Minggu, 16 November 2014

Gambar pada uang kertas (2)

Kembali lagi kita melihat gambar-gambar yang terdapat pada uang kertas negara kita. 


2 - 1/2 Rupiah seri suku bangsa tahun 1954 dan 1956


Uang yang sisi depannya berwarna merah ini bergambar seorang laki-laki yang dengan sekali lihat pada wajahnya dapat kita perkirakan berasal dari Flores, Nusa tengara Timur. Ciri khas penduduk Flores ini bisa terjadi karena dulu pulau Flores bersama dengan Timor Timur merupakan koloni Portugis sehingga terjadi percampuran genetik antara suku Melayu, Melanesia dan Portugis. Bahkan kata Flores sendiri dalam bahasa Portugis berarti "bunga" dalam bentuk jamak. Mungkin sewaktu Portugis pertama kali mendarat disana mereka menemukan daratan yang sangat indah dan dipenuhi berbagai macam bunga.
   
Gambar pada uang kertas ini rupanya diambil oleh seorang fotografer Belanda bernama A. Ley yang sedang mengadakan perjalanan ke daerah tersebut. Foto dapat ditemukan di dalam buku Tanah Air Kita  susunan NA Douwes Dekker.


Perhatikan baik-baik gambar pada buku, bandingkan dengan yang ada pada uang kertas. Sungguh mirip bukan? Bukan hanya senyum dan kerut-kerut wajahnya saja bahkan sarungnya yang bergaris-garis dan tali kalungnya juga ikut ditampilkan. Tidak dapat kita tolak lagi bahwa foto pada buku ini merupakan sumber inspirasi utama bagi si pelukis uang. 

Sekarang mari kita baca keterangan yang terdapat pada foto tersebut:

"Orang Flores jang chas mukanja seperti ini, menjampaikan selamat datang kepada kami. Ketika mengadakan perdjalanan mengembara keseluruh pulau2 Sunda-Ketjil, maka Flores kami pakai sebagai pangkalan - agar bersamaan dengan perputaran djarum2 lontjeng - untuk mengundjungi pulau2 disekitar Laut Sawu dan achirnja berlajar kearah Barat, ke Bali."

Dengan senyumnya yang khas dan ramah orang Flores menyambut dan menyampaikan selamat datang kepada para tamu. Tidak heran tempat tersebut dijadikan pangkalan untuk melakukan perjalanan berikutnya.  


Bagian belakang uang

Bagian belakang uang ini bergambar Garuda Pancasila di sisi tengah dan diapit angka atau nominal uang di sisi kanan kirinya serta text undang-undang di bagian bawah. Menurut buku Sejarah Bank Indonesia gambar pada sisi belakang uang ini diambil dari uang kertas Suriname yang beredar pada masa yang sama. Betulkah demikian, mari kita lihat kemiripannya.


Silahkan teman-teman bandingkan keduanya, apakah mirip?
Lambang negara di bagian tengah dan text undang2 di bawahnya. Bedanya uang Suriname memiliki tanda air di sisi kanannya sedangkan uang kita tidak ada sehingga bagian tersebut diganti dengan nominal. Karena seri ini merupakan uang kertas pertama yang dirancang oleh NV Pertjetakan Kebajoran yang tentunya masih sangat minim pengalaman, maka tidak heran para pelukis dan perancang uang mencari-cari  ide dari uang kertas negara lain. 
Tetapi kenapa pilihannya Suriname?
Mungkin karena disainnya simpel dan mudah dijadikan contoh, selain itu Suriname masih merupakan kerabat dekat Indonesia yang sama-sama dijajah Belanda, ditambah lagi dengan banyaknya penduduk Jawa yang berada disana. 

Bukan cuma sekali itu saja uang kita memiliki kemiripan dengan Suriname, diantaranya adalah uang di bawah ini :


Seri gedung 1919-1921, perhatikan kemiripannya dengan uang Suriname. Keduanya sama-sama bergambar gedung di bagian tengah dengan nominal di kiri kanan dan di keempat sudut. Walaupun beredar tidak pada saat yang bersamaan (DJB seri gedung diedarkan 20 tahun lebih awal) tetapi keduanya dicetak oleh perusahaan yang sama yaitu American Banknote Company (ABNC). Rupanya ABNC tidak mau ambil pusing untuk merancang uang baru, ambil saja dari contoh yang sudah ada. Toh kedua negara tersebut sama-sama jajahan Belanda, jadi boleh dong kalau ada kemiripannya. Untungnya karena uang kita diedarkan duluan maka boleh dibilang Suriname yang meniru tetapi sebaliknya pada seri suku bangsa, uang kita yang meniru Suriname.


Selain dengan Suriname ternyata uang kita di jaman Belanda ada yang sangat mirip dengan uang dari negara Amerika Latin lainnya, yaitu Brazil. 
Tidak percaya? Silahkan lihat saja.

Apakah mirip?
Uang Coen Mercurius kita ternyata ada tiruannya yaitu uang Brazil, tetapi yang mana meniru yang mana kita tidak akan pernah tahu karena keduanya diedarkan pada masa yang bersamaan.
Menarik bukan?



Pembahasan kita lanjutkan dilain waktu dengan mengambil gambar uang yang lain. Apakah teman-teman dapat menebak gambar pada uang pecahan dan tahun berapakah yang diambil dari foto di bawah ini? 

Selasa, 11 November 2014

Seri bingkai

Tidak pernah ada kata lengkap dalam kamus seorang kolektor. Selalu ada saja kekurangannya. Dan kekurangan seorang kolektor bisa jadi merupakan kelebihan dari yang lain. Karena itu jalinlah kerjasama dan persahabatan antara kita semua.
Seri bingkai pecahan 50 Gulden issued contohnya, walau beberapa teman cukup beruntung bisa memiliki bahkan sampai varian terlangka (sebelum tahun 1900), tetapi bagi saya uang tersebut bagaikan langit di atas langit. Berpuluh tahun berburu tetapi tidak pernah ada hasil. Berbagai cara dilakukan seperti merayu teman-teman yang punya dengan membeli langsung ataupun barter. Saya pernah mencoba menawarkan seorang teman untuk barter dengan satu lembar pecahan 1000 Gulden wayang specimen UNC senilai Rp50 juta tetapi ditolak, padahal kondisi uang tersebut cuma fine saja. Alasannya adalah: lebih gampang beli wayang specimen 1000 Gulden daripada bingkai 50 Gulden issued.
      
Tetapi yang namanya usaha tidak akan pernah berhenti, dan pucuk dicinta ulam pun tiba, kata orang kalau memang sudah jodoh gak kemana...........
Pada tanggal 10 September 2014 saya mendapatkan telpon dari seorang yang mengaku tinggal di Bogor dan menawarkan selembar uang kertas kuno bertahun 1916. Tetapi sebelum bertanya lebih lanjut telpon terputus. Karena penasaran maka saya yang menelpon balik.

Saya tanya lebih lanjut apakah saat ini uang tersebut dipegang olehnya.

"Benar, sekarang ada ditangan saya" Jawabnya
Lalu saya tanya tentang nama banknya karena siapa tahu bukan uang kita.

"De Javasche Bank, betaald aan toonder vijftig Gulden" katanya lebih lanjut 

Mendengar jawaban tersebut langsung darah di kepala saya mengalir lebih deras, kuping saya memanas dan dengan cepat mengirim alarm ke seluruh bagian otak untuk menganalisa kemungkinan yang ada.

De Javasche Bank.................ting tong................. berarti uang kita
Vijftig Gulden .........................ting tong.................. berarti pecahan 50 Gulden
Tahun 1916........................... ting tong.................. berarti seri bingkai

Otak yang dipenuhi darah bekerja dengan kecepatan kilat menyimpulkan bahwa uang tersebut adalah DJB pecahan 50 Gulden seri bingkai!! Uang yang selama ini saya cari-cari!!

Langsung saya tanya lagi :
"Tanggal berapa dan apakah ada tulisan SPECIMEN?"
Maklum hampir semua pecahan 50 Gulden seri bingkai yang pernah keluar adalah varian SPECIMEN.

Jawabnya :
"Tanggalnya Batavia, 2 September 1916"
"Dimana tulisan SPECIMENnya? Saya kok engga lihat?"

Mendengar kedua jawaban tersebut kepala saya seperti mau meledak, tetapi tentu masih ada ruang untuk berpikir lebih lanjut......... 
Tahun 1916 berarti nomor seri hitam dengan tanda tangan vd Berg dan Zeilinga, kode kontrol di sisi belakang tengah kemungkinan besar dikisaran angka 9400 sd 9500 karena saya ingat satu-satunya varian issued yang pernah muncul di lelang bertahun-tahun yang lalu bernomor seri BS bertahun sama (1916) dan memiliki kode kontrol 9404. 

Maka sayapun bertanya kembali :
"Apa warna uangnya?"
"Nomor serinya apa dan berwarna apa?"
"Kemudian disisi belakang bagian tengah ada lingkaran kecil berisi sederetan angka2 apa saja?"

"Tunggu dulu ya pak, saya ambil kacamata dulu karena tulisannya kecil..."
(wah pemiliknya pasti orang tua nih)

Saya menunggu dengan jantung berdebar, lalu sesaat kemudian dia berkata :
"Uangnya berwarna agak kehitaman dengan bagian belakang berwarna coklat muda, nomor serinya  BW 04100 berwarna hitam dan yang dibelakang angkanya 9137 atau 9437, tidak terlalu jelas karena kabur."

Uang sejenis yang pernah keluar di lelang yang jadi patokan saya memiliki nomor seri BS bulan Juni tahun 1916 dengan kode kontrol 9404.
Kalau yang ini bernomor seri BW berarti harus sesudahnya, masuk akal bila bulannya September dan kode kontrolnya pasti 9437 bukan 9137. Saya sering mendapatkan kekeliruan dalam pembacaan kode kontrol karena tulisannya kecil dan seringkali tintanya sudah kabur.

Yes! Cukup.
Nomor seri, tanggal dan kode kontrol semua sesuai !
Tinggal satu pertanyaan terpenting.
"Coba bapak bawa uang itu kehadapan lampu atau matahari, kemudian lihat apa ada gambar atau tulisan yang muncul."

Sayapun kembali menunggu....

Sesaat kemudian dia kembali berkata:
"Saya sudah hadapkan kelampu, yang ada lingkaran oval di sisi kiri, selain itu tidak ada apa-apa lagi" 

Otak saya kembali menganalisa, "Lingkaran oval di sisi kiri? Lingkaran apa ya?" 
Karena setahu saya uang ini tidak memiliki tanda air berupa gambar oval

Tetapi hal itu bukan yang utama, yang harus saya pastikan apakah uang ini memiliki tanda air berupa tulisan JAV BANK di bagian tengah, karena selain nomor seri, tanggal dan kode kontrol untuk memastikan keaslian harus ada tanda airnya.

Bingkai 25 Gulden palsu. 
Nomor seri, tanda tangan dan kode kontrol sesuai aturan tetapi tidak ada tanda airnya


Walaupun sudah berkali-kali saya terangkan letak tanda airnya, dia tetap tidak menemukan tulisan apapun. Yang ada cuma satu lingkaran oval saja.

Sayapun tidak putus asa, sekarang yang jadi fokus saya adalah lingkaran oval tersebut.
"Apakah lingkaran oval tersebut seperti stempel? Tanya saya lebih lanjut.

Jawabannya adalah  "Benar, stempel oval di sisi belakang"

Yes....!!
Walaupun tanda airnya tidak kelihatan, bukan berarti bisa langsung dinyatakan palsu karena mungkin saja tidak kelihatan (ingat mata yang melihat adalah mata awam yang perlu kacamata baca). Yang penting dengan adanya stempel memberikan kesan kuat kalau uang ini sangat mungkin asli. Sepertinya ada tradisi dari pemilik atau money changer jaman dulu yang seringkali menstempel uang2 miliknya entah untuk maksud apa. Selain itu sudah beberapa kali saya melihat uang sejenis yang di stempel Republik Maluku Selatan (RMS) berbentuk oval.

Contoh uang sejenis yang ada stempel berbentuk oval

Karena itu walaupun disatu sisi tidak ditemukan tanda air tetapi dilain pihak ada stempel. Keduanya bertentangan sehingga menyebabkan saya menjadi semakin tertarik. Insting saya mengatakan kalau uang tersebut asli. Maka sayapun mengadakan perjanjian untuk bertemu secara langsung. Tempat dan waktu pertemuan disepakati yaitu hari Minggu tanggal 14 September sekitar jam 10 pagi di hotel Salak Bogor. 

Singkat cerita sayapun kesana sambil membawa pembanding uang sejenis tetapi versi SPECIMEN. Saya memiliki banyak varian SPECIMEN tetapi tidak satupun yang issued. 
Perlu diketahui kalau versi  issued uang ini sangat sulit ditemukan dan kebanyakan sudah distempel besar-besar yang merusak mata bertulisan Republik Maluku Selatan (RMS). Tentu saja stempel RMS tersebut selain merusak pemandangan juga sangat menurunkan harga.
Dalam hati saya berharap semoga saja stempel uang ini bukan RMS.

Setelah bertemu dan berkenalan, ternyata pemilik adalah seorang Ustadz berusia sekitar 55-57 tahun. Berasal dari Padang dan sering bolak balik antara Pekanbaru, Jakarta dan Bogor. Saya bingung karena pemilik tidak tampak membawa barang apapun. Setelah saya tanya, ternyata dari saku celananya dia mengeluarkan sebuah buku tipis tempat dia menyimpan uang tersebut di tengah-tengahnya dalam kondisi terlipat dua. Hati saya tercekat melihat cara dia membawa dan menyimpan uang langka tersebut. Busyet deh, benar-benar khas orang awam yang engga mengerti soal penyimpanan uang kuno.

Sayapun dengan hati-hati membuka lipatan dan memeriksanya dengan teliti. Watermark yang oleh pemilik tidak tampak ternyata dimata saya terlihat dengan jelas. Stempel yang dimaksud ternyata berwarna kebiruan dengan tulisan yang tidak tampak jelas, tetapi yang pasti bukan RMS (bila ada stempel RMS maka selain menurunkan harga status uang ini menjadi uang daerah). Beberapa lubang kecil bekas lipatan di bagian tengah dan bercak-bercak kotoran di beberapa tempat. Walau demikian uang tersebut utuh, tidak ada bagian yang hilang, kertaspun teraba cukup keras dan tidak lemas. Kondisi minimal Fine dan maksimal Very Fine. Saya lebih cenderung menempatkan diantaranya, mungkin sekitar VF-

Kemudian kami berbincang sejenak tentang asal uang tersebut (saya selalu bertanya asal usul uang yang akan saya beli agar tahu sejarahnya). Ternyata uang itu peninggalan ayahnya dan setahu dia di kampungnya masih ada satu peti lagi milik sang ayah yang belum dibuka (!!). Dia mengakui kalau saya adalah orang kedua yang dihubungi per telpon. Orang pertama yang ditelponnya ternyata tidak menjawab. Dan setelah menghubungi dan berbicara dengan saya, dia mengatakan bahwa dia telah menemukan orang yang tepat dan tidak akan menawarkan uang ini kepada orang lain.

Sayapun bertanya berapa harga yang diinginkan oleh pemilik. Tetapi dia berkata tidak tahu dan menyerahkan harga kepada saya. Saya berpikir dengan keras karena sangat sulit untuk memulai penawaran. Pengalaman membuktikan kalau cara seperti ini lebih sering gagalnya, harap diingat bahwa sedapat mungkin penawaran harus dimulai dari pemilik barang. 

Karena dia bersikeras dan memaksa saya yang lebih dahulu membuka harga, maka setelah berpikir panjang lebar sayapun menyebutkan satu angka yang menurut saya cukup pantas untuk uang dengan kondisi demikian. 

Kekuatiran saya terbukti, setelah mendengar penawaran saya, dia menyatakan akan pikir-pikir, berdiskusi dengan keluarga terlebih dahulu dan akan menghubungi saya kemudian. Sayapun tertunduk lesu. Setelah jauh-jauh ke Bogor hanya menambah satu lagi pengalaman kegagalan transaksi karena menyebutkan harga penawaran terlebih dahulu. 
Sayapun pulang kembali ke Jakarta tentunya dengan kekecewaan yang sangat mendalam. Sebelum pulang saya memberikan selembar plastik pelindung dan memasukkan uang tersebut kedalamnya sambil memberikan saran penyimpanan yang benar. Walaupun tidak dijual kepada saya, jangan sampai uang tersebut tambah rusak karena salah simpan.


Tiga hari kemudian pemilik mengirimkan SMS yang berisi permintaan agar harga penawaran saya dinaikkan, dengan gembira saya jawab bahwa dengan senang hati saya akan mempertimbangkannya pada pertemuan selanjutnya. Tetapi sesudah itu sampai belasan hari kemudian tidak ada kabar apapun, saya berpikir kalau uang tersebut pasti sudah lenyap ditelan kolektor lain. 


Harap diketahui kalau versi issued uang jenis ini (tanpa stempel RMS) selama puluhan tahun hanya pernah satu-dua kali keluar di lelang, satu diantaranya yang paling fenomenal dan tertanam dibenak para kolektor adalah di Java Auction tahun 2008. 

DJB 50 Gulden 1916, harga penutupannya sekitar 2,5 kali harga awal

Sebelum dilelang di JA, uang ini milik seorang kolektor besar yang memiliki koleksi sangat lengkap. Dia membuat arsip dari semua koleksinya dan menyerahkan gambar uang ini kepada saya. Dari gambar tampak kalau kondisi kertas bagus sekali, warna terang dan bersih, sayang tepinya banyak bagian yang robek atau hilang


Setelah berhari-hari menunggu dalam ketidakpastian akhirnya pada tanggal 28 Oktober 2014 pemilik kembali menghubungi saya untuk membuat janji ketemu, kali ini dia yang akan datang ke Jakarta. Betapa senangnya saya, ternyata perkataan pemilik kalau dia hanya menawarkan uang tersebut kepada saya memang ditepatinya. 
Salut.............

Akhirnya setelah kami bertemu, kali ini saya bertekad tidak akan membiarkannya lolos untuk kedua kalinya. Kami bernegosiasi dengan alot sampai tercapailah kata sepakat. Uang ini sekarang resmi menjadi milik saya. Terima kasih banyak kepada pemilik yang konsisten dengan ucapannya dan mempercayakan saya untuk menjadi pemilik barunya.
Kami pun membuat janji bertemu lebih lanjut setelah dia membuka peti harta karun milik si ayah. Kita tunggu saja apa isinya mudah-mudahan ada segepok lagi uang yang sejenis ini.


Mari kita lihat seperti apa uang tersebut

 
Kondisi uang kotor, banyak bercak, stempel di sisi belakang yang belum jelas jenisnya
Lubang kecil di tengah, robekan 1/2 cm di sisi bawah bagian tengah karena lipatan
Kelebihannya kertas masih utuh dan tidak ada bagian yang hilang.
Kondisi diantara Fine-Very Fine


Mungkin banyak teman yang bingung dengan cerita saya. Mengapa saya bisa senang dengan uang yang sepintas tampak sangat tidak menarik ini? Apa keunggulannya dan mengapa sampai saya katakan kalau uang ini cukup langka? 
Penjelasan pada Java Auction juga mendukung dengan dicantumkannya tulisan EXTREMELY RARE, setara dengan Coen Mercurius 200 Gulden issued yang ditampilkan bersamaan tetapi terjual hanya setengah dari harga bingkai 50 Gulden tersebut. 

200 Gulden Coen Mercurius 1916 pada Java Auction 2008
Walau dibuka dengan harga sama tetapi terjual cuma 1,5 kalinya

Dari kedua gambar di JA tersebut saja kita sudah bisa mengambil kesimpulan:
1. Bingkai 50 Gulden dan Coen Mercurius 200 Gulden dengan kondisi serupa ditawarkan dengan harga sama, padahal nominal keduanya terpaut jauh.
2. Harga penutupan kedua pecahan tersebut berbeda jauh sekali
Bingkai 50 Gulden terjual Rp111 juta atau sekitar Rp127,6 juta setelah ditambah fee sedangkan Coen Mercurius 'hanya' terjual sekitar Rp70 jutaan setelah fee.
Bisa teman-teman bayangkan tingkat kesulitan uang ini?


Untuk membuktikan kelangkaan uang ini mari kita bahas lebih lanjut :


Seri bingkai terdiri dari 3 pecahan yaitu 10, 25 dan 50 Gulden. Seri ini tidak memiliki gambar sehingga bagi sebagian besar kolektor menjadi kurang menarik. Tetapi keunggulannya ada pada variasinya yang luar biasa banyak, secara umum bisa dibagi menjadi :
1. Nomor seri hitam
2. Nomor seri hitam dan merah
3. Nomor seri merah
Nomor seri hitam bisa dibagi lagi menurut bentuk kotak atau ukuran teks undang-undangnya, lalu dibagi lagi menurut variasi tandatangan. Menurut perhitungan terakhir masing2 pecahan memiliki setidaknya 9 variasi tanda tangan. Sangat banyak dan membingungkan sehingga cocok untuk dijadikan lahan berburu para kolektor yang menyukai variasi.

Sekarang mari kita perhatikan tabel berikut ini :
Seri bingkai pecahan 10 Gulden sejak 1912 sampai dengan 1924 (12 tahun) memiliki nomor seri dari OT sampai dengan YP. Bila kita ambil huruf depannya saja maka terdiri dari O, P, R, S dst sampai Z (total 11 huruf, ingat Q tidak digunakan). Lalu ditambah dari A sd Y atau sekitar 24 huruf sehingga total sekitar 35 huruf.  

Untuk pecahan 25 Gulden sejak 1913 sd 1920 (7 tahun) terdiri dari huruf E sampai dengan L atau sekitar 8 huruf. Padahal baru sampai tahun 1920 dan tentu masih berlanjut sampai sekitar tahun 1924 (mohon bantuan teman-teman yang memiliki huruf sesudah L). 

Sedangkan untuk pecahan 50 Gulden sejak 1911 sd 1922 (11 tahun) hanya terdiri dari 5 atau 6 huruf yaitu A, B, C, D, E dan atau sebagian F karena huruf FG sudah milik 50 Gulden JP Coen. 

Jadi dari tabel dapat diambil kesimpulan :
Pecahan 10 Gulden periode 1912-1924 (12 tahun) memiliki setidaknya lebih dari 35 huruf
Pecahan 25 Gulden periode 1913-1920 (7 tahun) memiliki setidaknya lebih dari 8 huruf
Pecahan 50 Gulden periode 1911-1922 (11 tahun) hanya memiliki maksimal 5-6 huruf
Atau bila dibuat perbandingan secara kasar pecahan 10:25:50 adalah sekitar 7:2:1. 

Bila harga pecahan 10 Gulden issued VF diasumsikan sekitar Rp15 juta maka harga pecahan 25 Gulden menjadi sekitar 3 kalinya atau  Rp40 jutaan dan pecahan 50 Gulden yang tingkat kelangkaannya 7 kali lipat menjadi 7 kalinya yaitu sekitar 100 juta. Tidak heran pecahan ini terjual sangat mahal di lelang, berbanding terbalik dengan varian SPECIMEN yang harga hanya berkisar di belasan juta saja.

Sebagai perbandingan, saya lampirkan beberapa harga penutupan hasil lelang JA tahun 2008 
(belum berikut fee 15%)

ORI 600 Rupiah 1948 (EF) Rp42,5 juta (sampai sekarang harga tetap sama cenderung turun)
RIS 5 Rupiah 1950 (UNC) Rp650 ribu (naik 2 kali lipat)
Rusa 10 Rupiah 1957 SPECIMEN (VF) Rp6,75 juta (meningkat 3 kali lipat)
Badak 25 Rupiah 1957 SPECIMEN (EF) Rp6,25 juta (meningkat 3 kali lipat)
Macan 500 Rupiah 1957 (EF) Rp1,5 juta (meningkat 3 kali lipat)
Banteng 5000 Rupiah 1957 SPECIMEN (AU) Rp28 juta (harga sekarang malah turun)
Barong 10000 Rupiah 1975 (UNC) Rp650 ribu (naik 3 kali lipat)
Set lengkap seri creatie 1815 (AU-UNC) Rp150 juta (sekarang rasanya turun)
Bingkai 10 Gulden 1913 issued (VF) Rp8,25 juta (naik 2 kali lipat)
Bingkai 25 Gulden 1920 issued (Fine) Rp11 juta (tidak ada pembanding)
Bingkai 50 Gulden 1916 SPECIMEN (Fine) Rp10 juta (mungkin naik 2 kali lipat)
Bingkai 50 Gulden 1916 issued (VF) Rp111 juta (harga sekarang ?? tidak ada pembanding)
Coen Mercurius 100 Gulden 1920 issued (Fine) Rp17,5 juta  (mungkin naik 2 kali lipat)
Coen Mercurius 200 Gulden 1916 issued (VF) Rp61 juta (mungkin naik 2 kali lipat)
JP Coen 100 Gulden 1926 2 lembar urut nomor (AU) Rp3 juta (harga sekarang 5 kali lipat)
JP Coen 200 Gulden 1925 tt Lighart (VF) Rp17,5 juta (naik 3 kali lipat)
JP Coen 500 Gulden 1930 tt Praasterink (Fine) Rp23 juta (mungkin sama atau naik sedikit)
Wayang 5 Gulden 1939 (UNC) Rp250 ribu (naik 4-6 kali lipat)
Wayang 50 Gulden 1938 (EF) Rp1,6 juta (meningkat 3 kali lipat) 
NICA 500 Gulden (EF) Rp17,5 juta (naik 2 kali lipat)

Saya sengaja mengangkat kisah tentang seri bingkai karena selama ini tidak pernah diperhatikan dan dianggap remeh. Pamornya kalah jauh dibanding seri JP Coen ataupun wayang. Sekarang tampak jelas bahwa seri ini terutama pecahan terbesarnya sangat sulit ditemukan dan bernilai tinggi bahkan mengalahkan seri favorit JP Coen dan wayang. Harga penutupan lelang JA 2008 menjadi bukti nyata bahwa uang ini benar-benar menjadi primadona dan incaran para kolektor papan atas. Kalau saja anda hadir pada lelang tersebut, anda akan bisa merasakan betapa hebat dan serunya minat para kolektor untuk mendapatkan uang ini. 

Rp111 juta++ untuk uang yang dianggap biasa!! 
Ingat waktu itu harga wayang 50 EF cuma dikisaran Rp2 jutaan saja. 
Bisa anda bayangkan tingkat kesulitan uang ini?


Semoga artikel ini bermanfaat dan mulailah berburu sebelum terlambat! 

Jakarta 10 November 2014
Data dan gambar diambil dari berbagai sumber.
Angka dan harga disajikan berdasarkan analisa pribadi, pasti masih jauh dari sempurna sehingga dibutuhkan kebijakan serta bantuan dari para teman. Silahkan kirim masukan apapun baik kritik, saran, data tambahan atau lainnya melalui email arifindr@gmail.com

Rabu, 08 Oktober 2014

Hasil lelang terbaru

Indonesia (Netherland Indies) 2 1/2(2.5) Gulden, 1940, PMG 65EPQ
Terjual Rp1.500.000 (Ebay 11 Oktober 2014)


25 GULDEN FROM NETHERLAND INDIE 20.10.1938 AU
Terjual Rp3.110.000 (Ebay 5 oktober 2014)

INDONESIA: 100 Rupiah Banknote,(UNC),P-51a,1957
Terjual Rp2.200.000 (Ebay 5 Oktober 2014)

NDONESIA: 5 Rupiah Banknote,(UNC),P-36,01.01.1950
Terjual Rp1.550.000 (Ebay 5 Oktober 2014)

INDONESIA, P54, ND (1957), 2500 Rupiah, GEM UNC. PMG66-EPQ
Terjual Rp8.300.000 (Ebay 4 Oktober 2014)

NETHERS INDIES, P74c, 1939, 10 Gulden, GEM UNC. PMG66-EPQ
Terjual Rp6.300.000 (Ebay 4 oktober 2014)

Indonesia Netherlands 1943 Nederlandsch-Indie 25 Gulden, VF+
Terjual Rp500.000 (Ebay 3 Oktober 2014)

Indonesia Netherlands 1943 Nederlandsch-Indie 100 Gulden, VF+
Terjual Rp1.050.000 (Ebay 3 Oktober 2014)

 
NETHERLANDS INDIE: 1 GULDEN NOTES 1910 + 1 and 2 1/2 1940 
Terjual Rp1.125.000 (Ebay 1 Oktober 2014)

De Javasche Bank - 100 Gulden, 1923. EF - AUNC
Terjual Rp2.000.000 (Ebay 29 September 2014)

NETHERLANDS INDIES (P81a) 50 Gulden 1938 aVF/VF SCARCE!
Terjual Rp6.500.000 (Ebay 22 September 2014)

Banknote NETHERLANDS INDIES - 1/2 Gulden 1920 P. 102
Terjual Rp1.800.000 (Ebay 21 September 2014)

1970 Indonesia Silver 500 Rupiah “Wayang Dancer” NGC PF67 Ultra Cameo
Terjual Rp1.650.000 (21 September 2014)

JAPANESE OCCUPATION MONEY LOT OF 100 UNUSED 10 GULDEN
Terjual Rp1.500.000 (Ebay 10 September 2014)

50 gulden Netherland Indies banknote, 28-04-1938, Pick 81
Terjual Rp6.500.000 (Ebay 10 September 2014)

Netherlands Indies

P 53s, Handjaja 105Aab, De Javasche Bank, 10 Gulden, January 29, 1924, SPECIMEN. Coat of arms of Batavia at upper center on front. Legal texts in four languages on back. Diagonal red overprint SPECIMEN on issued note on front and back. Perforated A.VERNIETIGD.
Quality: ICG 50, XF/aUNC 
Tidak terjual 1200 Euro (Corne Akkermans 2014)

Netherlands Indies P 119b, The Japanese Goverment, WWII Japanese occupation, 1 Cent, (1942), SPECIMEN. Quality: UNC-
Terjual 60 Euro ++20% atau sekitar Rp1.115.000 (Corne Akkermans 2014)

Netherlands Indies. P 121a, The Japanese Government, WWII Japanese occupation, 10 Cent, (1942), SPECIMEN. Quality: Stain at upper left on front, otherwise XF
Terjual 50 Euro + 20% atau sekitar Rp950.000 (Corne Akkermans 2014)
Menurut anda stempel kedua uang di atas asli atau palsu ?


Terjual $1000 + 20% atau sekitar Rp14,6 juta (Baldwin-Ma Tak Wo Agustus 2014)



Terjual $460 + 20% atau sekitar Rp6.700.000 (Baldwin-Ma Tak Wo Agustus 2014)







Jumat, 15 Agustus 2014

Uang Baru 2014

logo_sp_bersama_bi_dpkeu.gif

SIARAN PERS BERSAMA
No. 16/57/DKom
No. 109/KLI/2014
Bank Indonesia bersama Pemerintah Republik Indonesia mengumumkan bahwa uang Rupiah kertas pecahan Rp100.000 Tahun Emisi 2014 mulai diberlakukan, dikeluarkan, dan diedarkan di Indonesia pada tanggal 17 Agustus 2014 yang bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-69 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Pasal 42 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang (UU Mata Uang) mengamanatkan uang Rupiah kertas dengan ciri umum sebagaimana diatur dalam Pasal 5 ayat (1) UU Mata Uang mulai diberlakukan, dikeluarkan, dan diedarkan pada tanggal 17 Agustus 2014. Sesuai dengan kewenangan Bank Indonesia sebagaimana diatur dalam UU Mata Uang tersebut, Bank Indonesia mengeluarkan dan mengedarkan uang Rupiah kertas pecahan Rp100.000 Tahun Emisi 2014.


Secara umum, desain uang Rupiah kertas pecahan Rp100.000 Tahun Emisi 2014 tidak mengalami perubahan yang signifikan dibandingkan dengan uang Rupiah kertas pecahan Rp100.000 Tahun Emisi 2004 yang beredar saat ini. Perbedaan utama antara lain dikenali dari: (i) Frasa “Negara Kesatuan Republik Indonesia” pada bagian muka dan belakang uang; (ii) Penandatangan uang dari yang sebelumnya Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia menjadi Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan.


Penggunaan frasa “Negara Kesatuan Republik Indonesia” serta tanda tangan Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan mewakili Pemerintah Republik Indonesia dalam uang Rupiah kertas tersebut menegaskan makna filosofis Rupiah sebagai simbol kedaulatan negara yang harus dihormati dan dibanggakan oleh seluruh warga negara Indonesia. Dengan demikian, sudah menjadi kewajiban bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk menggunakan uang Rupiah dalam setiap transaksi di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia termasuk di daerah terpencil dan daerah terluar Indonesia. Penghargaan warga negara Indonesia pada mata uangnya sendiri akan mendorong berdaulatnya Rupiah di negeri sendiri, dan pada gilirannya diharapkan Rupiah akan sejajar dengan mata uang utama dunia lainnya.
Dalam perencanaan pengeluaran uang Rupiah tersebut, sebagaimana diatur dalam UU Mata Uang, Bank Indonesia telah berkoordinasi dengan Pemerintah dalam mempersiapkan pengeluaran uang Rupiah kertas. Sebagai tindak lanjut dari koordinasi tersebut, Pemerintah telah mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2014 tanggal 2 Juni 2014 tentang Penetapan Gambar Pahlawan Nasional Dr. (H.C.) Ir. Soekarno dan Dr. (H.C.) Drs. Mohammad Hatta dalam Rupiah Kertas Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sebagai landasan hukum yang mengatur mengenai pemberlakuan, pengeluaran dan pengedaran uang Rupiah kertas pecahan Rp100.000 Tahun Emisi 2014, maka sesuai Pasal 15 jo. Pasal 16 UU Mata Uang, Bank Indonesia telah mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 16/13/PBI/2014, tanggal 24 Juli 2014, tentang Pengeluaran dan Pengedaran Uang Rupiah Kertas Pecahan 100.000 (Seratus Ribu) Tahun Emisi 2014 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 180). Selain itu, Bank Indonesia juga telah mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 16/14/PBI/2014, tentang Pengeluaran dan Pengedaran Uang Rupiah Kertas Khusus Pecahan 100.000 (Seratus Ribu) Tahun Emisi 2014 dalam Bentuk Uang Rupiah Kertas Bersambung (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 181).
Setelah pengeluaran uang Rupiah kertas pecahan Rp100.000 Tahun Emisi 2014, pengeluaran uang untuk pecahan lainnya dengan ciri-ciri umum sebagaimana diatur dalam UU Mata Uang akan dilakukan secara bertahap.
Dengan berlakunya uang Rupiah kertas pecahan Rp100.000 Tahun Emisi 2014 ini, uang Rupiah kertas pecahan Rp100.000 Tahun Emisi 2004 masih tetap berlaku sepanjang belum dicabut dan ditarik dari peredaran.
 Jakarta, 14 Agustus 2014

BANK INDONESIA DEPARTEMEN KOMUNIKASI
KEMENTRIAN KEUANGAN BIRO KOMUNIKASI DAN LAYANAN INFORMASI


Sumber : website Bank Indonesia (www.bi.go.id)






Jumat, 30 November 2012

Memulai Koleksi Uang Kuno

Bank Indonesia 100 Rupiah ND (1960s), artist design
Sebagian besar latar belakang rancangan uang ini diubah sehingga berbeda dengan versi beredarnya   



Memulai koleksi uang kuno
Setiap orang mempunyai hobby yang berbeda, ada yang senang menonton film, ada yang senang memancing, ada juga yang senang mengumpulkan buku komik, dan lain sebagainya. Salah satu hobby yang cukup langka adalah mengumpulkan uang kuno, yang dalam bahasa kerennya disebut NUMISMATIK. Hobby yang satu ini termasuk unik karena kesukaran dalam memperoleh informasi maupun "barangnya" itu sendiri. Selain itu hobby jenis ini sangat menuntut kesabaran, ketelitian dan tentu keuangan yang mencukupi.



Untuk menjadi seorang kolektor yang baik, banyak sekali hal-hal yang perlu dipelajari. Pertama, seorang kolektor harus mempunyai minat dan kemauan untuk belajar. Ada beberapa literatur dan perkumpulan yang dapat dijadikan acuan, seperti:


1. Katalog Uang Kertas Indonesia cetakan 1996, 2005 ataupun 2010
2. Katalog Uang Logam Indonesia (sudah tidak diproduksi lagi)
3. Standard Catalog of World Paper money (Krause)
4. Catalogue of paper money (Johan Mevius)
5. Katalog lelang dari berbagai balai lelang baik internasional maupun lokal
6. Majalah/literatur terbitan Asosiasi Numismatik Indonesia
7. Informasi dari internet seperti blog ini atau lain sebagainya

Dari sumber2 informasi tersebut di atas kita dapat mempelajari banyak hal tentang uang kuno seperti:

(1) Jenis atau seri, contoh: seri Sukarno 1960, seri Bunga Burung 1959, seri Pekerja 1958 dan sebagainya.
(2) Harga dari masing2 uang tersebut, yang sangat dipengaruhi oleh kualitasnya, semakin baik kualitas suatu uang tentu semakin mahal harganya, demikian juga sebaliknya. Karena itu sangatlah penting bagi para kolektor untuk mempelajari kualitas suatu uang. Terdapat istilah2 khusus tentang kualitas uang kertas, seperti Uncirculated, Extremely Fine, Very Fine, Fine, Very Good, Fair dan lain-lain.



Supaya tidak menimbulkan perbedaan pendapat tentang kualitas suatu uang kertas maka kalangan numismatik membutuhkan suatu standarisasi, yang disebut grading.

The international Bank Note Society (IBNS) menerapkan standarisasi grading yang terdiri dari :


1. UNC atau Uncirculated : yaitu keadaan sempurna dengan semua sudut tajam, tidak ada cacat sedikitpun, bersih, dan permukaan kertas masih berkilau. Sebagai ilustrasi adalah selembar uang kertas yang diambil dari segepok uang baru yang masih tersegel.


Uncirculated (UNC)


2. AU atau Almost Uncirculated : keadaan uang yang hampir sama dengan di atas tetapi ada minor mishandling seperti lipatan pada sudut, atau lipatan halus pada bagian tengah, tetapi tidak boleh keduanya, selain itu kondisi uang harus bersih dan berkilau seperti aslinya, semua sudut harus tajam.















NICA 500 Gulden kondisi Almost uncirculated (AU)


3. EF/XF atau Extremely Fine : kertas dalam keadaan baik, crisp atau kaku, masih memiliki kilau pada permukaan, dan memiliki maksimum 3 lipatan tipis atau satu lipatan tajam, sudut sedikit membundar.


Wayang 50 Gulden kondisi Extremely Fine (EF/XF)



4. VF atau Very Fine : uang kertas telah dipakai namun masih tetap crisp, ada sedikit kotor dan beberapa lipatan vertikal dan horisontal namun tidak sobek.



















JP Coen 500 Gulden kondisi VF (Very Fine)



5. F atau Fine : uang telah sering terpakai dengan beberapa lipatan dan tidak crisp lagi, tidak terlalu kotor, mungkin ada sedikit sobek pada bagian margin tetapi tidak masuk ke gambar, warna masih jelas.


Gedung 30 Gulden kondisi Fine (F)



6. VG atau Very Good : uang telah terpakai berkali-kali namun kertas masih utuh, terdapat sobekan pada sudut sehingga tidak tajam lagi, ada sobekan yang masuk hingga ke gambar, mungkin ada bekas karat, dan pada bekas lipatan mungkin ada lubang /sobekan kecil, kertas layu tetapi tidak ada bagian yang hilang karena sobek.


JP Coen 200 Gulden kondisi Very Good (VG)



7. G atau Good : uang telah lama dipakai, warna telah memudar, bekas lipatan yang berkali-kali telah menyebabkan lubang atau sobekan pada bagian pinggir, mungkin ada bekas karat, kotoran atau grafiti, ada bagian yang hilang karena sobek.


ORI 10 Rupiah Baru kondisi Good (G)



8. Fair : seluruh kertas layu dan kotor akibat pemakaian yang berat, uang telah rusak, terdapat sobekan besar dan ada bagian besar yang hilang.




Barong 10.000 Rupiah 1975 kondisi fair



9. P atau Poor : uang telah rusak berat akibat sobekan, karat, bagian yang hilang, grafiti ataupun lubang yang besar, mungkin ada bekas tambalan atau bekas potongan (trimming) pada bagian tepi untuk menutupi bagian yang rusak. Uang yang masuk kategori ini tidak layak dikoleksi kecuali hanya sebagai pengisi sementara atau memang termasuk uang yang sangat langka.



Pemandangan alam 2,5 Rupiah 1951 kondisi Poor




Ada kalanya kualitas suatu uang kertas ada di antara 2 kategori, dalam kasus ini sebagian kolektor memakai istilah PLUS (+), MINUS (-) atau penambahan huruf a kecil (ABOUT), contohnya:

1. VF+ (Very Fine Plus), berarti grade berada di antara VF dengan EF tetapi lebih cenderung ke VF

2. VF++ (Very Fine Plus Plus) berarti gradenya berada di antara VF dengan EF tetapi lebih cenderung ke EF

3. aEF (About Extremely Fine), berarti gradenya hampir atau kira-kira berada di EF

4. UNC- (Uncirculated Minus), berarti hampir UNC dengan hanya sedikit sekali kekurangan


Semua cacat yang terdapat pada uang kertas juga harus disebutkan agar tidak terjadi kesalahpahaman seperti:

1. Coretan atau grafiti
2. Bekas selotip, lem atau karat
3. Lubang staples atau pin hole
4. Trimming atau bagian tepi yang di potong
5. Pressing (pernah di press atau disetrika)
6. Cleaning, washing atau dicuci dengan menggunakan cairan pembersih
7. Repair atau perbaikan berupa tambalan atau lainnya

Adanya kondisi2 tertentu akan menyebabkan grading uang kertas tersebut menjadi turun sedikitnya satu tingkat.

Sekalipun telah ada standarisasi, perbedaaan grading antara para kolektor seringkali terjadi, masalah ini dapat timbul akibat beberapa faktor misalnya pengalaman, pencahayaan dan suasana yang berbeda. Grading sepantasnya dilakukan oleh orang ketiga yang berpengalaman dan tidak terlibat dalam transaksi.

Beberapa macam istilah grading dalam berbagai bahasa
















Kritik dan saran hubungi : arifindr@gmail.com