Tuesday, May 1, 2018

Rp100 seri pekerja merah

Seperti telah kita ketahui bersama kalau uang 100 Rupiah berwarna merah yang bergambar penyadap karet terdapat pada 2 seri  pekerja yaitu seri pekerja I bertahun 1958 dan seri pekerja II bertahun 1964

100 Rupiah pada seri pekerja I tahun 1958

100 Rupiah seri pekerja II tahun 1964

Gambar, ukuran dan pengaman pada kedua seri tersebut sama persis, perbedaan hanya pada tahun emisi, tanda tangan dan warna merah yang agak lebih pucat pada seri 1964, perhatikan tabel berikut:



Beberapa tahun yang lalu saya mendapatkan selembar uang ini dari seorang kolektor tua. Berbeda dari biasanya, uang ini menarik perhatian saya karena ada extra margin di kedua sisinya, yaitu sisi atas dan sisi kanan. Pada mulanya saya berpikir uang ini hanya salah potong saja.

100 Rupiah seri pekerja merah dengan extra margin


Setelah diamati lebih lanjut ternyata uang ini bukan hanya sekedar extra margin saja tetapi memiliki banyak keistimewaan lainnya, mari kita bahas bersama :

1. Uang ini tidak bertahun
Uang sejenis yaitu seri pekerja I dan II masing-masing memiliki tahun yaitu 1958 dan 1964




2. Tanda tangan Gubernur yang berbeda dari versi beredar
Seri tahun 1958 bertandatangan Loekman Hakim selaku Gubernur BI dan TRB Sabaroedin sebagai Direkturnya. Seri tahun 1964 bertandatangan Jusuf Muda Dalam sebagai Gubernur dan Hertatijanto sebagai Direktur. Sedangkan uang ini bertandatangan Mr Sjafruddin Prawiranegara sebagai Gubernurnya dan TRB Sabaroedin sebagai Direkturnya, mirip dengan tanda tangan pada seri hewan 1957. 


3. bernomor seri unik XXX diikuti 012345 dan XXX 056789




4. Dan perbedaan kecil lainnya

Warna biru pada tepi lingkaran sisi kiri belakang, bandingkan dengan warna kemerahan pada seri  pekerja 1958 dan 1964 

Demikian juga warna biru pada lingkaran sisi kanannya yang berbeda dibandingkan kedua seri pekerja lainnya.



5. Satu lagi yang mendukung keunikan uang ini adalah imprint percetakannya.

Seri 1958 tercetak P.T. PERTJETAKAN KEBAJORAN IMP. 
Seri 1964 tercetak P.T. dan  P.N. PERTJETAKAN KEBAJORAN IMP.
Uang ini tercetak PERTJETAKAN KEBAJORAN NV IMP

Dengan demikian dapat disimpulkan kalau uang ini bukan sekedar uang salah potong dengan kelebihan margin saja tetapi uang yang sangat unik yang walaupun bergambar sama tetapi tidak termasuk ke seri pekerja manapun.  Dari tanda tangannya yang mirip seri 1957 dan imprint percetakannya yang mirip seri 1952, uang ini sudah dapat dipastikan merupakan pendahulu seri pekerja 1958, berarti uang ini sebenarnya merupakan uang perintis atau uang percobaan sebelum diedarkan secara resmi sebagai seri pekerja emisi tahun 1958. 
Biasanya uang percobaan atau perintis yang berupa essay dibuat diatas karton dan tanpa pengaman, tetapi uang ini dicetak di atas kertas uang dan sudah memiliki pengaman lengkap berupa benang pengaman dan tanda air kepala banteng yang sama persis selayaknya uang beredar. Kalau saja tidak ada extra marginnya, maka uang ini bisa dikira sebagai uang seri pekerja biasa.

Dengan adanya semua keistimewaan di atas, terutama karena nomor serinya yang unik (XXX) maka uang ini dianggap layak menyandang predikat sebagai proof. Masalahnya proof yang mana? Pekerja I tahun 1958 atau pekerja II tahun 1964?
Karena warnanya yang merah tua, tanda tangan direkturnya yang sama dengan 1958 dan juga tipe font nomor serinya yang mirip dengan seri 1958 maka saya menduga kalau uang ini merupakan proof  dari seri pekerja I.

Kondisi uang :
Uang ini berkondisi cukup baik, ukurannya 162x95mm (lebih besar 12x20mm dari versi beredar), tanpa tekuk kecuali tekuk sudut di pojok kanan bawah, tropis diseluruh bagian uang serta ada bekas selotip di margin atas. Menurut perkiraan saya kondisinya sekitar Almost Uncirculated tentu tanpa EPQ.  Penasaran dengan jenis dan kondisinya, saya mengirim uang ini ke PMG.



Hasil dari PMG 
Sekitar 2 bulan kemudian saya menerima hasilnya :

Hasilnya adalah 62 NET dengan keterangan Thinning

Hasil 62 (uncirculated) cukup mengejutkan, rupanya satu tekuk sudut saja oleh PMG masih dikelompokkan sebagai UNC. Sedangkan keterangan NET (Thinning) menunjukkan kalau uang ini pernah terkena zat perekat  (selotip) yang dilepaskan sehingga meninggalkan bekas transparan. Terlihat ketika uang dihadapkan ke cahaya. Berikut keterangan dari PMG :

"Thinning" refers to a chemical process caused when an adhesive type agent has been removed or partially removed leaving a somewhat translucent appearance in the area on the note. 

Keterangan yang diberikan adalah SPECIMEN PROOF, meleset dari perkiraan semula yang cuma PROOF saja, saya juga tidak mengerti kenapa ditambah keterangan SPECIMEN didepannya. Dengan nomor Pick 59sp ND (1958) yang artinya dimasukkan sebagai nomor 59 (bukan nomor 97) dengan variasi sp (specimen proof) dan ND (No Date/tanpa tanggal) yang mirip dengan emisi 1958.

Lalu setelah saya cek populasinya di PMG registry, ternyata variasi ini cuma ada 1 saja. Berarti sangat langka dan sampai saat artikel ini dibuat masih belum ada duanya.  Tidak sia-sia mengirimkan uang unik ini ke PMG sehingga menambah pengetahuan kita bersama bahwa masih banyak uang-uang unik yang tidak ada di katalog manapun juga.

Karena itu data di katalog nantinya harus direvisi menjadi :

Pick #59 : 100 Rupiah 1958

1. Varian beredar 3 huruf 6 angka

2. Specimen

3. Specimen proof


(Tidak menutup kemungkinan akan ada penambahan jenis2 yang lainnya lagi)





Semoga artikel ini bisa menambah wawasan kita bersama






Jakarta 1 Mei 2018
Kritik dan saran hubungi arifindr@gmail.com atau WA di 08159988188
Sumber : Koleksi pribadi dan web PMG (www.pmgnotes.com)


















Sunday, April 8, 2018

103. Seri Sukarelawan

SERI SUKARELAWAN

Kita semua tentu mengetahui seri yang satu ini. Seri SUKARELAWAN tahun 1964. Seri yang terdiri dari 5 pecahan ini sangat umum ditemukan dan juga sangat murah. Harga pasar tidak lebih dari Rp20ribuan saja per setnya. Tetapi walaupun sangat murah ternyata seri ini memiliki latar belakang sejarah yang sangat menarik. Mari kita bahas.



1. Kenapa dinamakan seri SUKARELAWAN ?
Jawaban yang paling mungkin adalah karena 4 dari 5 nominal seri ini yaitu di nominal 5, 10, 25 dan 50 sen terdapat sesosok orang yang memakai seragam seperti satpam/hansip dengan logo dipundak kiri yang bertulisan SUKARELAWAN.  




2. Kapan seri ini dikeluarkan?
Semua pecahan seri ini dikeluarkan pada tanggal 13 Desember 1965

3. Mengapa uang ini dikeluarkan ?
Untuk bisa menjawabnya maka kita harus melihat sejarah sewaktu uang ini diedarkan. Uang ini diedarkan untuk pengisi nominal kecil akibat pemotongan nilai uang yang dilakukan  oleh presiden Sukarno melalui Penetapan Presiden No 27 tahun 1965 tentang PENGELUARAN UANG RUPIAH BARU YANG BERLAKU SEBAGAI ALAT PEMBAYARAN YANG SAH BAGI SELURUH WILAYAH REPUBLIK INDONESIA DAN PENARIKAN UANG RUPIAH LAMA DARI PEREDARAN. Kita lihat sebagian isi dari PP tersebut :

Pasal 1 : 
Pada saat mulai berlakunya Penetapan Presiden ini berlaku sebagai alat pembayaran yang sah di seluruh wilayah Republik Indonesia termasuk Daerah Propinsi Irian Barat uang kertas dan uang logam yang dikeluarkan oleh Bank Negara Indonesia berdasarkan Penetapan Presiden ini dengan ciri-ciri yang diumumkan tersendiri, di samping jenis-jenis uang rupiah yang berlaku sebagai alat pembayaran yang sah sebelum Penetapan Presiden ini berlaku.

Jadi PP ini dikeluarkan uantuk pengganti Rupiah (lama) yang berlaku dengan Rupiah (baru) yang berlaku seketika itu juga (13 Desember 1965) 


Pasal 2 : 
(1) Nilai perbandingan antara jenis-jenis uang rupiah baru termaksud pada pasal 1 dan jenis-jenis uang rupiah yang berlaku sebagai alat pembayaran yang sah di Daerah Propinsi Irian Barat sebelum Penetapan Presiden ini berlaku adalah Rp. 1,- adalah sama dengan I.B. Rp. 1,-.

(2) Nilai perbandingan antara jenis-jenis uang rupiah baru termasuk pada pasal 1 dan jenis-jenis uang rupiah yang berlaku sebagai alat pembayaran yang sah di daerah-daerah di luar Daerah Propinsi Irian Barat sebelum Penetapan Presiden ini berlaku adalah Rp. 1,- adalah sama dengan Rp. 1.000,-. 

Koleksi dan keterangannya milik seorang kolektor tua yang mengalami peristiwa tsb.


Jadi uang baru yang diedarkan ini setara dengan 1 : 1 untuk propinsi Irian Barat dan 1 : 1000 untuk daerah di luar Irian Barat. Bisa anda bayangkan kehebohan yang terjadi, 1000 Rupiah uang lama setara dengan satu  Rupiah uang baru. Apakah harga otomatis ikut turun menjadi 1/1000 nya? Ternyata tidak. Harga cuma turun 1/100nya saja sehingga kebijakan ini justru membuat inflasi makin menggila.


Pasal 3 :
(1) Sesudah 1 (satu) bulan berlakunya Penetapan Presiden ini maka semua jenis uang kertas Bank Negara Indonesia dari pecahan-pecahan Rp. 10.000,- (sepuluh ribu rupiah) dan Rp. 5.000,- (lima ribu rupiah) yang beredar sebagai alat pembayaran yang sah sebelum Penetapan Presiden ini berlaku, tidak lagi merupakan alat pembayaran yang sah. 

(2) Sesudah 3 (tiga) bulan berlakunya Penetapan Presiden ini maka semua jenis uang kertas Bank Negara Indonesia dari pecahan Rp. 2.500,- (dua ribu lima ratus rupiah), Rp. 1.000,- (seribu rupiah) dan Rp. 500,- (lima ratus rupiah) yang beredar sebagai alat pembayaran yang sah sebelum Penetapan Presiden ini berlaku, tidak lagi merupakan alat pembayaran yang sah. 

(3) Sesudah 6 (enam) bulan berlakunya Penetapan Presiden ini maka semua jenis uang kertas bank, uang kertas Pemerintah dan uang logam dari pecahan-pecahan Rp. 100,- (seratus rupiah) ke bawah yang beredar sebagai alat pembayaran yang sah sebelum Penetapan Presiden ini berlaku, tidak lagi merupakan alat pembayaran yang sah.

(4) Penarikan uang rupiah Irian Barat dari peredaran yang berlaku dan beredar sebagai alat pembayaran yang sah sebelum Penetapan Presiden ini berlaku, akan diatur lebih lanjut oleh Pemerintah. 


Pasal 4 :
(1) Semua uang kertas Bank Negara Indonesia, uang kertas Pemerintah dan uang logam termaksud pada pasal 3 Penetapan Presiden ini diberikan penggantian nilai dengan uang rupiah baru yang dikeluarkan oleh Bank Negara Indonesia berdasarkan Penetapan Presiden ini, pada kantor-kantor Bank Negara Indonesia dan kantor-kantor lain yang ditetapkan oleh Menteri Urusan Bank Sentral/Gubernur Bank Negara Indonesia.

Untuk lebih jelasnya termasuk gambar2 uang yang ditarik tersebut silahkan lihat artikel nomor 42 :


Dengan ditentukannya kurs penukaran 1000 Rupiah lama sama dengan 1 Rupiah baru tentu diperlukan nominal yang lebih kecil dari 1 Rupiah, untuk itu dikeluarkanlah nominal sen. Dimana nilai 1 sen adalah seperseratus Rupiah ( Rp1 = 100 sen)

4. Mengapa sukarelawan?
Dari sekian banyak tema mengapa dipilih tema gambar sukarelawan? Apa maksudnya? 
Sejarah menulis bahwa uang ini diedarkan semasa Indonesia sedang berkonfrontasi dengan Malaysia, ceritanya begini :
Setelah Jepang menyerah, Inggris kembali lagi ke negara ex jajahannya di semenanjung Malaya. Inggris ingin membuat negara federasi dengan menyatukan Malaya bersama2 dengan Serawak, Sabah, Brunei yang berada di Kalimantan Utara sekaligus dengan Singapura. Sukarno yang mempunyai prinsip anti kolonialisme dan anti imperialisme, menentang keras keputusan tersebut. Perundingan pun berkali2 diadakan sampai puncaknya di KTT PBB Manila 5 Agustus 1963 yang menyimpulkan perlu adanya hak dari negara2 federasi/negara2 bagian untuk menentukan nasibnya sendiri atau self determination. 

Tetapi tidak lama kemudian tepatnya pada tanggal 16 September 1963, belum lagi keputusan PBB tersebut dilaksanakan,  Inggris mendeklarasikan berdirinya negara federasi Malaysia.

Sukarno marah besar dan memutuskan semua bentuk hubungan diplomatik dengan Malaysia, demonstrasi besar2an pun terjadi di Indonesia. Kedutaan besar Inggris dan rumah para stafnya di Jakarta dibakar habis, perkebunan milik Inggris di Jawa dan Sumatera serta semua asetnya di Indonesia disita. Sukarno mengumumkan dengan resmi bahwa akan mengganyang Malaysia.

Massa bergolak, banyak yang mendaftar untuk ikut menjadi sukarelawan mengganyang Malaysia, sebagian malah mulai memasuki Sarawak dan Sabah untuk menyebar propaganda, penyerangan dan sabotase. Apalagi setelah para sukarelawan tersebut dikumpulkan untuk rapat di depan istana Merdeka pada tanggal 3 Mei 1964 untuk mendengar pidato Presiden Sukarno tentang perintah Dwikora (Dwi Komando Rakyat) yang berisi :
1. Perkuat ketahanan revolusi Indonesia dan
2. Bantu perjuangan revolusioner rakyat2 Malaya, Singapura , Sarawak dan Sabah untuk menghancurkan Malaysia.

Pidato Sukarno di depan ratusan ribu sukarelawan Dwikora

Slogan Sukarno yang membangkitkan semangat para sukarelawan


Nah, dalam rangka dan situasi inilah seri SUKARELAWAN diterbitkan.  Jadi uang ini mendapatkan namanya bukan cuma dari tulisan di seragamnya saja, tetapi karena berisi semangat para sukarelawan yang siap untuk mewujudkan slogan Dwikora yaitu mengganyang Malaysia. Karena itulah  maka seri ini sering disebut sebagai seri SUKARELAWAN DWIKORA. 


5. Lebih dalam lagi dengan seri ini
Nominal 25 dan 50 sen

Keduanya bergambar sama yaitu seorang sukarelawan berseragam, berkumis dengan potongan rambut agak cepak sehingga nampak sudah dewasa. Menatap gagah ke depan tanpa mengenal takut. Gambar ini dicantumkan pada 2 nominal tertinggi yang mencerminkan sosok dewasa yang kaya dengan pengalaman dan siap membantu mewujudkan semangat Dwikora.


Nominal 5 dan 10 sen

Juga bergambar sama yaitu sesosok sukarelawan yang berseragam, tampak lebih muda dengan rambut agak gondrong. Mata menatap tajam ke depan dengan sudut mulut tertarik agak kebawah melambangkan keteguhan hati. Pesan yang  ingin disampaikan adalah anak muda yang kurang pengalaman pun (diletakkan pada nominal tengah) ternyata juga tidak gentar untuk menjadi sukarelawan, siap membantu dan mendukung para senior yang terdapat di nominal lebih besar.


Nominal 1 sen

Gambarnya berbeda, bukan sukarelawan, tetapi petani. Rupanya penggambar uang juga memasukkan petani sebagai tulang punggung para sukarelawan, karena tanpa petani yang menghasilkan beras sebagai sumber tenaga, maka semua perjuangan para sukarelawan menjadi tidak ada artinya. Petanipun secara tidak langsung sebenarnya sudah menjadi sukarelawan yang menyokong dari garis belakang.

Lengkaplah gambar disemua nominal seri ini, ada petani, ada sukarelawan muda dan ada juga sukarelawan dewasa yang berpengalaman. Semuanya siap bersatu demi semangat Dwikora. Kisah seru pertempuran para sukarelawan yang diterjunkan di hutan2 Kalimantan untuk melawan pasukan elit Inggris SAS dan pasukan Gurkha terekam dengan baik di buku Angkasa edisi koleksi tahun 2006. 


Nasib para sukarelawan yang tertangkap atau terbunuh oleh pasukan SAS Inggris dan Gurkha


Konfrontasi Indonesia dengan Malaysia ini akhirnya selesai setelah Sukarno menyerahkan kekuasaan kepada presiden Suharto. Dengan adanya pemberontakan PKI  30 September 1965, Suharto sebagai presiden baru lebih fokus untuk menuntaskan pemberontakan dalam negeri ini daripada  meneruskan pertempuran dengan negara lain. Dan akhirnya pada 28 Mei 1966 pada konferensi di Bangkok, kerajaan Malaysia dan pemerintah Indonesia mengumumkan penyelesaian konflik dan menormalisasi hubungan antara kedua negara. Pertempuranpun berhenti dan tinggalah uang ini menjadi saksi bisu kenangan akan semangat para sukarelawan Dwikora.  

6. Tahukah anda :
(1) Seri yang terdiri dari 5 nominal ini memiliki nomor seri terdiri dari 3 huruf dan 6 angka, semua huruf terpakai kecuali I dan X
(2) Seri ini tidak memiliki pengaman seperti tanda air ataupun benang pengaman, bisa dimengerti karena pecahan sekecil ini pasti tidak ada yang mau memalsukannya.
(3)  Angka pertama selalu nol (0)


(4) Seri pengganti dimulai dengan huruf X
(5) Ditarik dari peredaran tanggal 15 November 1996 kecuali nominal terkecil 1 sen yang sampai saat ini masih belum ditarik dan dipergunakan oleh Bank Indonesia agar pembukuannya balance dan tidak kacau hanya gara2 sen.
(6) Selain varian beredar ternyata juga ada varian SPECIMEN dan proofnya. 

 
Varian specimen

Varian proof dengan sisi belakang yang kosong

(7) Uang ini tersisa sangat banyak, sering ditemukan dalam jumlah besar, bergepok-gepok. Sehingga praktis tidak bernilai tinggi. Akibatnya tidak ada satu kolektorpun yang tidak punya, bahkan  semua pemula pun pasti punya. Karena begitu seringnya dilihat  kita menjadi jenuh dan bosan, bahkan mungkin alergi untuk memegang uang ini, padahal makna sejarah yang dikandungnya begitu mendalam dan tidak banyak uang yang gambar/temanya berhubungan langsung dengan situasi politik disaat uang tersebut diedarkan. Beberapa diantaranya adalah Rp50.000 Suharto emisi 1992-95 dan WR Supratman emisi 1999. 




Semoga dengan membaca artikel ini dapat menjadikan kita lebih menghargai uang-uang kuno, termasuk seri yang super murah dan super umum ini.



Jakarta 8 April 2018
Dari berbagai sumber


Kritik dan saran hubungi arifindr@gmail.com