Sabtu, 20 Desember 2014

Hasil lelang terbaru

40 Gulden seri Gedung 1920, dengan coretan tinta hitam, kondisi Very Good
Terjual diharga 30 juta Rupiah setelah fee (MPO, November 2014) 

5 Gulden 1923 SPECIMEN, 4 lubang staples, AU
Terjual sekitar 8 juta Rupiah setelah fee (MPO, November 2014)

5 lembar set seri Recepis 1846 tanpa pecahan terbesarnya 500 Gulden
Kondisi rata2 AU-UNC. Terjual sekitar 27 juta Rupiah setelah fee (MPO, November 2014)



9 lembar set lengkap seri Creatie 1815 dengan kondisi rata-rata AU-UNC.
Terjual sekitar 54 juta Rupiah (MPO, November 2014)


Seri bingkai 10 Gulden 1920 SPECIMEN dengan kondisi VF
Terjual 500 Euro atau sekitar Rp.9,5 juta setelah fee (MPO, November 2014)

Seri bingkai 50 Gulden 1920 SPECIMEN (VF)
Terjual diharga yang sama dengan bingkai 10 Gulden yaitu 500 Euro (MPO, November 2014)

100 Gulden Coen Mercurius 1921. Issued note yang cukup langka dengan kondisi VF
Terjual sekitar 23 juta Rupiah (MPO, November 2014)
Bandingkan dengan varian SPECIMEN dengan kondisi serupa yang terjual di lelang yang sama hanya seharga 9.5 juta Rupiah. 

200 Gulden 1919 SPECIMEN seri Coen Mercurius, kondisi AU dengan lubang staples
Terjual sekitar 16 juta Rupiah pada lelang MPO November 2014

300 Gulden 1901 SPECIMEN seri Coen Mercurius, kondisi VF dengan perforasi dan prefix OD yang berbeda dari yang biasa ditemukan (OL). Sangat langka.
Terjual diharga 2000 Euro atau sekitar 38 juta Rupiah setelah fee.

500 Gulden 1919 SPECIMEN seri Coen Mercurius, kondisi AU dengan lubang staples.
Terjual sekitar 17 juta Rupiah pada lelang MPO November 2014

1000 Gulden 1919 seri yang sama, kondisi AU dengan 4 lubang staples.
Terjual sekitar 16 juta Rupiah (MPO, November 2014)


Indonesia (Netherland Indies) 2 1/2(2.5) Gulden, 1940, PMG 65EPQ
Terjual Rp1.500.000 (Ebay 11 Oktober 2014)


25 GULDEN FROM NETHERLAND INDIE 20.10.1938 AU
Terjual Rp3.110.000 (Ebay 5 oktober 2014)

INDONESIA: 100 Rupiah Banknote,(UNC),P-51a,1957
Terjual Rp2.200.000 (Ebay 5 Oktober 2014)

NDONESIA: 5 Rupiah Banknote,(UNC),P-36,01.01.1950
Terjual Rp1.550.000 (Ebay 5 Oktober 2014)

INDONESIA, P54, ND (1957), 2500 Rupiah, GEM UNC. PMG66-EPQ
Terjual Rp8.300.000 (Ebay 4 Oktober 2014)

NETHERS INDIES, P74c, 1939, 10 Gulden, GEM UNC. PMG66-EPQ
Terjual Rp6.300.000 (Ebay 4 oktober 2014)

Indonesia Netherlands 1943 Nederlandsch-Indie 25 Gulden, VF+
Terjual Rp500.000 (Ebay 3 Oktober 2014)

Indonesia Netherlands 1943 Nederlandsch-Indie 100 Gulden, VF+
Terjual Rp1.050.000 (Ebay 3 Oktober 2014)

 
NETHERLANDS INDIE: 1 GULDEN NOTES 1910 + 1 and 2 1/2 1940 
Terjual Rp1.125.000 (Ebay 1 Oktober 2014)

De Javasche Bank - 100 Gulden, 1923. EF - AUNC
Terjual Rp2.000.000 (Ebay 29 September 2014)

NETHERLANDS INDIES (P81a) 50 Gulden 1938 aVF/VF SCARCE!
Terjual Rp6.500.000 (Ebay 22 September 2014)

Banknote NETHERLANDS INDIES - 1/2 Gulden 1920 P. 102
Terjual Rp1.800.000 (Ebay 21 September 2014)

1970 Indonesia Silver 500 Rupiah “Wayang Dancer” NGC PF67 Ultra Cameo
Terjual Rp1.650.000 (21 September 2014)

JAPANESE OCCUPATION MONEY LOT OF 100 UNUSED 10 GULDEN
Terjual Rp1.500.000 (Ebay 10 September 2014)

50 gulden Netherland Indies banknote, 28-04-1938, Pick 81
Terjual Rp6.500.000 (Ebay 10 September 2014)

Netherlands Indies

P 53s, Handjaja 105Aab, De Javasche Bank, 10 Gulden, January 29, 1924, SPECIMEN. Coat of arms of Batavia at upper center on front. Legal texts in four languages on back. Diagonal red overprint SPECIMEN on issued note on front and back. Perforated A.VERNIETIGD.
Quality: ICG 50, XF/aUNC 
Tidak terjual 1200 Euro (Corne Akkermans 2014)

Netherlands Indies P 119b, The Japanese Goverment, WWII Japanese occupation, 1 Cent, (1942), SPECIMEN. Quality: UNC-
Terjual 60 Euro ++20% atau sekitar Rp1.115.000 (Corne Akkermans 2014)

Netherlands Indies. P 121a, The Japanese Government, WWII Japanese occupation, 10 Cent, (1942), SPECIMEN. Quality: Stain at upper left on front, otherwise XF
Terjual 50 Euro + 20% atau sekitar Rp950.000 (Corne Akkermans 2014)
Menurut anda stempel kedua uang di atas asli atau palsu ?


Terjual $1000 + 20% atau sekitar Rp14,6 juta (Baldwin-Ma Tak Wo Agustus 2014)



Terjual $460 + 20% atau sekitar Rp6.700.000 (Baldwin-Ma Tak Wo Agustus 2014)







Selasa, 25 November 2014

Uncut pecahan 100.000 Rupiah NKRI emisi 2014

Bank Indonesia telah membuka pembelian uncut NKRI yang terdiri dari 2 jenis yaitu
1. Uncut 100.000 Rupiah 2x seharga Rp530.000

2. Uncut 100.000 Rupiah 4x seharga Rp1.060.000
 

Untuk daerah Jakarta, pada hari pertama pembelian (Senin 24 November) setiap pembeli boleh membeli maksimal 3 set. Tetapi karena tingginya permintaan maka pada hari Selasa 25 November setiap pembeli dibatasi hanya 1 set saja yaitu satu yang 2x dan satu yang 4x, persyaratannya cukup mengisi formulir, fotokopi KTP dan tentunya uang tunai. Untuk daerah Surabaya lebih sulit lagi karena memerlukan NPWP.

Saya pada hari Selasa ini ikutan antri dan sampai sekitar pukul 11an nomor antrian sudah diatas 60,  kebanyakan yang ikut antri bukanlah kolektor, melainkan para pedagang dan spekulan. Karena itu jangan heran bila harga uang uncut ini akan mengalami kenaikan yang pesat. 

Minggu, 16 November 2014

Gambar pada uang kertas (2)

Kembali lagi kita melihat gambar-gambar yang terdapat pada uang kertas negara kita. 


2 - 1/2 Rupiah seri suku bangsa tahun 1954 dan 1956


Uang yang sisi depannya berwarna merah ini bergambar seorang laki-laki yang dengan sekali lihat pada wajahnya dapat kita perkirakan berasal dari Flores, Nusa tengara Timur. Ciri khas penduduk Flores ini bisa terjadi karena dulu pulau Flores bersama dengan Timor Timur merupakan koloni Portugis sehingga terjadi percampuran genetik antara suku Melayu, Melanesia dan Portugis. Bahkan kata Flores sendiri dalam bahasa Portugis berarti "bunga" dalam bentuk jamak. Mungkin sewaktu Portugis pertama kali mendarat disana mereka menemukan daratan yang sangat indah dan dipenuhi berbagai macam bunga.
   
Gambar pada uang kertas ini rupanya diambil oleh seorang fotografer Belanda bernama A. Ley yang sedang mengadakan perjalanan ke daerah tersebut. Foto dapat ditemukan di dalam buku Tanah Air Kita  susunan NA Douwes Dekker.


Perhatikan baik-baik gambar pada buku, bandingkan dengan yang ada pada uang kertas. Sungguh mirip bukan? Bukan hanya senyum dan kerut-kerut wajahnya saja bahkan sarungnya yang bergaris-garis dan tali kalungnya juga ikut ditampilkan. Tidak dapat kita tolak lagi bahwa foto pada buku ini merupakan sumber inspirasi utama bagi si pelukis uang. 

Sekarang mari kita baca keterangan yang terdapat pada foto tersebut:

"Orang Flores jang chas mukanja seperti ini, menjampaikan selamat datang kepada kami. Ketika mengadakan perdjalanan mengembara keseluruh pulau2 Sunda-Ketjil, maka Flores kami pakai sebagai pangkalan - agar bersamaan dengan perputaran djarum2 lontjeng - untuk mengundjungi pulau2 disekitar Laut Sawu dan achirnja berlajar kearah Barat, ke Bali."

Dengan senyumnya yang khas dan ramah orang Flores menyambut dan menyampaikan selamat datang kepada para tamu. Tidak heran tempat tersebut dijadikan pangkalan untuk melakukan perjalanan berikutnya.  


Bagian belakang uang

Bagian belakang uang ini bergambar Garuda Pancasila di sisi tengah dan diapit angka atau nominal uang di sisi kanan kirinya serta text undang-undang di bagian bawah. Menurut buku Sejarah Bank Indonesia gambar pada sisi belakang uang ini diambil dari uang kertas Suriname yang beredar pada masa yang sama. Betulkah demikian, mari kita lihat kemiripannya.


Silahkan teman-teman bandingkan keduanya, apakah mirip?
Lambang negara di bagian tengah dan text undang2 di bawahnya. Bedanya uang Suriname memiliki tanda air di sisi kanannya sedangkan uang kita tidak ada sehingga bagian tersebut diganti dengan nominal. Karena seri ini merupakan uang kertas pertama yang dirancang oleh NV Pertjetakan Kebajoran yang tentunya masih sangat minim pengalaman, maka tidak heran para pelukis dan perancang uang mencari-cari  ide dari uang kertas negara lain. 
Tetapi kenapa pilihannya Suriname?
Mungkin karena disainnya simpel dan mudah dijadikan contoh, selain itu Suriname masih merupakan kerabat dekat Indonesia yang sama-sama dijajah Belanda, ditambah lagi dengan banyaknya penduduk Jawa yang berada disana. 

Bukan cuma sekali itu saja uang kita memiliki kemiripan dengan Suriname, diantaranya adalah uang di bawah ini :


Seri gedung 1919-1921, perhatikan kemiripannya dengan uang Suriname. Keduanya sama-sama bergambar gedung di bagian tengah dengan nominal di kiri kanan dan di keempat sudut. Walaupun beredar tidak pada saat yang bersamaan (DJB seri gedung diedarkan 20 tahun lebih awal) tetapi keduanya dicetak oleh perusahaan yang sama yaitu American Banknote Company (ABNC). Rupanya ABNC tidak mau ambil pusing untuk merancang uang baru, ambil saja dari contoh yang sudah ada. Toh kedua negara tersebut sama-sama jajahan Belanda, jadi boleh dong kalau ada kemiripannya. Untungnya karena uang kita diedarkan duluan maka boleh dibilang Suriname yang meniru tetapi sebaliknya pada seri suku bangsa, uang kita yang meniru Suriname.


Selain dengan Suriname ternyata uang kita di jaman Belanda ada yang sangat mirip dengan uang dari negara Amerika Latin lainnya, yaitu Brazil. 
Tidak percaya? Silahkan lihat saja.

Apakah mirip?
Uang Coen Mercurius kita ternyata ada tiruannya yaitu uang Brazil, tetapi yang mana meniru yang mana kita tidak akan pernah tahu karena keduanya diedarkan pada masa yang bersamaan.
Menarik bukan?



Pembahasan kita lanjutkan dilain waktu dengan mengambil gambar uang yang lain. Apakah teman-teman dapat menebak gambar pada uang pecahan dan tahun berapakah yang diambil dari foto di bawah ini? 

Jumat, 15 Agustus 2014

Uang Baru 2014

logo_sp_bersama_bi_dpkeu.gif

SIARAN PERS BERSAMA
No. 16/57/DKom
No. 109/KLI/2014
Bank Indonesia bersama Pemerintah Republik Indonesia mengumumkan bahwa uang Rupiah kertas pecahan Rp100.000 Tahun Emisi 2014 mulai diberlakukan, dikeluarkan, dan diedarkan di Indonesia pada tanggal 17 Agustus 2014 yang bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-69 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Pasal 42 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang (UU Mata Uang) mengamanatkan uang Rupiah kertas dengan ciri umum sebagaimana diatur dalam Pasal 5 ayat (1) UU Mata Uang mulai diberlakukan, dikeluarkan, dan diedarkan pada tanggal 17 Agustus 2014. Sesuai dengan kewenangan Bank Indonesia sebagaimana diatur dalam UU Mata Uang tersebut, Bank Indonesia mengeluarkan dan mengedarkan uang Rupiah kertas pecahan Rp100.000 Tahun Emisi 2014.


Secara umum, desain uang Rupiah kertas pecahan Rp100.000 Tahun Emisi 2014 tidak mengalami perubahan yang signifikan dibandingkan dengan uang Rupiah kertas pecahan Rp100.000 Tahun Emisi 2004 yang beredar saat ini. Perbedaan utama antara lain dikenali dari: (i) Frasa “Negara Kesatuan Republik Indonesia” pada bagian muka dan belakang uang; (ii) Penandatangan uang dari yang sebelumnya Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia menjadi Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan.


Penggunaan frasa “Negara Kesatuan Republik Indonesia” serta tanda tangan Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan mewakili Pemerintah Republik Indonesia dalam uang Rupiah kertas tersebut menegaskan makna filosofis Rupiah sebagai simbol kedaulatan negara yang harus dihormati dan dibanggakan oleh seluruh warga negara Indonesia. Dengan demikian, sudah menjadi kewajiban bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk menggunakan uang Rupiah dalam setiap transaksi di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia termasuk di daerah terpencil dan daerah terluar Indonesia. Penghargaan warga negara Indonesia pada mata uangnya sendiri akan mendorong berdaulatnya Rupiah di negeri sendiri, dan pada gilirannya diharapkan Rupiah akan sejajar dengan mata uang utama dunia lainnya.
Dalam perencanaan pengeluaran uang Rupiah tersebut, sebagaimana diatur dalam UU Mata Uang, Bank Indonesia telah berkoordinasi dengan Pemerintah dalam mempersiapkan pengeluaran uang Rupiah kertas. Sebagai tindak lanjut dari koordinasi tersebut, Pemerintah telah mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2014 tanggal 2 Juni 2014 tentang Penetapan Gambar Pahlawan Nasional Dr. (H.C.) Ir. Soekarno dan Dr. (H.C.) Drs. Mohammad Hatta dalam Rupiah Kertas Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sebagai landasan hukum yang mengatur mengenai pemberlakuan, pengeluaran dan pengedaran uang Rupiah kertas pecahan Rp100.000 Tahun Emisi 2014, maka sesuai Pasal 15 jo. Pasal 16 UU Mata Uang, Bank Indonesia telah mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 16/13/PBI/2014, tanggal 24 Juli 2014, tentang Pengeluaran dan Pengedaran Uang Rupiah Kertas Pecahan 100.000 (Seratus Ribu) Tahun Emisi 2014 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 180). Selain itu, Bank Indonesia juga telah mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 16/14/PBI/2014, tentang Pengeluaran dan Pengedaran Uang Rupiah Kertas Khusus Pecahan 100.000 (Seratus Ribu) Tahun Emisi 2014 dalam Bentuk Uang Rupiah Kertas Bersambung (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 181).
Setelah pengeluaran uang Rupiah kertas pecahan Rp100.000 Tahun Emisi 2014, pengeluaran uang untuk pecahan lainnya dengan ciri-ciri umum sebagaimana diatur dalam UU Mata Uang akan dilakukan secara bertahap.
Dengan berlakunya uang Rupiah kertas pecahan Rp100.000 Tahun Emisi 2014 ini, uang Rupiah kertas pecahan Rp100.000 Tahun Emisi 2004 masih tetap berlaku sepanjang belum dicabut dan ditarik dari peredaran.
 Jakarta, 14 Agustus 2014

BANK INDONESIA DEPARTEMEN KOMUNIKASI
KEMENTRIAN KEUANGAN BIRO KOMUNIKASI DAN LAYANAN INFORMASI


Sumber : website Bank Indonesia (www.bi.go.id)