Tuesday, May 1, 2018

Rp100 seri pekerja merah

Seperti telah kita ketahui bersama kalau uang 100 Rupiah berwarna merah yang bergambar penyadap karet terdapat pada 2 seri  pekerja yaitu seri pekerja I bertahun 1958 dan seri pekerja II bertahun 1964

100 Rupiah pada seri pekerja I tahun 1958

100 Rupiah seri pekerja II tahun 1964

Gambar, ukuran dan pengaman pada kedua seri tersebut sama persis, perbedaan hanya pada tahun emisi, tanda tangan dan warna merah yang agak lebih pucat pada seri 1964, perhatikan tabel berikut:



Beberapa tahun yang lalu saya mendapatkan selembar uang ini dari seorang kolektor tua. Berbeda dari biasanya, uang ini menarik perhatian saya karena ada extra margin di kedua sisinya, yaitu sisi atas dan sisi kanan. Pada mulanya saya berpikir uang ini hanya salah potong saja.

100 Rupiah seri pekerja merah dengan extra margin


Setelah diamati lebih lanjut ternyata uang ini bukan hanya sekedar extra margin saja tetapi memiliki banyak keistimewaan lainnya, mari kita bahas bersama :

1. Uang ini tidak bertahun
Uang sejenis yaitu seri pekerja I dan II masing-masing memiliki tahun yaitu 1958 dan 1964




2. Tanda tangan Gubernur yang berbeda dari versi beredar
Seri tahun 1958 bertandatangan Loekman Hakim selaku Gubernur BI dan TRB Sabaroedin sebagai Direkturnya. Seri tahun 1964 bertandatangan Jusuf Muda Dalam sebagai Gubernur dan Hertatijanto sebagai Direktur. Sedangkan uang ini bertandatangan Mr Sjafruddin Prawiranegara sebagai Gubernurnya dan TRB Sabaroedin sebagai Direkturnya, mirip dengan tanda tangan pada seri hewan 1957. 


3. bernomor seri unik XXX diikuti 012345 dan XXX 056789




4. Dan perbedaan kecil lainnya

Warna biru pada tepi lingkaran sisi kiri belakang, bandingkan dengan warna kemerahan pada seri  pekerja 1958 dan 1964 

Demikian juga warna biru pada lingkaran sisi kanannya yang berbeda dibandingkan kedua seri pekerja lainnya.



5. Satu lagi yang mendukung keunikan uang ini adalah imprint percetakannya.

Seri 1958 tercetak P.T. PERTJETAKAN KEBAJORAN IMP. 
Seri 1964 tercetak P.T. dan  P.N. PERTJETAKAN KEBAJORAN IMP.
Uang ini tercetak PERTJETAKAN KEBAJORAN NV IMP

Dengan demikian dapat disimpulkan kalau uang ini bukan sekedar uang salah potong dengan kelebihan margin saja tetapi uang yang sangat unik yang walaupun bergambar sama tetapi tidak termasuk ke seri pekerja manapun.  Dari tanda tangannya yang mirip seri 1957 dan imprint percetakannya yang mirip seri 1952, uang ini sudah dapat dipastikan merupakan pendahulu seri pekerja 1958, berarti uang ini sebenarnya merupakan uang perintis atau uang percobaan sebelum diedarkan secara resmi sebagai seri pekerja emisi tahun 1958. 
Biasanya uang percobaan atau perintis yang berupa essay dibuat diatas karton dan tanpa pengaman, tetapi uang ini dicetak di atas kertas uang dan sudah memiliki pengaman lengkap berupa benang pengaman dan tanda air kepala banteng yang sama persis selayaknya uang beredar. Kalau saja tidak ada extra marginnya, maka uang ini bisa dikira sebagai uang seri pekerja biasa.

Dengan adanya semua keistimewaan di atas, terutama karena nomor serinya yang unik (XXX) maka uang ini dianggap layak menyandang predikat sebagai proof. Masalahnya proof yang mana? Pekerja I tahun 1958 atau pekerja II tahun 1964?
Karena warnanya yang merah tua, tanda tangan direkturnya yang sama dengan 1958 dan juga tipe font nomor serinya yang mirip dengan seri 1958 maka saya menduga kalau uang ini merupakan proof  dari seri pekerja I.

Kondisi uang :
Uang ini berkondisi cukup baik, ukurannya 162x95mm (lebih besar 12x20mm dari versi beredar), tanpa tekuk kecuali tekuk sudut di pojok kanan bawah, tropis diseluruh bagian uang serta ada bekas selotip di margin atas. Menurut perkiraan saya kondisinya sekitar Almost Uncirculated tentu tanpa EPQ.  Penasaran dengan jenis dan kondisinya, saya mengirim uang ini ke PMG.



Hasil dari PMG 
Sekitar 2 bulan kemudian saya menerima hasilnya :

Hasilnya adalah 62 NET dengan keterangan Thinning

Hasil 62 (uncirculated) cukup mengejutkan, rupanya satu tekuk sudut saja oleh PMG masih dikelompokkan sebagai UNC. Sedangkan keterangan NET (Thinning) menunjukkan kalau uang ini pernah terkena zat perekat  (selotip) yang dilepaskan sehingga meninggalkan bekas transparan. Terlihat ketika uang dihadapkan ke cahaya. Berikut keterangan dari PMG :

"Thinning" refers to a chemical process caused when an adhesive type agent has been removed or partially removed leaving a somewhat translucent appearance in the area on the note. 

Keterangan yang diberikan adalah SPECIMEN PROOF, meleset dari perkiraan semula yang cuma PROOF saja, saya juga tidak mengerti kenapa ditambah keterangan SPECIMEN didepannya. Dengan nomor Pick 59sp ND (1958) yang artinya dimasukkan sebagai nomor 59 (bukan nomor 97) dengan variasi sp (specimen proof) dan ND (No Date/tanpa tanggal) yang mirip dengan emisi 1958.

Lalu setelah saya cek populasinya di PMG registry, ternyata variasi ini cuma ada 1 saja. Berarti sangat langka dan sampai saat artikel ini dibuat masih belum ada duanya.  Tidak sia-sia mengirimkan uang unik ini ke PMG sehingga menambah pengetahuan kita bersama bahwa masih banyak uang-uang unik yang tidak ada di katalog manapun juga.

Karena itu data di katalog nantinya harus direvisi menjadi :

Pick #59 : 100 Rupiah 1958

1. Varian beredar 3 huruf 6 angka

2. Specimen

3. Specimen proof


(Tidak menutup kemungkinan akan ada penambahan jenis2 yang lainnya lagi)





Semoga artikel ini bisa menambah wawasan kita bersama






Jakarta 1 Mei 2018
Kritik dan saran hubungi arifindr@gmail.com atau WA di 08159988188
Sumber : Koleksi pribadi dan web PMG (www.pmgnotes.com)


















Sunday, April 8, 2018

103. Seri Sukarelawan

SERI SUKARELAWAN

Kita semua tentu mengetahui seri yang satu ini. Seri SUKARELAWAN tahun 1964. Seri yang terdiri dari 5 pecahan ini sangat umum ditemukan dan juga sangat murah. Harga pasar tidak lebih dari Rp20ribuan saja per setnya. Tetapi walaupun sangat murah ternyata seri ini memiliki latar belakang sejarah yang sangat menarik. Mari kita bahas.



1. Kenapa dinamakan seri SUKARELAWAN ?
Jawaban yang paling mungkin adalah karena 4 dari 5 nominal seri ini yaitu di nominal 5, 10, 25 dan 50 sen terdapat sesosok orang yang memakai seragam seperti satpam/hansip dengan logo dipundak kiri yang bertulisan SUKARELAWAN.  




2. Kapan seri ini dikeluarkan?
Semua pecahan seri ini dikeluarkan pada tanggal 13 Desember 1965

3. Mengapa uang ini dikeluarkan ?
Untuk bisa menjawabnya maka kita harus melihat sejarah sewaktu uang ini diedarkan. Uang ini diedarkan untuk pengisi nominal kecil akibat pemotongan nilai uang yang dilakukan  oleh presiden Sukarno melalui Penetapan Presiden No 27 tahun 1965 tentang PENGELUARAN UANG RUPIAH BARU YANG BERLAKU SEBAGAI ALAT PEMBAYARAN YANG SAH BAGI SELURUH WILAYAH REPUBLIK INDONESIA DAN PENARIKAN UANG RUPIAH LAMA DARI PEREDARAN. Kita lihat sebagian isi dari PP tersebut :

Pasal 1 : 
Pada saat mulai berlakunya Penetapan Presiden ini berlaku sebagai alat pembayaran yang sah di seluruh wilayah Republik Indonesia termasuk Daerah Propinsi Irian Barat uang kertas dan uang logam yang dikeluarkan oleh Bank Negara Indonesia berdasarkan Penetapan Presiden ini dengan ciri-ciri yang diumumkan tersendiri, di samping jenis-jenis uang rupiah yang berlaku sebagai alat pembayaran yang sah sebelum Penetapan Presiden ini berlaku.

Jadi PP ini dikeluarkan uantuk pengganti Rupiah (lama) yang berlaku dengan Rupiah (baru) yang berlaku seketika itu juga (13 Desember 1965) 


Pasal 2 : 
(1) Nilai perbandingan antara jenis-jenis uang rupiah baru termaksud pada pasal 1 dan jenis-jenis uang rupiah yang berlaku sebagai alat pembayaran yang sah di Daerah Propinsi Irian Barat sebelum Penetapan Presiden ini berlaku adalah Rp. 1,- adalah sama dengan I.B. Rp. 1,-.

(2) Nilai perbandingan antara jenis-jenis uang rupiah baru termasuk pada pasal 1 dan jenis-jenis uang rupiah yang berlaku sebagai alat pembayaran yang sah di daerah-daerah di luar Daerah Propinsi Irian Barat sebelum Penetapan Presiden ini berlaku adalah Rp. 1,- adalah sama dengan Rp. 1.000,-. 

Koleksi dan keterangannya milik seorang kolektor tua yang mengalami peristiwa tsb.


Jadi uang baru yang diedarkan ini setara dengan 1 : 1 untuk propinsi Irian Barat dan 1 : 1000 untuk daerah di luar Irian Barat. Bisa anda bayangkan kehebohan yang terjadi, 1000 Rupiah uang lama setara dengan satu  Rupiah uang baru. Apakah harga otomatis ikut turun menjadi 1/1000 nya? Ternyata tidak. Harga cuma turun 1/100nya saja sehingga kebijakan ini justru membuat inflasi makin menggila.


Pasal 3 :
(1) Sesudah 1 (satu) bulan berlakunya Penetapan Presiden ini maka semua jenis uang kertas Bank Negara Indonesia dari pecahan-pecahan Rp. 10.000,- (sepuluh ribu rupiah) dan Rp. 5.000,- (lima ribu rupiah) yang beredar sebagai alat pembayaran yang sah sebelum Penetapan Presiden ini berlaku, tidak lagi merupakan alat pembayaran yang sah. 

(2) Sesudah 3 (tiga) bulan berlakunya Penetapan Presiden ini maka semua jenis uang kertas Bank Negara Indonesia dari pecahan Rp. 2.500,- (dua ribu lima ratus rupiah), Rp. 1.000,- (seribu rupiah) dan Rp. 500,- (lima ratus rupiah) yang beredar sebagai alat pembayaran yang sah sebelum Penetapan Presiden ini berlaku, tidak lagi merupakan alat pembayaran yang sah. 

(3) Sesudah 6 (enam) bulan berlakunya Penetapan Presiden ini maka semua jenis uang kertas bank, uang kertas Pemerintah dan uang logam dari pecahan-pecahan Rp. 100,- (seratus rupiah) ke bawah yang beredar sebagai alat pembayaran yang sah sebelum Penetapan Presiden ini berlaku, tidak lagi merupakan alat pembayaran yang sah.

(4) Penarikan uang rupiah Irian Barat dari peredaran yang berlaku dan beredar sebagai alat pembayaran yang sah sebelum Penetapan Presiden ini berlaku, akan diatur lebih lanjut oleh Pemerintah. 


Pasal 4 :
(1) Semua uang kertas Bank Negara Indonesia, uang kertas Pemerintah dan uang logam termaksud pada pasal 3 Penetapan Presiden ini diberikan penggantian nilai dengan uang rupiah baru yang dikeluarkan oleh Bank Negara Indonesia berdasarkan Penetapan Presiden ini, pada kantor-kantor Bank Negara Indonesia dan kantor-kantor lain yang ditetapkan oleh Menteri Urusan Bank Sentral/Gubernur Bank Negara Indonesia.

Untuk lebih jelasnya termasuk gambar2 uang yang ditarik tersebut silahkan lihat artikel nomor 42 :


Dengan ditentukannya kurs penukaran 1000 Rupiah lama sama dengan 1 Rupiah baru tentu diperlukan nominal yang lebih kecil dari 1 Rupiah, untuk itu dikeluarkanlah nominal sen. Dimana nilai 1 sen adalah seperseratus Rupiah ( Rp1 = 100 sen)

4. Mengapa sukarelawan?
Dari sekian banyak tema mengapa dipilih tema gambar sukarelawan? Apa maksudnya? 
Sejarah menulis bahwa uang ini diedarkan semasa Indonesia sedang berkonfrontasi dengan Malaysia, ceritanya begini :
Setelah Jepang menyerah, Inggris kembali lagi ke negara ex jajahannya di semenanjung Malaya. Inggris ingin membuat negara federasi dengan menyatukan Malaya bersama2 dengan Serawak, Sabah, Brunei yang berada di Kalimantan Utara sekaligus dengan Singapura. Sukarno yang mempunyai prinsip anti kolonialisme dan anti imperialisme, menentang keras keputusan tersebut. Perundingan pun berkali2 diadakan sampai puncaknya di KTT PBB Manila 5 Agustus 1963 yang menyimpulkan perlu adanya hak dari negara2 federasi/negara2 bagian untuk menentukan nasibnya sendiri atau self determination. 

Tetapi tidak lama kemudian tepatnya pada tanggal 16 September 1963, belum lagi keputusan PBB tersebut dilaksanakan,  Inggris mendeklarasikan berdirinya negara federasi Malaysia.

Sukarno marah besar dan memutuskan semua bentuk hubungan diplomatik dengan Malaysia, demonstrasi besar2an pun terjadi di Indonesia. Kedutaan besar Inggris dan rumah para stafnya di Jakarta dibakar habis, perkebunan milik Inggris di Jawa dan Sumatera serta semua asetnya di Indonesia disita. Sukarno mengumumkan dengan resmi bahwa akan mengganyang Malaysia.

Massa bergolak, banyak yang mendaftar untuk ikut menjadi sukarelawan mengganyang Malaysia, sebagian malah mulai memasuki Sarawak dan Sabah untuk menyebar propaganda, penyerangan dan sabotase. Apalagi setelah para sukarelawan tersebut dikumpulkan untuk rapat di depan istana Merdeka pada tanggal 3 Mei 1964 untuk mendengar pidato Presiden Sukarno tentang perintah Dwikora (Dwi Komando Rakyat) yang berisi :
1. Perkuat ketahanan revolusi Indonesia dan
2. Bantu perjuangan revolusioner rakyat2 Malaya, Singapura , Sarawak dan Sabah untuk menghancurkan Malaysia.

Pidato Sukarno di depan ratusan ribu sukarelawan Dwikora

Slogan Sukarno yang membangkitkan semangat para sukarelawan


Nah, dalam rangka dan situasi inilah seri SUKARELAWAN diterbitkan.  Jadi uang ini mendapatkan namanya bukan cuma dari tulisan di seragamnya saja, tetapi karena berisi semangat para sukarelawan yang siap untuk mewujudkan slogan Dwikora yaitu mengganyang Malaysia. Karena itulah  maka seri ini sering disebut sebagai seri SUKARELAWAN DWIKORA. 


5. Lebih dalam lagi dengan seri ini
Nominal 25 dan 50 sen

Keduanya bergambar sama yaitu seorang sukarelawan berseragam, berkumis dengan potongan rambut agak cepak sehingga nampak sudah dewasa. Menatap gagah ke depan tanpa mengenal takut. Gambar ini dicantumkan pada 2 nominal tertinggi yang mencerminkan sosok dewasa yang kaya dengan pengalaman dan siap membantu mewujudkan semangat Dwikora.


Nominal 5 dan 10 sen

Juga bergambar sama yaitu sesosok sukarelawan yang berseragam, tampak lebih muda dengan rambut agak gondrong. Mata menatap tajam ke depan dengan sudut mulut tertarik agak kebawah melambangkan keteguhan hati. Pesan yang  ingin disampaikan adalah anak muda yang kurang pengalaman pun (diletakkan pada nominal tengah) ternyata juga tidak gentar untuk menjadi sukarelawan, siap membantu dan mendukung para senior yang terdapat di nominal lebih besar.


Nominal 1 sen

Gambarnya berbeda, bukan sukarelawan, tetapi petani. Rupanya penggambar uang juga memasukkan petani sebagai tulang punggung para sukarelawan, karena tanpa petani yang menghasilkan beras sebagai sumber tenaga, maka semua perjuangan para sukarelawan menjadi tidak ada artinya. Petanipun secara tidak langsung sebenarnya sudah menjadi sukarelawan yang menyokong dari garis belakang.

Lengkaplah gambar disemua nominal seri ini, ada petani, ada sukarelawan muda dan ada juga sukarelawan dewasa yang berpengalaman. Semuanya siap bersatu demi semangat Dwikora. Kisah seru pertempuran para sukarelawan yang diterjunkan di hutan2 Kalimantan untuk melawan pasukan elit Inggris SAS dan pasukan Gurkha terekam dengan baik di buku Angkasa edisi koleksi tahun 2006. 


Nasib para sukarelawan yang tertangkap atau terbunuh oleh pasukan SAS Inggris dan Gurkha


Konfrontasi Indonesia dengan Malaysia ini akhirnya selesai setelah Sukarno menyerahkan kekuasaan kepada presiden Suharto. Dengan adanya pemberontakan PKI  30 September 1965, Suharto sebagai presiden baru lebih fokus untuk menuntaskan pemberontakan dalam negeri ini daripada  meneruskan pertempuran dengan negara lain. Dan akhirnya pada 28 Mei 1966 pada konferensi di Bangkok, kerajaan Malaysia dan pemerintah Indonesia mengumumkan penyelesaian konflik dan menormalisasi hubungan antara kedua negara. Pertempuranpun berhenti dan tinggalah uang ini menjadi saksi bisu kenangan akan semangat para sukarelawan Dwikora.  

6. Tahukah anda :
(1) Seri yang terdiri dari 5 nominal ini memiliki nomor seri terdiri dari 3 huruf dan 6 angka, semua huruf terpakai kecuali I dan X
(2) Seri ini tidak memiliki pengaman seperti tanda air ataupun benang pengaman, bisa dimengerti karena pecahan sekecil ini pasti tidak ada yang mau memalsukannya.
(3)  Angka pertama selalu nol (0)


(4) Seri pengganti dimulai dengan huruf X
(5) Ditarik dari peredaran tanggal 15 November 1996 kecuali nominal terkecil 1 sen yang sampai saat ini masih belum ditarik dan dipergunakan oleh Bank Indonesia agar pembukuannya balance dan tidak kacau hanya gara2 sen.
(6) Selain varian beredar ternyata juga ada varian SPECIMEN dan proofnya. 

 
Varian specimen

Varian proof dengan sisi belakang yang kosong

(7) Uang ini tersisa sangat banyak, sering ditemukan dalam jumlah besar, bergepok-gepok. Sehingga praktis tidak bernilai tinggi. Akibatnya tidak ada satu kolektorpun yang tidak punya, bahkan  semua pemula pun pasti punya. Karena begitu seringnya dilihat  kita menjadi jenuh dan bosan, bahkan mungkin alergi untuk memegang uang ini, padahal makna sejarah yang dikandungnya begitu mendalam dan tidak banyak uang yang gambar/temanya berhubungan langsung dengan situasi politik disaat uang tersebut diedarkan. Beberapa diantaranya adalah Rp50.000 Suharto emisi 1992-95 dan WR Supratman emisi 1999. 




Semoga dengan membaca artikel ini dapat menjadikan kita lebih menghargai uang-uang kuno, termasuk seri yang super murah dan super umum ini.



Jakarta 8 April 2018
Dari berbagai sumber


Kritik dan saran hubungi arifindr@gmail.com















Tuesday, January 31, 2017


DICARI UANG KERTAS KUNO, HUBUNGI : 08159988188

Uang kertas DICARI

DICARI uang-uang kertas jaman penjajahan Belanda seri JAVASCHE BANK
Bila ada diantara pembaca yang memiliki uang2 tersebut di bawah ini dan berniat untuk menjualnya, silahkan hubungi saya di email arifindr@gmail.com atau telp di 0815 9988188.


Semua pecahan seri Javasche Bank sampai dengan tahun 1920 seperti:



Seri Creatie 1815

Seri Creatie 1815 merupakan surat kredit pemerintah Belanda, terdiri dari pecahan 1, 5, 10, 25, 50, 100, 300, 600 dan 1000 gulden. Dicari dalam kondisi baik dan asli. Seri ini banyak sekali dipalsukan, terutama untuk pecahan 1 dan 1000 gulden.


Seri Recepis (1846)
Seri Recepis atau disebut juga Recepis Perak (1846) terdiri dari pecahan 1, 5, 10, 25, 100, 500 gulden. Dicari dalam kondisi baik dan asli.



Seri Bingkai I (1864-1903)
Seri yang sangat sulit ditemukan, bernilai tinggi dan terdiri dari pecahan 5, 10, 25, 50, 100, 200, 300, 500 dan 1000 gulden. Dicari dalam segala kondisi.




Seri Bingkai II (1873-1924)
Terdiri dari pecahan 10, 25 dan 50 gulden, Ada dalam bentuk specimen dan ada juga yang bernomor jalan. Dicari dalam bentuk nomor jalan.




Seri Coen Mercurius (1897-1924)
Bentuknya besar dan memiliki tepi yang tidak rata, bergambar JP Coen di kanan dan patung Mercurius di kiri, terdiri dari pecahan 100, 200, 300, 500 dan 1000 gulden. Juga terdapat dalam bentuk beredar dan specimen. Dicari dalam bentuk baik dan utuh.



Seri Coen I (1901-1924)
Hanya terdiri dari pecahan 5 gulden, tetapi memiliki setidaknya 10 variasi tanda tangan.
 Terdapat dalam bentuk specimen atau nomor jalan. Dicari dalam bentuk baik.



Seri Munbiljet Wilhelmina (1919-1920)
Diterbitkan dalam rangka perkawinan ratu Wilhelmina, terdiri dari pecahan 1 dan 2,5 gulden. 
Dicari dalam bentuk minimal extra fine.



Seri Gedung (1919-1921)
Bergambar gedung Javasche bank, terdiri dari pecahan 20, 30 dan 40 gulden. Ada dalam bentuk proof, specimen maupun nomor berjalan. Dicari dalam bentuk nomor jalan. Tetapi jenis ini terdapat banyak bentuk palsunya.



Seri Munbiljet II (1920)
Terdiri dari pecahan 1/2, 1 dan 2,5 gulden. Pecahan 1/2 dan 1 gulden cukup mudah ditemukan, tetapi pecahan 2,5 sedikit sulit didapatkan terutama yang berkondisi baik. Dicari dalam bentuk minimal extra fine.


Seri JP Coen II (1925-1931)
Pecahan 5, 10, 25, 50 dan 100 gulden dicari dalam kondisi minimal EF
Pecahan 200, 500 dan 1000 gulden dicari dalam kondisi baik dan utuh.
Pecahan 300 gulden dicari dalam segala kondisi asalkan utuh.


Seri Wayang 1938-1939
Pecahan 5, 10, 25 gulden dicari dalam kondisi UNC
Pecahan 50 dan 100 gulden dicari dalam kondisi minimal very fine
Pecahan 200, 500 dan 1000 gulden dalam segala kondisi asalkan utuh.



Seri NICA 1943
Pecahan 25, 50 dan 100 gulden dicari dalam kondisi UNC
Pecahan 500 gulden dicari dalam kondisi baik dan utuh.





Selain uang2 di atas, bila anda memiliki uang2 jaman penjajahan Belanda atau uang2 Indonesia lainnya yang ingin di jual baik satuan maupun borongan, silahkan hubungi saya di email arifindr@gmail.com atau telp: 0815 9988188


Terima kasih

Wednesday, January 25, 2017

102. Kolektor lama

Tepat tanggal 17 Agustus 2017 saya datang memenuhi undangan seorang tuan rumah pemilik 50 album uang kuno. 
Disambut dengan ramah oleh anaknya yang cantik, saya memasuki rumahnya yang asri seluas 1200m2 di kawasan Jakarta Selatan. Setelah duduk sejenak menikmati lantai marmer Italia antik, dengan segera saya disodori 1 dus besar berisi puluhan album. Tentu saya kagum dengan jumlahnya, sekaligus miris karena seluruh album2 tersebut sangat tidak terawat dan dibiarkan tertumpuk berselimut debu. Tidak tersentuh selama belasan tahun karena pemiliknya sudah meninggal dunia bertahun-tahun yang lalu. Sekarang karena ingin pindah rumah, maka anak cucunya ingin melepas semua koleksi sang kakek tersebut. Kejadian ini mirip seperti artikel saya sebelumnya yang berjudul Renungan. 
Jangan meninggalkan beban untuk anak cucu. Hobi kita ya untuk kita. Bukan untuk orang lain. 

50 album berserakan di meja jati besar 


Sampai di rumah difoto dulu sebelum dibongkar


Lalu sambil berbincang2 santai tentang asal usulnya saya mulai membongkar dan membolak balik semua album tersebut. Kagum dengan ragam koleksinya sekaligus sedih melihat kondisinya. Banyak sekali koleksi yang rusak karena salah penyimpanan. Saya tidak ingin membahas isi dari koleksinya yang super beragam dari coin dan kertas seluruh dunia termasuk uang lokal dari jaman belanda, jepang, uang daerah dan uang Indonesia dari era 1930 an sampai tahun 1980an. Yang ingin saya bahas kali ini adalah bahwa koleksi tersebut secara keseluruhan mencerminkan ciri khas seorang kolektor jaman dulu. Apa saja ciri khasnya, mari kita bahas.

1.  Tidak mementingkan kondisi
Berbeda dengan kolektor jaman sekarang yang super bawel dengan kondisi, harus UNC TOTAL, harus PMG dengan nilai sempurna (kalau bisa 70 plus plus, plus EPQ, plus star, plus harga yang super muahal), tidak boleh tropis, tidak boleh rekondisi, semua ujung harus tajam, kalau bisa yang nomornya cantik, bahkan tidak boleh dipegang tangan telanjang, harus pakai sarung tangan khusus dan seribu alasan bawel lainnya. Kolektor jaman dulu sangat tidak bawel dengan kondisi. Buat mereka yang penting punya, apapun kondisinya. Semakin bagus kondisi suatu uang berarti semakin sedikit nilai sejarahnya karena uang tersebut cuma disimpan doang, tidak jalan-jalan dari tangan ke tangan, dari dompet ke dompet atau dari satu negara ke negara lain. Tentu tidak bisa disangkal bahwa kemajuan jaman sangat ikut berpengaruh. Sekarang dimana semua serba online, kolektor menjadi punya banyak pilihan. Tidak seperti dulu yang jangankan untuk milih. Untuk bisa lihat saja susahnya minta ampun. 

2. Tidak suka gonta ganti koleksi
Kolektor jaman sekarang suka sekali mengganti koleksinya dengan yang lebih bagus, lebih tinggi nilai PMG nya dan tentu yang lebih mahal. Jangan heran kalau kita sering mendapatkan kolektor muda yang sudah menukar uang yang sama  berkali-kali. Alasannya sejuta macam, tetapi intinya kurang puas dengan kondisi yang dimilikinya. Mereka tidak sadar kalau kejadian ini sangat menguras dana dan tenaga. Merekapun menjadi lelah hanya untuk memperbaiki kualitas koleksinya. Beberapa teman malah rela membuang koleksi lainnya hanya untuk mengejar satu barang yang nilai PMG nya lebih tinggi dari yang telah dimilikinya. Ironis bila dibandingkan dengan kolektor lama yang sudah puas dengan barang yang telah dimiliki apapun kondisinya. Mereka lebih suka berburu yang belum dimiliki daripada mengutak atik atau mengganti kondisi uang2 miliknya.

3. Lengkap
Karena tidak suka gonta ganti kondisi, maka jangan heran kalau kolektor lama seringkali bisa melengkapi koleksinya termasuk dengan uang2 yang kita anggap super langka. Energi mereka dipakai untuk melengkapi, bukan untuk memperbaiki kondisi. Bandingkan dengan kolektor jaman sekarang yang punya wayang 5 dan 10 Gulden PMG 68 EPQ urut beberapa lembar tapi tidak punya satupun wayang 100 yang poor sekalipun karena menunggu yang berkondisi 65 EPQ. Kolektor lama walau cuma punya yang 5 dan 10 VF tapi memiliki semua pecahan sampai 1000 Gulden. Kolektor baru punya seri binatang 5, 50, 100, 500, 1000 dan 2500 semua PMG 67 EPQ tapi tidak pernah punya yang 10 rusa dan yang 25 badak walau yang cuma fine. Kolektor lama yang serius walau semuanya cuma VF tapi punya lengkap sampai ke rusa dan badaknya.


4. Tidak peduli variasi, tidak suka specimen, proof atau essay
Buat mereka yang penting uang yang pernah beredar, tidak peduli variasinya, tidak peduli apakah satu huruf atau beda tanda tangan. Kebanyakan dari mereka tidak suka specimen, tidak suka proof atau essay yang menurut mereka adalah uang yang gak jelas. Kita tentu bisa memakluminya  karena informasi saat itu yang serba terbatas. Sebagai contoh  ketidakpedulian dengan variasi, saya menemukan satu variasi JIM yang super langka diantara uang2 umum lainnya. Pemilik pasti gak sadar dengan uang tersebut.

1. Uang 100 Roepiah bernomor seri SO yang sepintas biasa. Kondisinya lumayan parah dan dijamin pasti gak ada kolektor sekarang yang mau pegang.
Kondisi lumayan parah, mungkin cuma VG saja

Tetapi setelah diterawang baru saya sadar kalau uang tersebut termasuk tipe yang sangat langka bahkan tidak ada di KUKI, OEN maupun Pick. Seperti apa sih tipenya?

KUKI hanya mencantumkan 4 variasi
a. Cetak dalam, bertanda air
b. Cetak rata, tidak bertanda air, benang pengaman
c. Tanpa huruf
d. Huruf tebal, tanpa tanda air (palsu)

Oeang Noesantara hanya mencantumkan 4 variasi
a. Prefix SK (salah cetak, seharusnya SO, mudah2an akan direvisi di edisi selanjutnya)
b. Diragukan keasliannya
c. Mihon
d. Mihon dan specimen

Bagaimana dengan Pick ?
Pick mencantumkan lebih banyak variasi yaitu 5 jenis :

Ringkasannya adalah sbb:
a. Watermark bunga kiri
b. Tanpa watermark, tanpa benang pengaman
c. Tanpa watermark, dengan benang pengaman
d. Tanpa huruf
e. Mi hon dengan specimen di bagian belakang

Bagaimana dengan uang jelek tersebut? Kita lihat hasil terawangnya yuk...

Hasilnya: tampak tanda air berupa bunga kiri (tampak nyata pada sisi atas tengah dan sisi kiri) serta benang pengaman yang memanjang dari sisi atas ke bawah (bandingkan dengan bekas lipatan beberapa mm di sisi kanannya)

Berarti uang tersebut memiliki 2 pengaman yaitu benang dan tanda air sekaligus. Varian baru yang tidak ada di katalog manapun. Menarik bukan?

2. Uang dari seri yang sama yaitu nominal 1/2 Roepiah. Uang ini ternyata tidak berhuruf seri (SP)

JIM 1/2 Roepiah tanpa huruf SP

Sekali ini KUKI mencantumkan varian tersebut, tetapi Pick dan OEN tidak. 

Apakah si pemilik menyadari kalau dia menyimpan varian yang langka? 
Kelihatannya tidak. Karena disatukan dengan yang lain bahkan dia tidak memiliki varian biasanya. Demikian juga dengan wayang besarnya serta seri Coen yang hanya ada seadanya, cukup masing2 ada yang mewakili. Tidak peduli variasinya, tidak peduli kondisinya dan tidak peduli langka tidaknya. Ini adalah salah satu ciri khas kolektor lama.

5. Penyimpanan yang kurang rapi
Karena waktu dulu tidak ada yang menjual album khusus uang kertas, maka kolektor lama menggunakan album foto untuk menyimpan koleksinya. Tentu akan banyak kekurangan :

1. Album foto memiliki perekat sehingga uang yang ditempel langsung akan berbekas garis2 miring  yang sejajar

Garis2 miring sejajar ex lem dari album foto

2. Bagi kolektor yang lebih peduli, mereka membuat alas dari kertas putih sebagai dasarnya, sehingga uang tidak melekat langsung ke album. Cara ini lebih baik tetapi ada kelemahannya juga karena setelah sekian puluh tahun, kertas akan berjamur dan berubah warna. Uang yang ada diatasnya sedikit banyak ikutan terkena juga.

Jamur dan bercak tropis pada alas kertas dan album menular ke uang.


3. Album foto hanya bisa menampilkan satu sisi uang saja, karena itu jangan heran kalau kolektor lama selalu menyimpan masing2 uang minimal 2 lembar untuk ditampilkan sisi depan dan belakangnya. Lihat gambar di atas dan di bawah ini.


Tidak peduli jenisnya, masing2 disimpan 2 lembar, satu untuk ditampilkan sisi depannya dan satu lagi untuk sisi belakang.


Semua uang selalu dobel, tidak heran ada banyak yang urut nomor. Saya menemukan komodo, Sudirman 5 dan 10 rb, wayang 50 Gulden, 10 Rupiah Irian Barat dan ratusan jenis lainnya yang urut nomor. 

4. Bila tidak berhasil mendapatkan 2 lembar, kolektor lama akan memfotokopi sisi belakang uang untuk ditampilkan. Seperti  pada contoh yang terdapat pada uang 100 Rupiah Irian Barat berikut ini :

Untuk menampilkan sisi belakang, bila terpaksa maka pemilik memfotokopi uangnya.
Tapi dari sekian ribu jenis, saya hanya menemukan beberapa saja. Artinya pemilik berusaha sangat keras untuk mendapatkan masing2 jenis minimal 2 lembar.

5. Untuk melengkapi dan memberikan arti lebih dalam dari koleksinya banyak sekali saya menemukan catatan kecil yang di ketik rapi. Menceritakan sedikit peristiwa yang menjadi latar belakang uang tersebut. Beberapa ditulis dengan penelitian yang bagus dan mendetail. Untuk saat ini silahkan lihat beberapa gambar berikut. Untuk uang asing, masing2 ditempel bendera negara tersebut.

Senering ketiga 13 Desember 1965 dimana nilai uang seribu rupiah dipotong menjadi 1 rupiah terekam dalam tulisan seorang kolektor lama (sudah dipindahkan dari album aslinya). Kita jadi tahu uang mana yang dipotong nilainya dan yang mana penggantinya. 

Uang bergambar orang Irian (belakangan baru kita ketahui kalau gambar tsb adalah orang Flores) ini diduga oleh pemilik sebagai inspirasi pembangkit semangat bangsa Indonesia untuk merebut Irian Jaya yang waktu itu masih dikuasai Belanda

Keterangan tentang uang JIM

Seri RIS dicetak di TDLR Inggris agar kualitasnya setara dengan uang-uang kelas dunia lainnya

Mau tahu sedikit sejarah uang komodo? Silahkan baca tulisan di atas.

Bayangan pohon di atap rumah yang menyerupai lambang PKI (palu arit)
Apakah mirip?


6. Tiap album diberikan judul atau nomor sesuai isinya dan semua tersusun rapi. Berbeda dengan kolektor sekarang yang albumnya bagus-bagus, import dan mahal, bahkan ada yang spesial untuk memuat folder PMG yang super lebar, tetapi percuma di beri nomor karena jumlahnya cuma 1- 2 saja dan isinya sedikit hanya yang super UNC saja, bolong-bolong tidak lengkap serta hampa tidak ada keterangan apapun yang dicatat atau dicantumkan disana.

Contoh album coinnya, luar biasa banyak dan lengkap. Disusun menurut nama negara

Contoh sebagian dari puluhan album uang kertasnya, masih tampak beberapa yang tersisa nomornya


Selain menggunakan album foto, seringkali para kolektor lama menggunakan plastik biasa saja sebagai pelindung, disegel dengan seal listrik atau api lilin lalu ditumpuk sembarangan di nampan atau di kardus.

Kolektor lama dari Surabaya memamerkan koleksinya, sebagian dibungkus plastik.
Tahukah anda kalau uang yang paling kiri adalah badak issued? Sayang terhalang silau lampu kilat.


Setelah album import uang kertas masuk ke Indonesia sekitar tahun 1990an, barulah para kolektor era tahun tersebut memakainya. Dimasa awal refillnya berwarna hitam hanya menampilkan satu sisi sehingga para kolektor tetap mengumpulkan masing2 jenis 2 lembar. Satu untuk tiap sisi.

Album dengan refill hitam, hanya menampilkan satu sisi sehingga kolektor tetap membutuhkan 2 lembar uang untuk ditampilkan masing2 sisinya.


Seiring dengan berlalunya waktu baru masuk album2 uang kertas yang transparan sehingga para kolektor cukup hanya menyimpan satu lembar saja. Maka berakhirlah era menyimpan 2 lembar.


Kesimpulan yang dapat diambil dari kolektor lama:

1. Ditengah keterbatasan informasi, kesulitan mendapatkan bahan koleksian (ingat waktu itu belum ada lelang/jual beli online) ditambah kesibukan pekerjaan masing-masing (pemilik adalah penterjemah resmi yang telah berkeliling dunia), mereka tetap tekun mengumpulkan dan menyalurkan hobinya sedikit demi sedikit, satu persatu untuk seumur hidup. Dalam kasus di atas pemilik meninggal di akhir tahun 1980an, sedangkan uang terakhir yang masuk di album (hanya diselipkan, belum sempat dirapikan) adalah 2 lembar uang Rp500 1988. Suatu bukti bahwa pemilik benar-benar menjadi kolektor sepanjang hidupnya sampai dia meninggal.

2. Tidak terlalu peduli dengan kondisi atau kualitas uang koleksinya. Yang penting ada dan lengkap.

3. Mungkin karena kurangnya pengetahuan, tidak terlalu peduli dengan variasi. Cukup punya satu- dua lembar untuk mewakili.

4. Kurangnya sarana penyimpanan sehingga banyak yang menyimpan secara sembarangan. Akibatnya kualitas menjadi jelek. Tropis, jamuran, lembab bahkan tidak jarang sampai rusak dan hancur. 

Uang menjadi rusak karena salah penyimpanan

Jangankan kolektor lama, kolektor jaman sekarangpun masih banyak yang kurang mengerti cara penyimpanan yang baik, tidak tahu kalau uang kertas tidak boleh disimpan menggunakan plastik biasa, tidak boleh terkena panas atau lembab, bahkan suhu ruangan penyimpanan juga harus diatur. Kita lihat contoh di bawah : 

Coen  Mercurius 300 Gulden specimen urut nomor (OL 2046 dan 2047), yang atas (2047) saya dapatkan dari kolektor lokal dan yang bawah (2046) menang lelang dari Belanda. Perhatikan perbedaan kualitas kertasnya. Yang atas jelas tropis dan penuh bercak, sedang yang bawah relatif lebih bersih.

Satu lagi sambungannya (OL 2048), masih disimpan teman kolektor lokal, kondisinya kembali tropis dan penuh bercak, padahal barang disimpan bertahun tahun di safe deposit bank yang terlindung dan dikeluarkan hanya sekali untuk difoto.



Kesimpulan akhir :
Ketekunan adalah yang utama. Persoalan kualitas apakah cuma VF atau harus UNC adalah soal selera dan kemampuan, yang penting jangan sampai mengganggu uang dapur. Jalani dengan santai, jangan terburu-buru tetapi terus kontinu. Pengetahuan menjadi modal berikutnya supaya koleksi kita menjadi lebih menarik dan bernilai. Penyimpanan juga sangat penting supaya koleksi kita tidak rusak. Dan terakhir, jangan mewariskan uang kuno, wariskan saja uang yang masih laku agar anak cucu kita tidak terbeban. Kalau tidak koleksi anda akan berakhir di dalam dus dan pindah ke rumah saya.






Jakarta 29 Agustus 2017
Terima kasih kepada Bapak Juna ahli waris 50 album uang kuno beserta anaknya yang cantik yang telah mempercayakan semua koleksi ex ayahnya, almarhum Bapak Marah S Muluk kepada saya. Sungguh suatu koleksi yang sangat hebat.

Saran dan kritik silahkan kirim ke arifindr@gmail.com