Selasa, 15 April 2014

Variasi baru Rp.1000 seri bunga 1959

Telah ditemukan satu variasi baru pecahan Rp.1000 seri bunga 1959
Mari kita lihat bersama

KUKI edisi terakhir mencantumkan kalau pecahan ini terdiri dari 4 variasi yaitu :

Mari kita lihat masing-masing
 1. Cetakan Thomas De La Rue 1 huruf 4 angka 

  2. Cetakan Thomas De La Rue 2 huruf 4 angka

   3. Cetakan Thomas De La Rue 3 huruf 4 angka

4. Dan tanpa pencetak 2 huruf di atas 1 angka diikuti 5 angka

Ternyata ada satu lagi variasi yang saya temukan secara tidak sengaja yaitu 
Cetakan Thomas De La Rue satu huruf (A) 5 angka


Dengan demikian penjelasan di katalog harus diubah menjadi :

a. Thomas De La Rue 1 huruf 4 angka
 b.Thomas De La Rue 1 huruf 5 angka
c.Thomas De La Rue 2 huruf 4 angka
 d.Thomas De La Rue 3 huruf 4 angka
e.Tanpa pencetak 2 huruf di atas 1 angka

5 variasi nomor seri pecahan Rp.1000 seri bunga 1959

Apakah teman-teman ada yang memiliki variasi lain?




Sabtu, 29 Maret 2014

Wayang 50 Gulden (bagian 1)


Kita tentu familiar dengan uang yang sangat menawan ini.
Sepasang penari wayang orang yang gagah dan cantik, pola-pola lingkaran simetris yang sangat indah, ditambah kombinasi warna yang serasi. Sungguh sebuah masterpiece.

Sekarang mari kita hadapkan uang ini ke cahaya terang :
Tampak watermark berupa sesosok patung yang sedang duduk bersila 
dengan tangan kiri memegang tongkat 


Mari kita lihat apa kata berbagai katalog mengenai watermark pada uang ini

KUKI menyebutkan sebagai patung Hindu


Standard Catalog of World Paper Money menyebutkannya sebagai 
Watermark: Head of the Goddess of Justice and Truth.
(Kepala dari dewa keadilan dan kebenaran)

Sedangkan katalog Mevius lebih singkat lagi karena hanya menyebutnya sebagai :
WMK : Head


Dua katalog kelas dunia (Pick dan Mevius) menyebutkan kalau watermark uang ini dan juga pecahan di atasnya (100, 200, 500 dan 1000 Gulden) hanya sebagai "kepala dari patung" 
Tidak heran pemalsu juga ikut-ikutan menampilkan watermark abal-abalan berupa kepala patung saja

"watermark" abal-abalan uang palsu pecahan 1000 Gulden yang akhir-akhir ini banyak beredar.
Berbeda sangat jauh dengan watermark uang  asli


Watermark pecahan 50 Gulden
Tahukah teman-teman kalau watermark atau tanda air pecahan ini tadinya direncanakan berbeda dengan yang selama ini kita ketahui? Untuk membuktikannya mari kita lihat tanda air yang terdapat pada varian proof yang dibuat sekitar tahun 1935.
Tanda air berupa gelombang (wave) yang terdapat pada varian proof

Tetapi entah mengapa tanda air yang berupa gelombang ini dibatalkan dan dijadikan gambar sesosok patung yang identitasnya sangat misterius. Bahkan setelah diadakan kuis terbuka dan diikuti puluhan penggemar uang kuno, tidak ada satupun jawaban benar yang masuk. Untuk itu mari kita bahas bersama.

Sekali lagi mari kita perhatikan tanda air pada pecahan ini :
Kita lihat dan pelajari ciri-cirinya :
Seorang pria yang sepertinya sedang duduk dengan telapak tangan kanan menghadap ke depan dan tangan kiri memegang sesuatu menyerupai tongkat berbentuk seperti ular. Sosok tersebut walaupun tidak memakai baju/jubah tetapi mengenakan aksesoris lengkap berupa mahkota, kalung, gelang, gelang lengan dan semacam selendang.
Siapakah sosok misterius ini?

Bertahun-tahun saya mencari siapakah sosok yang ingin ditampilkan oleh penggambar uang ini? Bertahun-tahun pula saya gagal. Sampai akhirnya beberapa bulan yang lalu saya mendapatkan pinjaman buku kuno dari seorang teman terbitan era 1940-50 yang berisi kumpulan foto-foto yang diambil oleh para fotografer Belanda berjudul "Tanah Air Kita". Di halaman belakang sampul buku tersebut secara tidak sengaja saya melihat sebuah gambar yang membuat saya terkejut. Ingatan akan gambar sosok misterius yang telah tertanam dalam-dalam di otak saya memberikan bunyi alarm yang sangat keras......  
Ini adalah gambar yang selama ini saya cari!
Dengan segera saya mengambil koleksi uang wayang saya dan menghadapkannya ke lampu. Saya bandingkan dan cocokkan, ternyata benar-benar mirip.. 

Gambar sosok misterius yang terdapat pada buku kumpulan foto terbitan tahun 1940-50an
Perhatikan baik-baik sosok misterius di tengah gambar, apakah sama?

Dengan hati senang saya membolak balik buku Tanah Air Kita tersebut, saya perhatikan satu demi satu halamannya. Tetapi gambar sosok misterius itu hanya terdapat pada satu halaman tadi saja, tidak ada halaman lain yang membahas dan tidak ada keterangan tambahan apapun lainnya. Dengan lesu dan kecewa saya menutup buku, lagi-lagi jalan buntu. Sosok misterius jadi bertambah misterius lagi. Tetapi setidaknya saya mendapatkan tambahan data yaitu : Sosok tersebut pasti berupa patung, arca atau ukiran dan pasti ditemukan atau pernah berada di tanah air kita Indonesia.  

Dengan data tersebut saya mulai menjelajahi dunia informasi, mencari dan terus mencari. Sekali waktu saya datang ke museum Nasional untuk mencari tahu, tetapi sayang waktu kedatangan saya tidak tepat karena ruangan arca yang berisi barang-barang bernilai sedang ditutup karena kasus pencurian yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Saya tidak kecewa dan terus mencari dari berbagai sumber lainnya, sampai akhirnya sekitar 2-3 bulan yang lalu saya melihat sebuah artikel di harian Kompas yang sedang membahas tentang sebuah candi. Di pojok gambar artikel terdapat sebuah gambar yang mirip dengan patung yang selama ini saya cari : 
  
Pertanyaan kita tentang siapakah sosok misterius tersebut telah terjawab.
Watermark uang wayang 50 Gulden ke atas ternyata diambil dari sebuah patung perak yang ditemukan di reruntuhan candi Sewu, Jawa Tengah. Yaitu Manjusri Bodhisattva.

Siapakah Manjusri Bodhisattva?
Manjusri adalah sosok penting dalam aliran Budha Mahayana. Dari sejarahnya kita bisa mengetahui kalau candi Sewu adalah candi Budha terbesar kedua setelah Borobudur, didirikan lebih dulu dibandingkan Prambanan dan Borobudur yaitu diperkirakan sekitar abad ke 8. Berdasarkan prasasti yang ditemukan di sekitar lokasi, nama sebenarnya dari candi ini adalah "Prasada Vajrasana Manjusrigrha”. 
Istilah ini memiliki arti sebagai berikut :
Prasada berarti candi atau kuil
Vajrasana berarti tempat Wajra (intan/halilintar) bertakhta
Manjusrigrha bermakna rumah Manjusri
Jadi candi Sewu sebenarnya adalah sebuah candi atau kuil tempat rumahnya Manjusri Boddisatva bertakhta.

Kompleks candi ini dibangun semasa jaman kerajaan Mataram kuno tepatnya oleh raja Rakai Panangkaran (746-784). Kemudian kompleks ini dipugar dan diperluas pada masa pemerintahan Rakai Pikatan, seorang pangeran dari dinasti Sanjaya yang menganut aliran Hindu Siwa. Pada masa inilah candi Prambanan yang bercorak Hindu didirikan. Adanya candi Sewu yang bercorak Buddha berdampingan hanya sekitar 800 meter dengan candi Prambanan yang bercorak Hindu menunjukkan bahwa sejak jaman dulu umat Budha dan Hindu di tanah Jawa hidup berdampingan dengan harmonis dengan rasa toleransi beragama yang sangat tinggi.

Reruntuhan candi Sewu ketika pertama kali ditemukan akhir abad 18

Di salah satu sudut reruntuhan candi Sewu ditemukan sebuah patung yang sangat indah yang terbuat dari perak. Patung indah ini, berdasarkan tempat ditemukan dan keterangan dari prasasti diyakini adalah Manjusri Boddhisatva. Salah satu dari 3 sosok mulia dalam agama Budha (Manjusri, Budha Gautama, dan Samantabhadra). Manjusri sering dikaitkan sebagai Budha dalam hal kebijaksanaan dan kemurnian karena kebajikannya yang tertinggi dari semua Boddhisatva.

Patung Manjusri Boddhisatva yang ditemukan di reruntuhan candi Sewu


Dengan demikian terjawab sudah siapa sosok misterius yang terdapat pada tanda air uang wayang kita. Dia bukan patung Hindu seperti yang disebutkan KUKI, bukan pula cuma sepenggal kepala tanpa nama seperti pada katalog Pick atau Mevius. Dia adalah sosok yang sangat mulia,  Manjusri Boddhisatva, sosok mulia dalam agama Budha Mahayana yang memiliki kebijaksanaan dan kemurnian tiada banding. Patungnya yang terbuat dari perak ditemukan di reruntuhan candi Sewu yang merupakan candi Budha terbesar kedua yang memang dibangun untuk memuja beliau. Dari patung tersebut dapat dilihat bahwa Manjusri adalah seorang pria yang sedang meditasi, duduk dengan satu kaki terlipat, memakai kalung yang terbuat dari gigi macan, tangan kanan terletak dipangkuan dengan telapaknya membuka sedangkan tangan kiri memegang Utpala (bunga lotus biru) sebuah simbol dari kemurnian.

Lengkap dan sempurna sudah gambar dan image yang ingin ditampilkan oleh uang wayang kita.
Sepasang penari wayang yang ganteng dan cantik lengkap dengan tanda air bergambar Manjusri, Budha dalam hal kebijaksanaan dan kemurnian yang pernah disembah oleh masyarakat Jawa berabad-abad yang lalu, yang patungnya ditemukan di salah satu candi terbesar milik bangsa kita.     


Apakah cerita kita sudah selesai? 
Pasti belum dan tidak akan pernah selesai. 
Begitu banyak cerita di balik selembar uang kertas.
Begitu dalam filosofinya dan begitu sulitnya untuk digali. 
Semakin dalam digali, semakin terasa keindahan uang wayang kita.

Patung perak Manjusri sekarang berada di Museum Nasional


(bersambung ke bagian 2, siapakah tokoh wayang pada pecahan 50 Gulden?)








Rabu, 01 Mei 2013

Memulai Koleksi Uang Kuno

Bank Indonesia 100 Rupiah ND (1960s), artist design
Sebagian besar latar belakang rancangan uang ini diubah sehingga berbeda dengan versi beredarnya   



Memulai koleksi uang kuno
Setiap orang mempunyai hobby yang berbeda, ada yang senang menonton film, ada yang senang memancing, ada juga yang senang mengumpulkan buku komik, dan lain sebagainya. Salah satu hobby yang cukup langka adalah mengumpulkan uang kuno, yang dalam bahasa kerennya disebut NUMISMATIK. Hobby yang satu ini termasuk unik karena kesukaran dalam memperoleh informasi maupun "barangnya" itu sendiri. Selain itu hobby jenis ini sangat menuntut kesabaran, ketelitian dan tentu keuangan yang mencukupi.



Untuk menjadi seorang kolektor yang baik, banyak sekali hal-hal yang perlu dipelajari. Pertama, seorang kolektor harus mempunyai minat dan kemauan untuk belajar. Ada beberapa literatur dan perkumpulan yang dapat dijadikan acuan, seperti:


1. Katalog Uang Kertas Indonesia cetakan 1996, 2005 ataupun 2010
2. Katalog Uang Logam Indonesia (sudah tidak diproduksi lagi)
3. Standard Catalog of World Paper money (Krause)
4. Catalogue of paper money (Johan Mevius)
5. Katalog lelang dari berbagai balai lelang baik internasional maupun lokal
6. Majalah/literatur terbitan Asosiasi Numismatik Indonesia
7. Informasi dari internet seperti blog ini atau lain sebagainya

Dari sumber2 informasi tersebut di atas kita dapat mempelajari banyak hal tentang uang kuno seperti:

(1) Jenis atau seri, contoh: seri Sukarno 1960, seri Bunga Burung 1959, seri Pekerja 1958 dan sebagainya.
(2) Harga dari masing2 uang tersebut, yang sangat dipengaruhi oleh kualitasnya, semakin baik kualitas suatu uang tentu semakin mahal harganya, demikian juga sebaliknya. Karena itu sangatlah penting bagi para kolektor untuk mempelajari kualitas suatu uang. Terdapat istilah2 khusus tentang kualitas uang kertas, seperti Uncirculated, Extremely Fine, Very Fine, Fine, Very Good, Fair dan lain-lain.



Supaya tidak menimbulkan perbedaan pendapat tentang kualitas suatu uang kertas maka kalangan numismatik membutuhkan suatu standarisasi, yang disebut grading.

The international Bank Note Society (IBNS) menerapkan standarisasi grading yang terdiri dari :


1. UNC atau Uncirculated : yaitu keadaan sempurna dengan semua sudut tajam, tidak ada cacat sedikitpun, bersih, dan permukaan kertas masih berkilau. Sebagai ilustrasi adalah selembar uang kertas yang diambil dari segepok uang baru yang masih tersegel.


Uncirculated (UNC)


2. AU atau Almost Uncirculated : keadaan uang yang hampir sama dengan di atas tetapi ada minor mishandling seperti lipatan pada sudut, atau lipatan halus pada bagian tengah, tetapi tidak boleh keduanya, selain itu kondisi uang harus bersih dan berkilau seperti aslinya, semua sudut harus tajam.















NICA 500 Gulden kondisi Almost uncirculated (AU)


3. EF/XF atau Extremely Fine : kertas dalam keadaan baik, crisp atau kaku, masih memiliki kilau pada permukaan, dan memiliki maksimum 3 lipatan tipis atau satu lipatan tajam, sudut sedikit membundar.


Wayang 50 Gulden kondisi Extremely Fine (EF/XF)



4. VF atau Very Fine : uang kertas telah dipakai namun masih tetap crisp, ada sedikit kotor dan beberapa lipatan vertikal dan horisontal namun tidak sobek.



















JP Coen 500 Gulden kondisi VF (Very Fine)



5. F atau Fine : uang telah sering terpakai dengan beberapa lipatan dan tidak crisp lagi, tidak terlalu kotor, mungkin ada sedikit sobek pada bagian margin tetapi tidak masuk ke gambar, warna masih jelas.


Gedung 30 Gulden kondisi Fine (F)



6. VG atau Very Good : uang telah terpakai berkali-kali namun kertas masih utuh, terdapat sobekan pada sudut sehingga tidak tajam lagi, ada sobekan yang masuk hingga ke gambar, mungkin ada bekas karat, dan pada bekas lipatan mungkin ada lubang /sobekan kecil, kertas layu tetapi tidak ada bagian yang hilang karena sobek.


JP Coen 200 Gulden kondisi Very Good (VG)



7. G atau Good : uang telah lama dipakai, warna telah memudar, bekas lipatan yang berkali-kali telah menyebabkan lubang atau sobekan pada bagian pinggir, mungkin ada bekas karat, kotoran atau grafiti, ada bagian yang hilang karena sobek.


ORI 10 Rupiah Baru kondisi Good (G)



8. Fair : seluruh kertas layu dan kotor akibat pemakaian yang berat, uang telah rusak, terdapat sobekan besar dan ada bagian besar yang hilang.




Barong 10.000 Rupiah 1975 kondisi fair



9. P atau Poor : uang telah rusak berat akibat sobekan, karat, bagian yang hilang, grafiti ataupun lubang yang besar, mungkin ada bekas tambalan atau bekas potongan (trimming) pada bagian tepi untuk menutupi bagian yang rusak. Uang yang masuk kategori ini tidak layak dikoleksi kecuali hanya sebagai pengisi sementara atau memang termasuk uang yang sangat langka.



Pemandangan alam 2,5 Rupiah 1951 kondisi Poor




Ada kalanya kualitas suatu uang kertas ada di antara 2 kategori, dalam kasus ini sebagian kolektor memakai istilah PLUS (+), MINUS (-) atau penambahan huruf a kecil (ABOUT), contohnya:

1. VF+ (Very Fine Plus), berarti grade berada di antara VF dengan EF tetapi lebih cenderung ke VF

2. VF++ (Very Fine Plus Plus) berarti gradenya berada di antara VF dengan EF tetapi lebih cenderung ke EF

3. aEF (About Extremely Fine), berarti gradenya hampir atau kira-kira berada di EF

4. UNC- (Uncirculated Minus), berarti hampir UNC dengan hanya sedikit sekali kekurangan


Semua cacat yang terdapat pada uang kertas juga harus disebutkan agar tidak terjadi kesalahpahaman seperti:

1. Coretan atau grafiti
2. Bekas selotip, lem atau karat
3. Lubang staples atau pin hole
4. Trimming atau bagian tepi yang di potong
5. Pressing (pernah di press atau disetrika)
6. Cleaning, washing atau dicuci dengan menggunakan cairan pembersih
7. Repair atau perbaikan berupa tambalan atau lainnya

Adanya kondisi2 tertentu akan menyebabkan grading uang kertas tersebut menjadi turun sedikitnya satu tingkat.

Sekalipun telah ada standarisasi, perbedaaan grading antara para kolektor seringkali terjadi, masalah ini dapat timbul akibat beberapa faktor misalnya pengalaman, pencahayaan dan suasana yang berbeda. Grading sepantasnya dilakukan oleh orang ketiga yang berpengalaman dan tidak terlibat dalam transaksi.

Beberapa macam istilah grading dalam berbagai bahasa
















Kritik dan saran hubungi : arifindr@gmail.com

Jumat, 30 November 2012

1897-1924 (seri Coen Mercurius)



Seri Coen Mercurius terdiri dari 5 pecahan yaitu 100, 200, 300, 500 dan 1000 Gulden. Semua pecahan memiliki gambar yang serupa tetapi dengan warna yang berbeda. Pada sisi kanan uang terdapat gambar JP Coen sedangkan pada sisi kiri bergambar dewa Mercurius (dewa pelindung bisnis pada mitologi Yunani) yang sedang memegang tongkat Caduceus, karena itu seri ini sering juga disebut sebagai Coen tongkat. Gambar dewa Mercurius ini kemungkinan besar diambil dari sketsa karya Polidoro Caldara da Caravaggio (1495 - 1543) yang tersimpan di museum Boijman Van Beuningen Rotterdam Belanda. 

 

Gambar Merkurius pada uang (kiri) dan pada sketsa Polidoro Caldara (kanan)
Perhatikan kemiripan antara keduanya


Tanda air
Semua pecahan ini memiliki tanda air serupa yaitu tulisan JAV.BANK yang terletak di tengah-tengah kertas tepat di daerah yang bertandatangan.










Semua pecahan pada seri ini memiliki tepi yang tidak rata mirip seperti seri bingkai. Ukuran kertas semua pecahan juga serupa yaitu berkisar di 207 x 135 mm. Pecahan 100 berwarna kebiruan, 300 Gulden berwarna kehijauan, sedangkan pecahan 200, 500 dan 1000 berwarna kecoklatan yang sepintas sangat mirip. Perbedaan utama hanya pada tulisan dan angka yang mencantumkan nominalnya.


Pecahan 100 Gulden 
Berwarna kebiruan dengan variasi tanda tangan setidaknya ada 9 macam
















Pecahan 200 Gulden
Berwarna coklat kemerahan. Variasi tanda tangan yang sudah terdata sekitar 8 jenis.















Pecahan 300 Gulden
Berwarna hijau dan merupakan kunci dari seri ini. Menurut katalog Pick ada 2 variasi tanda tangan dan sampai saat ini belum pernah terlihat versi non specimennya.















Pecahan 500 Gulden
Berwarna coklat tua dengan 6 variasi tanda tangan yang telah terdata, versi issued (non specimen) pecahan ini sangat langka dan hanya pernah terlihat satu kali saja di lelang internasional bertahun-tahun yang lalu















Pecahan 1000 Gulden
Berwarna coklat muda dengan 6 variasi tanda tangan yang telah terdata ditambah satu yang tidak ada di katalog manapun sehingga total ada 7 jenis. Gambar di bawah merupakan versi issued dengan tanda tangan yang tidak terdata dan ditampilkan secara eksklusif untuk pertama kalinya di website ini. 

















Variasi :
1. SPECIMEN (1)
Stempel SPECIMEN berwarna merah melintang baik di sisi depan maupun belakang, lengkap dengan nomor seri dan tanda tangan. Semua pecahan dapat ditemukan dalam bentuk SPECIMEN. 




























Jauh lebih mudah mengumpulkan versi SPECIMEN daripada versi non specimennya. Karena kunci seri ini terletak di pecahan 300 Gulden maka tidak heran harga termahal dipegang oleh pecahan tersebut. Jumlah pecahan 300 Gulden berdasarkan pengamatan diperkirakan ada belasan atau paling banyak 20an lembar. Tetapi bila kita melihat nomor seri pecahan 300 Gulden yang berkisar dari OL 2002 sampai dengan yang tertinggi saat ini OL 2048 dan bila semuanya memang masih ada maka jumlahnya bisa mencapai 2 kali lipat atau sekitar 40an lembar. Saya berhasil mengumpulkan 6 lembar gambar yang masing-masing memiliki nomor seri OL 2002, 2009, 2023, 2046, 2047 dan 2048. Tentu masih cukup banyak yang dimiliki para kolektor lainnya. Mari kita lihat gambar di bawah :



 

 

Perhatikan nomor seri pecahan 300 Gulden di atas :
 OL 2002, OL 2009, OL 2013, OL 2046, OL 2047 dan OL 2048. Apakah uang-uang dengan nomor seri diantaranya masih ada? Ataukah hanya sebagian saja yang tersisa?


2. SPECIMEN (2)
Stempel SPECIMEN berwarna merah tebal, dengan perforasi bertulisan VERNIETIGD. 
Bentuk yang cukup langka.














3. PROOF



 















Tanpa nomor seri dan tanda tangan. Bertanggal fiktif 31 Juni 1908 dan warna berbeda dengan versi beredar. Sudah tentu sangat langka ditemukan.


4.VARIASI TANDA TANGAN
Kelima pecahan seri ini memiliki variasi tanda tangan yang sangat banyak dan rumit untuk disusun. Pick menampilkan 28 jenis, Mevius 13 jenis dan KUKI 12 jenis. Yang tidak terdata oleh katalog-katalog tersebut tetapi diyakini keberadaannya berdasarkan laporan para kolektor ada tambahan sekitar 4 variasi lagi sehingga bila digabung dan ditotal semuanya terdapat sekitar 32 jenis variasi.........!!

Pembagian yang paling baik adalah berdasarkan warna nomor seri dan ukuran text undang-undang.

Perbedaan warna nomor seri :


Nomor seri hitam (2 huruf 4 angka) dan merah (2 huruf 6 angka), hanya berlaku untuk pecahan 100 dan 200 Gulden. Pecahan lain tidak memiliki nomor seri berwarna merah. 


Perbedaan text undang-undang :




















Text undang-undang variasi 1 berukuran besar (atas) dan variasi 2 berukuran kecil (bawah), text yang kecil tidak ditemukan pada pecahan 300 Gulden.



Pecahan 100 Gulden : 
a. Nomor seri hitam dengan text undang-undang berukuran besar (6 jenis)
1 HPJ van den Berg - D Groeneveld
2 JFH de Vignon Vandevelde - J Reijsenbach
3 AF van Suchtelen - J Reijenbach
4 J Gerritzen - G Vissering
5 J Gerritzen - EA Zeilinga
6 KF van den Berg - EA Zeilinga

b. Nomor seri hitam dengan text undang-undang berukuran kecil (2 jenis)
7 KF van den Berg - EA Zeilinga 
8 L von Hemert - EA Zeilinga

c. Nomor seri merah (2 jenis)
9 L von Hemert - EA Zeilinga
10 JF van Rossem - EA Zeilinga

Bila ditotal terdapat 10 jenis variasi tanda tangan, mari kita lihat sebagian diantaranya : 

Variasi 4 : J Gerritzen - G Vissering











Variasi 5 : J Gerritzen - EA Zeilinga










Variasi 6 : KF van den Berg - EA Zeilinga dengan text undang-undang berukuran besar di bagian belakang



Variasi 9 : L von Hemert - EA Zeilinga dengan nomor seri berwarna merah


Pecahan 200 Gulden :
a. Nomor seri hitam dengan text undang-undang berukuran besar (6 jenis)
1 HPJ van den Berg - D Groeneveld
2 JFH de Vignon Vandevelde - J Reijsenbach
3 AF van Suchtelen - G Vissering
4 J Gerritzen - G Vissering
5 J Gerritzen - EA Zeilinga
6KF van den Berg - EA Zeilinga

b. Nomor seri hitam dengan text undang-undang berukuran kecil (1 jenis)
7.     KF van den Berg - EA Zeilinga 

c. Nomor seri merah (1 jenis)
8.     JF van Rossem - EA Zeilinga


Dari total 8 jenis sebagian diantaranya adalah :











Variasi 6 : KF van den Berg - EA Zeilinga


Variasi 8 : JF van Rossem - EA Zeilinga


Pecahan 300, 500 dan 1000 Gulden hanya memiliki nomor seri berwarna hitam sehingga pembagiannya hanya berdasarkan ukuran text undang-undang.

Pecahan 300 Gulden :
Katalog Pick mendata ada 2 variasi yaitu : 
1 HPJ van den Berg - D Groeneveld
2 HJ Meertens - JFH de Vignon Vandevelde





 Variasi 2 : HJ Meertens - JFH de Vignon Vandevelde


Pecahan 500 Gulden :
a. Nomor seri hitam dengan text undang-undang berukuran besar (5 jenis)
1 HPJ van den Berg - D Groeneveld
2 JFH de Vignon Vandevelde - J Reijsenbach
3 J Gerritzen - G Vissering
4 J Gerritzen - EA Zeilinga
5 KF van den Berg - EA Zeilinga 

b. Nomor seri hitam dengan text undang-undang berukuran kecil (1 jenis)
6.     KF van den Berg - EA Zeilinga   









Variasi 6 : KF van den Berg - EA Zeilinga


Pecahan 1000 Gulden :
a. Nomor seri hitam dengan text undang-undang berukuran besar (6 jenis)
1 HPJ van den Berg - D Groeneveld
2 JFH de Vignon Vandevelde - J Reijsenbach
3 HJ Meertens - JFH de Vignon Vandevelde
4 J Gerritzen - G Vissering
5 J Gerritzen - EA Zeilinga
6 KF van den Berg - EA Zeilinga 

b. Nomor seri hitam dengan text undang-undang berukuran kecil (1 jenis)
7.     KF van den Berg - EA Zeilinga 









Variasi 1 : HPJ van den Berg - D Groeneveld










Variasi 2 : JFH de Vignon Vandevelde - J Reijsenbach











Variasi 3 : HJ Meertens - JFH de Vignon Vandevelde











Variasi 4 : J Gerritzen - G Vissering










Variasi 6 :  KF van den Berg - EA Zeilinga


Tentu masih mungkin ada variasi tanda tangan yang belum ditemukan. Karena itu dibutuhkan kerjasama dari teman-teman semua.
Secara ringkas seri ini dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Jauh lebih mudah mengumpulkan versi SPECIMEN daripada versi issued (NON SPECIMEN)
Versi issued (NON SPECIMEN) sangat sulit ditemukan dan bernilai jual sangat tinggi. Pecahan terbesar yang mungkin didapatkan adalah 200 Gulden, sangat kecil kemungkinan bisa mendapatkan pecahan-pecahan yang lebih besar lagi. Dalam kurun waktu puluhan tahun, pecahan 500 Gulden  hanya pernah terlihat sekali saja, demikian juga dengan pecahan 1000 Gulden yang baru kali ini saya tampilkan di web. Pecahan 300 Gulden bahkan belum pernah terlihat sama sekali. Karena itu saran saya bila anda berminat dengan seri ini cukup kumpulkan versi SPECIMEN.

2. Semua versi memiliki tepi yang tidak rata sehingga ukuran uang menjadi tidak standard. Versi SPECIMEN pecahan 100, 200, 300 dan 500 Gulden banyak yang ditemukan dalam kondisi baik bahkan  ada yang UNC, tetapi untuk pecahan 1000 Gulden SPECIMEN sangat sulit ditemukan yang berkondisi prima.  Semua pecahan SPECIMEN memiliki sepasang atau lebih lubang staples di sudut kirinya, walau demikian beberapa balai lelang internasional masih memasukkannya ke dalam grade UNC (lihat bukti di bawah) :





3. Variasi tanda tangan sangat banyak sekali. Tabel di bawah merupakan gabungan dari semua katalog (Pick, Mevius dan KUKI)  termasuk juga beberapa diantaranya yang tidak terdaftar (unlisted) :


4. Tentang harga, saya rasa sebaiknya tidak dicantumkan karena perubahannya sangat cepat sekali, terutama 2-3 tahun terakhir. Para kolektor, investor dan spekulan berlomba-lomba membeli lalu menjualnya kembali dengan harga berlipat-lipat. Padahal selama beberapa tahun sebelumnya seri ini tidak mengalami perubahan harga yang mencolok. Pada Lelang JA tahun 2007 satu set SPECIMEN lengkap seri ini masih ditambah dengan satu set SPECIMEN seri bingkai dan Coen 5 Gulden SPECIMEN bahkan tidak terjual. Padahal harga pembukaan 'hanya' Rp.100 juta untuk semuanya. 



5. Seri ini bersama-sama dengan seri Bingkai 10, 25, 50 Gulden dan Coen 'kecil' 5 Gulden memiliki tahun edar dan variasi tanda tangan yang kurang lebih sama. Karena itu para kolektor menganggap ketiga seri tersebut beredar pada saat bersamaan dan merupakan satu kesatuan.


==============================================================






Jakarta 12 Oktober 2012
Terima kasih kepada semua kolektor yang telah berpartisipasi sehingga seri yang sangat sulit ini dapat kita lihat bersama.
Kritik dan saran hubungi arifindr@gmail.com

Sumber :
1. KUKI
2. Standard Catalog of Paper Money (Pick)
3. Catalogue of Paper Money of the VOC, Netherlands East Indies and Indonesia from 1782 to 1981
4. Koleksi teman-teman kolektor.