Rabu, 2008 Maret 26

Memulai Koleksi Uang Kuno

Coen Tongkat 300 GULDEN 1901 SPECIMEN (UNC)






Memulai koleksi uang kuno

Setiap orang mempunyai hobby yang berbeda, ada yang senang menonton film, ada yang senang jalan2 di mal, ada juga yang senang mengumpulkan buku komik, dan lain sebagainya. Salah satu hobby yang cukup langka adalah mengumpulkan uang kuno, yang dalam bahasa kerennya disebut NUMISMATIK. Hobby yang satu ini termasuk unik karena kesukaran dalam memperoleh informasi maupun "barangnya" itu sendiri. Selain itu hobby jenis ini sangat menuntut kesabaran, ketelitian dan tentu keuangan yang mencukupi.


Untuk menjadi seorang kolektor yang baik, banyak sekali hal-hal yang perlu dipelajari. Pertama, seorang kolektor harus mempunyai minat dan kemauan untuk belajar. Banyak literatur dan perkumpulan yang dapat dijadikan acuan, seperti:


1. Katalog Uang Kertas Indonesia cetakan 2005
2. Katalog Uang Logam Indonesia
3. Standard Catalog of World Paper money (Krause)
4. Catalogue of paper money (Johan Mevius)
5. Catalog lelang dari berbagai balai lelang baik internasional maupun lokal
6. Majalah/literatur terbitan Asosiasi Numismatik Indonesia
7. Informasi dari internet seperti blog ini atau lain sebagainya

Dari sumber2 informasi tersebut di atas kita dapat mempelajari banyak hal tentang uang kuno seperti:

(1) Jenis atau seri, contoh: seri Sukarno 1960, seri Bunga Burung 1959, seri Pekerja 1958 dan sebagainya.
(2) Harga dari masing2 uang tersebut, yang sangat dipengaruhi oleh kualitasnya, semakin baik kualitas suatu uang tentu semakin mahal harganya, demikian juga sebaliknya. Karena itu sangatlah penting bagi para kolektor untuk mempelajari kualitas suatu uang. Terdapat istilah2 khusus tentang kualitas suatu uang, seperti Uncirculated, Extra Fine, Very Fine, Fine, Very Good, Fair dan lain-lain.











Supaya tidak menimbulkan perbedaan pendapat tentang kualitas suatu uang kertas maka kalangan numismatik membutuhkan suatu standarisasi, yang disebut grading.

The international Bank Note Society (IBNS) menerapkan suatu standarisasi grading yang terdiri dari :



1. UNC atau Uncirculated : yaitu keadaan sempurna dengan semua sudut tajam, tidak ada cacat sedikitpun, bersih, dan permukaan kertas masih berkilau. Sebagai ilustrasi adalah selembar uang kertas yang diambil dari segepok uang baru yang masih tersegel.







Uncirculated (UNC)


2. AU atau Almost Uncirculated : keadaan uang yang hampir sama dengan di atas tetapi ada minor mishandling seperti lipatan pada sudut, atau lipatan halus pada bagian tengah, tetapi tidak boleh keduanya, selain itu kondisi uang harus bersih dan berkilau seperti aslinya, semua sudut harus tajam.


NICA 500 gulden kondisi Almost uncirculated (AU)


3. EF/XF atau Extra Fine : kertas dalam keadaan baik, crisp atau kaku, masih memiliki kilau pada permukaan, dan memiliki maksimum 3 lipatan tipis atau satu lipatan tajam, sudut sedikit membundar.



Coen 500 gulden kondisi Extra Fine (EF)


4. VF atau Very Fine : uang kertas telah dipakai namun masih tetap crisp, ada sedikit kotor dan beberapa lipatan vertikal dan horisontal namun tidak sobek.



Wayang 200 gulden kondisi Very Fine (VF)


5. F atau Fine : uang telah sering terpakai dengan beberapa lipatan dan tidak crisp lagi, tidak terlalu kotor, mungkin ada sedikit sobek pada bagian margin tetapi tidak masuk ke gambar, warna masih jelas.



Gedung 30 gulden kondisi Fine (F)


6. VG atau Very Good : uang telah terpakai berkali-kali namun kertas masih utuh, terdapat sobekan pada sudut sehingga tidak tajam lagi, ada sobekan yang masuk hingga ke gambar, mungkin ada bekas karat, dan pada bekas lipatan mungkin ada lubang /sobekan kecil, kertas layu tetapi tidak ada bagian yang hilang karena sobek.


Coen 200 kondisi Very Good (VG)

7. G atau Good : uang telah lama dipakai, warna telah memudar, bekas lipatan yang berkali-kali telah menyebabkan lubang atau sobekan pada bagian pinggir, mungkin ada bekas karat, kotoran atau grafiti, ada bagian yang hilang karena sobek.


ORI 10 rupiah baru kondisi Good (G)


8. Fair : seluruh kertas layu dan kotor akibat pemakaian yang berat, uang telah rusak, terdapat sobekan besar dan ada bagian besar yang hilang.

9. P atau Poor : uang telah rusak berat akibat sobekan, karat, bagian yang hilang, grafiti ataupun lubang yang besar, mungkin ada bekas tambalan atau bekas potongan (trimming) pada bagian tepi untuk menutupi bagian yang rusak. Uang yang masuk kategori ini tidak layak dikoleksi kecuali hanya sebagai pengisi sementara atau memang termasuk uang yang sangat langka.


.




Ada kalanya kualitas suatu uang kertas ada di antara 2 kategori, dalam kasus ini sebagian kolektor memakai istilah PLUS (+), MINUS (-) atau penambahan huruf a kecil (ABOUT), contohnya:




1. VF+ (Very Fine Plus), berarti grade berada di antara VF dengan EF tetapi lebih cenderung ke VF


2. VF++ (Very Fine Plus Plus) berarti gradenya berada di antara VF dengan EF tetapi lebih cenderung ke EF


3. aEF (About Extra Fine), berarti gradenya hampir atau kira-kira berada di EF


4. UNC- (Uncirculated Minus), berarti hampir UNC dengan hanya sedikit sekali kekurangan







Semua cacat yang terdapat pada uang kertas juga harus disebutkan agar tidak terjadi kesalahpahaman seperti:

1. Coretan atau grafiti
2. Bekas selotip, lem atau karat
3. Lubang staples atau pin hole
4. Trimming atau bagian tepi yang di potong
5. Pressing atau disetrika
6. Cleaning atau dicuci dengan menggunakan cairan pembersih
7. Repair atau perbaikan berupa tambalan atau lainnya

Adanya kondisi2 tersebut akan menyebabkan grading uang kertas tersebut menjadi turun sedikitnya satu tingkat.
Sekalipun telah ada standarisasi, perbedaaan grading antara para kolektor seringkali terjadi, masalah ini dapat timbul akibat beberapa faktor misalnya pengalaman, pencahayaan dan suasana yang berbeda. Grading sepantasnya dilakukan oleh orang ketiga yang berpengalaman dan tidak terlibat dalam transaksi.




















ORI (Oeang Repoeblik Indonesia)





Sejak kita merdeka di tahun 1945, banyak sekali jenis uang kertas yang telah diterbitkan. Beberapa diantaranya sangat sukar didapatkan sehingga mempunyai tingkat kelangkaan yang tinggi. Dan sesuai dengan hukum ekonomi maka uang2 tersebut pasti mempunyai nilai yang tinggi pula.
Di awal2 tahun setelah kemerdekaan, Indonesia menerbitkan uang seri ORI (Oeang Republik Indonesia) yang dibagi menjadi 5 bagian :






1. ORI I yang bertanggal "Djakarta 17 Oktober 1945"
Terdiri dari pecahan 1 sen, 5 sen, 10 sen, 1/2 rupiah, 1 rupiah, 5 rupiah, 10 rupiah dan 100 rupiah. Walaupun cuma terdiri dari 8 jenis tetapi ORI I mempunyai variasi nomor seri yang sangat banyak, lebih dari 20 jenis variasi yang telah ditemukan.
ORI jenis ini ditandatangani oleh Mr. AA Maramis dan sangat mudah didapatkan sehingga tidak mempunyai nilai tinggi.






2. ORI II bertanggal "Djokjakarta 1 Djanuari 1947"
Terdiri dari pecahan 5, 10, 25, 100 rupiah. Selain pecahan 25 rupiah, gambar dan bentuk pecahan lainnya mirip dengan ORI I tetapi ditandatangani oleh Mr. Sjafrudin Prawiranegara. Seperti juga ORI I, seri ORI II sangat mudah ditemukan dan tidak mempunyai nilai tinggi.






3. ORI III yang bertanggal "Djokjakarta 26 Djuli 1947"
Terdiri dari pecahan 1/2, 2 1/2, 25, 50, 100 SDA, 100 tembakau, dan 250 rupiah. Semuanya ditandatangani oleh Mr. AA Maramis.
Salah satu pecahan dari seri ORI III yang mempunyai tingkat kesulitan yang cukup tinggi, adalah pecahan 100 tembakau, disebut demikian karena gambar depannya adalah perkebunan tembakau. Karena kelangkaannya uang ini mempunyai nilai jual cukup tinggi. Harga di katalog KUKI 2005 adalah: Rp. 800 ribu untuk kondisi VG, Rp. 2.500.000 untuk kondisi VF dan Rp. 5.000.000 untuk kondisi mulus. Sedangkan untuk pecahan2 lainnya relatif tidak terlalu sulit ditemukan.






4. ORI IV bertanggal "Jogjakarta 23 Agustus 1948" dan ditandatangani oleh Drs. Moh Hatta
Terdiri dari pecahan yang bernilai ganjil, yaitu 40, 75, 100, 400 dan 600 rupiah. ORI IV mempunyai tingkat kesulitan tertinggi karena satu diantaranya yaitu pecahan 600 rupiah merupakan kunci dari seri ORI. Pecahan 600 tidak diterbitkan dan dicetak hanya pada satu sisi (sisi belakang kosong), terdiri dari dua jenis yaitu yang mempunyai bingkai bertulisan ENR di sisi kirinya dan satu lagi yang tidak mempunyai bingkai. Harga berkisar dari Rp. 8 juta s/d 35 juta.
Pecahan yang mempunyai nilai kesulitan tinggi juga terdapat pada seri ORI IV lainnya yaitu pecahan 75 rupiah yang berharga Rp. 1 s/d 4,5 juta perlembar dan pecahan 100 rupiah.
Untuk pecahan 100 nya, karena gambarnya mirip dengan ORI 100 tembakau Maramis maka sering disebut sebagai ORI 100 tembakau Hatta. harganya sekitar setengah dari ORI 100 tembakau Maramis.






5. ORI Baru (New ORI), bertanggal "Djokjakarta 17 Agustus 1949" dan ditandatangani oleh Mr. Loekman Hakim.
Terdiri dari pecahan 10 sen baru (biru), 10 sen baru (merah), 1/2 rupiah baru (hijau), 1/2 rupiah baru (merah), 1 rupiah baru, 10 rupiah baru (hitam kuning), 10 rupiah baru (coklat merah) dan 100 rupiah baru (ada jenis uncutnya).
Tingkat kesulitan ORI baru sangat tinggi dan mempunyai harga jual yang tinggi pula. Termahal adalah 10 rupiah baru (hitam kuning) bernilai sekitar Rp. 1 s/d 4 juta rupiah, disusul 10 rupiah baru (coklat orange) Rp. 1 s/d 2,5 juta. Sedangkan pecahan 10 sen, 1/2 rupiah dan 1 rupiah masing2 benilai sekitar Rp. 200.000 s/d 1 juta rupiah.





Uang2 seri ORI disamping berpenampilan tidak menarik juga tidak mempunyai pengaman yang baik, sehingga sangat banyak dipalsukan. Para kolektor pemula harus extra hati-hati bila ingin mengoleksi uang2 ORI dan harus banyak belajar sehingga dapat mengetahui mana yang palsu dan mana yang asli. Hampir semua uang ORI ada palsunya termasuk yang bernilai rendah sekalipun, apalagi yang bernilai tinggi. Bahkan untuk pecahan tertentu yaitu 400 rupiah hampir semuanya yang beredar dipasaran adalah palsu.





Secara singkat tingkat kesulitan tertinggi dari uang2 seri ORI adalah sebagai berikut :






1. ORI 600 rupiah (tersulit dan termahal)

ORI 600 (UNC)


2. ORI 100 rupiah tembakau Maramis

ORI 100 Maramis (EF)


3. ORI 75 rupiah


ORI 75 (VF)

4. ORI baru 10 rupiah hitam, kuning

5. ORI baru 10 rupiah coklat, merah

6. ORI baru pecahan2 lainnya

7. ORI 100 rupiah tembakau Hatta


ORI 100 Hatta (AU)











1946 (seri federal I)

Seri Federal I terdiri dari pecahan yang lengkap dimulai dari 5 gulden/roepiah sampai dengan 1000 gulden/roepiah dan mempunyai variasi warna dan nomor seri yang sangat banyak. Semua pecahan kecil 5, 10 dan 25 gulden masing-masing terdiri dari 2 variasi warna sedangkan pecahan besar (50, 100, 500 dan 1000 gulden) hanya terdiri dari 1 macam warna. Semua jenis kecuali pecahan 10 violet, 25 merah, 500 dan 1000 gulden terdiri dari 2 variasi nomor seri. Sehingga total seri ini terdiri dari 10 jenis pecahan dengan 16 variasi nomor seri.

Seri ini mempunyai pengaman yang baik berupa tanda air kisi-kisi yang tersebar di seluruh kertas uang. Walaupun demikian ternyata masih juga ditemukan versi palsunya, terutama untuk pecahan 25 merah dan 1000 gulden.



1. PECAHAN 5 GULDEN/ROEPIAH VIOLET


Terdiri dari dua variasi nomor seri yaitu dua huruf dan tiga huruf. Harga kedua variasi sama yaitu berkisar dari Rp.15.000,- (VF) s/d Rp. 250.000,- (UNC).


Federal 5 gulden ungu variasi 2 dan 3 huruf


2. PECAHAN 5 GULDEN/ROEPIAH COKLAT

Juga terdiri dari 2 variasi nomor seri yaitu dua huruf dan tiga huruf, keduanya cukup mudah ditemukan dan berharga Rp. 150.000,- perlembar UNC.

Federal 5 gulden coklat variasi 2 dan 3 huruf



3. PECAHAN 10 GULDEN/ROEPIAH HIJAU


Terdapat dua variasi nomor seri, dua huruf dan tiga huruf. Cukup sulit ditemukan dalam kondisi bagus. Harga perlembar UNC sekitar Rp. 200.000,-


Federal 10 gulden hijau variasi 2 dan 3 huruf





4. PECAHAN 10 GULDEN/ROEPIAH VIOLET



Hanya terdiri dari satu variasi nomor seri yaitu 3 huruf saja. Jauh lebih sulit ditemukan dibandingkan jenis yang hijau. Harga perlembar UNC sekitar Rp. 300.000,-




Federal 10 gulden violet





5. PECAHAN 25 GULDEN/ROEPIAH MERAH



Merupakan pecahan tersulit ditemukan setelah pecahan 1000 gulden. Harganyapun cukup tinggi bila dibandingkan pecahan-pecahan lainnya berkisar dari Rp.600.000 s/d Rp. 3 juta perlembar. Hanya ada variasi 2 huruf.




Federal 25 gulden merah



Karena harganya yang cukup mahal, uang ini ditemukan versi palsunya. Sepintas bentuknya mirip tetapi bila diperhatikan dengan teliti tampak bahwa versi yang palsu mempunyai gambar yang kasar dan tidak jelas, selain itu nomor serinya bukan di cetak tetapi di stempel sehingga bentuknya sangat berbeda dengan aslinya. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah tanda airnya, versi palsu tidak mempunyai tanda air tetapi dibuat garis-garis yang dibuat mirip dengan aslinya. Versi palsu ini ternyata juga mempunyai nilai koleksi yang cukup tinggi karena sangat sulit didapatkan.




Federal 25 gulden merah palsu, perhatikan bentuk nomor serinya




6. PECAHAN 25 GULDEN/ROEPIAH HIJAU



Terdiri dari 2 variasi nomor seri yaitu dua huruf dan tiga huruf. Versi dua huruf lebih sulit ditemukan dibandingkan versi tiga huruf. Harga kondisi UNC sekitar Rp. 800.000,-




Federal 25 gulden hijau variasi 2 dan 3 huruf





7. PECAHAN 50 GULDEN/ROEPIAH



Satu-satunya pecahan yang mempunyai gambar yang berbeda ini cukup sulit ditemukan dalam kondisi baik, terdiri dari variasi dua dan tiga huruf. Harga di katalog berkisar dari Rp. 40.000 (VF) s/d Rp. 450.000 (UNC).


Federal 50 gulden variasi 2 dan 3 huruf





8. PECAHAN 100 GULDEN/ROEPIAH



Ketiga pecahan terbesar, 100, 500 dan 1000 gulden bergambar sama yaitu sawah. Pecahan 100 ini terdiri dari variasi dua dan tiga huruf. Harga kondisi UNC sekitar Rp. 1 juta perlembar.


Federal 100 gulden variasi 2 dan 3 huruf





9. PECAHAN 500 GULDEN/ROEPIAH



Berwarna merah dan hanya ada satu variasi nomor seri yaitu dua huruf. Pecahan ini dalam kondisi baik sangat sulit ditemukan. Harga di katalog sekitar Rp. 2 juta perlembar UNC.


Federal 500 gulden





10. PECAHAN 1000 GULDEN/ROEPIAH


Untuk membedakannya dengan pecahan 1000 gulden lainnya, uang ini sering disebut sebagai 1000 gulden sawah. Pecahan terbesar ini mempunyai warna hitam yang paling tidak menarik dan paling jelek bila dibandingkan dengan pecahan2 lainnya, sangat banyak ditemukan versi palsunya dan menurut katalog berharga jual sangat tinggi yaitu dikisaran Rp. 1 juta (VF) s/d Rp. 6 juta (UNC). Pecahan 1000 gulden ini sangat sulit ditemukan dan hanya tediri dari satu variasi nomor seri yaitu dua huruf.




Federal 1000 gulden




Versi palsu dari pecahan ini tersebar secara luas dan cukup mudah ditemukan. Cara membedakannya juga mirip dengan pecahan 25 gulden merah yaitu warna dan gambar yang kasar serta nomor seri yang di stempel, bukan di cetak. Harga jual versi palsunya sekitar 10%-20% dari aslinya.




Federal 1000 gulden palsu







Selain versi beredarnya, seri federal I ini juga ditemukan versi SPECIMEN nya. Bentuk ini bernomor seri XZ 012345 dan XZ 067890. Tentu saja bentuk SPECIMEN ini sangat langka dan berharga jual sangat tinggi.




Federal 50, 100, 500 dan 1000 gulden SPECIMEN





Tambahan untuk seri federal I (1946)


Semua nomor seri uang federal ini terdiri dari 2 atau 3 huruf diikuti oleh 6 angka dan selalu dimulai dengan angka 0 (perhatikan gambar2 di atas), tetapi ternyata ditemukan juga yang dimulai dengan angka 1. Dan menurut para ahli numismatik versi yang dimulai dengan angka 1 ini adalah uang pengganti (replacement) sehingga lebih sulit ditemukan dan mempunyai nilai jual yang sedikit lebih tinggi daripada versi yang biasa.



Federal 100 gulden pengganti (replacement) dimulai dengan angka 1
.
.



Kesimpulan seri Federal I 1946


1. Variasinya sangat banyak sekali
2. Sulit untuk menemukannya dalam kondisi baik
3. Terdapat versi palsunya untuk pecahan 25 merah dan 1000 gulden
4. Urutan nilai termahal adalah:
-Pecahan 1000 gulden
-Pecahan 25 gulden merah
-Pecahan 500 gulden
-Pecahan 100 gulden, disusul pecahan 50, 25 hijau dan 10 violet
5. Nilai terendah terdiri dari pecahan 5 gulden (coklat dan violet) serta 10 gulden hijau
6. Terdapat versi SPECIMEN yang sangat langka
7. Terdapat versi replacement yang dimulai dengan angka 1
8. Harga tercantum adalah harga menurut katalog KUKI 2005, saat ini mungkin saja sudah terjadi perubahan, mohon dinilai dengan bijak.








Saran dan kritik hubungi arifindr@gmail.com
Jakarta September 2008






































































































































































































































































































































































1947 (Seri federal II)

Seri Federal II bertanggal 1 Desember 1947, terdiri dari 2 pecahan kecil yaitu 10 sen dan 25 sen. Kedua pecahan ini berbeda dari seri-seri federal lainnya cetakan De Javasche bank karena tercantum kata INDONESIA untuk pertama kalinya.


PECAHAN 10 sen

Berwarna hijau di bagian depan dengan corak flora dan pohon kelapa berwarna merah di bagian belakang. Harga perlembar sekitar Rp. 20.000,- UNC.



Pecahan 10 sen 1947



PECAHAN 25 sen

Corak flora berwarna coklat di bagian depan dan hijau di bagian belakang. Harga sama dengan pecahan 10 sen sekitar Rp. 20.000,- perlembar UNC


Pecahan 25 sen 1947

Kedua pecahan ini relatif murah dan mudah didapatkan, sehingga tidak ada kesulitan bagi para pemula untuk mengoleksinya dalam kondisi UNC.




Versi unissued

Selain versi beredarnya, ternyata juga terdapat versi unissued nya (tidak beredar) dan terdiri dari 4 pecahan uniface (satu sisi saja, sisi belakangnya kosong) yang diperkirakan dibuat pada tahun 1946-1947. Pecahan tersebut adalah 1 sen, 5 sen, 10 sen dan 25 sen


Versi unissued ini tidak tercantum di dalam katalog manapun, sangat-sangat langka sehingga mempunyai harga jual yang sangat tinggi. Harga terakhir sekitar Rp. 40 juta per set!! Sangat jarang kolektor yang memiliki seri ini secara lengkap.

Pecahan 1,5,10 dan 25 sen unissued 1946/1947

1948 (seri federal III)

Merupakan Seri DE JAVASCHE BANK yang terakhir


Terdiri dari 3 pecahan yaitu setengah roepiah, satoe roepiah dan doea roepiah setengah. Pada seri ini dipergunakan dua macam mata uang yaitu roepiah dan gulden dengan perbandingan yang sama. Ejaan yang dipergunakan adalah ejaan lama.


PECAHAN SETENGAH ROEPIAH (VIJFTIG CENT)

Berwarna ungu muda dengan gambar depan bunga anggrek bulan berharga sekitar Rp. 100.000,- perlembar UNC.
Terdiri dari 4 variasi nomor seri:



a. 1 huruf A kecil di atas 2 angka kecil



b. 2 huruf AA sedang di atas 2 angka besar



c. 2 huruf AB sedang di atas 2 huruf besar



d. 1 huruf A besar di atas 2 angka besar



PECAHAN SATOE ROEPIAH (EEN GULDEN)

Berwarna biru dengan gambar pohon kelapa, berharga sekitar Rp. 150.000,- perlembar UNC.
Terdiri dari 5 variasi nomor seri:



a. 1 huruf B kecil di atas 1 angka kecil



b. 1 huruf B kecil di atas 2 angka kecil



c. 2 huruf BB sedang di atas 1 angka sedang



d. 2 huruf BB sedang di atas 2 angka sedang



e. 1 huruf B besar di atas 2 angka besar



PECAHAN DOEA ROEPIAH SETENGAH (TWEE EN EEN HALVE GULDEN)

Berwarna merah muda dengan gambar bunga melati. Pecahan ini yang tersulit untuk didapatkan, harga perlembar UNC sekitar Rp.250.000,-
Terdiri dari 3 variasi nomor seri:



a. 1 huruf c kecil di atas 1 angka kecil



b. 1 huruf c kecil di atas 2 angka kecil



c. 1 huruf C besar di atas 2 angka besar


Selain bentuk beredarnya juga terdapat bentuk SPECIMEN yang bernomor seri 000000.
Bentuk ini selain langka juga mempunyai harga yang tinggi, lebih dari Rp. 6 juta per set



Seri Federal III 1948 SPECIMEN (000000)


KESIMPULAN

1. Seri terakhir De Javasche Bank sebelum di nasionalisai menjadi Bank Indonesia
2. Cukup banyak variasi nomor serinya, beberapa sangat sukar ditemukan
3. Pecahan 2,5 roepiah yang tersulit dicari untuk kondisi UNC nya
4. Terdapat bentuk SPECIMEN yang bernilai tinggi

Selasa, 2008 Maret 25

1950-1956

Seri Republik Indonesia Serikat (1950)
Terdiri dari pecahan 5 dan 10 rupiah

Seri Republik Indonesia Serikat (RIS) yang bertanggal 1 Djanuari 1950 ini merupakan seri pengganti uang ORI, dicetak oleh Thomas De La Rue and Co. Ltd. London dan ditandatangani oleh Mr. Sjafruddin Prawiranegara.

Seri yang beredar hanya terdiri dari 2 pecahan yaitu 5 dan 10 rupiah. Dalam kondisi biasa (bukan UNC) kedua pecahan ini sangat mudah ditemukan dan hanya berharga puluhan ribu rupiah saja. Tetapi dalam kondisi UNC kedua pecahan ini memiliki tingkat kesulitan sangat tinggi.

Pecahan 5 rupiah bernomor seri D/1 sampai dengan D/10 sedangkan pecahan 10 rupiah dari E/1 sampai dengan E/19. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pecahan 5 lebih sedikit beredarnya dibanding pecahan 10. Tidak heran bila harga pecahan 5 UNC lebih tinggi dibandingkan pecahan 10 nya. Menurut KUKI 2005 yaitu sekitar Rp. 350.000 dibanding Rp. 250.000,- . Tetapi harga pasaran telah melampaui nilai tersebut, pecahan 5 rupiah sekarang berkisar Rp. 600.000 dan pecahan 10 rupiah sekitar Rp. 400.000,-
.
.

Seri RIS 5 dan 10 rupiah


Selain kedua pecahan tersebut, terdapat juga seri specimen yang bernomor seri 000000 dan seri proof yang terdiri dari pecahan 5, 10, 25, 50 dan 100 rupiah yang rencananya dicetak oleh Security Banknote Company yang mencetak seri pemandangan alam 1951 dan 1953. Seri proof ini dilelang di Amerika beberapa waktu yang lalu dan dihargai US$1500 s/d $3000.



RIS 100 rupiah Proof (SBNC)




RIS 10 rupiah specimen (TDL and Co)



RIS specimen bernomor seri 000000



Salah satu bentuk vignete yang tidak lazim yang rencananya akan dikeluarkan oleh Bank Sirkulasia Indonesia. Terjual dalam lelang seharga 15 juta rupiah lebih.


Kesimpulan seri RIS

1. Sukar untuk mencari kondisi UNC nya
2. Harga pecahan 5 rupiah lebih mahal dibandingkan 10 rupiah
3. Terdapat bentuk specimen dan proof yang sangat langka dan bernilai tinggi

Seri Pemandangan Alam I 1951 dan Seri Pemandangan Alam II 1953



Terdiri dari pecahan 1 dan 2,5 rupiah

Disebut seri pemandangan alam I karena pada tahun 1953 juga diterbitkan seri pemandangan alam II dengan gambar yang sama tetapi beda tanda tangan. Seri pertama ini ditandatangani oleh Mr. Sjafrudin Prawiranegara bertahun 1951 dan yang kedua oleh Drs. Soemitro Djojohadikoesoemo bertahun 1953. Kedua seri ini dicetak oleh Security Banknote Company.

Karena masa edar yang lebih singkat, seri pemandangan alam II sedikit lebih sukar ditemukan dibandingkan yang pertama sehingga harganyapun sedikit lebih mahal. Semua pecahan seri pemandangan alam relatif mudah ditemukan termasuk yang UNC nya sekalipun. Karena itu bagi para kolektor pemula rasanya tidak akan mengalami kesulitan untuk melengkapi seri ini dengan kondisi yang terbaik.
Harga seri pemandangan alam I tahun 1951 yang UNC sekitar Rp.20.000,- perlembar baik untuk pecahan 1 maupun 2,5 rupiah dan untuk seri pemandangan alam II sekitar Rp.30.000,- perlembar.
Beberapa waktu yang lalu, Security Banknote Company melalui salah satu balai lelang di Amerika melelang bentuk specimen, uncut dan proof dari seri ini. Bentuk yang tidak lazim ini sangat langka ditemukan dan tentu saja bernilai sangat tinggi.




Jenis proof pemandangan alam I, perhatikan perbedaannya bila dibandingkan dengan jenis yang beredar antara lain angka 1 dan 2,5 yang lebih besar, adanya tulisan Security Banknote Company di bagian bawah, gambar pohon kelapa yang berbeda serta adanya burung garuda pada sisi kanan pecahan 1 rupiah.


Bentuk specimen dari pecahan 2,5 rupiah (1951)



Bentuk uncut dari pecahan 1 rupiah (1953)


Kesimpulan seri pemandangan alam I dan II

1. Sangat mudah menemukan yang berkondisi UNC
2. Harga relatif murah
3. Terdapat bentuk-bentuk yang tidak lazim seperti proof, specimen dll


Seri Kebudayaan 1952

Terdiri dari pecahan 5, 10, 25, 50, 100, 500 dan 1000 rupiah





Seri kebudayaan adalah seri pertama yang dicetak oleh Bank Indonesia, sehingga mempunyai nilai sejarah yang kental.

Seri ini sangat diminati oleh para kolektor lokal maupun mancanegara karena memiliki gambar dan corak yang sangat menarik. Tingkat kelangkaan seri ini sangat bervariasi tergantung dari nomor seri dan kualitasnya. Kita akan bahas satu persatu.

Pecahan 5 rupiah:
.
Terdiri dari 3 variasi nomor seri yaitu 1 huruf , 2 huruf dan 3 huruf. Tingkat kesulitan mendapatkan 1 huruf berlipatganda bila dibandingkan dengan yang lainnya, apalagi pada kondisi UNC. Tidak heran bila harganyapun sekitar 2-3 kali lipat variasi lainnya. Menurut KUKI 2005 harga variasi 1 huruf sekitar Rp. 300.000 (UNC), bandingkan dengan kedua variasi lainnya yang berharga sekitar Rp. 150.000 (UNC).


Pecahan 5 rupiah seri kebudayaan 1952 variasi 1,2 dan 3 huruf


Pecahan 10 rupiah:

Terdiri dari 3 variasi nomor seri yaitu: Percetakan Johan Enschede en Zonen (JEZ) 2 huruf, JEZ 3 huruf dan Pertjetakan Kebajoran 3 huruf. Variasi pertama sedikit lebih sukar ditemukan, sedangkan kedua variasi lainnya relatif mudah didapat. Harga pecahan 10 rupiah ini tidak terlalu mahal hanya sekitar Rp. 100.000,- perlembar UNC


Pecahan 10 rupiah seri kebudayaan 1952 lengkap dengan variasi nomor seri



Pecahan 25 rupiah:

Juga terdiri dari 3 variasi yaitu JEZ 2 huruf, JEZ 3 huruf dan Pertjetakan Kebajoran 3 huruf. Tingkat kesulitan ketiga variasi relatif sama, tetapi variasi pertama agak lebih sulit ditemukan dibandingkan kedua variasi lainnya. Kondisi pecahan ini yang UNC sangat sukar ditemukan sehingga harganyapun relatif tinggi yaitu sekitar Rp. 300.000,-

Pecahan 25 rupiah seri kebudayaan 1952 lengkap dengan variasi nomor seri




Pecahan 50 rupiah:

Terdiri dari 2 variasi nomor seri yaitu 2 huruf dan 3 huruf. Kondisi UNC untuk pecahan ini sulit dicari dan bernilai cukup tinggi yaitu sekitar Rp. 450.000,- bahkan di lelang terakhir kondisi UNC laku senilai 900 ribu rupiah.

Pecahan 50 rupiah 1952 dengan 2 variasi nomor seri

Pecahan 100 rupiah:

Terdiri dari 2 variasi, yaitu 2 huruf yang lebih sulit ditemukan dan 3 huruf yang lebih mudah didapat. Kondisi Fine atau Very Fine sangat mudah ditemukan tetapi untuk kondisi UNC nya amat sangat sulit didapat. Harga untuk kondisi UNC saat ini sudah berkisar diatas 1 juta rupiah perlembarnya.
.
Pecahan 100 rupiah 1952 lengkap dengan 2 variasi nomor seri

Harap diperhatikan bahwa pecahan 100 sangat banyak dipalsukan, sehingga untuk para pemula harap berhati2 bila tidak ingin tertipu. Perbedaan antara yang asli dengan yang palsu cukup sulit dijelaskan, tetapi secara umum terletak pada tanda air nya dimana yang palsu mempunyai tanda air yang jelas terlihat dari sisi belakang walaupun tidak diterawang. Selain itu yang palsu kebanyakan mempunyai kondisi sangat baik dan bernomor seri 2 huruf (biasanya ZG). Harap perhatikan gambar yang saya lampirkan, uang yang bagian atas adalah asli dan yang bawah adalah palsu.


Bagian depan uang asli (atas) dan palsu (bawah), pada yang palsu kertas licin dan gambar muka lebih kasar.



Lebih mudah mengenali keaslian uang dari sisi bagian belakang, dimana tanda air yang palsu (bawah) tampak jelas walaupun tidak diterawang.


Pecahan 500 rupiah:

Juga terdiri dari variasi 2 huruf (sedikit lebih sukar) dan 3 huruf. Pecahan ini mempunyai nomor seri yang dimulai dengan huruf X sehingga sering diartikan sebagai seri pengganti. Sepengetahuan saya belum pernah saya melihat nomor seri yang dimulai selain dari huruf X. Pecahan ini mempunyai tingkat kesulitan tinggi sekali terutama untuk kondisi UNC nya, harga kondisi UNC di pasaran saat ini sudah mencapai kisaran Rp. 1.500.000,- , jauh di atas harga katalog yang cuma Rp. 500.000,-


Pecahan 500 rupiah 1952 variasi dua dan tiga huruf


Pecahan 1000 rupiah:

Merupakan pecahan tertinggi dari seri ini, bergambar patung relif Hindu yang sangat menarik. Diburu oleh semua kolektor mancanegara dan sangat-sangat sukar mendapatkannya dalam kondisi UNC, apalagi amat sangat banyak ditemukan palsunya. Perbedaan antara asli dengan yang palsu selain terletak pada tanda airnya seperti yang saya jelaskan pada pecahan 100, juga terletak pada nomor serinya dimana yang palsu biasanya terdiri dari 2 huruf. Terdapat dua variasi nomor seri yaitu 2 huruf dan 3 huruf dan selalu dimulai dengan huruf W. Patut diingat bahwa tidak seperti pecahan lainnya dimana variasi 2 huruf lebih sulit ditemukan, pada pecahan ini justru variasi 3 huruf yang lebih sulit didapatkan. Harga kondisi UNC di katalog adalah Rp. 800.000,- tetapi pada kenyataannya di pasaran bernilai sekitar 1,5 s/d 2 juta rupiah perlembar.


Pecahan 1000 rupiah 1952 variasi dua dan tiga huruf

Saya sertakan juga perbandingan gambar yang asli (atas) dengan yang palsu (bawah). Perhatikan tanda airnya yang terlihat dengan jelas dari bagian belakang.

Perbandingan yang asli (atas) dan palsu (bawah)
.
.
Bentuk-bentuk SPECIMEN
Seri kebudayaan 1952 juga terdapat dalam bentuk SPECIMEN dan PROOF yang bernomor seri 012345 dan 067890 bukannya 000000 seperti pada seri2 yang lain. Bentuk SPECIMEN dan PROOF ini bernilai sangat tinggi dan sangat sukar didapatkan.

Pecahan 5 rupiah 1952 SPECIMEN tanpa nomor seri
.
.


Pecahan 25 rupiah PROOF bernomor seri 012345-067890
.
.



Pecahan 100 rupiah 1952 PROOF
.
.





Pecahan 500 rupiah 1952 PROOF, perhatikan perbedaan warna antara keduanya
.
.



Kesimpulan dari seri kebudayaan 1952 :
a. Memiliki corak yang sangat menarik dan diburu oleh banyak kolektor mancanegara.
b. Terdapat jenis palsunya untuk pecahan 100 dan 1000 rupiah.
c. Memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi untuk kondisi UNC nya

d. Terdapat bentuk-bentuk SPECIMEN dan PROOF yang sangat langka
e. Urutan tingkat kesulitan (untuk kondisi UNC) :

1. Pecahan 1000 rupiah asli, terutama untuk variasi 3 huruf
2. Pecahan 100 rupiah asli
3. Pecahan 500 rupiah
4. Pecahan 50 rupiah
5. Pecahan 5 rupiah variasi 1 huruf
6. Pecahan 25 rupiah
7. Pecahan 5 rupiah variasi lainnya
8. Pecahan 10 rupiah
9. Pecahan 100 dan 1000 rupiah palsu
.
.
.





SERI SUKUBANGSA 1954 dan 1956

Terdiri dari pecahan satu dan dua setengah rupiah, relatif mudah didapatkan dan berharga tidak terlalu mahal.
Seri Sukubangsa 1954 di tandatangani oleh Dr. Ong Eng Die bernilai jual sekitar 10 ribu rupiah perlembar UNC




Seri sukubangsa 1954, terdiri dari pecahan 1 dan 2,5 rupiah




Seri Sukubangsa 1956 ditandatangani oleh Mr. Jusuf Wibisono, memiliki gambar yang sama persis dengan yang 1954 dan bernilai jual sedikit lebih murah yaitu sekitar Rp.5000/lembar.


Seri Sukubangsa 1956 terdiri dari pecahan 1 dan 2,5 rupiah
.
.
Seri sukubangsa merupakan seri yang paling mudah ditemukan, bahkan bentuk gepokannyapun juga masih banyak tersedia, tidak heran harganyapun juga sangat murah. Pecahan 1 rupiahnya karena bergambar perempuan jawa yang cantik maka seringkali dipakai sebagai mas kawin.






Minggu, 2008 Maret 23

1957 (seri hewan)

Seri Hewan 1957
Terdiri dari pecahan 5, 10, 25, 50, 100, 500, 1000 dan 2500 rupiah
Serta pecahan 5000 rupiah yang tidak diterbitkan


Seri hewan merupakan seri paling menarik, paling dicari dan memiliki tingkat kesulitan paling tinggi dibanding seri2 lainnya. Untuk melengkapi seri ini dibutuhkan waktu yang lama, kerja keras dan dana yang sangat besar. Beberapa pecahan yaitu 10 dan 25 rupiah memiliki harga yang fantastis dan sangat2 sukar didapatkan.
Semua pecahan seri hewan tidak memiliki tahun penerbitan, tetapi walaupun demikian seri ini memiliki gambar dan warna yang sangat menarik dan bersifat universal. Setiap orang di seluruh dunia pasti mengetahui nama2 hewan yang tercetak di seri ini, sehingga tidak heran menjadi incaran para kolektor mancanegara.


Pecahan 5 rupiah


Bergambar orang utan di bagian depan dan candi Prambanan di bagian belakang, memiliki tiga variasi nomor seri, yaitu 1 huruf, 2 huruf dan 3 huruf. Variasi 1 huruf sangat sukar ditemukan dan biasanya berada dalam kondisi kurang baik. Variasi 1 huruf yang UNC jarang sekali ditemukan dan memiliki nilai jual sangat tinggi. Harga di katalog adalah Rp. 400.000, tetapi pada kenyataannya bisa jauh di atas harga tersebut.
Variasi 2 huruf UNC cukup sering ditemukan apalagi dengan variasi 3 hurufnya sangat mudah didapatkan. Harga UNC kedua variasi tersebut berkisar Rp. 150.000 s/d Rp.200.000 perlembarnya.






Pecahan 10 rupiah


Bergambar Rusa di bagian depan dan perahu kora2 di bagian belakang. Pecahan ini ditarik kembali setelah sempat beredar selama beberapa hari. Sehingga tingkat kesulitan untuk mendapatkan pecahan 10 rupiah sangatlah tinggi. Sebagian besar versi yang tersedia di pasaran adalah versi SPECIMEN. Harga pecahan 10 rupiah versi SPECIMEN saat ini sangat mungkin bernilai sekitar sepuluh sampai dengan beberapa belas juta rupiah, sedangkan versi beredarnya tidak dapat ditentukan karena sangat langka dan hampir tidak pernah terlihat.






Pecahan 25 rupiah


Seperti juga dengan pecahan 10 rupiah, pecahan 25 rupiah yang bergambar badak ini hanya beredar beberapa hari sehingga tingkat kesulitan uang ini juga sama besarnya dengan pecahan 10 rupiah. Harga versi SPECIMEN nya sama dengan pecahan 10 rupiah sedangkan versi beredarnya sangat-sangat langka sehingga harga pasaran juga tidak dapat dipastikan. Kedua pecahan 10 dan 25 rupiah ini merupakan kunci dari semua uang terbitan Bank Indonesia. Hanya beberapa gelintir kolektor saja yang memiliki kedua pecahan ini.






Pecahan 50 rupiah

Bergambar buaya di bagian depan dan mesjid Raya Deli di bagian belakang, terdiri dari 2 variasi nomor seri yaitu satu huruf dan dua huruf. Variasi satu huruf jauh lebih sulit didapatkan daripada variasi dua huruf dan berharga sekitar satu setengah kali nya. Harga UNC variasi 2 huruf pecahan ini sekitar Rp.400.000 s/d Rp.500.000,- perlembarnya.






Pecahan 100 rupiah

Pecahan yang bergambar tupai ini merupakan pecahan yang paling mudah didapat dan berharga jual di bawah pecahan2 lainnya, pecahan ini mempunyai tiga variasi nomor seri yaitu satu huruf, dua huruf dan tiga huruf. Seperti yang lainnya pecahan variasi satu huruf lebih sulit didapatkan dibandingkan variasi2 lainnya. Harga UNC variasi dua huruf dan tiga huruf adalah sama yaitu berkisar antara Rp. 250.000 s/d Rp.300.000, sementara harga variasi satu huruf sekitar satu setengah sampai dua kalinya.


Pecahan 500 rupiah
Pecahan bergambar macan ini merupakan salah satu uang kertas yang paling dicari oleh para kolektor baik lokal maupun mancanegara. Gambarnya yang bagus dengan tema universal disertai warna yang sangat menarik membuat uang ini semakin lama semakin sulit ditemukan. Pecahan 500 rupiah ini terdiri dari dua variasi yaitu satu huruf dan dua huruf. Tingkat kesulitan maupun harga variasi satu huruf berlipat-lipat dibandingkan variasi dua huruf. Harga kondisi VF variasi dua huruf saat ini berkisar sekitar Rp.1 jutaan, untuk kondisi XF sudah Rp.2 jutaan dan untuk UNC nya menurut data terakhir sudah melebihi Rp.4 juta perlembarnya. Sangat tidak masuk akal bukan? Karena beberapa tahun yang lalu pecahan ini sangat banyak ditemukan dan harganyapun hanya berkisar ratusan ribu sampai Rp.1 jutaan untuk kondisi UNC. Saat ini hampir tidak mungkin kita menemukannya dengan harga sedemikian.






Pecahan 1000 rupiah


Seperti pada pecahan 500 rupiah, uang yang bergambar gajah ini juga sangat digemari oleh para kolektor. Semakin lama semakin sukar untuk mendapatkan jenis yang UNC sehingga harganyapun semakin membumbung tinggi. Terdapat dua variasi nomor seri, satu huruf dan dua huruf. Variasi satu huruf tentu saja lebih sukar didapatkan dibanding variasi dua huruf, sehingga harganyapun juga lebih tinggi sekitar 2 kalinya. Harga variasi dua huruf kondisi VF sekitar Rp.750.000, XF sekitar 1,5 juta dan UNC sekitar 2 jutaan rupiah.






Pecahan 2500 rupiah

Bergambar komodo, dengan bentuk yang besar dan corak yang menawan merupakan salah satu uang kertas yang paling diburu. Pecahan ini relatif mudah didapatkan bahkan yang UNC nya pun masih bisa diperoleh di kisaran harga Rp. 1,5 juta. Terdiri dari tiga variasi nomor seri, satu huruf, dua huruf dan dua huruf diatas satu huruf. Variasi satu huruf sangat langka dan sangat sulit ditemukan sehingga harganyapun berlipat2 dibandingkan variasi2 lainnya.






Pecahan 5000 rupiah (tidak beredar)


Pecahan yang bergambar banteng ini merupakan salah satu kunci dari seluruh uang kertas yang pernah beredar di Indonesia. Pecahan 5000 rupiah ini berukuran sangat besar (97 x 190 mm) bahkan merupakan uang kertas Indonesia yang mempunyai ukuran terbesar. Pecahan berwarna merah ini tidak jadi diterbitkan dan hanya terdapat dalam bentuk SPECIMEN bernomor seri 5000A 0000, walaupun menurut kabar angin terdapat bentuk versi yang beredarnya. Harga pecahan ini tidak dapat ditentukan karena sangat langka dan amat jarang beredar di kalangan kolektor. Menurut rumor terbaru harganya berkisar di antara Rp.25 juta perlembarnya. Karena harganya yang sangat tinggi maka tidak heran beredar bentuk palsunya. Salah satu ciri yang membedakan adalah ukuran versi yang palsu jauh lebih kecil dari aslinya, dan tentu saja warnanya tidak seterang aslinya.




Selain bentuk beredarnya, seri binatang juga terdapat bentuk2 lain seperti bentuk SPECIMEN dan bentuk PROOF.


SPECIMEN SET seri Hewan 1957

Bentuk SPECIMEN lebih mudah ditemukan daripada bentuk PROOF dan beberapa kali dijual di lelang2 baik lokal maupun internasional. Pada salah satu lelang terkenal di Jakarta beberapa saat yang lalu dijual satu set lengkap seri hewan dalam bentuk SPECIMEN dengan harga pembukaan Rp.51.750.000 belum termasuk fee sekitar 15%.



Bentuk yang lebih sukar ditemukan adalah bentuk PROOF. Bentuk yang satu ini mempunyai beberapa variasi, ada yang tanpa cap SPECIMEN tetapi terdapat tulisan PROOF di bagian kiri bawah.




Terdapat juga variasi berupa lubang kecil2 bertulisan CANCELLED menyilang di bagian tengah, dengan nomor seri PROOF berupa tulisan di bagian atas.



Variasi PROOF seperti ini sangat jarang ditemukan dan berharga jual jauh di atas bentuk SPECIMEN.

Kesimpulan dari seri Hewan 1957

1. Seri paling diburu oleh semua kolektor
2. Seri paling sulit dicari dan paling mahal, membutuhkan dana sedikitnya 50 jutaan untuk melengkapi seri ini
3. Merupakan seri penentu atau kunci dari seluruh uang kertas Indonesia. Merupakan impian tiap kolektor untuk melengkapi seri ini
4. Selain bentuk beredarnya juga terdapat bentuk-bentuk SPECIMEN dan POOF
5. Tingkat kesulitan dari seri ini:
- Bentuk beredar dari pecahan 10 dan 25 rupiah (sangat sulit dan sangat mahal)
- Bentuk PROOF
- Pecahan 5000 SPECIMEN
- Pecahan 10 dan 25 SPECIMEN
- Pecahan2 SPECIMEN lainnya
- Variasi satu huruf pecahan 2500 (tersulit), 500, 1000, 5 dan 100 rupiah
- Variasi lainnya pecahan UNC dari 500 (macan), 1000 (gajah), 2500 (komodo)
- Variasi 2 atau 3 huruf pecahan 5 (orang utan) dan 100 (tupai) adalah yang termurah dan tebanyak ditemukan
























1958 (seri pekerja)

Seri Pekerja 1958

Terdiri dari pecahan 5, 10, 25, 50, 100, 500, 1000 violet, 1000 merah coklat, 5000 coklat, dan 5000 violet.
Seri Pekerja tahun 1958 ini merupakan seri yang termudah didapatkan, tidak banyak variasi, dan berharga tidak terlalu mahal. Semua pecahan relatif mudah didapatkan termasuk yang berkondisi UNC nya sekalipun kecuali untuk pecahan 500 dan 5000 coklat.
Semua pecahan mempunyai tanda air bergambar kepala banteng dan hanya mempunyai satu variasi kecuali pecahan 5000 violet yang bertanda air garuda pancasila dengan dua variasi.


Pecahan 5, 10, 25, 50 dan 100 rupiah

Relatif mudah didapatkan, berharga tidak terlalu mahal hanya berkisar puluhan ribu rupiah saja. Seharusnya para kolektor pemula tidak akan mengalami kesukaran untuk mengumpulkan yang berkondisi UNC. Khusus pecahan 5 rupiah tidak tercantum tahun penerbitan.







Pecahan 500 rupiah



Merupakan pecahan tersulit didapatkan, apalagi yang berkondisi UNC. pecahan ini adalah kunci dari seri Pekerja 1958. Harga UNC sekitar 1 juta rupiah.






Pecahan 1000 rupiah


Terdiri dari dua variasi, yaitu violet dan merah coklat. Harga UNC keduanya relatif sama yaitu sekitar Rp. 150.000,- walaupun sebenarnya variasi merah coklat agak lebih sukar didapatkan.






Pecahan 5000 rupiah (coklat)




Untuk yang berkondisi biasa sangat mudah didapatkan, tetapi yang berkondisi UNC sangat sulit ditemukan, sehingga pecahan ini mempunyai rentang harga yang sangat lebar. Kondisi biasa bisa dengan mudah dibeli dengan harga cuma puluhan ribu rupiah saja tetapi yang berkondisi UNC bisa mencapai Rp.800.000,- perlembarnya.







Pecahan 5000 rupiah (violet)




Mempunyai gambar yang sangat mirip dengan pecahan 5000 coklat, tetapi mempunyai water mark yang berbeda. Tidak seperti pecahan2 lainnya yang bergambar kepala banteng, pecahan berwarna violet ini bergambar Garuda Pancasila. Sangat mirip dengan pecahan 10.000 (1964).
Terdapat dua variasi water mark, yang pertama ada di bagian tengah dan yang kedua ada di kedua sisi kiri dan kanan. Variasi kedua lebih sulit didapatkan. Pecahan ini biasa ditemukan dalam kondisi yang baik dan berharga UNC sekitar Rp.400.000,-





Variasi pertama, mempunyai water mark Garuda Pancasila di bagian tengah






Variasi kedua mempunyai water mark Garuda Pancasila di bagian pinggir kiri dan kanan










Kesimpulan dari seri Pekerja 1958:

1. Relatif mudah didapatkan dan bernilai tidak terlalu tinggi.
2. Tidak ada variasi nomor seri atau water mark kecuali pecahan 5000 violet
3. Setiap kolektor pemula seharusnya mudah melengkapi seri ini
4. Pecahan UNC tersulit didapatkan adalah 500 rupiah, disusul 5000 coklat dan 5000 violet.