Selasa, 30 November 2010

Variasi Rp.100 (1984)

100 Rupiah burung dara mahkota emisi 1984


Kita semua pasti mengetahui pecahan ini. Selain mudah didapat, harganyapun tidak terlalu mahal. Uang berwarna dominan merah dan bergambar burung dara mahkota ini memiliki pengaman berupa tanda air Garuda Pancasila di bagian kanan dan benang pengaman di bagian tengah.

Menurut buku Sejarah Bank Indonesia Periode IV: 1983-1997, uang ini diedarkan mulai tanggal 1 Februari 1985 dan ditarik pada tanggal 25 September 1995 untuk diganti dengan seri selanjutnya yaitu Rp.100 perahu Pinisi emisi 1992.



Dengan harga yang terjangkau dan mudah untuk didapatkan, rasanya semua kolektor pemula pasti memiliki uang ini. Tetapi walaupun sudah punya, tidak banyak diantara kita bahkan termasuk yang sudah lama berkecimpung di numismatik menyadari kalau uang ini sebenarnya memiliki 2 variasi. Untuk jelasnya mari kita lihat katalog:


1. KUKI
Sejak edisi perdana, KUKI dengan jelas membagi uang ini menjadi 2 variasi yaitu :
a. Cetak dalam/Engraved
b. Cetak rata /Lithographed

KUKI membagi 2 variasi tanpa ada perbedaan harga


2. Standard Catalog of World Paper Money (Pick)
Katalog Pick membagi uang ini menjadi 3 variasi :
a. Engraved
b. Litho.
c. Specimen

Pick membagi menjadi 3 variasi dengan harga yang berbeda, varian engraved lebih mahal dibandingkan litho.


Pada kesempatan kali ini kita akan membahas kedua variasi yang pertama yaitu engraved dan lithographed. Kita tidak membahas variasi ketiga yaitu variasi SPECIMEN yang memang cukup sulit ditemukan.

Variasi ketiga (SPECIMEN) pada katalog Pick


Mari kita lihat perbedaannya :
a. Engraved, dicetak di atas bidang yang berukir (kasar) maka uang akan teraba kasar.
b. Lithographed, dicetak di atas bidang yang rata maka hasilnya akan terasa halus.


1. WARNA
Variasi a berwarna lebih merah dibandingkan variasi b

Variasi a (atas) lebih merah dibandingkan variasi b (bawah)


2. PERABAAN
Bila kertas diraba dengan teliti maka pada variasi a akan terasa kasar, terutama di bagian tengah tepat di angka 100 nya. Dan bila diperhatikan dengan baik maka bagian tersebut memberikan kesan lebih 'timbul'
Untuk jelasnya perhatikan gambar di bawah.


Variasi a (atas) bila diraba akan terasa lebih kasar dibandingkan variasi b


3. Bila uang digosok dengan pensil pada selembar kertas tipis :
Kedua variasi a dan b :
- Tampak tanda air berupa Garuda Pancasila
- Tampak benang pengaman
Variasi a : Tampak angka 100 di bagian tengah, sudut kanan bawah dan kiri atas serta gelombang horisontal di margin atas dan margin bawah.
Variasi b : Tidak tampak
Cara ketiga ini adalah cara paling praktis untuk membedakan kedua variasi.

Variasi a (atas) tampak angka 100 dan gelombang horisontal


4. LAMPU UV
Bila anda memiliki lampu UV maka akan lebih mudah lagi untuk membedakannya, variasi a akan memberikan warna yang lebih gelap dibandingkan variasi b. Ingat kedua variasi harus dibandingkan bersama agar jelas perbedaannya. Bila hanya satu variasi saja yang disinar lampu UV maka akan sulit menentukannya karena tidak ada perbandingan.

Di bawah lampu UV tampak perbedaan warna variasi a (*) dibandingkan variasi b


Variasi a (kiri) memberikan warna lebih gelap dibandingkan variasi b


5. NOMOR SERI
Pecahan ini memiliki penomoran yang unik.
Prefiks terdiri dari 3 huruf dengan huruf kedua sebagai huruf kunci (acuan)
Nomor seri terdiri dari 6 angka dimana angka pertama tercatat hanya terdiri dari 0, 1, 2 dan 3. Saya belum menemukan yang angka pertamanya 4, karena itu mohon bantuan teman-teman apabila menemukan angka pertama lebih dari 3.
Dengan demikian tampaknya penomoran akan menghabiskan prefiksnya terlebih dahulu dari AAA sampai ZZZ baru angkanya meningkat. Mirip seperti pecahan 5000 Rupiah emisi 2001 Tuanku Imam Bonjol.

Nomor seri terdiri dari 3 huruf dan 6 angka dimana angka pertama adalah 0, 1, 2 dan 3


Dari uang yang angka pertamanya 3, ternyata prefiks huruf keduanya yang tercatat terbesar adalah F (mohon koreksi bila ada yang lebih besar lagi), sehingga sangat mungkin penomoran angka 3 ini belum sampai Z alias belum selesai. Karena itu kecil kemungkinan akan ada angka pertama 4 atau lebih. Untuk penomoran seri pengganti (X) atau specimen perlu penelitian lebih lanjut.


Nomor seri berawal 3, huruf keduanya baru sampai F

Lalu apa korelasi antara nomor seri dengan variasi a dan b?
Ternyata variasi a ditemukan pada seluruh uang yang angka pertamanya 0 dan sebagian yang angka awalnya 1. Sedangkan yang berawalan 2 dan 3 seluruhnya merupakan variasi b.

Angka pertama :
0 = variasi a
1 = sebagian a dan sebagian b (mungkin batasnya di xQx dan xRx)
2 = variasi b
3 = variasi b (tidak habis dipakai)


Berdasarkan keterangan di atas dapat disimpulkan kalau variasi a dicetak dengan jumlah yang kurang lebih sama banyak dengan variasi b. Tetapi karena variasi a dicetak lebih dulu maka sangat mungkin lebih sedikit yang tersisa sehingga seharusnya harga menjadi sedikit lebih mahal. Tidak heran katalog Pick memberikan harga lebih tinggi untuk variasi a.

Untuk membuktikannya mari kita mendata uang-uang milik kita, ada berapa lembarkah uang milik teman-teman yang tergolong :
Variasi a atau variasi b
Kirimkan hasil perhitungan anda ke email saya atau masukkan di shout box. Hasil akan diumumkan agar kita mengetahui perkiraan populasi kedua variasi.

Perhitungan sementara dari banyak kolektor :
Variasi a : 2400
Variasi b : 600
Perbandingan 4 : 1
Siapa menyusul?


Jakarta 21 Januari 2012
Kritik dan saran hubungi arifindr@gmail.com
Sumber :
1. KUKI
2. Pick
3. Sejarah Bank Indonesia Periode IV
4. Koleksi pribadi

VARIASI TAHUN CETAK UANG-UANG YANG MASIH BERLAKU









Setelah dikumpulkan ternyata banyak juga variasi tahun cetak uang-uang tersebut.
Jumlahnya sampai saat ini ada 61 jenis...... dengan harga nominal Rp1.782.000,-
Apakah masih akan ada tahun cetak 2012 dan seterusnya? Kita nantikan bersama

==============================================================

Memang dunia numismatik tidak pernah sepi, ada saja kejadian yang membuat heboh...


Bagaimana pendapat anda tentang uang-uang tersebut?


(Uang) monyet gelantungan yang lagi heboh (atas), bandingkan dengan aslinya (bawah)
Siapa yang iseng membuat uang-uangan tersebut?
Gambar sumbangan teman kita dari Magelang.

Memulai Koleksi Uang Kuno


Untuk pertama kalinya PMG menerima pecahan 1000 Gulden wayang.
Grade yang diberikan cukup baik yaitu 40 (Extremely Fine).
Kira-kira uang ini milik siapa ya?


======================================================


Memulai koleksi uang kuno
Setiap orang mempunyai hobby yang berbeda, ada yang senang menonton film, ada yang senang memancing, ada juga yang senang mengumpulkan buku komik, dan lain sebagainya. Salah satu hobby yang cukup langka adalah mengumpulkan uang kuno, yang dalam bahasa kerennya disebut NUMISMATIK. Hobby yang satu ini termasuk unik karena kesukaran dalam memperoleh informasi maupun "barangnya" itu sendiri. Selain itu hobby jenis ini sangat menuntut kesabaran, ketelitian dan tentu keuangan yang mencukupi.



Untuk menjadi seorang kolektor yang baik, banyak sekali hal-hal yang perlu dipelajari. Pertama, seorang kolektor harus mempunyai minat dan kemauan untuk belajar. Banyak literatur dan perkumpulan yang dapat dijadikan acuan, seperti:


1. Katalog Uang Kertas Indonesia cetakan 1996, 2005 ataupun 2010
2. Katalog Uang Logam Indonesia
3. Standard Catalog of World Paper money (Krause)
4. Catalogue of paper money (Johan Mevius)
5. Catalog lelang dari berbagai balai lelang baik internasional maupun lokal
6. Majalah/literatur terbitan Asosiasi Numismatik Indonesia
7. Informasi dari internet seperti blog ini atau lain sebagainya

Dari sumber2 informasi tersebut di atas kita dapat mempelajari banyak hal tentang uang kuno seperti:

(1) Jenis atau seri, contoh: seri Sukarno 1960, seri Bunga Burung 1959, seri Pekerja 1958 dan sebagainya.
(2) Harga dari masing2 uang tersebut, yang sangat dipengaruhi oleh kualitasnya, semakin baik kualitas suatu uang tentu semakin mahal harganya, demikian juga sebaliknya. Karena itu sangatlah penting bagi para kolektor untuk mempelajari kualitas suatu uang. Terdapat istilah2 khusus tentang kualitas suatu uang, seperti Uncirculated, Extremely Fine, Very Fine, Fine, Very Good, Fair dan lain-lain.



Supaya tidak menimbulkan perbedaan pendapat tentang kualitas suatu uang kertas maka kalangan numismatik membutuhkan suatu standarisasi, yang disebut grading.

The international Bank Note Society (IBNS) menerapkan suatu standarisasi grading yang terdiri dari :


1. UNC atau Uncirculated : yaitu keadaan sempurna dengan semua sudut tajam, tidak ada cacat sedikitpun, bersih, dan permukaan kertas masih berkilau. Sebagai ilustrasi adalah selembar uang kertas yang diambil dari segepok uang baru yang masih tersegel.

Uncirculated (UNC)


2. AU atau Almost Uncirculated : keadaan uang yang hampir sama dengan di atas tetapi ada minor mishandling seperti lipatan pada sudut, atau lipatan halus pada bagian tengah, tetapi tidak boleh keduanya, selain itu kondisi uang harus bersih dan berkilau seperti aslinya, semua sudut harus tajam.













NICA 500 gulden kondisi Almost uncirculated (AU)


3. EF/XF atau Extremely Fine : kertas dalam keadaan baik, crisp atau kaku, masih memiliki kilau pada permukaan, dan memiliki maksimum 3 lipatan tipis atau satu lipatan tajam, sudut sedikit membundar.

Wayang 50 gulden kondisi Extremely Fine (EF/XF)


4. VF atau Very Fine : uang kertas telah dipakai namun masih tetap crisp, ada sedikit kotor dan beberapa lipatan vertikal dan horisontal namun tidak sobek.

Wayang 200 gulden kondisi Very Fine (VF)


5. F atau Fine : uang telah sering terpakai dengan beberapa lipatan dan tidak crisp lagi, tidak terlalu kotor, mungkin ada sedikit sobek pada bagian margin tetapi tidak masuk ke gambar, warna masih jelas.

Gedung 30 gulden kondisi Fine (F)


6. VG atau Very Good : uang telah terpakai berkali-kali namun kertas masih utuh, terdapat sobekan pada sudut sehingga tidak tajam lagi, ada sobekan yang masuk hingga ke gambar, mungkin ada bekas karat, dan pada bekas lipatan mungkin ada lubang /sobekan kecil, kertas layu tetapi tidak ada bagian yang hilang karena sobek.

Coen 200 kondisi Very Good (VG)


7. G atau Good : uang telah lama dipakai, warna telah memudar, bekas lipatan yang berkali-kali telah menyebabkan lubang atau sobekan pada bagian pinggir, mungkin ada bekas karat, kotoran atau grafiti, ada bagian yang hilang karena sobek.

ORI 10 rupiah baru kondisi Good (G)


8. Fair : seluruh kertas layu dan kotor akibat pemakaian yang berat, uang telah rusak, terdapat sobekan besar dan ada bagian besar yang hilang.



Barong 10.000 rupiah 1975 kondisi fair



9. P atau Poor : uang telah rusak berat akibat sobekan, karat, bagian yang hilang, grafiti ataupun lubang yang besar, mungkin ada bekas tambalan atau bekas potongan (trimming) pada bagian tepi untuk menutupi bagian yang rusak. Uang yang masuk kategori ini tidak layak dikoleksi kecuali hanya sebagai pengisi sementara atau memang termasuk uang yang sangat langka.


Pemandangan alam 2,5 rupiah 1951 kondisi Poor



Ada kalanya kualitas suatu uang kertas ada di antara 2 kategori, dalam kasus ini sebagian kolektor memakai istilah PLUS (+), MINUS (-) atau penambahan huruf a kecil (ABOUT), contohnya:

1. VF+ (Very Fine Plus), berarti grade berada di antara VF dengan EF tetapi lebih cenderung ke VF

2. VF++ (Very Fine Plus Plus) berarti gradenya berada di antara VF dengan EF tetapi lebih cenderung ke EF

3. aEF (About Extremely Fine), berarti gradenya hampir atau kira-kira berada di EF

4. UNC- (Uncirculated Minus), berarti hampir UNC dengan hanya sedikit sekali kekurangan


Semua cacat yang terdapat pada uang kertas juga harus disebutkan agar tidak terjadi kesalahpahaman seperti:

1. Coretan atau grafiti
2. Bekas selotip, lem atau karat
3. Lubang staples atau pin hole
4. Trimming atau bagian tepi yang di potong
5. Pressing atau disetrika
6. Cleaning, washing atau dicuci dengan menggunakan cairan pembersih
7. Repair atau perbaikan berupa tambalan atau lainnya

Adanya kondisi2 tertentu akan menyebabkan grading uang kertas tersebut menjadi turun sedikitnya satu tingkat.

Sekalipun telah ada standarisasi, perbedaaan grading antara para kolektor seringkali terjadi, masalah ini dapat timbul akibat beberapa faktor misalnya pengalaman, pencahayaan dan suasana yang berbeda. Grading sepantasnya dilakukan oleh orang ketiga yang berpengalaman dan tidak terlibat dalam transaksi.

Beberapa macam istilah grading dalam berbagai bahasa












Kritik dan saran hubungi : arifindr@gmail.com

1874-1924 (seri Bingkai II)


Seri Bingkai II memiliki 3 pecahan yaitu 10, 25 dan 50 gulden.
Walaupun hanya 3 pecahan tetapi seri ini memiliki banyak sekali variasi dengan berbagai jenis tanda tangan, banyak yang belum terdata, karena itu sangat dibutuhkan kerjasama dari teman-teman semua.

Mari kita pelajari bersama.


Tanda air

Semua pecahan seri bingkai II memiliki tanda air bertulisan JAV.BANK yang terletak di bagian tengah uang berdekatan dengan tandatangan secretaris dan president. Tanda air ini sangat penting untuk menentukan keaslian uang. Karena ternyata seri bingkai terdapat juga versi palsunya.

Tanda air bertulisan JAV.BANK


Nomor seri, tanggal dan kode kontrol yang terdapat pada uang ini saling berhubungan seperti yang telah dijelaskan pada artikel terdahulu (16. Rahasia Nomor Seri JP Coen).
Perhatikan contoh di bawah ini :

Nomor seri, tanggal dan kode kontrol pada pecahan 10 Gulden 1923



PECAHAN 10 GULDEN

Bagian depan berwarna biru dengan angka 10 dan tulisan TIEN GULDEN di bagian tengah. Nomor seri terletak di bagian atas (kiri dan kanan), tanda tangan Secretaris serta President di bagian bawah. Tepat di bagian tengah terdapat tulisan BATAVIA disusul dengan tanggal dan tahun cetak.
Bagian belakang berwarna hijau tua dengan kotak besar di tengah berisi undang-undang dalam 3 bahasa (Arab, Jawa dan Mandarin), sedangkan untuk undang-undang dalam bahasa Belanda terletak pada 2 kotak kecil di sisi kiri dan kanan. Terdapat juga nomor kode kontrol pada sisi kanan bawah.

Perhatian : Semua uang seri bingkai II memiliki ukuran yang sama dengan tepi (kanan, kiri dan bawah) yang tidak rata.



Pecahan 10 Gulden seri bingkai II


PECAHAN 25 GULDEN

Corak dan gambarnya mirip dengan pecahan 10 Gulden.
Bagian depan berwarna coklat sedangkan bagian belakang berwarna keunguan.


Pecahan 25 Gulden seri bingkai II


PECAHAN 50 GULDEN

Bagian depan mirip dengan pecahan sebelumnya dengan warna dominan abu-abu. Bagian belakang sangat berbeda, berwarna coklat terang dengan 4 kotak berisi undang-undang dalam 4 bahasa. Kode kontrol terletak di sisi tengah.


Pecahan 50 Gulden seri bingkai II


VARIASI
Sungguh tidak mudah membagi variasi seri ini, tetapi berdasarkan katalog Pick maupun Mevius pengelompokan terbaik mirip dengan seri Coen I yaitu berdasarkan warna nomor serinya.


1. Nomor seri berwarna HITAM


Terdiri dari 2 huruf dimana huruf pertama merupakan acuan cetak diikuti oleh 5 angka.
Angka pertama selalu 0



Seri bingkai II dengan warna nomor seri hitam.
Bandingkan pecahan 50 Gulden di atas dengan gambar di KUKI (H-107), dimanakah letak perbedaannya?


Semua cetakan awal seri ini memiliki nomor seri berwarna hitam, tanda tangan yang terdata menurut Pick dan Mevius sangat banyak, dimulai dari Versteegh - NP van den Berg sampai dengan KF van den Berg - EA Zeilinga (1912-1920).

Pada uang bernomor seri hitam ini terdapat 2 variasi lagi yang dapat ditemukan pada tanda tangan KF van den Berg - EA Zeilinga yaitu :

Pada pecahan 10 dan 25 Gulden memiliki text undang-undang yang berbeda bentuknya yaitu:
a. Berbentuk jajaran genjang (parallelograms) dan
b. Berbentuk kotak (rectangles)


Perbedaan bentuk text undang-undang (jajaran genjang dan kotak) yang ditemukan pada tanda tangan KF van den Berg-EA Zeilinga



Selain perbedaan bentuk, pada tanda tangan tersebut juga terdapat perbedaan isi dari undang-undangnya. Bentuk jajaran genjang memiliki text undang-undang pada gambar sebelah kiri, sedangkan bentuk kotak pada gambar sebelah kanan.

Selain bentuknya ternyata isi undang-undangnya juga berbeda

Pada pecahan 50 Gulden perbedaannya bukan pada bentuk kotak atau jajaran genjang tetapi pada isi dari text undang-undang. Perhatikan gambar di bawah yang berisi text undang-undang dengan ukuran huruf lebih besar (Big) dan dengan ukuran huruf lebih kecil (Small)

Perbedaan isi dan ukuran text undang-undang pada pecahan 50 Gulden dengan nomor seri hitam. Bagian atas hurufnya besar (Big) sedangkan bagian bawah lebih kecil (Small)


Untuk variasi lengkapnya silahkan lihat tabel di bagian akhir artikel ini.


2. Nomor seri berwarna MERAH


Terdiri dari 2 huruf dan 6 angka, 2 angka pertama selalu 00.
Hanya terdiri dari 3 variasi tanda tangan yaitu :
a. L von Hemert - EA Zeilinga (1920-1922)
b. JF van Rossem - EA Zeilinga (1922-1924)
c. JF van Rossem - LJA Trip (1924-1928)

Contoh uang bernomor seri MERAH


3. Nomor seri berwarna HITAM atau MERAH

Khusus untuk tanda tangan L von Hemert - EA Zeilinga terdapat 2 jenis nomor seri yang berwarna HITAM atau MERAH perhatikan gambar di bawah.



Ketiga pecahan 10, 25 dan 50 Gulden yang bertanda tangan L von Hemert - EA Zeilinga memiliki nomor seri dengan warna hitam atau merah.


VARIASI LAIN

1. SPECIMEN

Bila dibandingkan dengan bentuk beredarnya, SPECIMEN bernomor jalan jauh lebih mudah ditemukan. Semua pecahan terdapat versi SPECIMEN nya.

Pecahan 10, 25 dan 50 Gulden SPECIMEN


2. PALSU

Ternyata seri ini dapat ditemukan juga versi palsunya. Bentuknya sangat mirip sehingga sulit dibedakan dengan aslinya. Perbedaan utama adalah cetakannya yang agak kasar dan tidak memiliki tanda air. Perhatikan contoh di bawah.

Pecahan 10 Gulden seri bingkai II palsu. Perhatikan nomor serinya yang tergolong 'cantik'



Pecahan 25 Gulden seri bingkai II palsu, sangat mirip dengan aslinya.


3. STEMPEL REPUBLIK MALUKU SELATAN

Seri bingkai seperti juga seri Coen, banyak yang digunakan oleh RMS sebagai mata uangnya dengan cara memberinya stempel bertulisan Republik Maluku Selatan. Uang di bawah merupakan salah satu contohnya.



4. LUBANG (PUCHED HOLES) BERTULISAN NIETIGDT

Sangat langka dan bernilai tinggi.

Pecahan 25 Gulden 1895 dengan puched holes bertulisan NIETIGDT, terjual seharga Rp.35 juta (belum termasuk fee) pada lelang JA 2008.

5. PROOF (1)

Tidak bernomor seri dan tidak bertandatangan. Bertanggal fiktif 31 Juni 1904 atau 1908 serta memiliki beberapa variasi warna. Bentuk bagian depan mirip dengan versi beredar, tetapi bentuk bagian belakangnya sangat berbeda, perhatikan gambar di bawah.

Proof 10 Gulden berwarna biru


Proof 10 Gulden berwarna hijau


Bagian belakang yang sangat berbeda dibandingkan versi beredarnya


Proof 25 Gulden 31 Juni 1908


Proof 50 Gulden 1908



6. PROOF (2)

Nomor seri WW12345 - WW67890, bertanggal 30 Juni 1904. Uniface dan tidak bertanda tangan. Bentuk yang sangat langka dan bernilai tinggi.

Proof 25 Gulden 1904



HARGA

Selain kualitas, variasi tanda tangan dan nomor seri juga sangat mempengaruhi harga. Mari kita lihat beberapa contoh harga pada lelang internasional.

Pecahan 10 Gulden 1923 (VF) non specimen, ditawarkan seharga 1600 euro pada tahun 2006


Pecahan 25 Gulden SPECIMEN (bekas karat, fine) terjual 300 euro (+ fee) pada tahun 2006

Pecahan 50 Gulden Specimen, ditawarkan seharga 300 euro (Fine) dan 400 euro (VF-) pada tahun 2007


Terjual seharga Rp.9 juta (+ fee) pada lelang JA 2010


Terjual seharga Rp.7.750.000 (+ fee) pada lelang JA 2010


Terjual seharga Rp.8.250.000 (+ fee) pada lelang yang sama

10 Gulden 1920 SPECIMEN, nomor seri hitam, text berbentuk kotak (vd Berg-Zeilinga) kondisi EF terjual sekitar Rp.11 juta pada lelang Kintamoney Oktober 2011.

25 Gulden 1920 SPECIMEN, nomor seri merah (Hemert-Zeilinga), kondisi VF.
Terjual 700 euro (sekitar Rp.8,5 juta belum termasuk fee 21,42%) pada lelang bulan Oktober 2011 di Belanda. Terjadi peningkatan harga sebesar 2,5 kali lipat dibanding lelang tahun 2006.


Dengan demikian jelas bahwa harga versi beredar jauh lebih mahal dibandingkan versi SPECIMEN.
Perbedaan untuk kualitas yang sama sekitar 2-3 kali lipat.


RINGKASAN :

Variasi seri ini sedemikian banyaknya sehingga sangat sulit untuk dijelaskan. Pick mendata setidaknya ada 9 variasi untuk pecahan 10 Gulden, 9 variasi untuk pecahan 25 Gulden dan 7 variasi untuk pecahan 50 Gulden. Mevius mendata lebih sedikit yaitu 7 variasi untuk pecahan 10 gulden, 5 variasi untuk 25 Gulden dan 4 variasi untuk 50 Gulden.
KUKI lebih sedikit lagi, masing2 pecahan hanya terdapat 2 variasi.


Secara singkat variasi-variasi tersebut dapat dikelompokkan sebagai berikut :

1. Nomor seri hitam dengan undang2 berbentuk jajaran genjang (parallelograms) pada pecahan 10 dan 25 Gulden serta undang2 dengan huruf besar untuk pecahan 50 Gulden. Untuk variasi silahkan lihat tabel di bawah.

2. Nomor seri hitam dengan undang2 berbentuk kotak (rectangles) pada pecahan 10 dan 25 Gulden serta undang2 dengan huruf kecil untuk pecahan 50 Gulden
a. KF van den Berg - EA Zeilinga
b. L von Hemert - EA Zeilinga

3. Nomor seri merah
a. L von Hemert - EA Zeilinga
b. JF van Rossem - EA Zeilinga
c. JF van Rossem - LJA Trip

Selain itu terdapat juga versi SPECIMEN, PROOF dan juga palsunya.
Sangat banyak dan rumit, sehingga untuk menyusun artikel ini dibutuhkan waktu yang sangat lama.




Berdasarkan ketiga katalog dapat disimpulkan bahwa :
Pecahan 10 Gulden terdiri dari 12 variasi tanda tangan
Pecahan 25 Gulden terdiri dari 10 variasi + 1 yang tidak terdaftar Hemert-Zeilinga (RED)
Pecahan 50 Gulden terdiri dari 8 variasi
Total semua terdapat setidaknya 31 variasi belum termasuk proof dan versi lain2nya.

Sudah berapa banyak variasi yang teman-teman kumpulkan?
Saran saya, karena sangat sulit mengumpulkan versi beredarnya, maka sebaiknya kumpulkan saja versi SPECIMEN dari masing-masing pecahan. Cukup satu atau paling banyak dua set yang berbeda warna pada nomor serinya (satu set hitam dan satu set merah).
Selamat berburu.............



Jakarta 10 Oktober 2011
Kritik dan saran hubungi arifindr@gmail.com
Sumber :
1. Pick
2. Mevius
3. KUKI
4. Katalog lelang berbagai balai lelang internasional
5. Koleksi gabungan para kolektor