Selasa, 31 Mei 2016

Tahun cetak 2016 telah beredar
Segera disimpan sebelum terlambat


Jumat, 13 Mei 2016

10000 Rupiah emisi 1975

Kadang gambar pada uang kertas bertujuan untuk memperingati suatu peristiwa penting. Kita lihat beberapa contohnya :

Pecahan 10000 Rupiah emisi 1998
Uang yang bergambar Tjut Njak Dhien ini mungkin diterbitkan untuk memperingati 100 tahun pahlawan asal Aceh tersebut 



Sedangkan dalam bentuk perangko diterbitkan satu set yang bergambar Tjut Njak Dhien dan rumahnya di kawasan Aceh, masing-masing dengan nominal 1500 Rupiah. Perhatikan kalau gambar dan warna keduanya dibuat sangat mirip. Untuk para kolektor yang mengerti tentu akan menyatukan uang serta perangko tersebut dalam satu halaman album. 




Pecahan 2000 Rupiah emisi 2009
Pemilihan gambar Pangeran Antasari pada uang ini mungkin sebagai peringatan 200 tahun kelahirannya (1809). 


Pecahan 500 Rupiah emisi 1977
Gambar gedung Bank Indonesia di sisi belakang sangat mungkin untuk peringatan 25 tahun berdirinya Bank Indonesia. Sedangkan sisi depannya yang bergambar seorang wanita dengan bunga anggrek akan dijelaskan pada kesempatan lain.

Gambar gedung BI di sisi belakang uang tentu bertepatan dengan ulang tahun BI ke 25 tahun.
Peristiwa ulang tahun BI juga terekan pada watermark uang ini.


Pecahan 10000 Rupiah emisi 1975


Uang yang dikenal sebagai 10 ribu barong ini bergambar relief candi Borobudur di bagian depannya, Tentu saja penggambaran ini ada maksudnya. Kira-kira apa ya?

Untuk mengetahuinya kita harus mencari arsip peristiwa apa yang terjadi pada era uang tersebut diedarkan. Dan ternyata pada era 1975 terdapat satu peristiwa penting yang berhubungan pada candi Borobudur, yaitu pemugaran besar-besaran.

UNESCO sebagai salah satu badan PBB yang menaungi pendidikan dan kebudayaan dunia menganggarkan sejumlah besar dana  untuk merenovasi candi Borobudur. 
Renovasi ini bukan asal asalan, tetapi merupakan suatu proyek besar yang berlangsung selama 7 tahun yaitu dari 1975 sd 1982

Apa saja yang dilakukan pada pemugaran tersebut? 
Pondasi diperkukuh dan semua 1.460 panel relief dibersihkan. Pemugaran ini dilakukan dengan membongkar seluruh lima teras bujur sangkar dan memperbaiki sistem drainase dengan menanamkan saluran air ke dalam candi. Lapisan saringan dan kedap air ditambahkan. Proyek kolosal ini melibatkan 600 orang ahli dari berbagai dunia dan menghabiskan biaya total sebesar 6,9 juta dollar AS. 

Borobudur dipugar oleh UNESCO karena termasuk dalam kriteria budaya sbb: 
1. "mewakili mahakarya kreativitas manusia yang genius", 
2. "menampilkan pertukaran penting dalam nilai-nilai manusiawi dalam rentang waktu tertentu di dalam suatu wilayah budaya di dunia, dalam pembangunan arsitektur dan teknologi, seni yang monumental, perencanaan tata kota dan rancangan lansekap", 
3. "secara langsung dan jelas dihubungkan dengan suatu peristiwa atau tradisi yang hidup, dengan gagasan atau dengan kepercayaan, dengan karya seni artistik dan karya sastra yang memiliki makna universal yang luar biasa".

Begitu hebatnya candi ini sehingga setelah renovasi, UNESCO memasukkan Borobudur ke dalam daftar Situs Warisan Dunia pada tahun 1991, peristiwa penting ini juga diabadikan pada gambar bagian belakang uang pecahan 10 ribu tahun 1992. Jadi peristiwa pemugaran candi Borobudur diabadikan pada pecahan 10 ribu 1975 sedangkan peristiwa dimasukkannya ke dalam Situs Warisan Dunia digambarkan pada pecahan 10 ribu 1992. 

Gambar candi Borobudur di bagian belakang uang tentu berhubungan dengan dimasukkannya ke dalam Situs Warisan Dunia oleh UNESCO
   

Sekarang kita tahu kalau makna dari gambar pecahan 10.000 emisi 1975 yang ingin merekam peristiwa penting yang terjadi pada saat uang tersebut diterbitkan yaitu dimulainya renovasi besar besaran candi Borobudur.
Selesaikah ?
Belum selesai. Karena kita belum membahas maksna relief yang dijadikan gambar pada pecahan tersebut.

Relief yang dijadikan dasar gambar pada uang ini diambil dari   panel Lalitavistara (kehidupan Sang Budha) yang menggambarkan perjalanan pulang Ratu Maya, ibu Sidharta Gautama yang ingin melahirkan sang Budha di Taman Lumbini.


Untuk mengerti artinya, kita harus mengetahui secara singkat perjalanan hidup Pangeran Sidharta Gautama yang terdapat pada panel pahatan relief candi Borobudur.


Rangkaian 120 panel relief di bagian atas dinding galeri pertama merupakan pahatan riwayat hidup Buddha paling lengkap di monumen mana pun di dunia. Riwayat hidup Buddha ini didasarkan pada naskah Lalitavistara.
Pendahuluan Sebelum Kelahiran Buddha (Panel 1-15)
Bakal Buddha yakni Bodhisattwa Setaketu tinggal di Surga Tusita (Kecukupan Hati) yang mengambang di awan istana Dewa Indra di puncak Gunung Sumeru. Bodhisattwa Setaketu hidup dalam istana yang dipenuhi wewangian bunga dan musik tak terhingga alat musik yang dimainkan para dewa yang memujanya.
Bakal Buddha mengumumkan kepada para dewa bahwa ia telah memutuskan terlahir ulang di Bumi. Para dewa bersukacita dan mengiringinya turun ke rahim Ratu Mahamaya dari Kerajaan Sakya dalam wujud gajah putih bercula enam. Ratu Mahamaya saat itu, tengah menjalani pertapaan pemurnian, ia bermimpi didatangi gajah putih yang memasuki rahimnya. Ratu lalu memanggil Raja Suddhodana untuk mencari tahu makna mimpinya.
Kehidupan Awal Pangeran Gautama (Panel 16-45)
Ketika ratu sampai ke tepi hutan, mendadak tubuhnya sangat kaku. Beberapa dewa memberitahu bahwa ratu tengah mengandung Bakal Buddha. Para brahmana pun meramalkan bahwa anak yang dikandung akan menjadi raja semesta atau Bakal Buddha.
Selama dalam kandungan, terjadi banyak keajaiban: Ratu Maya menyembuhkan rakyat yang sakit, Datangnya rombongan anak singa dan gajah turun dari Himalaya, para dewa muda muncul di hadapan raja dan duduk di pangkuannya. Ratu Maya meminta izin kepada raja untuk pergi melahirkan di rumah orangtuanya. Namun, saat melintasi Taman Lumbini, Ratu Maya melahirkan dengan posisi berdiri, berpegangan pada dahan pohon sala. Bayi Gautama yang baru lahir berjalan tujuh langkah yang ditandai pada relief dengan tujuh teratai.
Seminggu setelah kelahiran bayi Gautama, Ratu Maya mangkat dan terlahir menjadi dewi. Saudarinya bernama Mahaprajapati Gautami menjadi ibu asuhnya.


Jadi panel yang diambil untuk gambar pada uang kertas ini yang menceritakan tentang perjalanan pulang Ratu Maya untuk melahirkan sang Budha sangat mungkin memiliki arti bahwa candi Borobudur yang digambarkan sebagai sang Budha akan segera dilahirkan kembali melalui pemugaran besar besaran. Selain itu mungkin ada makna tersembunyi dari rezim penguasa karena tidak lama lagi tepatnya tahun 1977 akan diadakan pemilu pertama yang diikuti hanya oleh 3 partai (pemilu sebelumnya diikuti banyak partai), dan tentu saja diharapkan akan dilahirkan satu pemenang mutlak laksana titisan dewa.  
Apakah hal tersebut yang ingin diceritakan oleh si pelukis uang? Ataukah ada hal2 lainnya? Kita tidak pernah tau. Yang pasti ada banyak tipe essay dari uang ini yang menggambarkan panel2 candi Borobudur yang berbeda, tetapi semuanya ditolak. Salah satunya sebenarnya jauh lebih bagus yaitu menggambarkan perahu tradisional yang rasanya sangat cocok untuk dijadikan gambar pada uang kertas negara kepulauan Indonesia.

Salah satu panel pada candi Borobudur yang menggambarkan perahu tradisional, 
Terlukis dengan indah pada selembar essay yang ditolak. 
Mengapa gambar yang sebenarnya lebih tepat dan lebih indah karena menggambarkan kehebatan nenek moyang kita ini tidak disetujui dan digantikan dengan 
gambar perjalanan Ratu Maya untuk melahirkan sang Budha? 


Jelas sekali pemilihan gambar pada uang kertas bukan sekedar harus indah tetapi juga harus memiliki makna yang mendalam, Makna yang hanya diketahui oleh si pelukis dan penguasa saat itu.


Bagian belakang uang

Bagian belakang uang ini bergambar sesosok wajah yang menyeramkan yang digambarkan sebagai Barong. Mari kita bahas.

Gambar "barong" tersebut sebenarnya adalah patung dari Batara Kala yang terdapat pada candi Jago, yaitu candi Budha yang terletak disekitar Malang, jawa Timur. 


Candi Jago, perhatikan patung yang terletak di atas pintu masuknya


Patung kepala Batara Kala di atas pintu masuk candi Jago



Batara Kala


Batara Kala :
Kālá (Devanagari: कल) adalah putera Dewa Siwa. Dewa Kala adalah dewa penguasa waktu (kata kala berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya waktu). Dewa Kala sering disimbolkan sebagai raksasa yang berwajah menyeramkan, hampir tidak menyerupai seorang Dewa. Dalam filsafat Jawa Kuno, Kala merupakan simbol bahwa siapa pun tidak dapat melawan hukum karma. Apabila sudah waktunya seseorang meninggalkan dunia fana, maka pada saat itu pula Kala akan datang menjemputnya. Jika ada yang bersikeras ingin hidup lama dengan kemauan sendiri, maka ia akan dibinasakan oleh Kala. Maka dari itu, wajah Kala sangat menakutkan, bersifat memaksa semua orang. 

Mengapa wajah raksasa seram nan kejam ini malah dimasukkan ke dalam gambar uang? Apakah hanya karena unsur kebudayaannya saja? Atau ada makna lain yang ingin disampaikan oleh rezim penguasa saat itu?
Wajah seram Batara Kala sering ditemukan juga pada topeng yang dikenakan pada tari tarian kebudayaan Bali yang kita kenal sebagai tari barong. Wajah menyeramkan dari sang barong diceritakan mampu mengusir para mahluk halus pengganggu, sehingga masyarakat dapat hidup dengan damai. Mungkin pesan ini yang ingin disampaikan oleh si pelukis, jangan main-main dengan penguasa yang dianalogikan sebagai Batara Kala yang mampu mengusir bahkan membunuh para pengganggu. 
Apakah teman-teman setuju? Silahkan berandai andai.

Topeng Barong pada tarian Bali


Selain terekam pada uang kertas, peristiwa pemugaran candi Borobudur juga diabadikan dalam bentuk perangko dan medali peringatan Peruri


Perangko peringatan perayaan pemugaran candi Borobudur, diterbitkan 1983




Medali peringatan  Borobudur sebagai salah satu dari 10 keajaiban dunia



Jakarta 13 Mei 2016
Kritik dan saran hubungi arifindr@gmail.com

Sabtu, 23 Januari 2016


DICARI UANG KERTAS KUNO, HUBUNGI : 08159988188

Uang kertas DICARI

DICARI uang-uang kertas jaman penjajahan Belanda seri JAVASCHE BANK
Bila ada diantara pembaca yang memiliki uang2 tersebut di bawah ini dan berniat untuk menjualnya, silahkan hubungi saya di email arifindr@gmail.com atau telp di 0815 9988188.


Semua pecahan seri Javasche Bank sampai dengan tahun 1920 seperti:



Seri Creatie 1815

Seri Creatie 1815 merupakan surat kredit pemerintah Belanda, terdiri dari pecahan 1, 5, 10, 25, 50, 100, 300, 600 dan 1000 gulden. Dicari dalam kondisi baik dan asli. Seri ini banyak sekali dipalsukan, terutama untuk pecahan 1 dan 1000 gulden.


Seri Recepis (1846)
Seri Recepis atau disebut juga Recepis Perak (1846) terdiri dari pecahan 1, 5, 10, 25, 100, 500 gulden. Dicari dalam kondisi baik dan asli.



Seri Bingkai I (1864-1903)
Seri yang sangat sulit ditemukan, bernilai tinggi dan terdiri dari pecahan 5, 10, 25, 50, 100, 200, 300, 500 dan 1000 gulden. Dicari dalam segala kondisi.




Seri Bingkai II (1873-1924)
Terdiri dari pecahan 10, 25 dan 50 gulden, Ada dalam bentuk specimen dan ada juga yang bernomor jalan. Dicari dalam bentuk nomor jalan.




Seri Coen Mercurius (1897-1924)
Bentuknya besar dan memiliki tepi yang tidak rata, bergambar JP Coen di kanan dan patung Mercurius di kiri, terdiri dari pecahan 100, 200, 300, 500 dan 1000 gulden. Juga terdapat dalam bentuk beredar dan specimen. Dicari dalam bentuk baik dan utuh.



Seri Coen I (1901-1924)
Hanya terdiri dari pecahan 5 gulden, tetapi memiliki setidaknya 10 variasi tanda tangan.
 Terdapat dalam bentuk specimen atau nomor jalan. Dicari dalam bentuk baik.



Seri Munbiljet Wilhelmina (1919-1920)
Diterbitkan dalam rangka perkawinan ratu Wilhelmina, terdiri dari pecahan 1 dan 2,5 gulden. 
Dicari dalam bentuk minimal extra fine.



Seri Gedung (1919-1921)
Bergambar gedung Javasche bank, terdiri dari pecahan 20, 30 dan 40 gulden. Ada dalam bentuk proof, specimen maupun nomor berjalan. Dicari dalam bentuk nomor jalan. Tetapi jenis ini terdapat banyak bentuk palsunya.



Seri Munbiljet II (1920)
Terdiri dari pecahan 1/2, 1 dan 2,5 gulden. Pecahan 1/2 dan 1 gulden cukup mudah ditemukan, tetapi pecahan 2,5 sedikit sulit didapatkan terutama yang berkondisi baik. Dicari dalam bentuk minimal extra fine.


Seri JP Coen II (1925-1931)
Pecahan 5, 10, 25, 50 dan 100 gulden dicari dalam kondisi minimal EF
Pecahan 200, 500 dan 1000 gulden dicari dalam kondisi baik dan utuh.
Pecahan 300 gulden dicari dalam segala kondisi asalkan utuh.


Seri Wayang 1938-1939
Pecahan 5, 10, 25 gulden dicari dalam kondisi UNC
Pecahan 50 dan 100 gulden dicari dalam kondisi minimal very fine
Pecahan 200, 500 dan 1000 gulden dalam segala kondisi asalkan utuh.



Seri NICA 1943
Pecahan 25, 50 dan 100 gulden dicari dalam kondisi UNC
Pecahan 500 gulden dicari dalam kondisi baik dan utuh.





Selain uang2 di atas, bila anda memiliki uang2 jaman penjajahan Belanda atau uang2 Indonesia lainnya yang ingin di jual baik satuan maupun borongan, silahkan hubungi saya di email arifindr@gmail.com atau telp: 0815 9988188


Terima kasih

1. Sejarah Perkembangan Mata Uang Indonesia

Mulai saat ini dan seterusnya, website uang-kuno akan mencoba untuk memberikan edukasi yang lebih mendetail tentang segala sesuatu yang bersangkut paut dengan uang kuno, tujuannya agar kita semua bisa mengetahui lebih mendalam tentang nilai dari barang-barang yang kita kumpulkan, sehingga kita dapat lebih menghargai, menyenangi dan tentunya melanjutkan hobby yang telah kita tekuni ini.
.
Untuk info uang kuno kali ini akan saya tampilkan materi yang dibahas pada seminar numismatik yang diadakan pada tanggal 27 Oktober 2009 oleh Museum Bank Indonesia Jakarta. Diantara pembicaranya terdapat seorang pakar numismatik bernama bapak Puji Harsono, nama beliau tentu sudah tidak asing lagi, sebagai kolektor koin ternama sekaligus pendiri dan pencetus Java Auction beliau menyampaikan materi yang sangat penting untuk kita ketahui bersama yaitu tentang Sejarah Perkembangan Mata Uang Indonesia. Agar kita mengerti apa isi dari seminar ini, maka akan saya tampilkan materi yang disampaikan oleh pembicara.

SEJARAH PERKEMBANGAN MATA-UANG INDONESIA
(Seminar Numismatika oleh Bank Indonesia, 27 Oktober 2009)

Berbicara tentang perkembangan mata-uang yang dulu pernah berlaku di wilayah Nusantara, maka ditinjau dari kepemilikan mata uang tersebut dapat diklasifikasikan dalam dua kelompok :
.Mata-uang atau koin-koin asli buatan lokal, yang dicetak oleh kerajaan-kerajaan atau daerah-daerah tertentu diwilayah Indonesia.
.
Mata-uang yang dimasukkan oleh orang-orang asing, baik pedagang maupun pemerintahan asing yang bertindak sebagai penjajah atau penguasa wilayah Nusantara, untuk dipakai sebagai alat tukar yang sah di wilayah Indonesia. Termasuk juga mata-uang yang dicetak di Jawa oleh orang-orang asing tersebut di atas, untuk diedarkan di wilayah Nusantara.
.Berdasarkan jamannya, perkembangan mata-uang Indonesia dapat dibagi dalam beberapa periode :
.
JAMAN KERAJAAN HINDU BUDDHA (850-1300).
Kerajaan Mataram Syailendra
Kerajaan Daha/Jenggala & Majapahit
.JAMAN KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM.
Kerajaan-kerajaan di Jawa (Banten, Cirebon, Sumenep)
Kerajaan-kerajaan di Sumatra (Samudra Pasai, Aceh, Palembang, Jambi).
Kerajaan-kerajaan di Kalimantan (Pontianak, Banjarmasin, Maluka)
Kerajaan-kerajaan di Sulawesi (Gowa, Buton)
.JAMAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL.
Perdagangan dengan Cina (850- 1900)
Perdagangan dengan VOC (1602-1799).
Emergency Coins atau koin-koin darurat.
.
JAMAN PEMERINTAHAN HINDIA BELANDA, PERANCIS, INGGRIS (1800-1945).
Pendudukan Hindia Belanda (1800 – 1942)
Pendudukan Perancis (1806-1811)
Pendudukan Inggris (1811-1816)
British East India Company di Sumatra.
Token-Token Perkebunan dan Pertambangan.
Mata-uang lainnya.
.
JAMAN PENDUDUKAN JEPANG (1942-1945)
.
JAMAN PEMERINTAHAN REPUBLIK INDONESIA (1945 - ---).
.
.
1. JAMAN KERAJAAN HINDU BUDHA (850 – 1300 Masehi).
.
A. Kerajaan Mataram SyailendraMata-uang Indonesia dicetak pertama kali sekitar tahun 850/860 Masehi, yaitu pada masa kerajaan Mataram Syailendra yang berpusat di Jawa Tengah. Koin-koin tersebut dicetak dalam dua jenis bahan emas dan perak, mempunyai berat yang sama, dan mempunyai beberapa nominal :
- Masa (Ma), berat 2.40 gram; sama dengan 2 Atak atau 4 Kupang,.
- Atak, berat 1.20 gram; sama dengan ½ Masa, atau 2 kupang.
- Kupang (Ku), berat 0.60 gram; sama dengan ¼ Masa atau ½ Atak.
Sebenarnya masih ada satuan yang lebih kecil lagi, yaitu ½ Kupang (0.30 gram) dan 1 Saga (0,119 gram).
Koin emas jaman Syailendra berbentuk kecil seperti kotak, dimana koin dengan satuan terbesar (Masa) hanya berukuran 6 x 6/7 mm saja. Pada bagian depannya terdapat huruf Devanagari “Ta”. Dibelakangnya terdapat incuse (lekukan kedalam) yang dibagi dalam dua bagian, masing-masing terdapat semacam bulatan. Dalam bahasa numismatik, pola ini dinamakan “Sesame Seed”.
Sedangkan koin perak Masa mempunyai diameter antara 9-10 mm. Pada bagian muka dicetak huruf Devanagari “Ma” (singkatan dari Masa), dan di bagian belakangnya terdapat incuse dengan pola “Bunga Cendana”.
Kerajaan Syailendra akhirnya meluaskan wilayahnya hingga ke daerah-daerah Jawa Timur, dimana. pelabuhan-pelabuhannya seperti Tuban, Gresik, dan Surabaya, banyak berdatangan para pedagang dari manca negara. Jawa Timur dengan pelabuhan-pelabuhannya merupakan daerah maritim, akhirnya semakin maju dibandingkan dengan kerajaan induknya di Jawa Tengah yang merupakan daerah agraris.
Pada jaman Dinasti Tang di Cina (618-907 Masehi), orang-orang Cina mulai berdatangan ke tanah Jawa untuk melakukan perdagangan. Mereka membawa dan memperkenalkan mata-uangnya yang disebut Cash atau Caixa, Cassie, Pitje, atau orang Jawa menyebutnya Kepeng atau Gobok, dengan ciri khas terdapat lubang persegi ditengah. Koin-koin Cina ini lambat laun dapat diterima oleh penduduk sebagai alat pembayaran.
Pada kira-kira tahun 928 Masehi, Gunung Merapi meletus dahsyat, yang mengakibatkan rusaknya hampir seluruh sendi-sendi perekonomian kerajaan. Karena alasan diatas, disamping semakin majunya daerah Jawa Timur, maka pada tahun 929 diputuskan untuk memindahkan ibukota kerajaan, dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Nantinya Raja Mpu Sendok membagi wilayah Jawa Timur menjadi dua untuk dibagikan kepada dua orang anaknya, menjadi wilayah Daha dan Jenggala.
.
B.Kerajaan Daha/Jenggala, dan Majapahit
Pada jaman Daha dan Jenggala, uang-uang emas dan perak tetap dicetak dengan berat standar, walaupun mengalami proses perubahan bentuk dan desainnya. Koin emas yang semula berbentuk kotak berubah desain menjadi bundar, sedangkan koin peraknya mempunyai desain berbentuk cembung, dengan diameter antara 13-14 mm.
Pada waktu itu uang kepeng Cina datang begitu besar, sehingga saking banyaknya jumlah yang beredar, akhirnya dipakai secara “resmi” sebagai alat pembayaran, menggantikan secara total fungsi dari mata-uang lokal emas dan perak.
Adapun alasan-alasan dari penggantian fungsi ini adalah :
- ukuran koin emas dan perak lokal terlalu kecil, sehingga mudah jatuh atau hilang. Sedangkan uang kepeng Cina mempunyai lubang ditengah, direnteng dengan tali sebanyak 200 keping, sehingga praktis dibawa kemana-mana dan tidak mudah hilang.
- koin emas dan perak lokal adalah mata-uang dalam pecahan besar, sedangkan koin-koin kepeng berfungsi sebagai uang kecil atau uang receh, yang sangat dibutuhkan dalam perdagangan. Nilai tukar untuk 1 Masa perak berharga 400 buah Chien. Dan pada akhir abad ke-9, dengan 4 Masa perak saja bisa membeli seekor kambing.
Sebenarnya koin-koin emas dan perak yang sudah mengalami perubahan bentuk adalah produk dari Daha dan Jenggala. Namun karena Kerajaan Majapahit (1293-1528) pada waktu itu merupakan kerajaan besar di Asia Tenggara, maka biasanya orang menamainya sebagai uang Majapahit. Padahal sejak akhir abad ke-XIII, mata-uang “resmi” yang dipakai sebagai alat pembayaran adalah koin-koin kepeng Chien.
Namun pada jaman Majapahit ini dikenal koin-koin yang disebut “Gobog Wayang”, dimana untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Thomas Raffles, dalam bukunya The History of Java. Bentuknya bulat dengan lubang tengah karena pengaruh dari koin cash dari Cina, ataupun koin-koin serupa yang berasal dari Cina atau Jepang. Koin gobog wayang adalah asli buatan lokal, namun tidak digunakan sebagai alat tukar. Sebenarnya koin-koin ini digunakan untuk persembahan di kuil-kuil seperti yang dilakukan di Cina ataupun di Jepang. Sehingga disebut sebagai koin-koin kuil. Setelah redup dan runtuhnya kerajaan Majapahit di Jawa Timur (1528), Banten di Jawa bagian barat muncul sebagai kota dagang yang semakin ramai.
.
2. JAMAN KERAJAAAN-KERAJAAN ISLAM.
.A. Kerajaan-kerajaan di Jawa (Banten, Cirebon, Sumenep).
Mata-uang dari KESULTANAN BANTEN pertama kali dibuat sekitar tahun 1550-1596 Masehi. Bentuk koin Banten mengambil pola dari koin cash Cina yaitu dengan lubang di tengah, dengan ciri khasnya 6 segi pada lubang tengahnya (heksagonal). Inskripsi pada bagian muka pada mulanya dalam bahasa Jawa: “Pangeran Ratu”. Namun setelah mengakarnya agama Islam di Banten, inskripsi diganti dalam bahasa Arab, “Pangeran Ratu Ing Banten”. Terdapat beberapa jenis mata-uang lainnya yang dicetak oleh Sultan-sultan Banten, baik dari tembaga ataupun dari timah, seperti yang ditemukan pada akhir-akhir ini .
Mata-uang dari KESULTANAN CIREBON dibuat sekitar tahun 1710/1760, saat berkuasa Sultan Sepuh. Koin dengan bahan dari timah dengan lubang ditengah itu, pada bagian muka tertulis inskripsi : “Cheribon”.
Berbeda dengan koin-koin Banten dan Cirebon, KESULTANAN SUMENEP di Pulau Madura tidak mencetak mata-uangnya sendiri. Mata uangnya diambil dari koin-koin asing (diluar Sumenep), dengan di beri “Countermarked” (cetak tindih). Koin-koin yang digunakan adalah koin-koin Austria, Belanda, Java Rupee, Mexico (Real Bundar) dan (Real Batu/Cob), dll. Sedangkan cetak tindih yang dipakai, ada beberapa jenis seperti “Bintang Madura”, dengan tulisan Arab “Sumenep”, atau “cap dengan lima kelopak daun”. Koin-koin dengan cetak tindih ini dibuat pada saat bertahtanya Sultan Paku Nata Ningrat (1811-1854) di Kesultanan Sumenep.
.
B. Kerajaan-kerajaan di Sumatra (Samudra Pasai, Aceh, Palembang, Jambi).Mata uang emas dari KERAJAAN PASAI untuk pertama kalinya dicetak oleh Sultan Muhammad yang berkuasa sekitar tahun 1297-1326. Mata uangnya disebut Dirham atau Mas, dan mempunyai standar berat 0.60 gram (berat standard Kupang). Namun ada juga koin-koin Dirham Pasai yang sangat kecil dengan berat hanya 0.30 gram (1/2 Kupang atau 3 Saga). Uang Mas Pasai mempunyai diameter 10 – 11 mm, sedangkan yang setengah Mas berdiameter 6 mm. Pada hampir semua koinnya ditulis nama Sultan dengan gelar “Malik az-Zahir” atau “Malik at-Tahir”.
Setelah Pasai berhasil ditaklukkan oleh KERAJAAN ACEH pada tahun 1524, sultan-sultan Aceh tetap mengikuti tradisi dari kerajaan Pasai dalam pembuatan mata-uangnya. Namun uang Dirham Aceh berdiameter lebih besar, antara 12 – 14 mm. Pada bagian belakangnya terdapat tulisan Arab “as-Sultan al-adil”, yang artinya Sultan yang adil. Aceh juga membuat mata-uang dari timah/timbal, yang disebut “Keueh”, dengan nilai satu Mas sama dengan 400 Keueh.
Kerajaan Aceh pernah memiliki empat Ratu yang memerintah secara berturut selama 60 tahun, dari 1641-1699. Yang pertama adalah Sultanah Safiat ad-Din, anak dari Sultan Iskandar Thani yang meninggal pada tahun 1641. Karena tidak mempunyai anak laki-laki, maka diangkatlah anak perempuannya yang berkuasa sampai dengan tahun 1675. Sultanah Nur al-Alam Naqiat ad-Din Syah Ratu Aceh yang kedua, yang memerintah pada tahun 1675-1678. Penggantinya adalah Sultanah Inayat Syah Zakiat ad-Din Syah yang memerintah tahun 1678-1688. Dan terakhir adalah Sultanah Kamalat Syah. Beliau memegang kekuasaan atas wilayah Aceh dari tahun 1688-1699. Masing-masing ratu tersebut juga mencetak mata-uangnya.
Mata-uang dari KERAJAAN PALEMBANG dapat dibedakan antara yang mempunyai lubang ditengah, yang disebut dengan pitis “Picis Tebok” (Tebok dalam dialek Palembang berarti “Lubang”). Ada juga yang tidak mempunyai lubang yang disebut dengan “Picis Buntu”.
Picis Palembang dapat dibedakan juga antara yang bertahun dan yang tidak bertahun. Semua mata uangnya terbuat dari timah, kecuali koin yang bertahun AH 1198 (tahun 1774/75 Masehi), ada terbuat dari tembaga merah dan dari timah (berdasarkan temuan yang terbaru).
KERAJAAN JAMBI di Sumatra juga membuat mata-uang picis dari timah. Salah satu koinnya ada yang berbentuk Oktagonal (segi 8), dengan tulisan “Sultan Anom Sri Ingalaga”. Ia mulai memerintah pada tanggal 21 Februari 1743.
.
C.Kerajaan-kerajaan di Kalimantan (Pontianak, Banjarmasin, dan Maluka).KESULTANAN PONTIANAK mulai didirikan pada tahun 1770, oleh seorang pedagang keturunan Arab yang bernama Abdul Rahman Alkadrie. Periode pencetakan koin-koin dari kesultanan di Kalimantan Barat ini berkisar tahun 1790-1817.
Koin-koin dari KESULTANAN BANJARMASIN pada umumnya merupakan imitasi dari koin-koin Duit VOC, yang dicetak sewaktu bertahtanya Sultan Tamjid Illah III (1785-1808). Koin-koinnya mempunyai lambang VOC, dan bertahun AH 1221.
Sebenarnya di Kalimantan masih ada satu kerajaan lagi yang jarang diketahui umum, yaitu KERAJAAN MALUKA. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang Raja Putih yang bernama Alexander Hare, seorang petualang berbangsa Inggris. Pada mulanya, Hare pada tahun 1812 diberi suatu wilayah kekuasaan oleh Sultan Banjarmasin, dengan kedudukan sebagai Residen. Namun tak lama memerintah, ia segera memperluas wilayah kekuasaannya, dengan membentuk koloni sendiri, yang bernama Maluka. Hare mencetak mata-uangnya sendiri sebagai mata uang yang sah untuk peredaran di wilayah Maluka, dan juga mendatangkan banyak tenaga kerja dari Jawa yang bekerja sebagai kuli-kuli di pertambangan batu bara. Namun masa pemerintahan Hare di Banjarmasin terhitung tidak terlalu lama, hanya dua tahun saja. Setelah kejatuhan VOC pada tahun 1799, Belanda mulai “mengambil alih” daerah-daerah kekuasaan VOC di Indonesia. Dan pada tahun 1816, pemerintahan Hindia Belanda berhasil menghancurkan koloni Maluka, serta mengusir Hare dari wilayah kekuasaannya.
.D. Kerajaan-kerajaan di Sulawesi (Gowa & Buton).
Mata uang dari KERAJAAN GOWA di Sulawesi Selatan, disebut dengan “Dinara”, yang terbuat dari emas. Sultan Alauddin Awwalul Islam yang memerintah Kerajaan Gowa pada tahun 1593-1639, adalah sultan Gowa pertama yang beralih ke agama Islam. Sultan Hasanuddin, yang memerintah pada tahun 1653-1669, dengan gelarnya “I Mallombasi Muhammad Bakir Dg Mattawang Krg. Bontomangape”. Dengan kekalahannya melawan Belanda, Sultan Hasanuddin dipaksa menandatangani Perjanjian Bungaya tanggal 18 November 1667. Dalam perjanjian itu disebutkan bahwa wilayah Minahasa, Butung dan Sumbawa yang tadinya termasuk dalam wilayah Kesultanan Gowa harus diserahkan kepada VOC. Dan semua pedagang-pedagang Eropa selain daripada VOC, dilarang untuk melakukan perdagangan diwilayah bagian timur tersebut.
KERAJAAN BUTON di Sulawesi Tenggara, mempunyai bentuk mata-uang unik yang terbuat dari kain. Mata uang ini dinamakan “Kampua”. Menurut legendanya, Kampua diciptakan pertama kali oleh Ratu Buton yang kedua, Bulawambona, yang memerintah sekitar abad XIV.
Proses pembuatan dan peredaran Kampua, mandat sepenuhnya diserahkan kepada Menteri Besar atau yang disebut ‘Bonto Ogena’. Dialah yang akan melakukan pengawasan serta pencatatan atas setiap lembar kain Kampua, baik yang telah selesai ditenun maupun yang sudah dipotong-potong. Pengawasan oleh ‘Bonto Ogena’ juga diperlukan agar tidak timbul pemalsuan-pemalsuan, sehingga hampir setiap tahunnya motif dan corak Kampua akan selalu dirubah-rubah.
Adapun standard pemotongan kain Kampua adalah dengan mengukur panjang dan lebar Kampua, dengan cara : ukuran empat jari untuk lebarnya, dan sepanjang telapak tangan mulai dari tulang pergelangan tangan sampai ke-ujung jari tangan, untuk panjangnya. Sedangkan tangan yang dipakai sebagai alat ukur adalah tangan sang Menteri Besar atau ‘Bonto Ogena’ itu sendiri! Pada awal pembuatannya, standar yang dipakai sebagai nilai tukar untuk satu ‘bida’ (lembar) Kampua adalah sama dengan nilai satu butir telur ayam. Setelah Belanda mulai memasuki wilayah Buton kira-kira tahun 1851, fungsi Kampua sebagai alat tukar lambat laun mulai digantikan dengan uang-uang buatan “Kompeni”. Nantinya nilai tukar untuk 40 lembar Kampua sama dengan 10 sen duit tembaga, atau setiap 4 lembar Kampua hanya mempunyai nilai sebesar 1 sen saja! Walaupun demikian, Kampua tetap digunakan pada desa-desa tertentu di Kepulauan Buton sampai dengan tahun 1940!
.
.3. JAMAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL.
Dalam penggolongan jaman perdagangan internasional ini sebenarnya bukan hanya orang-orang Cina dan VOC (Belanda) saja yang berdagang di Jawa, tapi kedua bangsa itulah yang paling dominan dalam melakukan perdagangan di Jawa. Dan dari mata-uang Cash Cina dan mata-uang “kompeni” inilah yang telah memberikan pengaruh yang sangat besar bagi sejarah dan perkembangan numismatik di Indonesia.
.
A. Perdagangan dengan China (850-1900).Pada awalnya, pedagang-pedagang Cina mulai banyak masuk ke tanah Jawa kira-kira pada jaman dinasti Tang di China (618-907 Masehi). Mereka dengan jung-jung nya (kapal China), mendarat di pelabuhan-pelabuhan Jawa Timur, seperti di Tuban, Gresik dan Surabaya. Pada waktu itu di Jawa Timur terkenal dengan produksi ladanya. Dalam melakukan perdagangannya, orang-orang China memperkenalkan dan menggunakan koin-koin tembaga yang disebut dengan “Chien” atau “Cash”, yang akhirnya diterima oleh penduduk sebagai alat pembayaran. Jaman Dinasti Sung di China (960-1279) adalah puncak-puncaknya dimana banyak sekali orang-orang China yang datang ke Jawa untuk berdagang, sambil membawa uang-uang kepengnya dalam jumlah besar.
Ma Huan, seorang Islam sebagai juru tulis Laksamana Cheng Ho, mencatat keadaan pada tahun 1405. Dalam bukunya “Ying Yai Sheng Lan” yang terbit tahun 1416, dikatakan bahwa :
“Koin-koin China dari berbagai dinasti umum digunakan disini”….. “Dalam melakukan transaksi, pembayarannya memakai koin-koin cash tembaga China dari berbagai dinasti”…. “Orang-orang disini (Jawa Timur) sangat senang dengan porselin-porselin China dengan motif hijau bunga, kain sutera, manik-manik dll. Mereka membelinya dengan uang-uang cash”….
Karena uang Chien banyak diekspor ke Jawa, maka pada jaman Dinasti Ming di China (1368-1644), terjadi keguncangan moneter akibat langkanya uang kecil. Akhirnya pemerintah Ming melakukan larangan ekspor uang Ch’ien ke luar negeri, termasuk ke Jawa. Sebagai gantinya VOC mengimport koin-koin kepeng dari negara-negara lain, seperti Jepang, Korea dan Vietnam. Tahun 1723 Jepang akhirnya menghentikan export uang cash.
Sebagai pengganti uang Chien yang dilarang di export oleh Kaisar Ming, pada sekitar tahun 1590 mulai beredar koin-koin picis dari timah atau timbal (lead). Uang picis ini dibuat di China, diangkut bersamaan dengan kedatangan kapal-kapal Jung dengan berat rata-rata 200-300 ton. Kapal-kapal tersebut sebanyak 15-20 kapal setahunnya, datang pada bulan November atau Desember, dan akan kembali ke China pada bulan Juni tahun berikutnya, dengan membawa rempah-rempah yang dibelinya dari Banten. Sebanyak 12-13 ribu picis seharga satu dollar Spanyol, yang dapat membeli merica sebanyak 8 kantong. Di Indonesia, hanya Bali yang tetap menggunakan koin cash China dalam bertransaksi, bahkan masih dipakai sampai dengan pada tahun 1950!
.
B. Perdagangan dengan VOC (1602-1799).Tahun 1595 untuk pertama kalinya kapal-kapal Belanda menginjak daratan Indonesia. Ekspedisi ini dikepalai oleh dua bersaudara, Cornelis dan Frederick de Houtman, dan mendarat di pelabuhan Banten. Mereka membawa koin-koin perak untuk dipakai membeli rempah-rempah, baik yang dinamakan Real Batu ataupun Real Bundar. Namun mereka kecewa karena uang yang dipakai di Banten adalah picis-picis dari timbal.
Dari ekspedisi awal ini akhirnya dua perusahaan Belanda, yaitu United Amsterdam Company (1594-1602), dan United Zeeland Company (1597-1602), ikut meramaikan pencarian rempah-rempah ke wilayah Nusantara. Mereka juga mencetak mata uangnya sendiri guna dipakai sebagai alat pembayaran, dengan tahun 1601/1602. Perlombaan mencari rempah-rempah ini akhirnya menimbulkan persaingan usaha, yang pada akhirnya malah merugikan bisnis mereka sendiri. Pada bulan Maret 1602, kedua perusahaan tersebut dilebur, dan didirikan sebuah perusahaan dagang baru yang dinamakan VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie).
Karena seringnya terjadi kekosongan mata uang kecil, maka tahun 1726 VOC meminta kepada induknya di Belanda untuk dibuatkan koin-koin bernilai kecil, yang disebut Dute, Doit atau Duit. Duit VOC ini dinyatakan tidak berlaku dinegeri induknya Belanda, dan hanya diedarkan untuk daerah-daerah dimana VOC berada. Namun peredaran duit tembaga ini cukup luas karena diedarkan juga di wilayah-wilayah Coromandel, Cochin, Malaka dan Ceylon.
Pada tahun 1743, VOC melakukan perjanjian dengan kerajaan Mataram di Jawa Tengah. Salah satu isi dari perjanjian tersebut adalah pemberian hak kepada VOC untuk mencetak mata-uangnya sendiri. Uang yang dicetak ini dikenal dengan nama “Derham Djawi” atau “Java Ducat” atau “Gold Rupee” (untuk koin emas), dan “Silver Java Rupee” (untuk koin peraknya).
Koin yang pertama kali dibuat VOC dipercetakan uang di Batavia adalah Dirham Jawi dengan tahun 1744. Pada bagian muka terdapat tulisan dalam bahasa Arab : “Ila djazirat Djawa al-kabir”, sedang di bagian belakangnya : “Derham min Kompani Welandawi”. Yang artinya : “Uang milik perusahaan Belanda untuk Pulau Jawa Besar”.
Pada tahun 1799 VOC akhirnya dinyatakan bangkrut. Semua harta dan kekuasaannya diambil alih oleh pemerintahan Belanda, yang dimulailah babak baru masa penjajahan Belanda yang sesungguhnya.
.
C. Emergency coins atau mata-uang darurat.Mata-uang darurat dibuat bila tidak tersedianya uang pecahan kecil dalam jumlah yang mencukupi. Hal ini terjadi jika tidak adanya kiriman koin-koin Duit dari Belanda, atau belum datangnya jung-jung Cina yang biasa menyuplai koin-koin picis.
Salah satu bentuk uang darurat adalah yang dinamakan “Bonk”, yang dibuat dengan cara memotong batangan-batangan tembaga Jepang. Potongan tembaga itu dicap pada kedua sisinya dengan berat yang standard, dan dicetak dalam beberapa pecahan, seperti ½, 1 atau 2 Stuiver.
Pada tahun 1796 dan 1797 dicetak juga doit-doit darurat yang terbuat dari timah, dan beredar bersamaan dengan Bonk. Pada bagian sebelah muka terdapat lambang VOC dan huruf “N” diatasnya (singkatan dari Nederlansche). Dibagian belakangnya tertulis : 1 Duit 1796 atau 1797. Karena doit-doit palsu dari timbal (lead) banyak beredar, maka duit timah itu ditarik dari peredarannya untuk dilebur kembali, yang mengakibatkan duit-duit timah itu menjadi sangat langka sekali. Koin-koin darurat dalam pecahan Stuiver juga dicetak pada tahun 1799 dan 1800. Koin-koin ini terbuat dari campuran dua bahan, yaitu perunggu dari leburan meriam-meriam yang telah rusak, yang dicampur dengan timbal. Pada sisi muka dicetak : JAVA 1799/1800, dan dibaliknya dicetak : 1 Stuiver.
.
.
4. JAMAN PEMERINTAHAN HINDIA BELANDA, PERANCIS, INGGRIS
(1800-1942).
.
A. Pemerintahan Hindia Belanda (1800-1942).
Setelah VOC dinyatakan bangkrut pada tahun 1799, maka pemerintahan Belanda mengambil oper seluruh harta dan kekuasaan VOC. Mulailah jaman pendudukan Belanda di Indonesia dalam arti yang sebenarnya, dimana Belanda mulai menginvasi daerah-daerah yang dulunya tidak terjangkau oleh VOC. Tahun 1825-1830 di Jawa (bagian Tengah dan Timur) timbul perang besar yang dikenal dengan nama “Perang Jawa” atau “Perang Diponegoro”.
Akibat perang yang berkepanjangan ini, kas Belanda menjadi kosong! Untuk memenuhi pundi-pundi nya, maka van den Bosch memperkenalkan apa yang disebut dengan “Cultuur Stelsel” atau “Tanam Paksa”. Dalam periode ini, dicetak berjuta-juta keping mata-uang dengan pecahan Satu dan Dua Sen.
Koin perak 2.5 Gulden baru dibuat pada tahun 1840 setelah dilakukan standarisasi pada mata-uang pada pemerintahan Raja Willem I. Berbagai macam mata-uang baik emas, perak, dan tembaga juga dibuat pada masa-masa pemerintahan Raja Willem II, Willem III, atau Wilhelmina.
Pada masa pemerintahan Raja Willem II (1840-1849), percetakan uang di Batavia dan di Surabaya ditutup untuk selama-lamanya. Batavia ditutup pada bulan Januari 1843, sedangkan Surabaya pada akhir tahun 1843. Dengan ditutupnya percetakan uang di Jawa, maka sejak saat itu semua mata-uang dikirim langsung dari negeri Belanda.
Pada jaman Raja Willem III (1849-1890), pernah dicetak koin perak dengan nilai 1/20 Gulden (Kelip). Koin ini bentuknya sangat kecil sekali, sehingga tidak diproduksi kembali setelah cetakan kedua tahun 1855. Koin-koin Sen dari tembaga juga dicetak, dengan pecahan 1 dan 2 ½ Sen. Pada masa-masa inilah koin cash Cina mulai ditinggalkan pemakaiannya. Koin tembaga 2 ½ sen disebut sebagai uang “Gobang” atau “Benggol”, dan mempunyai fungsinya yang lain, yaitu sebagai alat “Kerokan”.
Pada waktu bertahtanya Ratu Wilhelmina (1890-1948), timbul perang dunia kedua, dimana tahun 1940 Jerman menginvasi serta menduduki Belanda. Keluarga kerajaan termasuk Ratu Wilhelmina lari ke Inggris dengan memakai kapal kargo. Dan ditempat pelariannya itu, Ratu membentuk “pemerintahan dalam pengasingan”. Pada masa perang itu, koin-koin tahun 1941-45 dicetak di Amerika, dengan tambahan huruf kecil pada bagian belakang bawah. Huruf “D” adalah singkatan dari “Denver” (1943-1945); “P’ adalah “Philadelphia” (1941-1945); dan “S” untuk “San Francisco” (1944-1945). Pada tahun 1945, setelah kekalahan Jerman, Ratu kembali ke negerinya Belanda. Namun pada tanggal 17 Agustus 1945 negara jajahannya di bagian timur telah memproklamasikan kemerdekaannya menjadi Republik Indonesia!
.
B. Pendudukan Perancis (1806-1811).
Pada tahun 1806, Perancis menduduki Belanda, yang menyebabkan transfer kekuasaan atas seluruh. wilayah yang diduduki Belanda. Karena pendudukan Perancis dilakukan dinegeri Belanda, maka pengaruh secara langsung terhadap pendudukan Indonesia sangat kecil sekali. Seluruh kontrol pemerintahan di Indonesia tetap dipegang oleh orang-orang Belanda. Tahun 1806 Napoleon mengangkat saudaranya Louis sebagai raja di Belanda. Pada masa itu koin-koin Perancis 2 Stuivers (Sols) dan 1 Stuiver (12 Deniers) ditetapkan berlaku di wilayah Hindia Belanda.
Pada tahun 1808 H.W. Daendels datang untuk menempati posnya sebagai Gubernur Jendral yang baru di Hindia Belanda. Daendels memerintahkan agar koin-koin dicetak dengan nama raja L.N. (Louis Napoleon), baik dengan huruf Blok maupun dengan Hiasan (Ornate). Tahun 1809 Daendels memerintahkan untuk membongkar seluruh tembok-tembok yang mengelilingi Batavia, termasuk puri-purinya, serta menimbun parit-parit yang ada disekeliling kota. Daendels juga membuka percetakan mata-uang yang baru di Surabaya, yang mengakibatkan percetakan uang Batavia menjadi mandeg.
Adapun koin pertama yang dicetak di Surabaya adalah duit tembaga dengan tulisan “JAVA 1806” serta lambang VOC dibalik-nya. Walaupun tertera tahun 1806, namun koin itu sendiri baru dicetak pada bulan Februari 1807.
Pada tahun 1811 Inggris menginvasi Jawa, dan berhasil mengalahkan Belanda. Dan mulailah babak baru pendudukan Inggris terhadap Indonesia selama lima tahun kedepan!
.
C. Pendudukan Inggris (1811-1816).Pada tanggal 4 Agustus 1811, kapal-kapal Inggris mendarat di teluk Batavia, yang akhirnya dapat merebut Jawa, sehingga Belanda harus menyerahkan koloninya kepada Inggris. Berbeda dengan pendudukan Perancis terhadap Belanda, pendudukan Inggris dilakukan secara langsung, dimana wilayah Nusantara berada dalam kekuasaan Inggris. Untuk pertama kalinya diangkat Sir Thomas Stamford Raffles sebagai Gubernur Jenderal.
Satu seri koin menarik yang dicetak pada masa pendudukan Inggris adalah koin Java Rupee yang terbuat dari emas dan perak. Pada bagian depannya ditulis dalam bahasa Jawa kuno, “Kempni Hingglis, jasa hing Sura-pringga. Tahun Ajisaka AS 1741”. Sedangkan dibaliknya tertulis dalam bahasa Arab Melayu : “Hinglish, sikkah kompani, sannah AH 1229 dhuriba, dar djazirat Djawa”.
Semua koin-koin pada masa pendudukan Inggris dicetak di Surabaya, kecuali koin-koin darurat Doit Java dari timah murni Bangka dengan tahun 1813 dan 1814, yang dicetak di Batavia. Setelah kekalahan Napoleon di Eropa, maka berdasarkan perjanjian Wina tahun 1814 Inggris harus mengembalikan Jawa dan daerah lainnya kepada Belanda. Penyerahan koloni itu sendiri baru dilaksanakan Inggris pada tanggal 16 Agustus 1816.
.
D. British East India Company di Sumatra.Inggris mempunyai pusat perdagangannya di Bencoolen (Bengkulu), dengan membangun benteng dengan nama “FORT YORK”. Karena benteng dibakar oleh penduduk pada sekitar tahun 1700, maka tahun 1719 Inggris pindah ke benteng barunya yang bernama “FORT MARLBRO” (atau Fort Marlborough).
Pada tahun 1797 Inggris mencetak mata-uangnya dengan nilai ½ Dollar, dengan tulisan FORT MARLBRO disisi baliknya.
Lalu pada bulan Maret 1818 ditunjuk Sir Stamford Raffles untuk menduduki posnya yang baru di Bengkulu. Berdasarkan perjanjian tanggal 17 Maret 1824, maka Inggris harus menyerahkan Bengkulu dan semua pendudukannya di pantai barat Sumatra kepada Belanda. Sedangkan Belanda menyerahkan Malaka ke tangan Inggris, dan membolehkan Inggris mendirikan koloni di Singapura.
Para pedagang Inggris di Singapura juga membuat mata-uangnya sendiri untuk diedarkan di wilayah Sumatra dan Sulawesi, seperti Keping-keping Minangkabau, Aceh, Tanah Melayu, Uang Ayam, dan sebagainya.
.E. Token-token perkebunan dan pertambangan.
Pada jaman pemerintahan Belanda, banyak token-token yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan perkebunan dan pertambangan, tidak hanya di Jawa, Sumatra, Bangka, Kalimantan, bahkan juga dipulau Batjan Ternate. Yang disebut Token adalah mata-uang yang biasanya dibuat oleh pihak swasta, dan hanya mempunyai area peredaran yang sangat terbatas. Token hanya berlaku pada area dimana token tersebut diedarkan; diluar area tersebut token sama sekali tidak mempunyai nilai.
.
F. Mata-uang lainnya.
Selain beraneka-ragamnya mata uang yang telah diceritakan diatas, masih banyak mata uang lainnya yang dulu pernah beredar di bumi Indonesia ini. Sejak jaman VOC, Belanda dan Inggris, digunakan juga mata uang asing, seperti uang Spanyol dan dari negara-negara jajahannya seperti Meksiko, Bolivia, Peru, Brazil, dll, juga dari negara-negara India, Persia, Austria, Amerika, China dan Jepang (mata uang perak modern), Hong Kong, Sarawak, Straits Settlements, dll. Dan kesemua mata-uang diatas sampai sekarang masih dapat ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia.
.
.5. JAMAN PENDUDUKAN JEPANG (1942-1945).Pendudukan Jepang di Indonesia hanya berlangsung selama tiga setengah tahun. Jepang banyak mencetak mata-uang kertas, dan hanya satu seri koin saja yang dicetak, yaitu pecahan 1, 5 dan 10 Sen. Semuanya dicetak dengan tahun Jepang 2603 dan 2604 (1943 dan 1944 Masehi), yang dituangkan dalam Undang-Undang Pemerintahan Militer Jepang No. 2 tertanggal 8 Maret 2602 (1942). Koin pecahan 1 dan 5 Sen terbuat dari Aluminium, sedangkan koin nominal 10 Sen terbuat dari timah. Pada koin-koin nominal 5 dan 10 Sen, dibagian muka terdapat gambar Wayang, sedangkan nominal 1 Sen terdapat gambar kepala wayang. Dibagian belakangnya terdapat tulisan Jepang, JAVA, Nominal (Sen), dan tahun Jepang 2603/04.
.
.6. JAMAN PEMERINTAHAN REPUBLIK INDONESIA (1945-SEKARANG)
.
Pada tahun-tahun awal setelah proklamasi kemerdekaan, banyak dicetak uang kertas seri ORI (Oeang Republik Indonesa), dan uang-uang darurat yang dicetak oleh daerah-daerah (URIDA), tanpa satupun dicetak koin-koin sebagai mata uang.
Koin Indonesia dicetak untuk pertama kalinya pada tahun 1951. Koin ini terbuat dari aluminium dengan pecahan 5 Sen, dengan lubang pada bagian tengahnya. Koin aluminium pecahan 10 Sen (tanpa lubang) dengan gambar Garuda dicetak pada tahun 1951 juga. Berikutnya pada tahun 1952 dicetak koin-koin dengan pecahan 1 Sen (yang mempunyai desain sama dengan pecahan 5 Sen bolong) dan pecahan 25 Sen. Pada tahun yang sama juga dicetak koin dengan pecahan 50 Sen dengan gambar Dipanegara.
Seri koin-koin dengan gambar Sukarno juga dicetak untuk peredaran khusus di Kepulauan Riau. Koin-koin dengan tahun 1962 (dicetak tahun 1963) ini terbuat dari aluminium, dan terdiri dari pecahan 1, 5, 10, 25, dan 50 Sen. Koin-koin ini ditarik dari peredaran dan dinyatakan tidak berlaku lagi sejak tanggal 30 September 1964. Pada pinggiran semua koin seri Kepulauan Riau ini, tertera inskripsi “KEPULAUAN RIAU”.
Pada masa pembebasan IRIAN BARAT, juga dicetak koin-koin seri Sukarno yang dicetak khusus untuk peredaran di Irian Barat, dan semuanya bertahun 1962 (dicetak tahun 1964). Namun akhirnya dinyatakan tidak berlaku lagi sejak tanggal 31 Desember 1971.
Pada masa pemerintahan Suharto (1967-1998), banyak sekali koin-koin menarik yang dicetaknya, seperti koin-koin peringatan 25 tahun kemerdekaan, seri-seri binatang, koin-koin emas, dll.
.
.
PATOKAN NILAI TUKAR MATA UANG JAMAN DULU.
- 1 Silver Dukaton = 3 Gulden = 60 Stuiver = 240 Duit
- 1 Gulden = 20 Stuiver = 80 Duit.
- 1 Dirham emas / Dirham Jawi = 16 Silver Rupee (atau = 16 Gulden).
- 1 Stuiver = 4 Duit.
.

ISTILAH-ISTILAH MATA UANG.
- 2 ½ Gulden = Ringgit
- 1 Gulden = Rupiah
- ½ Gulden = Ukon
- ¼ Gulden = Talen atau setalen
- 1/10 Gulden = Ketip
- 1/20 Gulden = Kelip
.
.Bandung, 17 Oktober 2009.
Ditulis oleh,
Puji Harsono,
Pengamat Numismatika.

2. Sejarah Uang kertas Indonesia

Untuk melanjutkan pengetahuan kita seputar uang kuno, saya lampirkan materi yang ditulis oleh seorang pakar numismatika berkaliber internasional, bapak AA. Sumana.
.SEJARAH UANG KERTAS INDONESIA
.JAMAN PEMERINTAHAN BELANDA 1610 – 1811
Masa awal perkembangan uang kertas di Indonesia tak lepas dari pengaruh imperialisme asing (Belanda, Inggris, dan Jepang). Sejak kedatangan bangsa-bangsa asing, terutama para pedagang yang memperkenalkan berbagai jenis mata uang logam asing sebagai alat pembayaran dalam perdagangan dengan penduduk setempat sampai pengedaran mata uang logam khusus berlaku di kepulauan Nusantara 1602-1799, tidak dipergunakan uang kertas. Meskipun kertas telah dikenal di Indonesia pada abad XVII, sumber-sumber tertulis asing terutama dari bangsa Belanda dengan perwakilan dagang dan kekuasaannya Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) 1602–1799 tidak pernah menyebutkan penggunaan uang kertas tetapi uang logam sebagai alat pembayaran utama di kepulauan Nusantara.
.
Terkecuali, satu-satunya sumber tertulis Belanda yang melaporkan penerbitan uang kertas darurat oleh penguasa VOC di Pulau Banda pada tahun 1659, dikarenakan kesulitan uang kecil dari bahan logam. Beberapa waktu setelah pengeluaran uang kertas karton darurat Kota Leiden 1576 dan saham pertama VOC di dunia 1606. Uang kertas Banda 1659 ini mendahului penerbitan uang kertas modern bangsa-bangsa barat: Swedia 1661, Inggris 1694, Norwegia 1695, Perancis 1701.
.
Selama masa kekosongan yang panjang (1659-1782) Bank pertama Bataviaasch Bank Courant (1746) dan Bank Van Leening mengeluarkan surat-surat bank dalam berbagai pecahan (1748-1752). Beberapa tahun sebelum pembubarannya, VOC menyadari perlunya alat pembayaran dari kertas untuk transaksi besar yang dikenal sebagai “Surat Hutang Kompeni” (Compagnie Kredietbrieven) pada tahun 1782. Instrumen moneter ini sering dianggap sebagai uang kertas pertama di Indonesia. Pada waktu yang hampir bersamaan penguasa VOC di Ceylon (Srinlanka) juga menerbitkan instrumen sejenis pada tahun 1785 dan seterusnya. Uang “Surat Hutang Kompeni 1782” Ini beredar dalam jumlah hampir tidak terbatas sehingga turun nilainya menjadi 85%. Antara tahun 1782-1799, VOC mengeluarkan beberpa emisi surat Hutang (Kredietbrieven) dengan pecahan berbeda-beda. Pemalsuan atas surat Hutang 1782 ini merupakan yang pertama kali di Indonesia.
.Setelah pengambilalihan kekuasaan VOC di Indonesia oleh Republik Batavia (1799-1806) tidak ada penerbitan Surat Hutang oleh pemerintah pusat di Batavia, hanya uang logam India Batavia (1799-1806) yang berlaku umum. Di lain hal surat hutang VOC di Amboina 1805, yang juga berlaku di Banda dan Ternate sebagai Bagian Pemerintahan Maluku, masih memakai lambang VOC. Ketika Indonesia berada dibawah pengawasan kerjaan Hollandia (1806-1811), uang kertas tidak hanya diterbitkan oleh Pemerintah Pusat di Batavia, tetapi juga oleh Pemerintah Lokal di Ambon, Banda, dan Ternate. Pada masa ini, semua jenis uang logam dan kertas menampilkan lambang (monogram) LN (Lodewijk Napoleon). Yang terkenal diantaranya adalah uang kertas Probolinggo (Probolinggo Paper) 1810, yang berkaitan dengan kebijakan Gubernur Jenderal Mr. HW Daendels (1808-1811) menjual tanah negara dan hak kekuasaannya kepada perorangan. Uang kertas Probolinggo 1810 merupakan hipotik Han Tik Ko, Kapitan Cina (1799-1811) di Pasuruan, yang dapat ditukar dengan perak selama 10 tahun. Kenyatannya uang Probolinggo mengalami inflasi sampai 50% dibawah nominal. Usul Daendels tidak efektif bahkan penggantinya Letnan Gubernur Raffles (1811-1816) yang memberlakukan kurs ketat menyebabkan penurunan nilainya s.d. 60%.
.JAMAN PEMERINTAHAN INGGRIS 1811-1816
Pemerintah Letnan Gubernur Raffles (1811-1816) menghadapi masalah kesulitan keuangan yang diwariskan oleh Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811). Pembukuan dilakukan dalam Dollar Spanyol pada awalnya tetapi segera digantikan oleh Rupee dan Ropi Jawa (Java Rupee) sebagaimana terlihat diatas uang kertas terbitan Inggeris (termasuk oleh Lombard Bank 1814). Tampaknya masa yang singkat ini, hanya sedikit jumlah uang kertas yang dikeluarkan seperti halnya uang logam pecahan besar.
.JAMAN PEMERINTAHAN BELANDA 1816-1942
.Pada masa ini terlihat perubahan mendasar atas bahan kertas dan corak penciptaan “Creatie 1815” sebagai uang kertas kredit pemerintah mirip dengan uang kertas Creatie Suriname 1829. Peredaran uang kertas Creatie 1815 tidak luput dari pemalsuan karena kesederhanaannya. Penerbitan uang kertas mirip cek Javasche Bank 1827 dicetak untuk pertama kalinya oleh percetakan Johan Enschede en Zonen (Belanda). Selanjutnya Javasche Bank menerbitkan uang kertas tembaga (Koperpapier) dan uang tembaga (Kopergeld) 1832, 1842, dengan corak mirip uang kertas Suriname 1826 dan uang Belanda Muntbiljet 1845. Sejak penerbitan uang kertas Koperpapier ini, huruf Jawa tercantum seterusnya s.d. menjelang emisi terakhir Javasche Bank 1946, terkecuali terbitan Departemen Keuangan Muntbiljet, juga untuk pertama kalinya ‘tanda air’ (watermark) digunakan sebagai alat pengaman.
.Pada tahun 1846 diterbitkan uang kertas baru ‘Resepis Perak’ (Zilver Recepissen) oleh Javasche Bank. Tidak seperti penerbitan sebelumnya tanda tangan pengesahan untuk beredar bukan oleh pejabat Javasche Bank tetapi oleh Pejabat Kantor Pemeriksaan Keuangan Umum (Algemeene Rekenkamer). Uang Resepis Perak ini beredar dalam jumlah besar sehingga untuk melawan peredaran uang tembaga yang berkelebihan dan buruknya uang kertas Resepis Perak, maka uang logam yang beredar di Hindia Belanda pada masa pemerintahan Raja Willem III (1849-1890) dicetak di percetakan Utrecht, Belanda. Berkali-kali reformasi keuangan telah dilakukan, namun tidak menghasilkan keuangan yang sehat. Tahun 1851 Javasche Bank masih menerbitkan uang kertas berbentuk cek, seperti emisi Kopergeld 1832 dan 1842. Semua uang kertas Javasche Bank terbitan-terbitan awal terbatas luas daerah peredarannya.
Tahun 1864 Javasche Bank menerbitkan uang kertas sesungguhnya seperti halnya uang kertas semasa sekarang ini, dimana sarat dengan corak hisasan sebagaimana uang klasik lainnya. Pencantuman teks undang-undang dalam 4 bahasa (Belanda, Arab Melayu, Jawa, Cina) menunjukkan bahasa dan tulisan yang paling dominan dipakai oleh masyarakat di Hindia Belanda waktu itu. Peredaran uang kertas ini tidak begitu disukai di Sumatera Barat. Unsur pengaman mulai ditambahkan pada nomor seri dan kode kontrol. Namun uang kertas ini tidak luput dari pemalsuan.
.Mulai tahun 1873 beredar emisi Javasche Bank yang baru dengan ciri-ciri utama corak hiasan bingkai kayu dan lambang kota Batavia. Menjelang akhir penutupan abad XIX, beredar uang kertas perusahaan lokal (scrip) seperti NIEM 1861 (BDN), Brown & Co. 1890, NHM 1888 (Bank Eksim) dan sejumlah besar perkebunan-perkembunan di Sumatera Timur dan Jawa Barat, yang dikenal sebagai uang kupon perkebunan ± 1889 dan seterusnya. Akhir abad XIX, Javasche menerbitkan uang kertas emisi 1897 (seri Coen-Mercurius) bercirikan lambang kota Surabaya, Batavia, dan Semarang serta panorama pesisir laut di antara Dewa Merkurius dan Gubernur Jenderal J.P. Coen (1623, 1627-1629). Semua uang kertas klasik diatas peredarannya masih terpusat di Pulau Jawa. Selanjutnya uang kertas kolonial terbitan abad XX terlebih dengan diundangkannya larangan menggunakan uang asing selain mata uang Hindia Belanda, dapat dikatakan beredar merata di luar Pulau Jawa.
.
Selanjutnya terjadi pembagian hak penerbitan uang kertas dan logam antara Javasche Bank dan Departeman Keuangan (Departement van Financiën) yang berlaku hingga pemerintahan RI (Orde Lama). Alhasil Departemen Keuangan menerbitkan uang kertas pecahan kecil (dibawah 5 Gulden) pada tahun 1919, 1920, 1940, dan 1943. Penerbitan uang kertas Javasche Bank bercirikan gambar gedung JB dan logo JB tampaknya sebagai persiapan memperingati 100 tahun JB (1828–1928). Terbitan tahun 1925 (seri Coen) tidak luput dari pemalsuan karena kemajuan teknologi percetakan.
.
Menjelang Perang Dunia II terjadi perubahan kebijakan politik Belanda, dimana lambang kolonial digantikan dengan unsur-unsur corak pribumi. Penerbitan uang kertas Javasche Bank 1934 (seri Wayang) merupakan puncak hasil karya cetak kolonialisme sehingga dianggap uang kertas terbagus diantara semua uang kertas.
.JAMAN PEMERINTAHAN JEPANG 1942-1945
.Masa yang singkat ini hanya mengenal uang kertas saja sebagai alat pembayaran. Uang logam pendudukan khusus tidak beredar. Sebelum pendudukan, uang kertas terbitan pertama yang dikenal “Uang Pohon Pisang” (1942) telah dipersiapkan di Jepang dan diedarkan oleh bala tentara Angkatan Laut Jepang (kaigun). Oleh karenanya dikenal istilah “Uang Penyerbuan Jepang” (Japanese Invasion Money=JIM) oleh bangsa Barat. Setelah “Uang Pohon Pisang” dirasakan cukup berperan sebagai uang peralihan, Jepang menerbitkan uang kertas bercorak alam dan budaya Indonesia sebagai bagian propaganda. Uang ini dikenal sebagai uang wayang atau Gatotkaca. Jumlah pencetakannya yang besar menyebabkan inflasi. Menjelang kejatuhan jepang, beredar uang kertas Pemerintah Dai Nippon yang bercorak sama dengan uang Jepang di Malaya. Pecahan terbesar (1000 Roepiah) yang bercorak sama pula dengan uang Malaya tidak sempat beredar karena bersamaan dengan kekalahan Jepang tahun 1945. Pada masa perang dunia (1939-1945) pihak Belanda dan Jepang mengeluarkan uang kertas tahanan perang (kamp) di Jawa dan Sumatera (Allasvallei, Tjimahi, Tjideng, dan lain-lain) yang mirip dengan tanda terima/karcis.
.PEMERINTAHAN RI 1945-sekarang
.Kembalinya kekuasaan pemerintah Hindia Belanda (NICA) tahun 1945 sempat mendahului penerbitan uang kertas RI (ORI) dengan mengedarkan uang kertas “Uang NICA (uang merah) 1943” yang berkelanjutan dengan perebutan daerah dan tarik menarik peredaran antara Belanda vs Indonesia. Sementara itu, Belanda (NICA) juga memberlakukan uang kertas NICA 1943, Javasche Bank Pra-Perang Dunia II dan Federal 1946 yang dilegalisir dengan cap-cap khusus di Guinea Baru Belanda (Papua dan Papua Barat) sebelum mengeluarkan terbitan khusus Nederland Nieuw Guinea 1950 dan 1954.
.
Pada masa revolusi (1945-1949), uang RI yang dikenal sebagai “Oeang Repoeblik Indonesia/ORI, URI, Uang Putih” terlambat beredar (1946), mengalami masa paling sulit karena keadaan ekonomi dan politik pada waktu itu. Proses pencetakan, pengiriman, dan pengedarannya sangat genting dan tidak menentu. Pemerintah RI sempat mengeluarkan 3 (tiga) kali uang kertas (ORI/URI) 1945-1948 (satu diantaranya keluaran militer). Uang kertas darurat RI (ORI) ini hanya sempat beredar di Jawa-Madura dan Lampung dikarenakan transportasi yang sulit. ORI lainnya sempat dicetak di Amerika Serikat (Security Banknote Company) tapi sistuasi tidak memungkinkan untuk pengangkutan. Selain perang saraf dengan Belanda, peredaran ORI menghadapi masalah inflasi ditambah pemalsuan yang tidak sedikit.
.
Pada akhirnya menjelang pengakuan kedaulatan RI (1949) dipersiapkan reformasi keuangan berupa “Uang Republik Indonesia Baru” (URIBA) 1949 namun tampaknya tidak berjalan lancar.
Penerbitan uang darurat daerah merupakan satu-satunya jalan keluar sebagai pengganti uang pusat (ORI/URI). Faktor keuangan, politik, dan lainnya menyebabkan berbagai daerah-daerah di Jawa dan Sumatera (sebagian besar di sumatera Utara) mengeluarkan uang kertas sendiri. Dari tingkat daerah gerilya s.d. propinsi dan memakai nama yang berbeda-beda (bon, surat, penerimaan, cheque, dan lain-lain) namun berfungsi sama sebagai alat pembayaran.
.Antara tahun 1948-1960-an, Kelompok Tandingan/Separatis (FDR Grobogan, NII Tjirebon, RMS, PRRI, PRRI/Permesta, RII Bagian Timur, dan lain-lain) mengeluarkan uang kertas lokal yang dicap/ditandatangani di atas uang terbitan jaman Belanda, Jepang, dan Republik Indonesia maupun cetakan sendiri (lokal dan luar negeri).
.
Pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS) 1950 yang berumur kurang dari satu tahun hanya mengeluarkan uang kertas pecahan kecil (Rp5 dan Rp10) meskipun pecahan lain telah dicetak sebagai percobaan.
.Selanjutnya Departemen Keuangan RI masih berpedoman pada Undang-undang Jaman Belanda, mengeluarkan pecahan kecil pada tahun 1951, 1953, 1954, 1956, 1960, 1961 dan 1964 berbeda dengan terbitan masa revolusi fisik (1945-1948) meliputi semua pecahan besar dan kecil.
.
Beraneka ragam uang terbitan Bank Indonesia:
Tahun Tema
1952 Pahlawan dan Kebudayaan
1957 Hewan
1958 Pekerjaan Tangan I
1959 Flora dan Fauna
1960 Soekarno
1961 Borneo (kenyataan tidak beredar di Borneo Utara, Sabah, dan Serawak)
1964 Dwikora
1964 Pekerjaan Tangan II
1968 Soedirman (memakai benang pengaman pertama kali)
1975 Diponegoro, Borobudur
1977 Flora-Fauna
1979 Gamelan
1980 Pahlawan dan Kebudayaan
1982 Flora
1984 Fauna (dikenal sebagai uang merah di Irian Barat)
1985-1987 Pahlawan
1986 Pahlawan
1987 Fauna
1992 Spesifik Daerah
1993 Tokoh
1995 Fauna dan Tokoh
1998-2009 Pahlawan Nasional
.Pada waktu yang hampir bersamaan, dikeluarkan uang kertas dan logam terbitan khusus berlaku di Irian Barat dan Kepulauan Riau karena keadaan politik dan ekonomi yang amat berbeda dengan daerah-daerah lainnya.
.
(AAS/NI/901062)
.

KEPUSTAKAAN
Bree, L de: Gedenboek van de Javasche Bank, 1828-1928, vol.I-II, Weltevreden 1928
Chijs.Mr. JA van der: Catalogus der Numismatischen Verzameling van het Bataviasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Batavia 1896
Directie NHM: Gedenkboek der Nederlandsche Handel Maatschappij 1824-1924, Amsterdam 1924
Handjaja, S. dkk: Katalog Uang Kertas Indonesia 1782-1996, Jakarta 1996
Pick, Albert: Standard Catalogue of World Paper Money Vol. I-III. General & Specialized Issues, Iola, 2006.
Scholten, C: The Coins of the Dutch Overseas Territories, Amsterdam. 1952
Dll
.
Pengamat Numismatik dan Sejarah Daerah
Alim Artadjaja Sumana

3. Grading

Grading dalam numismatik sangatlah penting. Begitu banyak yang harus diperhatikan dalam menilai kualitas suatu uang kertas, sehingga sangat-sangat sulit bagi seseorang untuk mengetahui grade sebenarnya dari uang kertas miliknya.

Memang kita dapat menilainya sendiri dengan cara pengamatan langsung, tetapi tidak jarang hasil yang didapat tidak sesuai dengan kenyataannya. Kita cenderung menilai berlebihan untuk barang2 milik sendiri yang mau dijual dan sebaliknya menilai lebih rendah barang2 yang mau kita beli. Untuk itu dibutuhkan pihak ketiga yang tidak terlibat dalam transaksi sehingga hasil yang didapat lebih mendekati kenyataan alias fair.

Salah satu pihak ketiga yang cukup mempunyai nama di dunia numismatik adalah suatu badan/organisasi grading internasional yang mempunyai cabang di banyak negara. Badan ini disebut PAPER MONEY GUARANTY (PMG) yang didirikan sejak tahun 2005. PMG mempunyai cabang hampir di seluruh dunia termasuk di Singapore, Taiwan dan Korea Selatan. Bila kita berminat untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya dari uang-uang koleksi kita, maka kita dapat mengirimnya ke dealer PMG terdekat.



Proses yang dilakukan oleh PMG adalah sbb:



1. Menerima (Receiving)


Semua uang kertas yang diterima oleh PMG akan dimasukkan data2nya ke dalam komputer, kemudian diberikan label dan dimasukkan ke dalam plastik pelindung.



2. Grading


Grading dilakukan minimal oleh 3 orang tenaga profesional yang sangat berpengalaman di bidangnya. PMG memberikan nilai dari 1 (Poor) sampai dengan 70 (Seventy Gem Uncirculated). Selain itu ada juga nilai tambahan yaitu EPQ (Exceptional Paper Quality) untuk uang2 yang tidak pernah diproses baik secara fisik, kimia maupun mekanik. Nilai 65 ke atas (Gem UNC) harus disertai EPQ, bila tidak maka nilai tertinggi hanya sampai di angka 64 (Choice UNC). Nilai terendah yang bisa mendapatkan gelar EPQ adalah 30 (Very Fine). Dari sini terbukti bahwa segala proses yang dilakukan terhadap uang kertas hanya akan menurunkan gradenya dan tidak akan mendapatkan nilai EPQ.
Nilai-nilai tersebut adalah sbb:

CU 70 Seventy Gem Uncirculated
CU 67–69 Superb Gem Uncirculated
CU 65–66 Gem Uncirculated
CU 63–64 Choice Uncirculated
CU 60–62 Uncirculated
AU 50, 53, 55, 58 About Uncirculated
XF 40, 45 Extremely Fine
VF 20, 25, 30, 35 Very Fine
F 12, 15 Fine
VG 8, 10 Very Good
G 4, 6 Good
AG 3 About Good
FR 2 Fair
PR 1 Poor



Arti dari masing-masing angka adalah sbb:

Dari tabel terlihat bahwa definisi uncirculated (UNC) pun ada tingkatannya :
60-62 : UNC
63-64 : Choice UNC (orang sini sering menyebutnya full UNC)
>65 : Gem UNC (sebagian penjual menyebutnya super UNC)
Bagaimana dengan UNC kategori kita? Kebanyakan mengatakan asalkan engga ada tekukan udah disebut UNC. Padahal tidak semudah itu.


3. Pengemasan (Encapsulating)
Setelah selesai di grading, uang akan dikemas dengan plastik tebal, disegel dan diberikan keterangan/deskripsi mendetail tentang jenis, nomor seri dan kondisi uang tersebut. Hasilnya terlihat seperti pada gambar di bawah ini :


PMG dengan nilai 68 EPQ (Gem UNC)
Nilai yang tertera di sudut kanan atas (68) adalah nilai uang tersebut yaitu Gem UNC yang disertai juga dengan nilai tambahan EPQ. Semakin tinggi nilainya tentu semakin bagus kondisi uang tersebut.

4. Pengiriman (Shipping)
Setelah dikemas maka uang akan diperiksa ulang sebelum dikembalikan ke pemiliknya semula.
Biaya
Semua ini tentu membutuhkan biaya, berapa besar biaya yang dibutuhkan?
$125 untuk uang apapun dan selesai dalam 24 jam
$85 untuk uang yang bernilai s/d $10000, dibutuhkan waktu 3 hari kerja
$45 untuk uang yang bernilai s/d $3000, waktu yang dibutuhkan 14 hari kerja
$30 untuk uang di bawah $1000 (minimum 5 buah), waktu 21 hari kerja
Selain itu tentu ada biaya2 tersendiri untuk pelanggan ataupun borongan. Juga ada biaya lagi untuk mengganti kemasan yang sudah lama ataupun rusak.


Mungkin sebagian besar dari kita mengatakan mahal, tetapi uang2 yang telah di grading oleh PMG mempunyai nilai jual yang jauh lebih tinggi, sehingga sangat mungkin harga fee nya menjadi tidak berarti bila dibandingkan dengan kenaikan harga jualnya.


70 EPQ
Nilai 70 EPQ merupakan nilai tertinggi (sempurna) yang bisa diperoleh oleh PMG, dari ratusan ribu uang kertas yang telah di grading oleh PMG hanya ada satu lembar yang memenuhi kriteria 70 EPQ, yaitu pecahan $1 1935G Silver Certificate Fr.1616 (Fr.1616 menyatakan nomor uang tersebut berdasarkan katalog Paper Money of the United States by Arthur and Ira Friedberg). Uang ini merupakan uang yang pertama dan satu-satunya yang mendapatkan nilai sempurna 70 EPQ.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa sebenarnya hampir tidak ada uang kertas yang berkondisi sempurna. Maka istilah super UNC yang sering kita pakai sebenarnya tidaklah tepat.
Satu2nya uang kertas dengan nilai sempurna yaitu 70 EPQ
Bagi teman2 yang berminat mengetahui seluk beluk grading PMG lebih lanjut, baik lokasi, cara maupun biaya sesungguhnya silahkan klik website berikut: http://www.pmgnotes.com/index.asp
Info uang kuno berikutnya akan membahas hubungan antara nomor seri dan tahun emisi pada pecahan 100.000 (2004, Sukarno-Hatta). Untuk itu mulai sekarang harap teman2 memperhatikan prefiks (3 huruf) dari nomor seri pecahan tersebut, bila ada yang menemukan prefiks dengan huruf kedua di atas huruf E (misalnya -F-, -G-, -H-, dst) silahkan email ke penulis. Prefiks tidak berlaku untuk huruf X.
Semoga pengetahuan ini bermanfaat.
Salam numismatik