Sabtu, 20 September 2014

Java Auction 12

Hasil sementara JA 12
Terjadi lonjakan harga yang luar biasa hampir pada semua lot








  









Lot ini terjual di harga spektakular yaitu Rp.902 juta ++







Jumat, 15 Agustus 2014

Uang Baru 2014

logo_sp_bersama_bi_dpkeu.gif

SIARAN PERS BERSAMA
No. 16/57/DKom
No. 109/KLI/2014
Bank Indonesia bersama Pemerintah Republik Indonesia mengumumkan bahwa uang Rupiah kertas pecahan Rp100.000 Tahun Emisi 2014 mulai diberlakukan, dikeluarkan, dan diedarkan di Indonesia pada tanggal 17 Agustus 2014 yang bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-69 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Pasal 42 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang (UU Mata Uang) mengamanatkan uang Rupiah kertas dengan ciri umum sebagaimana diatur dalam Pasal 5 ayat (1) UU Mata Uang mulai diberlakukan, dikeluarkan, dan diedarkan pada tanggal 17 Agustus 2014. Sesuai dengan kewenangan Bank Indonesia sebagaimana diatur dalam UU Mata Uang tersebut, Bank Indonesia mengeluarkan dan mengedarkan uang Rupiah kertas pecahan Rp100.000 Tahun Emisi 2014.


Secara umum, desain uang Rupiah kertas pecahan Rp100.000 Tahun Emisi 2014 tidak mengalami perubahan yang signifikan dibandingkan dengan uang Rupiah kertas pecahan Rp100.000 Tahun Emisi 2004 yang beredar saat ini. Perbedaan utama antara lain dikenali dari: (i) Frasa “Negara Kesatuan Republik Indonesia” pada bagian muka dan belakang uang; (ii) Penandatangan uang dari yang sebelumnya Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia menjadi Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan.


Penggunaan frasa “Negara Kesatuan Republik Indonesia” serta tanda tangan Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan mewakili Pemerintah Republik Indonesia dalam uang Rupiah kertas tersebut menegaskan makna filosofis Rupiah sebagai simbol kedaulatan negara yang harus dihormati dan dibanggakan oleh seluruh warga negara Indonesia. Dengan demikian, sudah menjadi kewajiban bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk menggunakan uang Rupiah dalam setiap transaksi di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia termasuk di daerah terpencil dan daerah terluar Indonesia. Penghargaan warga negara Indonesia pada mata uangnya sendiri akan mendorong berdaulatnya Rupiah di negeri sendiri, dan pada gilirannya diharapkan Rupiah akan sejajar dengan mata uang utama dunia lainnya.
Dalam perencanaan pengeluaran uang Rupiah tersebut, sebagaimana diatur dalam UU Mata Uang, Bank Indonesia telah berkoordinasi dengan Pemerintah dalam mempersiapkan pengeluaran uang Rupiah kertas. Sebagai tindak lanjut dari koordinasi tersebut, Pemerintah telah mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2014 tanggal 2 Juni 2014 tentang Penetapan Gambar Pahlawan Nasional Dr. (H.C.) Ir. Soekarno dan Dr. (H.C.) Drs. Mohammad Hatta dalam Rupiah Kertas Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sebagai landasan hukum yang mengatur mengenai pemberlakuan, pengeluaran dan pengedaran uang Rupiah kertas pecahan Rp100.000 Tahun Emisi 2014, maka sesuai Pasal 15 jo. Pasal 16 UU Mata Uang, Bank Indonesia telah mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 16/13/PBI/2014, tanggal 24 Juli 2014, tentang Pengeluaran dan Pengedaran Uang Rupiah Kertas Pecahan 100.000 (Seratus Ribu) Tahun Emisi 2014 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 180). Selain itu, Bank Indonesia juga telah mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 16/14/PBI/2014, tentang Pengeluaran dan Pengedaran Uang Rupiah Kertas Khusus Pecahan 100.000 (Seratus Ribu) Tahun Emisi 2014 dalam Bentuk Uang Rupiah Kertas Bersambung (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 181).
Setelah pengeluaran uang Rupiah kertas pecahan Rp100.000 Tahun Emisi 2014, pengeluaran uang untuk pecahan lainnya dengan ciri-ciri umum sebagaimana diatur dalam UU Mata Uang akan dilakukan secara bertahap.
Dengan berlakunya uang Rupiah kertas pecahan Rp100.000 Tahun Emisi 2014 ini, uang Rupiah kertas pecahan Rp100.000 Tahun Emisi 2004 masih tetap berlaku sepanjang belum dicabut dan ditarik dari peredaran.
 Jakarta, 14 Agustus 2014

BANK INDONESIA DEPARTEMEN KOMUNIKASI
KEMENTRIAN KEUANGAN BIRO KOMUNIKASI DAN LAYANAN INFORMASI


Sumber : website Bank Indonesia (www.bi.go.id)






Minggu, 10 Agustus 2014

Kisah si barong

Kita semua tentu mengenal uang yang satu ini : 10.000 Rupiah 1975 bergambar relief candi Borobudur di bagian depan dan topeng barong di bagian belakang. Uang yang lebih dikenal dengan sebutan 'barong' ini diedarkan mulai tahun 1976 dan ditarik awal April 1980. 
Saat sekarang uang yang sangat indah ini dihargai sekitar 2,5 jutaan Rupiah untuk kondisi UNC, tetapi untuk kondisi biasa mungkin harganya hanya berkisar beberapa ratus ribu rupiah saja.

10.000 Rupiah 'barong' 1975

Tetapi tahukah anda berapa nilai sesungguhnya sewaktu uang ini diedarkan? Apakah harga saat ini yang sekitar 2,5 juta sesuai dengan nilainya waktu itu? Mari kita pelajari bersama :

Kebetulan saya memiliki selembar bon pembelian cincin yang bertanggal 7 April 1976, jadi kurang lebih waktunya sama dengan waktu uang barong tersebut beredar. Pada bon tertulis "satu cincin mata merah daging 90% (21 karat) seberat 9,550 gram dan batu (tanpa disebut jenisnya) seberat 0,700 gram". Cincin tersebut dihargai Rp.20,750,-

Bon pembelian cincin tanggal 7 April 1976

Bila kita hitung secara kasar harga emas 21 karat saat itu (tanpa menghitung batunya)
adalah: Rp.20.750 dibagi 9,550 gram = Rp.2,170 per gram

Selembar uang barong senilai Rp.10,000 saat itu bisa dipergunakan untuk membeli 
sekitar 4,6 gram emas 21 karat.

Bandingkan dengan harga emas 21 karat saat ini yang sekitar Rp.475,000/gram
Berarti selembar uang tersebut bila di kurs dengan nilai saat ini kurang lebih 
bernilai Rp.2,2 juta (tentu tanpa melihat apakah UNC atau tidak)
Bisa anda bayangkan betapa tingginya nilai si barong waktu itu?

Uang barong memiliki makna sangat penting bagi saya pribadi, ceritanya begini :
Sewaktu saya mendengar bahwa uang tersebut akan ditarik dari peredaran sekitar awal tahun 1980, saya kelabakan. Maklum saja saya tidak pernah memegang uang tersebut, nilainya terlalu besar untuk seorang anak SMP yang uang jajannya cuma Rp.500 perhari. Saya tidak mau kejadian yang saya alami pada seri sebelumnya yaitu seri Sudirman terulang lagi, dimana saya tidak berhasil mengumpulkan pecahan Rp.5.000 dan Rp.10.000nya. Pecahan tertinggi yang berhasil saya simpan adalah Rp.1.000 Sudirman, itupun saya dapatkan dengan bantuan kakek saya.

Karena itu, agar tidak terulang lagi maka dengan nekad saya mencuri selembar uang barong milik ibu saya. Kebetulan saya mengetahui tempat rahasia ibu saya menyimpan uang yaitu di laci tambahan di dasar lemari baju. Beberapa hari kemudian terjadi kegemparan, ibu saya marah-marah kepada semua orang (waktu itu keluarga saya masih tinggal bersama dengan keluarga besarnya). Semua paman, tante, sepupu dan pembantu diinterogasi termasuk juga ayah saya yang tidak tahu apa-apa. Kehilangan uang sebesar itu membuat ibu saya marah besar selama berhari-hari dan herannya satu-satunya orang di rumah yang tidak kena marah cuma saya. Mungkin ibu saya berpikir buat apa uang sebesar itu bagi seorang anak SMP? Seandainya saya butuh uang untuk beli buku atau mainan yang mahal sekalipun, paling2 cuma perlu beberapa ratus atau seribu dua ribu rupiah saja. Tidak mungkin saya membutuhkan uang sebesar Rp.10.000. 

Akhirnya setelah beberapa bulan kemarahan ibu saya reda dan misteri hilangnya uang tersebut tidak pernah saya ungkapkan sampai beberapa tahun kemudian sewaktu uang tersebut sudah benar-benar tidak berlaku. Saya keluarkan dan saya bilang kalau saya menemukan uang itu di kolong lemari, ibu saya heran karena kolong lemari sudah diperiksanya puluhan kali dan tidak ada apa-apa disana kecuali debu. Karena sudah tidak berlaku maka saya bertanya dengan penuh harap apakah boleh uang tersebut saya simpan? Buat kenang-kenangan kata saya. 
Dengan pasrah ibu saya cuma bisa mengangguk.
Yes!! Akhirnya saya punya selembar uang barong yang tetap saya simpan sampai saat ini.

Sejak saat itu setiap ada uang baru yang diedarkan saya selalu menyempatkan untuk menyimpannya beberapa lembar. Pecahan kecil langsung saya simpan dari uang jajan sedangkan pecahan besar saya simpan dengan cara menabung dan menukarnya setelah jumlahnya memadai. Dengan bertambahnya waktu, inflasi makin tinggi, pecahan terbesarpun menjadi kurang bernilai sehingga nilai tertinggi 10 ribu gamelan 1979, 10 ribu Kartini 1985, 20 ribu cendrawasih, 50 ribu Suharto atau 100 ribu polymer bisa dengan mudah kita dapatkan. Bertahun-tahun kemudian, setelah saya punya cukup tabungan baru saya bisa membeli 2 lembar uang yang lolos yaitu Rp.5000 dan Rp.10000 Sudirman, dan setelah saya bekerja baru saya bisa membeli uang2 dari era sebelumnya. 

Ternyata untuk menjadi seorang kolektor dibutuhkan perjuangan yang cukup berat.
  



Jumat, 25 Juli 2014

2014

Semua pecahan dari 2.000 sd 100.000 Rupiah tahun cetak 2014 dengan tanda tangan 
Gubernur BI Agus Martowardojo telah beredar
Apakah teman-teman sudah menyimpannya?

Ringkasan variasi tanda tangan dan tahun cetak seri Pahlawan Nasional 
Tahun 2000-2014








Keseluruhan seri ini memiliki variasi yang luar biasa banyak. Bahkan paling banyak bila dibandingkan seri-seri lainnya. Dengan total 7 pecahan dari 1000 sd 100.000 Rupiah, seri ini memiliki 31 variasi tanda tangan (menjadi 33 bila disain baru ikut dimasukkan, karena pada pecahan 20.000 dan 50.000 tanda tangan yang sama terdapat pada 2 disain uang yang berbeda) serta 84 jenis variasi tahun cetak !! 
Luar biasa bukan......
Ayo cepat dicari mumpung masih beredar. Tabel di atas bisa dicetak untuk dijadikan referensi.


Mohon informasi bila ada tambahan atau kesalahan 

Minggu, 13 Juli 2014

100000 Rupiah Sukarno Hatta emisi 2004

Terdiri dari 2 jenis yaitu disain lama dan baru

A. Disain lama (tanpa bintik) terdiri dari 3 variasi tanda tangan

Burhanuddin Abdullah-Aulia Pohan (6 tahun cetak)
1. 2004/2004
2. 2004/2005
3. 2004/2006
4. 2004/2007
5. 2004/2008
6. 2004/2009

Boediono-Miranda S Goeltom (1 tahun cetak)
7. 2004/2009

Darmin Nasution-Budi Rochadi (2 tahun cetak)
8. 2004/2010
9. 2004/2011

B. Disain baru (dengan bintik) terdiri dari 3 variasi tanda tangan

Darmin Nasution-Ardhayadi (3 tahun cetak)
10. 2004/2011
11. 2004/2012
12. 2004/2013

Darmin Nasution-Ronald Wass (1 tahun cetak)
13. 2004/2013

Agus Martowardjojo-Mirza (1 tahun cetak)
14. 2004/2014 

Pecahan terbesar ini memiliki variasi  sebanyak 14 jenis
Sudah punya semua?





50000 Rupiah I Gusti Ngurah Rai emisi 2005

Terdiri dari 2 jenis yaitu disain lama dan baru

A. Disain lama (tanpa bintik) terdiri dari 3 variasi tanda tangan

Burhanuddin Abdullah-Maman Somantri (5 tahun cetak)
1. 2005/2005
2. 2005/2006
3. 2005/2007
4. 2005/2008
5. 2005/2009

Boediono-Hartadi Sarwono (1 tahun cetak)
6. 2005/2009

Darmin Nasution-Hartadi Sarwono (2 tahun cetak)
7. 2005/2010
8. 2005/2011

B. Disain baru (dengan bintik) terdiri dari 2 variasi tanda tangan

Darmin Nasution-Hartadi Sarwono (3 tahun cetak)
9. 2005/2011
10. 2005/2012
11. 2005/2013

Agus Martowardjojo-Halim Alamsyah (1 tahun cetak)
12. 2005/2014

Total sampai artikel ini ditulis Juli 2014 terdapat 12 variasi tahun cetak
Yang paling langka adalah.... 
Nomor 5 dan 8
Jangan sampai ketinggalan, mumpung masih mungkin didapatkan