uang koleksinya. Yang penting ada dan lengkap.

3. Mungkin karena kurangnya pengetahuan, tidak terlalu peduli dengan variasi. Cukup punya satu- dua lembar untuk mewakili.

4. Kurangnya sarana penyimpanan sehingga banyak yang menyimpan secara sembarangan. Akibatnya kualitas menjadi jelek. Tropis, jamuran, lembab bahkan tidak jarang sampai rusak dan hancur. 

Uang menjadi rusak karena salah penyimpanan

Jangankan kolektor lama, kolektor jaman sekarangpun masih banyak yang kurang mengerti cara penyimpanan yang baik, tidak tahu kalau uang kertas tidak boleh disimpan menggunakan plastik biasa, tidak boleh terkena panas atau lembab, bahkan suhu ruangan penyimpanan juga harus diatur. Kita lihat contoh di bawah : 

Coen  Mercurius 300 Gulden specimen urut nomor (OL 2046 dan 2047), yang atas (2047) saya dapatkan dari kolektor lokal dan yang bawah (2046) menang lelang dari Belanda. Perhatikan perbedaan kualitas kertasnya. Yang atas jelas tropis dan penuh bercak, sedang yang bawah relatif lebih bersih.

Satu lagi sambungannya (OL 2048), masih disimpan teman kolektor lokal, kondisinya kembali tropis dan penuh bercak, padahal barang disimpan bertahun tahun di safe deposit bank yang terlindung dan dikeluarkan hanya sekali untuk difoto.



Kesimpulan akhir :
Ketekunan adalah yang utama. Persoalan kualitas apakah cuma VF atau harus UNC adalah soal selera dan kemampuan, yang penting jangan sampai mengganggu uang dapur. Jalani dengan santai, jangan terburu-buru tetapi terus kontinu. Pengetahuan menjadi modal berikutnya supaya koleksi kita menjadi lebih menarik dan bernilai. Penyimpanan juga sangat penting supaya koleksi kita tidak rusak. Dan terakhir, jangan mewariskan uang kuno, wariskan saja uang yang masih laku agar anak cucu kita tidak terbeban. Kalau tidak koleksi anda akan berakhir di dalam dus dan pindah ke rumah saya.






Jakarta 29 Agustus 2017
Terima kasih kepada Bapak Juna ahli waris 50 album uang kuno beserta anaknya yang cantik yang telah mempercayakan semua koleksi ex ayahnya, almarhum Bapak Marah S Muluk kepada saya. Sungguh suatu koleksi yang sangat hebat.

Saran dan kritik silahkan kirim ke arifindr@gmail.com


Artikel berikutnya segera terbit yaitu tentang nomor seri 000000















1 komentar:

Emil Guitar session mengatakan...

mau tanya saya punya mata uang 1 rupah 2 1/2 rupiah dan 10rupiah thn 1968 janderal sudirman.. pasaran kena diharga berapa